
*sbrings* sebuah cahaya berwarna kuning sempat menyelimuti seluruh tubuh dari mereka yang meminum potion yang Anma berikan.
" Sekali lagi aku sangat berterima kasih kepada kalian ya, Alin, Aestro, Akun, Nisel dan Lailia. " lanjutnya sembari memeluk kelima sosok itu sesaat sebelum mereka melangkah masuk kedalam portal yang Lailia ciptakan.
Setelah memeriksa beberapa statistik data yang dimiliki para maiden, dirinya mulai membuka portal dimensi untuk kembali pergi ke tempat tidurnya berada sembari menggendong tubuh dari Moli beserta Arc 02 yang mengikutinya dari belakang.
" Ayah... Bolehkah aku ikut bersama a.. yah? " ucap Flora sebelum Anma menghilang bersama portal yang telah tertutup
" Hehehe... tidak perlu berwajah masam seperti itu, Flora. Bukankah sebelumnya ayahmu sudah mengatakan kepada kita bahwa dirinya berniat merawat luak dari Moli serta membutuhkan penjelasan lain terkaiat peristiwa tadi malam bersama Nest ? " tawa Quinn ketika melihat Anma mengabaikan Flora
" Tapikan, tapikan Flora juga merasa penasaran mengenai apa yang mereka lakukan. Terlebih lagi Moli juga dibawa oleh ayah... Jadi... m... " balas Flora yang nampak kesal dan mencoba mengatakan sesuatu hal kotor dalam pikirannya setelah mengingat ucapan dari Hena maupun Alin yang menyebutkan bahwa mereka pernah melakukan hubungan intim dengan Anma
" Dari pada kamu berfikiran kotor seperti itu, akan lebih baik jika kamu meningkatkan kemampuanmu agar nantinya Anma bisa memberikan sesuatu yang kamu inginkan. " Balas Quinn yang tidak habis pikir dengan pemikiran Flora yang kotor itu
" Hm~, Quinn~.. Aku ingin bersama ayah... " ucap Flora sembari merengek dan berniat pergi menuju kamar tempat Anma berada namun ditahan oleh Quinn
" Aku tahu bahwa kamu sangat mengantikan kembali kedatangan ayahmu setelah lebih dari enam bulan waktu berlalu. Tapi bagaimana pun juga, kamu harus ikut bersama denganku dan melatih diri dan berhenti bersikap manja dengannya " lanjut Quinn sembari menarik tubuh Flora dengan sekuat tenaga dan memasukkannya ke dalam sebuah pintu yang terhubung langsung dengan sebuah dungeon.
" Hehe... ya ampun. Aku tidak menyangka bahwa nona Flora akan bersikap sampai sebegitunya setelah tuan kembali. " gumam Hena sembari menutupi tawanya
" Iya, Hena. Akupun tidak menyangka bahwa Nona Flora akan menjadi seperti itu. Padahal kan selama beberapa bulan lalu dirinya masih seperti gadis polos yang menggemaskan, tapi sekarang.. hehehe... dia berubah menjadi sosok yang seperti itu.. " balas Taka sembari membantu Hena membersihkan beberapa debu yang menumpuk setelah proses perbaikan singkat itu berlangsung
" Hehehe... iya ya. Apakah mungkin karena ucapan dari Nona Alin serta kedekatan tuan dengan Nona Lailia, Nona Flora yang selama ini belum pernah diperlakukan layaknya sosok wanita dewasa menjadi iri atau semacamnya? " ucap Hena sembari bersandar dengan tongkat dari sapu ijuknya sembari memikirkan sebuah alasan
" Tidak perlu memikirkan hal semacam itu, Hena. Lagipula itu juga termasuk dalam kesalahanmu yang sempat membuat satu kesalahpahaman ketika tuan mengajakmu tidur bersamanya. " balas Taka dengan akhiran tawa
" Hm~ Taka! aku kan sudah bilang bahwa jangan mengungkit hal itu kembali! " teriak dari Hena sembari berlari mengejar Taka yang sempat menggodanya
" Lalu, apakah kamu masih kesal dengan Hena karena tanpa kita ketahui, dirinya sudah memiliki peranan penting dalam lingkup mansion ini? " ucap Neouro sembari mengusap bagian dari jendela mansion dengan hati-hati
" Akh, tidak. Aku tidak marah maupun kesal atas apa yang kita dengar sebelumnya. Aku terdiam seperti ini karena aku sempat iri saja dengan apa yang tuan berikan kepada Hena. " balasnya sembari memeras kain kusam yang baru dicelupkan dalam seember air
" Oah.. maaf jika aku salah mengira apa yang kamu pikirkan itu. hehehe... akun harap kamu tidak mengatakan apa yang tadi aku ucapkan itu kepada Hena ya.. hehehe... " balas Neouro yang tiba-tiba bertingkah aneh seakan menyembunyikan sesuatu dari Ryuu
" Tidak apa, Nero. Aku paham atas apa yang kamu sebutkan sebelumnya. Karena bagaimana pun juga itu adalah keputusan dari tuan yang sudah mempercayai Hena sepenuhnya dan lagi akupun berharap bahwa nantinya aku dapat mengambil bagian yang cukup penting sama seperti Hena." balas Ryuu sembari menepuk bahu Neouro yang terlihat memaksakan senyumnya
" Lalu bagaimana pendapat anda mengenai apa yang telah terjadi itu, tuan? Bukankah hal mengerikan semacam ini pernah terjadi sebelumnya dan membuat anda mengalami luka fatal seperti itu " ucap Nest setelah menjelaskan sebuah kejadian di malam sebelumnya yang mana sesaat sebelum kesadarannya menghilang, dirinya melihat seorang wanita cantik yang serupa dengan wujud dari Flora yang kala itu berdiri dan mendekap tubuh dari Flora yang berusaha mengendalikan energi merah kehitaman itu
" Yah, sama halnya seperti yang pernah terjadi pada waktu itu. Sisi lain maupun fragmen memori dari sosok Flora dari alam itu pernah menujukan eksistensinya dan membuatku sadar bahwa nantinya ingatan Flora yang menghilang dapat kembali... " balasnya sembari mengingat kemunculan dari tiga sosok yang serupa dengan wujud Flora dalam alam bawah sadarnya
" Oleh karena itu, untuk sekarang perlakukanlah Flora seperti biasanya dan untuk sisanya, biarlah aku mengurusnya. " lanjutnya sembari mengarahkan pandangannya kepada Moli yang masih tertidur diatas tempat tidurnya sesaat setelah penyembuhannya selesai
" Jikalau itu adalah keputusan tuan, kami tidak dapat menolaknya." balas Nest sembari membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar dari tuannya dan hanya menyisakan Moli dan Anma didalamnya
Setelah kembali memeriksa statistik data yang ada pada diri Moli, Anma menyiapkan kembali beberapa baju dan perlengkapan penunjang untuk Moli sama halnya seperti yang pernah dirinya lakukan setelah perubahan pada diri dari Hena.
" Meskipun nantinya akan ada beberapa dari mereka yang kehilangan nyawa bersama dengan waktu hidup yang sementara, setidaknya masih ada beberapa dari mereka yang pantas untuk dipertahankan baik untuk dijadikan inang ataupun dijadikan pengawas untuk beberapa hal lainnya kelak. " gumamnya sembari membelai lembut wajah dari Moli sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah mentari yang mulai meninggi
" Molia Maron Monk, seorang gadis desa yang tiba-tiba dijadikan mainan para pemuda di desanya sesaat setelah wujud dari demi human dalam dirinya mulai merubah penampilannya yang semula memiliki ras manusia " ucapnya menyebutkan nama dari Moli sembari mengingat latar belakang dari sosok Moli pada waktu perkenalan diri
" Meskipun dalam beberapa waktu lalu aku sempat melihat perubahan bentuknya yang kembali menjadi manusia, aku masih belum mengetahui bagaimana dan atas dasar apa hal itu bisa terjadi. " lanjutnya sembari melihat perubahan wujud dari Moli yang perlahan menunjukkan wujud dari ras manusia kembali