
Mengela nafas panjang di malam penuh kesunyian, Listia yang duduk penuh keputusasaan mulai larut dalam penyesalan panjang atas apa yang dia lakukan pada acara sebelumnya.
" Tenanglah, anakku. Aku tahu bahwa kamu tidak bermaksud demikian dan membuat kekacauan yang merusak hubungan dengan dirinya. " ucap sosok asing yang memberinya pelukan penuh kehangatan.
Menenggelamkan kepalanya dalam pelukan dengan mengucapkan semua kekesalan yang selalu di acuhkan, tangis air mata mulai membasahi busana serba putih yang di kenakan sosok itu dan membuat Lana, Lena, Linda maupun Luna yang berada pada ruangnya masing-masing ikut meneteskan air matanya.
" Jika saja aku bisa lebih kuat! Aku pasti tidak akan mendengar tangis Ka Listi saat ini * Gbruuummmsss* " ucap Lena penuh kekesalan sebelum menghantamkan pukulan keras pada perisai ibils yang penuh dengan retakkan.
" Jika saja aku bisa lebih berani mengatakan siapa jati diri dari Tuan Anma! Pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi! " ucap Lana dalam tangis air mata penuh rasa kecewa terhadap dirinya sembari meremas salah satu pegangan dari pedang iblisnya yang semula memantulkan wajah menyedihkan darinya.
" Jika saja aku tidak memaksakan kehendakku pada Ka Listi demi Luna, perasaan bersalah semacam ini tidak akan memberikan luka dalam semacam ini. " ucap Linda sembari menutup telinga dari Luna agar Luna tidak mendengar tangis dari Listia.
Mengerutkan dahinya dalam tidur di waktu merasakan sesuatu yang mengganggu, Luna yang lelap dalam mimpinya nampak begitu senang atas kebersamaan diri bersama seluruh kakaknya yang dalam dunia sebenarnya tidak pernah menunjukkan senyum bahagia.
" Nh, Akhirnya. Variabel konektifitas yang aku miliki, bisa terhubung kembali dengannya. " ucap seorang remaja yang hadir dalam mimpi Luna di saat suasana hati dalam tidurnya mulai terganggu.
Mengabaikan kehadiran sosok asing yang dirasa tidak terlalu penting baginya, Luna yang masih larut dalam mimpinya mulai mengajak kakaknya untuk melihat kekuatan sihir yang sebenarnya tersembunyi dalam diri dan membuat semua kakaknya memuji.
" He, em. Meski ini bukanlah alam yang sebenarnya, aku akui. Kamu cukup berbakat dalam hal ini. " ucap sosok asing sebelumnya yang tiba-tiba datang dan menganggu kesenangannya.
Menolak keras kehadiran sosok itu dengan meledakkan amarahnya, sosok remaja yang memakai pakaian serba putih itu mulai menunjukkan perlawanan dengan menghancurkan setiap serangan sihir dalam dunia mimpi itu menggunakan kata-katanya.
" Maaf, adik kecil. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain bersamamu. " ucap sosok itu yang menahan tubuh Luna menggunakan sebuah sihir misterius yang mengunci tubuhnya dengan ratusan pedang.
Membisikan sebuah kata yang menjadi alasan kehadiran darinya sebelum mengusap air mata Luna dengan lembut, teriak Luna yang terbangun dari mimpinya membuat Linda maupun Lena dan Listia segera datang untuk melihat situasi yang dirasa membahayakan bagi adik mereka.
" Kakak!! Tuan!!! Itu!!! Mnh!!! Dia!! A!!! " Ucap Luna yang kebingungan dalam merangkai kata yang sebenarnya berniat mengatakan bahwa tuan menakutkan yang dia lihat sebelumnya memiliki ikatan kuat dengan tetua terdahulu.
* Gbruuuummmsss * Ledakan besar energi yang dikeluarkan oleh Luna membuat tubuh Listia, Lena, Linda dan bahkan Lana yang tengah sibuk mempersiapkan diri dalam rutinitas pemantauan hutan terlarang harus terlempar jauh ke udara sebelum Anma, Flora, Ryuu dan Crsi menangkap mereka.
Bergerak cepat dengan segera menghentikan pusat dari ledakan energi yang dirasa familiar baginya, Anma yang enggan mendapatkan masalah baru dari apa yang telah terjadi mulai mengaktifkan kembali kemampuan sihirnya untuk memutar balikkan waktu.
" Argh, baiklah. Baik. Aku akan memikirkannya sekali lagi. " ucapnya yang kembali dalam waktu terakhir sebelum dirinya terlempar jauh ke waktu pembahasan panjang antara Tia bersaudara, Fra dan Shofia.
Menarik nafas panjang untuk menjernihkan pemikiran atas lamanya waktu yang harus di ulang, sedikit harapan atas pertemuan pada paradox di masa depan maupun sosok eksistensi diri yang menguak kebenaran atas dasar penciptaan salinan diri dalam berbagai dimensi ruang dan waktu.
" [ Untuk sekarang, setidaknya aku sudah mengetahui asal mula dari dirinya maupun kejanggalan yang ada. Namun jika aku mengulang waktu terlalu jauh dari sebelumnya, maka mungkin masa ini akan kembali terhapus dan mereka yang seharusnya ada dalam dunia harus kehilangan eksistensi diri. ] " lanjutnya dalam diam ketika melihat raut wajah kehawatiran dari Tia bersaudara, Shofia maupun Fra.
" Hehe. Maaf atas sikapku yang begitu tiba-tiba. Aku hanya, yah. Kalian tahu, hehe. Aku sangat berterima kasih atas pertemuan kita pada kalih ini dan aku pun sangat bahagia, karena pada akhirnya aku bisa mengatakan apa yang tidak sempat aku katakan pada Riz di waktu itu. " ucapnya dengan nada yang jauh lebih berbeda dari nada sebelumnya.
Melanjutkan perkataannya yang tertunda ketika membuka gerbang teleportasi dihadapan mereka dalam sekejap mata yang menyatakan bahwa dirinya akan melatih Luna sesuai perjanjian yang telah disepakati membuat Tia bersaudara maupun Fra menampakkan senyumnya.
" *tch* [ Itu berarti mereka akan memiliki waktu lebih untuk mendekati Loran. Tapi yah, setelah mendengar apa yang terjadi sebelumnya pun aku bisa mengakui bahwa hal itu adalah hal yang wajar. Tapi, tapi. *Argh!!* ] " pikir Shofia tanpa sadar tak kala mengingat kembali sosok Loran yang begitu luar biasa akan menghabiskan banyak waktu bersama Tia bersaudara.
Membenamkan kepalanya diantara tumpukan tugas mengenai berbagai laporan masuk dan keluar dari guild yang sebagian besar merupakan laporan daei para petualang yang menjelajahi area sekitar kota maupun permintaan kenaikan peringkat yang terkesan memaksakan mulai membawa sebuah ide cemerlang dimana dirinya bisa kembali menghabiskan banyak waktu dengan Loran.
" Dan jika aku melakukan ini, ini dan ini. Lalu mengaitkan hubungan diantara mereka sebelumnya dan menyamarkannya menggunakan cara seperti ini, maka mungkin aku bisa memposisikan diri di sini dan Loran akan tahu bahwa aku pun adalah sosok yang di segani dalam kota ini. " gelak tawa Shofia setelah menemukan beberapa laporan ganjil mengenai Loran dan menciptakan satu rencana besar agar keberadaan diri tidak luput dari pandangan mata Loran yang luar biasa baginya.
...----------------...
Berjalan dalam gelapnya malam di waktu seluruh lentera pencahayaan telah padam, Anma mulai duduk di sebuah sofa kecil dalam ruang utama setelah melepaskan separuh busana yang melekat pada diri hingga menampakkan dengan jelas setiap luka yang terukir dalam setiap sisi tubuh atasnya.
" Untuk kalian yang aku panggil anakku. Datanglah dihadapanku dengan segera agar aku bisa memberikan sebuah kata yang bisa membuat kalian merasa bahagia. " Ucap Anma dihadapan lingkaran sihir biru menyala yang menyinari seisi ruang utama demi memanggil sosok terkuat diantara seluruh Legium yang di ciptakan olehnya.
* Gbraaaamssss!!! Gbrciingssss!!! Gbrciingssss!!! Slumdrrre!!! Slumdrrre!!! Splendummmsss!!! * Sebuah hentakkan energi yang cukup dasyat mengguncang langit dan bumi tak kala badai besar tiba-tiba melanda begitu hebat dalam kegelapan kota tak kala batas penahan kekuatan yang tertanam dalam Mansion mulai hancur atas kemunculan Maestro, Akun dan Ailin.
Mendapati guncangan yang begitu hebat dalam area mansion dan membuat sistem tata ruang yang ada mulai runtuh bersama gemuruh badai yang melanda, baik Queen, Flora, Hena, Taka maupun maid lainnnya mulai mencoba menyelamatkan diri dari ruang mereka berada berdasar pada jalur cahaya biru keunguan yang menuntun mereka pada bariarel perlindungan yang dibuat oleh Arc di sisi ujung dari ruang utama.
" Apa yang sebenarnya terjadi-? [ Tuan Arc? ] " ucap Hena tak kala menyaksikan kumpulan awan gelap menyelimuti bagian inti ruang utama serta seluruh bayangan gelap bermata merah yang mengisi seluruh sisi dari ruang utama maupun sosok serupa Arc yang berdiri di ujung lain ruangan dengan Crsi maupun pelayan muda lainnya.
" Atas kebaikan ayah yang memberikan karunia akal, hati, jiwa dan rasa! Kami seluruh kepala unit dari Legium yang ayah susun memberikan bukti hormat sumpah setia pada panggilan ayah kami satu-satunya! " Ucap kompak seluruh sosok yang hadir dalam kepulan asap hitam yang menyelimuti seluruh isi ruangan setelah terdengar suara merdu dari sebuah alunan melodi dan lagu.
Mencoba tetap mempertahankan kesadarannya tak kala berbagai cahaya membumbung tinggi menghapus kegelapan dalam ruang dan menampakkan sosok sesungguhnya yang semula tersembunyi dalam kegelapan, langkah kaki serempak yang mengarah pada pusat ruang utama dimana Anma berada mulai menghapus sisa kesadaran diri dari Hena maupun maid lainnya begitu alunan melodi dari suara lembut yang menyanyikan sebuah lagu membawa kedamaian atas jiwa dan raga.
" A~h. Terima kasih telah datang, anakku. " Ucap Anma dengan senang setelah kumpulan awan gelap itu menyatu dalam tubuhnya dan menciptakan sayap hitam legam yang terbentang dari satu sisi ke sisi lain dari dinding pembatas antara ruang dalam mansion.
Bangkit dari duduknya dengan pelan sebelum membentangkan sayap hitam itu untuk menciptakan lengan-lengan mengerikan sebelum menempelkannya pada setiap kepala dari sosok yang hadir dihadapannya, usapan lembut disertai ucapan rasa bahagia atas pertumbuhan kekuatan mereka yang membuatnya bangga membawa kesan puas tersendiri diantara mereka yang ada.
" Ailina Flor! , Alpatrus clone!, Mestro Entaros! Aracan Command! Nesasa Fortes! Revn Alef! Menticoral Beast! Sylvia Nearl Ce! Gregh Mechine!! Doom Demonin!! Lufural Ne-sama!! " ucap Anma menyebutkan nama dari 31 sosok yang hadri dihadapannya secara lengkap sebelum menyebutkan kembali beberapa nama dari dua sosok pendamping dari 31 sosok yang hadir dihadapannya.
Menyampaikan sebuah fakta luar biasa yang diucap secara sederhana melalui penekanan kuat atas kenyataan bahwa dirinya pernah melanggar janjinya sendiri yang berupa pembalikan waktu secara berlebihan, seluruh sosok yang ada dihadapannya hanya bisa terdiam tanpa kata sembari sesekali menatap ke sesama bawahannya untuk mengatakan hal baik yang dapat membuat tuan sekaligus ayah mereka bisa kembali menampakkan senyumnya.
" Tidak, Lina. Ayah tidak bermaksud membuat kalian merasa tertekan atas kesalahan yang kalian lakukan di masa depan atau semacamnya. " Balasnya pada Ailin yang mengucap rasa penyesalan tak kala mengingat ucapan waktu lalu dari dirinya yang memilih mengikat janji pada Ailina sebagai subject pertama sebelum kelahiran seluruh unit dari Re Legium maupun Legium yang ada.