Armageddon Maker 3 Step To Revoluton

Armageddon Maker 3 Step To Revoluton
Kebalikan dari Kenyataan yang tertunda



" Selamat pagi, Laura. Bolehlah aku meminta waktumu sebentar? " ucap sapa Anma pada Laura yang berniat membersihkan jendela bagian dalam mansion tepat sebelum Laura menyentuhkan kain kusam itu di wajah Anma.


Menganggukkan kepala dengan segera setelah sempat terkejut dan hendak melemparkan ember air itu ke wajah tuannya, rasa cemas dalam dada yang membuat sesak dirinya mulai terasa tak kala tatapan tajam dari para legium utama memandang dirinya.


" Dimana Nia? " ucapnya sesaat setelah melupakan sosok penting yang menjadi topik pembicaraan serius diantara mereka.


Mendengar canda tawa yang begitu ceria sebelum Laura menyelesaikan ucapannya, sosok Flora, Ailina dan Nia mulai berlarian di sekitar ruang utama dengan begitu gembira sebelum menyadari bahwa suasana serius nampak dihadapan mereka.


" [ Nh, syukurlah mereka jauh lebih akrab dari sebelumnya ] " pikirnya sesaat sebelum menarik tubuh dari ketiga sosok yang datang itu setelah mengubah tata ruang dari aula utama.


Menempatkan Ailin dan Flora di kedua sisi tempat duduknya sebelum menempatkan Laura dan Nia yang duduk dihadapan dirinya beserta para anggota legium utama di belakang keduanya, ucap sapa dari Anma yang begitu ceria pada Nia membawa sedikit raut wajah menahan tawa dari para legium utama sebelum Anma meminta Nia melakukan sesuatu dihadapan mereka.


" Iya, Nia. Coba katakan kepada kami, apa yang nampak di hadapanmu saat ini. " ucapnya sesaat setelah meminta masing-masing sosok yang ada mengeluarkan sedikit sihir aura.


Membuka mata kembali setelah sentuhan hangat dari Anma menyentuh kedua matanya, pandangan dari kain bercahaya berwarna putih nan lembut mulai terlihat dari tubuh Flora sebelum kain berwana biru keputihan membawa rasa damai di kala melihat tubuh Arc maupun Nest, raut wajah yang tiba-tiba berubah dari keceriaan menjadi wajah yang nampak begitu ketakutan membawa kesimpulan dalam diri Anma yang menyebutkan bahwa aura dari mereka yang tersisa merupakan aura yang sama mengerikannya seperti paradoks di matanya.


" Baiklah, sekarang kembali tutup matamu agar kamu tidak kembali melihat mimpi buruk itu. " lanjutnya setelah mencoba mendengarkan secara seksama ucapan dari Nia yang menyebutkan bahwa kain hitam yang bertabur bintang membawa gambaran menakutkan mengenai peperangan.


Mendapati adiknya kembali terlelap dalam pangkuan tidak lama setelah beberapa isyarat tangan di tunjukkan bersama anggukan kepala dari semua yang ada disekitar dirinya, ucap melegakan dari Anma yang mengatakan bahwa Nia hanya terlelap sementara akibat kemampuan yang diaktifkan secara paksa membawa sedikit tanya terkait maksud dari ucapannya.


" Em, ya. Sama seperti yang aku katakan waktu lalu. Nia memiliki kemampuan unik yang bahkan aku sendiri belum pernah melihatnya sama sekali. " lanjutnya menyinggung ucapan di waktu awal di selamatkan nya Nia dari Rob.


Memberikan pendapat bahwasanya kemampuan itu merupakan kemampuan yang di wariskan dari ibunya sebagai sosok yang telah diperlakukan secara biadab oleh bangsawan membuatnya mampu menyembunyikan fakta bahwasanya kemampuan yang dimiliki merupakan kemampuan yang setara dengan kemampuan analisis energi mana maupun pengelihatan tabu atas masa depan yang akan terjadi seperti yang dirinya miliki.


" Selamat datang, Tu-an. " ucap Fra yang mencoba memperbaiki sapaannya terhadap Anma yang menggunakan identitas baru sebagai Loran.


" He, em. Tidak apa, Linda. Aku pun tidak keberatan atas hal itu. Lagipula jika Luna sudah menganggap ku demikian, itu berarti aku pernah memperlihatkan sisi itu kepada dirinya. " balasnya dengan lembut sembari menyembunyikan fakta bahwasanya mimpi yang diucap Luna dalam rengekannya merupakan kenyataan yang masih tersisa dari kejadian buruk sebelumnya.


Mempertanyakan kembali siapa sosok Anma kepada para saudarinya yang nampak begitu lega setelah kepergiannya, tatapan mata yang tertuju pada Lana membuat Lena merasa bingung atas maksud dari sikap para kakaknya sebelum penjelasan mengenai siapa sosok Anma di katakan pada Lena.


" Begitulah yang terjadi, kakak. Pada awalnya aku mengira bahwa dia hanyalah sosok pemuda normal seperti yang lainnya namun setelah merasakan secara jelas kemampuan yang jauh berbeda, aku semakin merasa takut ketika dekat dengannya. " ucap Lana menjelaskan kejadian dari awal hingga akhir pertemuannya dengan Anma sembari menyinggung hal mengerikan yang dilihat Luna.


Menambahkan kebenaran bahwa Anma mampu mengubah ingatan atas apa yang terjadi menjadi sebuah halusinasi maupun anggapan sebagai mimpi membuat mereka yang mendengarnya mulai memahami maksud perkataan dari Luna.


" Yang itu berarti secara tidak langsung, dia pernah mengundang kita dalam sebuah pesta " ucap Listia menyambung kalimat dari Lana terkait ingatan yang dimanipulasi sebagai mimpi sebelum mencoba menghubungkannya dengan mimpi buruk yang pernah dirinya alami.


Mendapati ucapan kakaknya yang dirasa mirip dengan mimpi yang selalu enggan untuk dirinya bicarakan kepada para saudarinya yang berdasar pada rasa malu atas usianya yang telah dewasa, Linda yang sudah merasa bahwa hari ini merupakan hari yang sempurna untuk mengatakan mimpi itupun mulai mengucapkannya dihadapan para saudarinya.


" Dan hal mengerikan yang telah terjadi setelahnya membuat kita berfikir bahwa penyakit yang Linda alami merupakan penyakit bawaan dari kakek buyut kita? " simpul Fra yang merasa bahwa penyakit yang Linda derita merupakan penyakit yang tidak biasa.


Duduk di bangku sederhana dalam ruang tamu itu dengan menghela nafas panjang sebagai bagian dari pelampiasan atas permainan mengerikan yang dilakukan Anma terhadap mereka, ucapan baik sangka mulai terdengar dari Lana yang mengingat ucapan dari Anma yang menyatakan bahwa dirinya tidak akan melukai mereka yang merupakan generasi penerus dari Raiza.


" Meski dia pernah berkata seperti itu dihadapan kita di waktu lalu, aku sendiri tidak merasa yakin bahwa dia tidak akan segan untuk melakukan kekejaman kepada kita. Jika dia tahu bahwa mungkin aku telah membunuh salah satu saudarinya di waktu kelompok itu masih aktif mengerjakan misi berbahaya. " ucap Listia dengan rasa penuh kehawatiran tak kala mengingat salah satu deskripsi dari demi human yang Anma gambarkan.


Menarik nafas panjang sebelum menceritakan maksud dari kekhawatiran yang terucap dengan menyinggung senjata besar milik Lena sebagai barang jarahan yang diperoleh dari petualangan panjangnya bersama kelompok petualang yang mana Shofia pun merupakan salah satu anggotanya, sebuah ucapan tiba-tiba dari Lana yang marah atas kebenaran dari apa yang dijelaskan itu langsung membuang jauh kedua senjata iblisnya sebelum meraingkup di sudut ruangan dengan wajah penuh ketakutan yang melebihi ketakutan Luna terhadap Anma.


" Semenjak senjata utama itu diturunkan dari generasi sebelumnya, kakek kita yang mengetahui secara jelas kebenaran memilukan itu hanya bisa menutup mata tak kala melihat beberapa saudaranya membinasakan demi human yang seharusnya adalah bagian dari keluarga kita. " lanjutnya sembari menunjukkan sebuah buku berdebu yang tidak sengaja dirinya temukan di waktu membereskan berkas lama yang berhubungan dengan ibunya