Armageddon Maker 3 Step To Revoluton

Armageddon Maker 3 Step To Revoluton
Flora dan Tia bersaudara



" Hey, hey, hey... sebelum kita bertarung bolehkah aku bertanya satu hal kepada kalian berdua? " ucap Flora pada Tia bersaudara sembari memainkan tongkatnya dengan gembira


" Iya, tentu. Silahkan " balas Tia bersaudara sesaat saling menatap satu sama lain sebelumnya


" M.... sebentar ya... M... yah, itu.. Apakah kalian adalah saudari dari Lana? karena disaat pria tua yang ada disana memanggil kalian, nama kalian seperti pernah Flora dengar. " ucap Flora bertanya sesaat setelah memikirkan beberapa hal yang ingin ditanyakan


" Hehe... iya, Flora. Kami memang saudara dari Lana. Apakah kamu mengenalnya? " balas Lena yang nampak gemas dengan sikap dan tingkah laku dari Flora


" Hm... berarti nanti Flora harus meminta maaf kepada Lana, ya? " lanjutnya dengan sikap dan tingkah laku seperti sebelumnya


" Hm~ ? memangnya kenapa, Flora? apakah kamu melakukan sesuatu yang buruk kepada Lana sampai kamu harus meminta maaf nantinya? " balas Listia yang mencoba bersikap baik kepada Flora seperti yang Lena lakukan.


" Jikalau kalian bertanya seperti itu, untuk saat ini Flora memang belum melakukan sesuatu yang buruk kepada Lana. Tapi mungkin setelah Flora membunuh kalian, Flora harus meminta maaf kepada Lana... " balas Flora sembari mengambil sikap bersiap untuk menyerang


Mendengar ucapan Flora yang begitu mudahnya mengatakan kematian untuk Tia bersaudara, Anma sempat menahan tawanya ketika melihat ekspresi terkejut dari Tia bersaudara dan mengabaikan kegaduhan yang masih terjadi di podium penonton


Sadar bahwasanya Flora sudah siap untuk menghadapi dirinya dan adiknya, baik Listia maupun Lena sama-sama mengambil posisi bertahan sembari bersiap untuk sebuah serangan dari Flora


" Momo!!! Tata!!!! Ayo keluar dan bantu Flora!!! " teriak Flora dengan semangat sembari menghantamkan tongkatnya ke permukaan tanah itu dengan keras hingga membuat sebuah retakkan besar yang memporak-porandakan arena pertempuran itu


* Gbralssss dbruuusssssh * dua pasangan lengan batu raksasa mulai keluar dari permukaan tanah yang hancur itu bersamaan dengan dua buah golem besar yang keluar tidak lama setelahnya


Baik Lena maupun Listia hanya bisa saling menatap satu sama lain ketika goncangan yang bahkan bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka sudah memberikan sebuah serangan mental yang cukup serius


" Jadi, Lena... apakah kamu yakin untuk tidak menyerang Flora setelah hal mengerikan seperti ini terjadi? " ucap Listia sembari berusaha bangkit dari posisinya semula dan membantu Lena yang masih terlentang menatap langit sesaat setelah goncang dasyat dari Flora menghempaskan keduanya


" Hehehe... entahlah ka... Jika memang ini pertarungan antara hidup dan mati, setidaknya aku akan berusaha semampuku untuk menyerang anak polos itu " tawa dari Lena sesaat setelah melihat wajah dari kakaknya yang masih dirinya benci


Melihat kedua saudara itu sudah kembali mengambil posisi untuk menyerang Flora, Flora justru nampak asik bermain dengan kedua golem ciptaannya dan mengabaikan kedua saudara itu.


"Oh, Hehehe.... Flora kira kalian sudah tiada, jadi Flora sedikit bermain dengan Momo dan Tata. Tapi jika kalian masih hidup dan bersiap untuk melukai Flora, maka Momo, Tata tolong hancurkan tubuh mereka berdua, ya.. hehehe... " ucap Flora dengan riang gembira sesaat setelah melihat kedua saudara itu kembali mengambil posisi untuk menyerang


* dbruuummm dbruuummm dbruuummm sbrummms dbramsss * Sesaat setelah Flora mengusap kepala dari kedua golem ciptaannya itu, kedua golem itu mulai berlari dengan cepat ke arah Listia dan Lena sebelum akhirnya menghantamkan pukulan kerasnya ke arah keduanya


* Swungssss srasaptsss dbruuuumssss * Listia yang saat itu memakai zirah ringan dengan senjata tombak langsung berlari ke arah dinding yang rusak sebelum akhirnya melompat sekuat tenaganya dan menghancurkan lengan dari salah satu golem ciptaan Flora menggunakan senjatanya


" Hm~ ? Momo? Tata? apakah kalian baik-baik saja? " ucap Flora dengan lembut sembari mengusap bagian tubuh dari kedua goelm.


Menyadari bahwa Flora yang tiba-tiba berada di belakang tubuh mereka, Lena dan Listia yang terkejut langsung melompat menjauh sebagai tanda pengamanan diri


" Kecepatan macam apa itu tadi? " ucap Lena yang menyadari sebuah gerakan cepat dari Flora yang saat itu berjalan dari ujung arena tempatnya semula ke ujung lain dari arena tempatnya berada.


" Graaamsssh.... * dbruuusssssh * " sesaat ketika golem buatannya menggeram dan hancur, Flora yang kala itu berwajah ceria mulai mengubah kecerian itu menjadi sebuah amarah


* Swungssss tingsssa dbraaamssss * sesaat setelah melihat Listia mendarat kembali ke permukaan tanah itu, Flora langsung menjerat kaki dari Listia dengan menggunakan akar tumbuhan sebelum akhirnya menghantamkan tongkat sihirnya ke tubuh Listia dengan sangat keras


" Gra!!!! " Listia berteriak sangat kesakitan sesaat setelah Flora menghantamkan tongkat itu tepat ke bagian perutnya yang hanya memiliki sedikit perlindungan


Tidak menerima bahwa Listia diserang secara brutal oleh Flora menggunakan pukulan tongkatnya, Lena langsung berlari mendekat dengan cepat sembari berniat menghantamkan perisainya seperti saat latihan bersama Fra


* Swungssss * Sama seperti yang terjadi pada pelatihan itu, serangan dari Lena berhasil dihindari dengan mudah oleh Flora


* Sbrummms dbramsss * Namun berbeda dari sebelumnya, Lena yang kini telah mengetahui kelemahan dirinya dan berlatih keras langsung melesatkan tendangannya ke arah wajah dari Flora yang saat itu masih belum menyadari serangan darinya


* Sdaptsss gbrakssss * Lena berteriak kesakitan sesaat setelah Flora menghentikan serangan darinya dan membuat kaki yang di tahan yang dicengkram itu hancur setelah Flora meremas nya begitu keras


" Hehehe.... nah, bagaimana perasan kalian ketika kaki dan tangan kalian dihancurkan dengan kejam seperti yang kalian lakukan kepada Momo dan Tata? apakah itu menyakitkan? atau~ menyenangkan? hehehe... " ucap Flora dengan sebuah tawa sembari melihat tubuh dari kedua saudara itu telah terbaring dengan luka yang cukup mengerikan.


Sembari melihat ke arah wajah keduanya yang sama-sama tidak mampu lagi untuk bergerak, Flora kembali menanyakan beebrapa hak kepada keduanya dan meminta mereka untuk menyerah agar nantinya Flora sendiri tidak harus membunuh keduanya dan membuat Lana sedih.


" Flora.... berhentilah menyiksa mereka lebih dari ini." ucap Anma setelah kembali mendekati Flora disaat Flora nampak beberapa kali memukulkan tongkatnya ke arah tubuh dari kedua saudara itu hingga membuat zirah mereka hancur dan beberapa bagian tubuhnya luka lebam serta kulit yang terkoyak


" Hm-em... ayah.... tapikan mereka masih belum mengakui bahwa mereka menerima kekalahan ini dan lagi, entah kenapa mereka tiba-tiba menangis meskipun Flora hanya melakukan ini dan itu dengan pelan. " balas Flora dengan wajah yang kecewa disaat keinginannya untuk memenangkan pertarungan itu tidak dapat terkabul karena kedua saudara itu tidak segera mengatakan bahwa mereka telah menyerah


" Baiklah baik... tunggu sebentar ya... " ucap Anma setelah menahan tawanya ketika menyadari bahwa kedua saudara itu sudah tidak lagi bisa berbicara karena beberapa luka fatal yang diberikan Flora sudah menghancurkan beberapa bagian penting dari tubuh mereka


* Sbriiiingssss * " nah demi kebaikan kalian, aku sarankan untuk segera mengatakan apa yang Flora minta. " ucapnya pada kedua saudara itu sesaat setelah menyembuhkan tubuh mereka secara menyeluruh


Merasa bahwa mereka tidak lagi mampu berbuat sesuatu yang dapat menyelamatkan diri mereka, baik Lena dan Listia sama-sama menundukkan kepalanya dan berteriak bahwa mereka mengakui kekalahan mereka