
" Ucapan anda memang benar. Kami memang sudah memiliki cukup banyak pahlawan namun kami belum pernah sekalipun memperoleh kemenangan mutlak akibat campur tangan dari beberapa organisasi terselubung yang selalu membuat kami gagal mengirimkan petarung terbaik kami. " balasnya disaat para penonton yang ada di podium mulai terlihat penasaran dan membuat suasana kala itu menjadi cukup gaduh
" Hm~ Lalu apa yang kalian mau dari ku? " ucapnya sembari memperhatikan setiap pergerakan aneh dari bangku penonton ketika melihat Brotus nampak berbicara dengan beberapa penonton secara acak
" Hehehe... anda memang cukup pintar akan situsi yang saya maksudkan, tuan. Yang saya inginkan sama seperti sebelumnya. Saya ingin anda mewakili kota kami dalam turnamen Ouroboros karena kami yakin bahwa anda bisa memenangkannya untuk kami dan lagi, sayapun sudah melakukan beberapa pengumpulan informasi semenjak anda memasuki kota ini dan mulai melakukan beberapa pergerakan sederhana yang cantik dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa... " balas pria itu sembari menjelaskan apa yang dirinya ketahui tentang Anma
" Ho~h, jadi seperti itu cara bermain kalian? kalau begitu bagaimana jika aku menolak permintaan itu? apakah aku akan di tahan di penjara kota ini dan kalian akan melakukan sesuatu yang buruk kepada keluargaku? " ucapnya dengan sikap yang menyepelekan penjelasan dari pria paruh baya itu
Dengan sebuah jawaban sederhana disertai senyuman, Anma tahu bahwa dirinya akan menjadi musuh kota itu dan bahkan mungkin akan menjadi ancaman suatu negri jika dirinya tidak bertindak hati-hati
" Ingatlah untuk selalu bertindak hati-hati terhadap sesuatu yang akan kamu putuskan. Karena nantinya dengan satu keputusan itu, masa depanmu pun akan berubah " sebuah ucapan dari elder disaat kejadian itu membuatnya sedikit ragu atas keputusannya untuk menentang hal itu.
" Ayah.... apakah semua baik-baik saja? " ucap Flora yang mendekati Anma dengan wajah yang khawatir
Bersama dengan sentuh dan sjara lembut dari Flora yang menyadarkannya dari lamunan panjangnya, dirinya pun terpikirkan satu hal yang dapat menjadi jalan tengah diantara kedua pilihan itu.
" Tidak apa sayang.. Semua baik-baik saja " balas Anma sembari mengusap kepala dari Flora agar Flora dapat ceria kembali.
Melihat bahwa Anma nampak mengabaikan apa yang dirinya katakan, pria paruh baya itu kembali mengulang kalimatnya dan menanyakan apa keputusan yang akan Anma pilih
* Sdrumssss * " Berhenti lah mengatakan apa yang tidak kamu ketahui, tuan. Aku tahu bahwa kamu adalah penguasa tanah ini dan dapat melakukan apapun sesukamu tanpa berbenturan dengan hukum yang ada " ucap Anma dengan tatapan tajam lagi nada kesal yang di barengi dengan ledakan energi yang mengguncang area itu
" Kaka!!! Aku takut!! Paman iblis akan mengamuk dan menghancurkan kota ini!! Kaka!!! " teriak Luna dengan sangat ketakutan ketika sebuah hentakan energi mengguncang area itu dan membuat beberapa orang nampak berlari ketakutan
Linda yang kala itu hanya berniat menonton pertandingan itu bersama dengan Luna di atas bangku penonton mulai membawa Luna ke tempat lain sama halnya mereka yang mencoba menyelamatkan diri karena dirinya sadar bahwa apa yang Luna katakan merupakan sebuah kebenaran
* Sdramssss * beberapa orang yang berniat melarikan diri menabrak sebuah dinding transparan yang terbentuk dari sihir bariarel dan membuat mereka saling bertubrukan satu sama lain dan membuat banyak orang terluka
" Pa---paman.... Apakah paman yakin bisa memaksakan kehendak paman saat ini dan mempertaruhkan nyawa dari mereka? " ucap Listia disaat melihat suasana kala itu menjadi mencekam
" Ayah? apakah ayah benar-benar baik-baik saja? " ucap Flora yang kembali menyadarkan Anma disaat pria paruh baya itu selesai mengulang kalimatnya.
Sesaat setelah menghela nafas cukup panjang dan membatalkan niatannya untuk menghancurkan kota seperti dalam bayangannya, Anma mendekati pria paruh baya itu dan membisikkan sesuatu
" Flora... apakah Flora membantu ayah untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah sekumpulan orang lemah? " ucap Anma dengan lembut sembari menepuk bahu Flora dan memintanya untuk menunjukkan kemampuan dirinya melawan salah satu dari para pahlawan lokal yang ada didekat pria paruh baya itu.
" Hehehe... Tentu ayah! Flora akan berusaha sebaik mungkin untuk mengahadapi merek yang payah itu! dan, dan lagi... bolehkah Flora juga meminta sesuatu sebagai hadiah untuk permintaan ayah ini? " balas Flora dengan penuh semangat karena akhirnya dirinya mendapatkan giliran untuk menunjukkan kemampuannya kepada Anma dan meminta sesuatu darinya.
Dengan anggukan kepala dan jawaban yang sesuai dengan keinginan Flora, Flora mulai mendekati pria paruh baya itu dan bersiap untuk menyerang mereka
" Hyupssss.... tahan dahulu keinginan itu, Flora. Ayah memang memintamu untuk melawan mereka namun tidak semuanya sekaligus karena itu akan berdampak buruk bagi kita. " ucap Anma dengan wajah yang terkejut ketika Flora berniat menyerang mereka sekaligus dengan kekuatannya.
" Nmo, Ayah! kan tadi ayah bilang bahwa membunuh mereka adalah hal yang mudah, tapi kenapa ayah menahan Flora seperti ini? " balas Flora dengan wajah yang kesal
Bersama dengan dimulainya sebuah pertengkaran kecil diantara Flora dan Anma, pria paruh baya itu meminta Listia dan Lena untuk menunjukkan kemampuan mereka sesaat setelah Anma membisikkan sebuah persyaratan sederhana yang nantinya akan menjawab pertanyaan yang telah berulang kali dirinya tanyakan.
" Jadi~ dua orang yang ada disana itu adalah lawan untuk Flora? " ucap Flora setelah sebelumnya dinasehati oleh Anma mengenai beberapa hal yang dirinya inginkan
" Iya, Flora.. Itulah yang ayah inginkan darimu..." balas Anma sembari mencubit gemas pipi dari Flora karena kepolosannya.
Sesaat setelah keduanya saling mempererat pelukannya satu sama lain, Flora mulai berjalan mendekati dua bersaudara itu dan membuat pria paruh baya beserta rombongannya mulai mundur dari arena itu bersamaan dengan Anma yang meminta Hena untuk pergi menjauh
" Hey, kak.... Apakah paman yakin untuk melibatkan kita pada hal semacam ini? Terlebih lagi keyakinan bahwa pertarungan dua lawan satu itu adalah tindakan seorang pengecut, aku merasa tidak yakin bahwa aku bisa mendaratkan serangan ku pada anak polos seperti dia. " ucap Lena yang nampak ragu untuk melukai tubuh dari Flora yang harus berhadapan dengan dirinya dan kakaknya
" Jangan remehkan kemampuan dari anak itu, Lena. Karena bagaimana pun juga kita masih belum mengetahui seperti apa kekuatan hebat dalam dirinya dan lagi jika kamu melihat dua pertarungan sebelumnya, bukankah sangat wajar bahwa paman bersikap lebih hati-hati terhadap dirinya? " balas Listia sembari menyembunyikan sebuah fakta bahwa Flora merupakan seorang anak yang usianya melebihi usia dari berdirinya kota Raizn sendiri.