
" Dengan adanya penjelasan dari Hena, tadi. Sepertinya aku tidak perlu menghawatirkan perkembangan dari rencana tahap awal meskipun sebelumnya aku sempat menghilang." ucapnya dalam diam sembari kembali melihat ke arah keramaian kota Raizn dikala mentari mulai meninggi.
" [dan karena ada beberapa pencapaian yang cukup luar biasa dari mereka, sepertinya beberapa sosok kunci akan muncul dan membuat rencana awal selesai.] Namun daripada memikirkan hal-hal itu, akan lebih baik jika aku memfokuskan diri dan mengawal mereka sampai tahap ini selesai. " Lanjutnya sembari berbalik dan menatap pantulan dari dirinya dalam cermin
Setelah menatap pantulan diri dan menghabiskan waktu untuk merias diri, Hena keluar dari dalam kamarnya dan berkumpul ke aula utama bersamaan dengan beberapa maiden lain yang juga menuju arah yang sama.
" Baiklah, dengan adanya sedikit informasi baru dari Hena mengenai kalian, aku ucapkan selamat kepada kalian yang lolos pada tahap seleksi tahap awal dan melanjutkan ke seleksi tahap dua. Sementara untuk kalian yang gagal, aku pun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena aku sendiri tidak menduga bahwa perkembangan kekuatan maupun progres yang kalian lakukan cukup cepat seperti ini. Maka dari itu, aku ingin kalian tetap semangat dan melakukan hal yang ada seperti biasa dan sebagai hadiah untuk kalian yang masuk pada tahap ke dua, aku akan datang dan menemani kalian sampai tahapan seleksi itu selsai di lalui. " ucapnya memberikan pujian kepada para maiden yang telah berusaha cukup keras dan membuatnya kagum.
Bersama dengan permintaan sederhana yang terucap setelahnya, para maiden kembali melakukan tugas mereka masing-masing sementara mereka yang lanjut ke tahap ke dua mulai berjalan di belakang Anma menuju tempat seleksi.
" Hey, ayah... Apakah ayah yakin membiarkan mereka menunjukkan baju zirah itu di waktu seperti ini? bukankah hal itu dapat mempengaruhi orang-orang disekitar mengenai siap sebenarnya sosok kita sendiri? " ucap Flora bertanya beberapa saat setelah penduduk Kota Raizn yang berlalu-lalang disekitar mereka terhenti dan melihat ke arah mereka.
" Hm~ sepertinya tidak, Flora. Lagipula ayah sendiri berfikir bahwa dengan menunjukkan siapa jati diri mereka kepada orang-orang ini, ayah rasa ini akan berpengaruh besar kepada tingkat kepopuleran dari party misteri dan akan berdampak baik pada beberapa rencana lainnya. " balas Anma sembari melihat ke arah maiden yang kini menunjukkan kemolekan tubuh mereka yang terbalut zirah sihir yang semula disembunyikan.
Dengan sebuah armor putih mengkilap yang disatukan dengan baju khas dari gadis kuil serta sepasang katana yang terselip diantara ikat pinggangnya, membuat Hena memancarkan aura kedamaian.
Berbanding terbalik dari Hena yang terkesan kalem, Ryuu yang kala itu mengenakan sebuah zirah kulit berwarna biru menyala yang terbalut bersama sebuah pakaian khas ahli seni bela diri dengan sepasang sarung tinju berbentuk cakar naga yang warnanya nampak senada, membuatnya terkesan nakal dan garang.
Sementara Neouro yang memakai sebuah armor hitam dengan pakaian khas penyihir elemental dengan sikap acuh, membuatnya nampak begitu berpendidikan dan terkesan menyombongkan diri.
" Dan yah, meskipun mereka menganggap bahwa hal itu adalah hal yang berlebihan, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. " tambahnya setelah mengalihkan pandangannya ke sebuah arena besar yang nampak seperti stadium dengan beberapa orang yang nampak tengah mengantri untuk masuk kedalamnya.
" Hm~ ? sepertinya beberapa party besar yang ada di malam itu pun lolos ke tahap pertama dan berniat menjadi perwakilan dari kota ini. " ucapnya dalam diam setelah menyadari beberapa tatapan mata yang sempat mengarah kepadanya
Beberapa saat ketika keramaian itu mulai memudar, beberapa orang yang nampak familiar baginya nampak datang dan menyapa dengan wajah bahagia.
" Kaka~ ? kenapa ada paman iblis disini? " ucap Luna dengan lirih sembari menarik pakaian dari Listia yang tengah bertegur sapa dengan Anma dan maiden lainnya
" Luna~, jangan menyebutkan sesuatu yang buruk kepada mereka yang telah membantu ku untuk menyembuhkan kamu. " ucap Linda dengan pelan setelah mengusap pelan kepalanya
" Tapikan ka, dulu aku sudah sempat bercerita mengenai hal ini bukan? dan paman iblis yang ada disana itu adalah paman yang sama menakutkannya dengan paman iblis yang aku ceritakan " balas Luna dengan tetap mempertahankan pendapatnya setelah mengingat hal buru yang terjadi pada saat itu.
Mendengar ucap Luna yang begitu polos namun juga sangat tidak ramah terhadap Anma, beberapa petualang yang juga sempat mengalami hal serupa sempat menganggukkan kepalanya
" hehehe... maafkan adik kami, ya. Anma. Dia memang selalu bersikap buruk terhadap beberapa orang yang baru dikenalnya namun setelah kamu mengenalnya lebih, kamu mungkin akan menemukan sisi baik dan menggemaskan darinya. " ucap Listia setelah meminta Linda untuk pergi membawa Luna ke tempat lain.
Dengan balasan lembut darinya sembari mengenalkan sosok Flora dan para maiden yang menjadi perwakilan partynya, Listia nampak begitu terkejut sesaat setelah mimpi buruk yang Luna maksudkan mulai muncul bersamaan dengan jabatan tangan amtara dirinya dengan Flora.
" Nah, kalau begitu aku akan menantikan pencapaian luar biasa dari party kalian dan aku harap, kalian mampu menjadi salah satu perwakilan dari kota ini." Ucap Listia sembari menjabat tangan dari para maiden itu sesaat sebelum pergi untuk melanjutkan tugasnya.