Armageddon Maker 3 Step To Revoluton

Armageddon Maker 3 Step To Revoluton
Sebelum perpisahan itu



Beberapa saat sebelum perpisahan diantara dirinya dengan putri dari Liah, Dia hanya tertunduk dalam diam sembari mencoba tegar menghadapi kenyataan sesaat setelah sebuah ingatan milik seseorang masuk kedalam alam bawah sadarnya


* Zgriiiingssss zgrgzs zgrgzs zgrgzs zgrgzs * Bersama dengan disatukannya setiap bagian dari Paralais Halo Sword yang terpecah, sosok wanita yang disebut sebagai Dewi Mireal datang dan menyapa Anma untuk memenuhi perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.


" dan meskipun banyak hal telah terjadi diwaktu yang bersamaan, tidakkah kamu sempat berfikir bahwa semua yang terjadi itu sudah direncanakan sejak awal? " ucap Dewi Mireal setelah menepati janjinya.


Bersama dengan dicabutnya sesuatu yang ada dalam tubuhnya, dia terus berusaha memegang kendali atas penyatuan dari Paralais Halo Sword sembari mencoba menahan rasa sakit yang teramat sangat.


" Jika untuk saat ini kamu tengah memikirkan mengenai siap yang mengatur semua itu, maka sebuah jawaban mengenai eksistensi dari dirimu dari masa lalu bukanlah sosok yang patut kamu salahkan. " tambah Dewi Mireal dengan mengucapkan sesuatu yang berkaitan dengan sosok paradoks maupun eksistensi lain yang serupa dengan dirinya.


Meskipun dirinya tahu bahwa pembicaraan yang akan dewi itu bahasa dengan dirinya akan menguak dalang dibalik peristiwa itu, dirinya hanya diam dan mencoba untuk memperhatikan apa yang dewi itu rencanakan.


* scriptssss * Diwaktu yang hampir bersamaan dengan ucapan sosok dari dewi itu, sebagian besar pecahan dari Paralais Halo Sword kembali terpecah dan mengarah langsung ke tubuh dari dewi itu.


" Apakah kamu tahu, bahwa sosok yang kamu panggil Paradoks, Fortune, Flora, Alpa, Arc maupun beberapa sosok yang serupa dengan mereka memiliki sebuah garis waktu dan takdir yang saling berbenturan dengan takdir yang akan kamu lalui. " lanjut Dewi Mireal seolah tidak merasa takut atas serangan brutal yang siap menyerang tubuhnya.


Beberapa ucapan dari Dewi Mireal yang semakin lama semakin banyak menyebutkan nama-nama dari beberapa orang yang sayangi olehnya, sebuah niatan untuk menyerang sosok dewi itu pun mulai menghilang.


" Baiklah. Aku akan menjawab apa yang ingin kamu tanyakan. Namun sebagai gantinya aku ingin kamu mengatakan apa yang kamu tahu mengenai eksistensi dari masa lalu atau apapun itu. " respon dari Anma setelah sosok itu menjelaskan sesuatu mengenai keterkaitan antara nama-nama yang disebutkan dengan masa depan yang akan selalu terulang.


Ketika sebuah pertanyaan pertama dilemparkan, Anma sempat terdiam cukup lama karena pertanyaan itu bersangkutan dengan prioritas utamanya yang lebih mengarah kepada Flora maupun Sci yang tidak lain adalah generasi penerus dari Liah


" Pada dasarnya aku tahu bahwa apa yang kamu ucapkan itu memang akan terjadi di masa mendatang. Terlebih jika memang kekuatan ini akan mengambil alih kendali atas tubuhku lagi, setidaknya aku akan berusaha untuk mencari cara untuk mencegahnya." balasnya menyinggung ucapan dari sang dewi mengenai beberapa nama yang disebutkan sebelumnya.


" Dan mengenai apa yang ingin aku lakukan mengenai kedua sosok itu, setidaknya aku ingin mereka menjadi saudara kembali meskipun sebenarnya aku sendiri belum siap untuk tinggal bersamanya lebih lama dari ini. " lanjutnya membalas pertanyaan yang terucap oleh sang dewi sembari menahan kesedihannya ketika menyadari bahwa Lia merupakan seorang anak yang terlahir dari tubuh Liah.


Mendengar jawaban yang nampak sudah diprediksikan, sosok itu sempat menepuk bahu dari Anka sesaat sebelum kembali melemparkan pertanyaan keduanya


Setelah terdiam cukup lama sembari mendengarkan segala macam penjelasan dan penyesalan dari Anma, Dewi Mireal yang semula nampak memastikan sesuatu mulai mencukupkan apa yang terucap dari Anma.


" Semua jawaban yang ingin kamu ketahui mengenai diriku. Bisa kamu temukan jika kamu melihat ke arah langit dan mengingat kembali kejadian dimana kamu menghancurkan satu desa berisikan demi human.... " Balas Dewi Mireal sembari menunjuk ke arah langit yang kini berselimut kabut merah.


Merasa paham mengenai apa yang dewi itu maksudkan, Anma kembali tertunduk dalam diam sembari meremaskan kedua tangannya dengan tatapan kebencian.


" Melihat reaksi yang kamu tunjukkan itu, sepertinya kamu sudah memahami apa yang ingin aku bicarakan. Oleh karena itu, aku akan melewati bagian itu dan menjawab pertanyaan kedua darimu yang menanyakan mengenai apa yang aku maksudkan mengenai Saint of Paradox maupun Antares Demi God. " Ucapnya melanjutkan.


Mendengar penjelasan dari Dewi Mireal, Anma kembali dipaksa untuk kembali mengingat beberapa kejadian yang telah berlalu baik dalam waktu bersama dengan Liah dan para demi human maupun waktu-waktu yang dia habiskan bersama Flora dan para maiden.


" Sedangkan untuk penjelasan lain dari false maupun nigen sendiri adalah hal yang tidak dapat aku jelaskan saat ini karena hal itu berkaitan dengan takdir masa depan yang saat ini pun masih bercabang." lanjutnya sembari memberikan sebuah kristal yang diambilnya dari dalam tubuh dari Anma sesuai janji yang telah dibuat.


Mendengar sebuah informasi yang tidak terduga, dirinya sempat mengajukan beberapa pertanyaan lain menyangkut mase depan yang dimaksudkan oleh Dewi Mireal.


Sesaat setelah sosok dewi itu pergi bersama kabut yang mulai memudar, beberapa demi human mulai datang bersama Sci yang terlihat menghawatirkan dirinya.


" Maaf saja, Lia. Aku bukanlah sosok yang akan memberikan cinta maupun kasih sayang ku kepadamu seperti aku memberikan hal itu kepada Liah yang tidak lain adalah ibumu. Namun jika di suatu saat nanti kita akan kembali bertemu dalam situasi yang sama namun di sisi yang berbeda, aku akan mencoba menyelamatkan dirimu kembali meskipun nantinya kamu akan sangat membenciku." gumamnya sesaat sembari melihat ke arah Sky tower of Regains Smoke.


Sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah kota yang hancur, Anma sempat menemukan beberapa kepingan petunjuk dari dalam kristal yang diberikan itu sesaat sebelum kristal itu hancur bersamaan dengan terbukanya sebuah portal menuju mansion.


" Mirelas... sudah saatnya kita kembali.. " ucap seorang pria dengan pakaian serba putih sesaat setelah menepuk bahu dari seorang yang dipanggil Mireals.


Bersama dengan berbalik nya pandangan dari Mireals yang semula menatap tajam ke tempat Anma berada, dirinya sempat tersenyum dan mengucapkan beberapa kata sebelum akhirnya kedua sosok itu menghilang bersama dengan tubuh dari Anma yang masuk kedalam portal.