
* Swarps * Sebuah portal misterius tiba-tiba terbuka ditengah aula mansion yang mengejutkan semua sosok yang nampak mengakrabkan diri.
" Mengingat kembali ucapan dari sosok itu, aku mungkin harus mengatur ulang beberapa bagian dari rencana besar itu. " gumamnya sembari melangkah keluar dari portal yang terbuka itu
Melihat sebuah portal misterius yang terbuka dan sebuah energi mana asing yang ikut keluar bersama dengan tubuh dari dark elf bersenjata lengkap itu, Unit Twins, Lailia, Quinn dan Nisel kembali mengambil sikap siaga setelah sebelumnya merasa bahwa energi yang sama sempat mengambil alih kesadaran dari Arc.
" Ayah? " Sapa Flora setelah mengintip dari sebuah celah diantara Alin dan Lailia.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, dia yang semula hanya fokus untuk membuat rencana baru akhirnya tersadar dari lamunannya dan melihat keberadaan dari sosok yang tidak biasa hadir di aula mansion tanpa memperhatikan adanya kerusakan besar dalam area mansion itu.
" Walah, Twins.... kenapa kalian bisa ada disini ? dan lagi ada Lailia dan Nisel juga?" ucapnya sembari mengusap pelan kepala Flora yang langsung memeluk tubuhnya.
" Argh... ya ampun, Flora selalu menjadi sosok yang paling berharga bagi papa dan membuatnya lupa bahwa ada hal serius disekitar dirinya. " gumam Alin dengan kesal disaat Anma memeluk Flora dengan bahagia
Baik Akun maupun Aestro hanya bisa berpura-pura untuk tidak mendengar ucapan dari Alin yang nampak kesal itu sementara Lailia yang terdiam tanpa kata itu pun memikirkan hal yang sama dengan Alin.
" Begini, ayah... Sebenarnya mereka ada disini itu karena ada hal ini dan itu.. " ucap Flora sembari menjelaskan kejadian mengerikan disaat Arc kehilangan kendali atas dirinya dan membuat pertarungan besar dalam area mansion
" Lalu karena hal itu pun, Moli harus kehilangan kedua sayapnya demi menolong Flora. " Lanjutnya dengan menunjuk ke arah Moli yang terduduk diantara perlindungan dari para Twins, Lailia, Nisel, Quinn dan Nest.
Sembari berjalan mendekati mereka yang mulai kembali dalam posisi normal, dirinya mulai memperhatikan setiap kerusakan besar yang Flora maksud sembari melihat beberapa tubuh dari para cyborg yang hancur
" Twins, Quinn, Nisel, dan Lailia~. Aku sangat berterima kasih kepada kalian karena telah bertindak luar biasa tanpa adanya perintah langsung dariku" ucapnya memuji mereka sembari menurunkan Flora dari gendongannya
" Sementara untuk Nest. Aku ingin mendengar semua penjelasan dari mu nanti " lanjutnya sembari menepuk bahu dari X-body 02 hingga menampakkan sebuah retakan besar diantara kedua bahu itu.
* glps * suara dari ludah yang tertelan nampak begitu jelas terdengar di dalam kesunyian disaat hal itu terjadi.
Merasa bahwa kekesalannya nampak begitu jelas dilihat oleh mereka yang ada disana, Anma melepaskan pegangan tangannya dari Nest dan setelahnya menepuk kan kedua tangannya sebelum meminta mereka semua untuk berkumpul didekatnya
" Redous paradoksion " ucapnya sembari menciptakan sebuah pentagon besar setelah semua sosok yang ada disana mulai mendekati dirinya.
Sesaat setelah pentagon besar itu berputar cukup cepat, beberapa pecahan kaca serta reruntuhan dari dinding yang rusak mulai melayang untuk sesaat sebelum akhirnya menutup berbagai macam kerusakan yang ada dan membuat aula utama mansion itu kembali seperti semula.
" Kalian mau kemana? apakah kalian yakin ingin pergi secepat itu dan melewatkan sarapan pagi bersama kami? " ucapnya sembari memanggil Twins, Lailia dan Nisel yang hendak melewati portal setelah merasa tidak ada hal lain yang ingin mereka lakukan.
" Hehe... Meskipun waktu telah berlalu begitu cepat dan mengubah banyak hal. Sepertinya kalian masih sama seperti dahulu, ya. hehehe.. " ucapnya yang sempat terkejut dengan sikap para unit itu yang tanpa ragu mengambil tempat favorit dari Flora, Quinn, Hena, Taka dan Laura.
Meskipun sempat merasa kesal atas tindakan dari Twins, Nisel dan Lailia yang tanpa sadar mengambil tempat favorit mereka, mereka hanya bisa melampiaskan kekesalan itu dengan tawa sebelum akhirnya Anma mengeluarkan kembali tongkat putihnya dan menghidangkan beberapa makanan diatas meja itu sesaat setelah dirinya merapal sebuah mantra.
" Aku dengar kalian bertarung dengan sangat hebat tadi. Apakah itu benar? " ucapnya bertanya pada para maiden yang masih merasa canggung atas kehadiran para unit terkuat itu.
" Itu benar, papa. Jikalau mereka tidak berusaha sampai seperti itu, saya sendiri tidak yakin bahwa Quinn bisa selamat atas serangan mengerikan dari Nest. " balas Alin setelah melihat para maiden hanya tertunduk malu atas pujian dari Anma.
" Hm~ baiklah jika memang seperti itu kebenarannya....Sedangkan untuk luka yang ada pada Moli, biarkan aku yang mengurusnya. " balasnya sembari menyantap hidangan yang ada di hadapannya sebelum membahas mengenai beberapa hal mengenai pelatihan para maiden serta luka fatal yang diterima oleh Moli.
Mendengar ucapan Anma yang menyinggung tentang para Reli yang menjadi guru berlatih mereka dalam area reruntuhan itu, Ryuu dan Neouro sempat merasa terkejut karena sebelumnya mereka yang berlatih dalam area yang dimaksud itu sudah berjanji untuk tidak memberitahukan hal itu kepada Anma.
" Tenang saja, aku tidak akan memberikan kalian hukuman atau semacamnya karena sedari awal aku memang sengaja membuat kalian bertarung dengan beberapa serangga kecil di dalam area pelatihan null unit yang mungkin kalian anggap sebagai area dungeon dan lagi, mungkin berkah sang dewi turut menyertai kalian karena kedatangan Reven dan Carla waktu itu. " tambahnya sembari memberitahukan sebuah rahasia kecil kepada mereka
*stings * beberapa maiden nampak begitu terkejut dan menjatuhkan alat makan mereka karena sebuah zona yang mereka anggap sebagai sebuah reruntuhan hanya berupa zona pelatihan
" Kalian tidak perlu sampai terkejut seperti itu dengan apa yang papa katakan dan seharusnya pun kalian bersyukur karena zona pertama yang kalian masuki hanya sebuah zona pelatihan karena zona reruntuhan yang sebenarnya sangatlah mengerikan..." ucap Alin dengan nada ramah setelah melihat reaksi para maiden yang nampak kecewa
" Jailin... jalin.. jalin... jailin.. " ucap Akun sembari menjelaskan sesuatu yang hanya dimengerti oleh beberapa orang
" Jangan bicara seperti itu, ka. Aku tahu bahwa mereka tidak mengerti apa maksud dari perkataan kaka. Namun dengan menghina mereka di hadapan tuan... aku rasa itu adalah hal yang buruk ka... " lanjut Aestro sembari memegang tangan dari Akun
" Hehe... tidak apa Aestro. Aku tidak mempermasalahkan ucap Akun yang merendahkan kekuatan mereka. Lagi pun jikalau aku masih benar-benar kejam seperti dahulu, aku rasa apa yang diucapkan Akun dapat terjadi dalam waktu cepat atau lambat " ucap Anma sembari membalas ucapan dari Aestro dengan akhiran tawa
Melihat sesuatu yang tidak biasa mereka lihat dari sikap dan perilaku tuannya yang nampak begitu bahagia, Flora sempat berbisik kepada Quinn mengenai hal apa yang sedang mereka bicarakan dengan ayahnya.
" Hehehe... Maaf ya, Flora. Aku tidak terlalu bisa menjelaskan kepadamu mengenai apa yang mereka bicarakan karena aku sendiri tidak terlalu memahami apa yang mereka bahas. " balas Quinn dengan wajah polos sembari menghabiskan porsi makanannya.
Merasa curiga atas sikap dari Flora dan Quinn yang nampak membicarakan sesuatu dengan berbisik, Lailia mulai menyelinap dari balik bayangan keduanya dan secara tiba-tiba mengejutkan mereka berdua
" Akh, ayolah kalian berdua. Tidak perlu sungkan untuk bertanya kepada mereka maupun diriku jikalau kalian memang ingin bertanya sesuatu. Terlebih lagi, terlepas dari semua pembagian unit dan sebutan yang lainnya. Kita ini adalah keluarga...." ucap Laisia sembari memeluk Quinn dan Flora serta mengajak para maiden untuk mengakrabkan diri seperti beberapa waktu sebelumnya