
Mengenakan busana penyihir coklat yang dihiasi ornamen akar tumbuhan berwarna kuning emas pada bagian leher hingga dada serta lencana matahari yang di tengahnya terdapat kristal orb berwarna biru menyala maupun celana panjang yang terukir serupa pada bagian pinggang dan sepatu hitamnya, Anma berjalan melintasi jalanan kota dikala kabut putih menutup jarak pandang bagi beberapa orang.
" [Emh, sebentar. Apakah tidak terlalu tiba-tiba jika aku menyapa mereka di waktu yang sepagi ini setelah apa yang aku lakukan di malam sebelumnya? ] " pikirnya sesaat tak kala sampai di depan pagar pembatas dari halaman depan rumah Tia bersaudara yang nampak sunyi dengan sedikit cahaya terang yang bersinar di sisi samping jendela.
Membalikkan pandangan diri untuk melangkah pergi sembari berpendapat bahwa menyapa mereka di lain kesempatan adalah hal yang baik untuk dilakukan, pandangan mata yang saling membuatnya terdiam tanpa kata membawa sebuah sapa dari sosok Fra yang masih memakai piama sebelum Lena yang kelelahan mulai mendekati mereka.
" Ho~oh, Ahu~huh, A~? M? Akh! Penguntit!! " Teriak Lena pada Anma yang masih membeku dihadapan Fra yang mencoba menutupi bagian piama yang terkena noda keringat.
* Besssst * " Diamlah, nona muda. " Bisik Anma memberikan ancaman pada Lena untuk sesaat sebelum kembali ke posisi awalnya di hadapan Fra tak kala Lena kembali mencoba memandang Anma yang seharusnya ada dihadapan Fra.
Melihat hal luar biasa yang nampak begitu sederhana dilakukan oleh Anma, memberikan sebuah kesan tersendiri di mata Fra yang semula nampak bingung memulai sebuah kata pembuka.
" Ah, maaf sudah mengganggu waktu pagi kalian. " ucap Anma sebelum melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan mereka berdua dengan berlagak selayaknya orang normal lainnya.
Mendengar suara dari Fra yang memanggil namanya untuk berbicara santai sejenak, Lena yang semula berniat untuk mengistirahatkan tubuh letihnya sejenak harus kembali memaksa tubuh itu untuk mengikuti langkah dari Fra yang secara tidak terduga semakin cepat dari sebelumnya hingga sadar bahwa sosok bayangan hitam yang dikira adalah Fra merupakan penduduk kota yang berlalu lalang untuk memulai hari baru mereka.
" [Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah seharusnya ini adalah jalan menuju alun-alun kota? ] " pikirnya sesaat tak kala melihat keberadaan dari lapak para pedagang yang berjejer rapi di sisi jalanan tempatnya berada.
Menarik nafas lega setelah merasa lepas dari keberadaan Lena dan Fra, Anma yang kini berdiri diantara bebatuan besar di depan gerbang kota mulai menghilangkan jejak kekuatannya bersama kabut putih yang perlahan menghilang.
" Jadi, jadi. Itu tadi juga ulahmu juga, ya. Tuan pahlawan, Anma? " ucap Fra menyapa di waktu Anma hendak melangkah pergi kembali ke dalam gerbang kota.
Tertawa sesaat untuk melihat siapa sosok yang berhasil mengikuti dirinya, Anma yang secara spontan mencengkram erat leher Fra langsung melepaskan cengkraman itu tak kala kesadaran diri kembali di waktu genting sebelum keinginan untuk membanting keras tubuh Fra dilakukan olehnya.
" Oh, astagah. Maaf. Sungguh, aku tidak sengaja. " ucap Anma sembari memberikan penyembuhan fisik dan mental pada Fra yang sebelumnya nampak mengalami gangguan mental atas apa yang terjadi sebelumnya.
Mengusap pelan kepala Fra yang tidur diatas pangkuan akibat efek samping dari mental yang terguncang, pandangan mata yang menampakkan kehancuran di sekitar Kota Rizn membuatnya menepuk dahi tak kala lupa untuk mengaktifkan bariarel sihir yang lebih kuat untuk menahan kekuatan dari tiga anggota terkuat Legium.
Mengucap permintaan pada Flora untuk memperbaiki kerusakan akibat badai energi yang dirasa terjadi pada malam sebelumnya membawa sebuah keceriaan dalam hati Flora tak kala dirinya mendapatkan hal yang bisa dirahasiakan dari Ailin sebagai bentuk balasan atas sikap Ailin sebelumnya.
" [Tidak mungkin?! bukankah dia adalah dewi yang waktu itu!! ] " teriaknya dalam hati sembari menahan mulutnya untuk terkunci di kala melihat sebuah glombang besar tanah longsor menakutkan disertai kumpulan pepohonan nampak membelah diri diantara tempatnya berada.
* Gbrubung! Gbrubung! Gbrubung! * gemuruh suara dari tanah maupun pepohonan yang bergerak cepat mengitari diri mulai semakin lirih terdengar sebelum glombang besar tanah yang bergerak itu mulai melambat bersama tumbuhnya beberapa rerumputan dan pepohonan yang semakin merindang.
" Nma, nma. Hehehe. Bagaimana, ayah ? Apakah Flora melakukannya dengan baik ? " ucap Flora dengan sangat percaya diri atas hasil akhir dari perbaikan area hutan yang porak-poranda sebelumnya.
Mengeluarkan kembali sayap-sayap yang ada pada punggungnya untuk melihat dampak area yang ditimbulkan, usapan pelan pada kepala Flora yang diberikan setelah pelukan erat maupun pujian atas hal baik yang dilakukan membuat Flora semakin senang hingga membuat kilau cahaya kuning emas yang ada pada sayap runcingnya membawa percepatan pertumbuhan pada setiap pepohonan yang ada dan menciptakan ratusan bunga yang tumbuh diantara pepohonan di bawah mereka.
" Akh, em, akh, em [ mungkin sebaiknya aku kembali berpura-pura tidur kembali ] " pikirnya sesaat dalam kebingungan untuk menghadapi keberadaan dari Anma maupun Flora di atas keindahan luar biasa yang tidak biasa dilihat olehnya.
Memberikan sebuah pelukan erat untuk sesaat sebelum membiarkan Flora kembali kedalam mansion menggunakan gerbang teleportasi miliknya, Anma yang sudah melihat sepintas kesadaran dari Fra mulai mendekati tubuhnya sebelum memberikan sentilan keras di dahi sembari menanyakan kejujuran atas apa yang dirinya lihat sebelumnya.
" Em, iya. Tadi itu sungguh luar biasa! " ucapnya tanpa sadar sebelum memaksakan diri kembali untuk mengunci mulutnya agar berhenti mengatakan kebenarannya.
Mengusap pelan kepala Fra kembali sembari mengatakan bahwa kejujuran dan keterbukaan dari dua pihak yang telah menjalin hubungan kerja sama, merupakan dasar terpenting diantara keduanya jika memang salah satu dari keduanya benar-benar mengharapkan keuntungan yang sama.
" Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu jika kamu memang tidak berniat buruk kepadaku ataupun keluargaku. " tegasnya dengan nada lembut di bagian akhir ucapan Fra yang secara jelas mengagumi kekuatan dari sosok Flora yang sudah dianggap dewi penyelamat baginya.
Tertawa untuk sesaat tak kala Fra menyadari bahwa sosok hitam yang turut serta hadir bersama Flora merupakan sosok dihadapan mata, beberapa pertanyaan atas apa yang terjadi kala itu mulai terucap sebagai bentuk kejelasan atas hal buruk yang menimpa dirinya maupun rombongan pasukan yang berniat memberikan bantuan terhadap negri yang tengah dilanda peperangan.
" Selalu ada alasan di setiap tindak tanduk yang aku lakukan, sayangku. Jika waktu itu aku langsung menampakkan diri dan melakukan hal serupa seperti apa yang kamu katakan itu, bukankah akan timbul masalah baru diantara masalah yang tengah dihadapi oleh negaramu? Terlebih lagi, ada juga kemungkinan bahwa aku sendiri akan dijadikan alat untuk mengakhiri peperangan antara bangsa manusia seperti kalian dengan bangsa iblis yang juga mungkin merupakan generasi penerus dari para demi human yang sudah aku anggap sebagai saudara. " Jelasnya memberikan gambaran tegas atas alasan diri untuk menyembunyikan identitas aslinya.