Armageddon Maker 3 Step To Revoluton

Armageddon Maker 3 Step To Revoluton
Rencana rahasia



Menjelaskan dengan hati-hati terhadap apa yang telah dirinya alami maupun pertemuan tidak terduga dengan eksistensi diri dalam masa dan dimensi berbeda sembari menampakkan sedikit ingatan kepada mereka, sebuah pertanyaan mengenai kehadiran sosok hitam maupun unit E yang telah di kengkang dalam ruang rahasia dilemparkan oleh Ailina.


" Oh, benar. Betapa bodohnya aku. Hehe. " ucapnya membalas Ailina sebelum menarik kembali seluruh lengan hitam yang masih menempel pada setiap kepala dari Legium utama dan setelahnya menyampaikan perkenalan pada sosok tiruan dari Lia.


Menyapa para Legium dengan ramah sebelum menyampaikan rasa bahagia yang sama seperti Anma atas pertemuan kedua dirinya dengan mereka, kesan menakutkan dari sosok pemanen yang telah dirumorkan sebelum pembagian regu dalam setiap Legium mulai sirna tak kala sosok pemanen itu menyatakan bahwa tidak ada hal yang perlu ditakuti selama mereka tidak mengusik diri maupun melanggar aturan yang telah Anma jelaskan sebelumnya.


" Dan yah. Seperti itu saja yang dapat aku katakan kepada kalian mengenai siapa aku dan sebagaimana aku menjalani tugasku. " ucapnya mengakhiri perkenalan diri setelah menjelaskan bahwa tugas utama yang dirinya jalani merupakan pengawasan terhadap energi mana dari seluruh penghuni Castle of Destruction yang dimaksudkan didalamnya.


Menyerap energi mana secara rutin dan rahasia pada setiap sosok yang ada maupun memberikan mana yang di serap itu pada mereka yang melakukan ekspedisi membawa kesan tabjuk atas sosok pemanen yang mampu melakukan tugas luar biasa itu tanpa adanya bantuan dari anggota dari Legium maupun Re Legium yang ada.


" Hehe, iya. Bisa dikatakan bahwa aku sedikit kerepotan atas hal itu, terlebih setelah Iron Maiden ikut dalam pelatihan. " tambahnya dengan tawa tak kala kedekatan diantara diri dengan Legium utama mulai terjalin begitu saja.


Membayangkan kembali pertemuan pertama antara Lilitia dan Flora yang cukup buruk membuat dirinya tertawa sesaat tak kala melihat Lailia dan Ailina yang mengambil bentuk tubuh dari dua sosok paling berharga darinya.


" Tak apa, sungguh. Kalian boleh melanjutkan apa yang sedang kalian bahas seperti sebelumnya. " ucap Anma tak kala kedua sosok itu merasa bahwa apa yang dibahas sebelumnya telah mencuri waktu berharga darinya.


Menolak ucapan itu sembari memaksa Anma untuk kembali melanjutkan apa yang seharusnya dikatakan mulai membuat Anma kembali dalam mode seriusnya tak kala sosok Nisel dari Unit Examinator selesai di singgung olehnya.


" Sama seperti pertempuran kalian selama dalam dungeon waktu itu. Kemenangan adalah hal mutlak yang harus kalian raih dalam pertempuran besar yang akan terjadi. " jelasnya terhadap serangan para manusia terhadap sebuah pulau yang ditinggali para demi human.


Menambahkan hal penting mengenai sosok Sci, Azela, Azel maupun beberapa demi human lain yang pernah di singgung dirinya pada waktu penjelajahan dalam dungeon, rasa kesal sempat timbul dalam diri Lailia tak kala mengingat kemungkinan bahwa Sci yang di maksud merupakan buah hati dari Anma dengan Lilitia yang menjadi cinta pertamanya.


" Untuk itu, aku membutuhkan pendapat kalian mengenai siapa saja yang harus aku bawa untuk menyelamatkan tanah Utopia ataupun mereka yang harus tinggal untuk menjaga mansion ini ketika aku tidak ada. " lanjutnya memberikan pilihan pada mereka meski dalam dirinya telah terfikirkan beberapa nama dari anggota Legium yang cukup mampu menanggung tugas darinya.


" Akh, benar. Untuk mereka yang mampu memenuhi apa yang aku harapkan, aku akan mewujudkan apapun yang kalian minta dengan batasan aturan norma. " ucapnya memancing semangat mereka yang nampak serius terhadap pilihan yang hanya tertuju pada Ailin, Akun maupun Aestro.


" Dan jika kalian gagal ataupun bahkan terbunuh dalam peperangan itupun tidak masalah, karena aku akan kembali membangkitkan kalian dan menyerahkan hukuman setimpal pada Nisel atas kegagalan kalian. " lanjutnya kembali sembari memandang Arc maupun Nest yang sama-sama pernah di masukkan dalam ruang tempat Nisel berada.


Menelan ludah dengan susah payah ketika mendengar hal yang nampak serius terhadap hukuman berdasar pada ekspresi dua sosok yang cukup kuat dimata mereka, raut wajah muram disertai kegelisahan dalam dada mulai sirna tak kala ucapan sebelumnya hanyalah canda.


Menatap tubuh Anma dengan tatapan mata penuh harap atas waktu yang kembali dihabiskan bersama-sama yang membawa ingatan singkat dari masa lalu membuat beberapa ucap kesediaan mulai terdengar bersama tangan-tangan yang mengajukan diri untuk masuk dalam pertempuran.


" Hm! Bagus! Aku suka semangat kalian! Dengan begini, kita akan menghadapi kehancuran bersama-sama! Dan tentunya membalaskan dendam lama terhadap Paradox!! " ucapnya penuh semangat bersama glegar suara dari kilat cahaya yang menyambar sekitar area.


Mencukupkan pembicaraan mereka sebelum menyadarkan Iron Maiden yang tergeletak di sisi Arc dan Nest, ucap permintaan pada Ailin, Akun dan Aestro memgkompresi mana dalam diri mereka membawa kembali sebuah pertemuan antara mereka dengan sosok Flora maupun Iron maiden hingga fajar hari selanjutnya tiba.


...----------------...


" Flora? " ucapnya menyapa Flora dan Ailina yang masih berbagi kisah terhadap waktu bahagia yang dilalui bersama Anma.


" Iya, Ayah? " ucap Ailina dan Flora dengan nada lembut dan ceria sebelum tertawa bersama setelah saling memandang satu sama lain dihadapan Anma.


" Hehe, iya. Begini, Ayah akan pergi keluar untuk melakukan beberapa hal. Bisakah ayah meminta kalian untuk menjaga rumah sebentar? " ucap Anma sembari menyembunyikan kecemasan atas masalah yang mungkin terjadi di waktu dirinya pergi tak kala mengingat ucapan dari Arc di masa depan mengenai adu kemampuan pada Hena.


Menjawab penuh semangat dengan suara ceria yang menjadi ciri khas dari Flora membuat kehawatiran yang ada sedikit mereda.


" Tentu, ayah. Selain dari Flora di sini pun ada Akun, Aestro Arc dan Nest. Jadi, ayah tidak perlu khawatir atas masalah yang ada. Dan lagi, jangan lupa berikan kami hadiah setelah ayah selesai mengurus hal itu, ya. Heheh. " balas Ailina menenangkan.


Merasa cemburu atas kedekatan Ailina dengan ayahnya, Flora pun segera mengucapkan hal yang hampir serupa dan meminta hadiah yang sama seperti yang Ailina harapkan dari Anma.


" Baiklah, baik. Ayah akan memberikan kalian energi kehidupan yang ayah miliki, nanti. " balasnya sembari mengusap kepala dari keduanya sebelum melangkah pergi setelah meminta mereka kembali mengikat janji untuk menjaga seluruh penghuni mansion.


Memikirkan kembali ucapan dari Ailina yang menyebutkan hal itu, Flora yang sudah tidak lagi melihat bayangan diri dari ayahnya mulai meminta Ailina untuk mengatakan kepadanya mengenai apa yang di sebut dengan hal itu.


" Em~? R-A-H-A-S-I-A. Hehehe. " balas Ailina dengan menggoda Flora mengenai hal yang hanya diketahui oleh beberapa orang tertentu