
" Kelompok selanjutnya! " ucap seorang pengawas sembari memegang sebuah kertas berisikan daftar nama party yang lolos ke tahap ke dua
" Halo, Bro. Tidak aku sangka bahwa aku bisa bertemu denganmu di acara seperti ini.. " Ucapnya melalui telepati ketika menyadari bahwa sosok pengawas yang ada di hadapannya adalah Brotus.
Bersamaan dengan sebuah suara yang tiba-tiba terdengar masuk kedalam telinganya, Brotus yang semula nampak garang mulai terlihat ketakutan sesaat setelah dirinya mengetahui bahwa Anma benar-benar ada dihadapannya.
Dengan bibir yang gemetaran, Brotus yang berniat memanggil Anma langsung terdiam beberapa saat setelah Anma memberikan sebuah isyarat yang menandakan bahwa brotus tidak boleh menyebutkan nama asli dari Anma sama seperti saat pembelian mansion.
" Anda benar tuan, Pengembara Malam adalah nama dari kelompok kami. " tambahnya setelah menunjukkan sebuah nama party ketika Brotus masih terdiam dalam ketakutan.
" Ba---baiklah tuan. Si--silahkan masuk ke area B1 untuk pengambilan nomor identitas kalian agar nantinya pertarungan akan segera dimulai begitu pertarungan sebelumnya selesai. " balas Brotus setelah mencoba kembali bersikap normal agar para petualang maupun pengawas lain disekitarnya tidak merasa curiga bahwa dirinya mengenal Anma dan partynya.
Bersama dengan kepergian dari Anma ke ruangan yang dimaksud, Brotus mulai meminta sebuah pergantian posisi pengawasan kepada pengawas seleksi yang lain agar dirinya dapat mencegah sebuah benturan rencana antara dirinya dengan Anma agar nantinya hal itu tidak berimbas pada hukuman yang mungkin akan dirinya terima disaat Anma merasa terganggu atas tindak tanduknya.
" Kalau begitu, tuan dan nona sekalian, saya harap kalian bisa bertarung dengan jujur dan adil serta mampu menjadi yang terbaik agar nantinya bisa menjadi perwakilan kota ini menghadapi turnamen tahunan Oboros. " ucap seorang perempuan pengawas seleksi sembari memberikan sebuah motivasi.
Sesaat setelah semua petualang yang ada disana menganggukkan kepalanya dan berteriak semangat, Anma, Flora, Ryuu dan Neouro mulai pergi ke bangku penonton setelah sebelumnya memberikan beberapa ucapan sederhana kepada Hena yang akan bertanding terlebih dahulu.
" Oh, ya? Jadi alasan kenapa mereka bisa gagal di seleksi tahap awal adalah hal semacam ini? " ucap Anma yang terkejut sesaat setelah Ryuu dan Neouro mengatakan bahwa kegagalan para maiden yang lain di tahap awal disebabkan oleh pengalaman bertempur mereka secara individu yang rendah dan bukannya penilaian secara kelompok.
" Yah, meskipun sebenarnya Rougu nampak jauh lebih mendominasi dan nampak lebih kuat dari diriku, Rougu masih kesulitan atas pengendalian kekuatannya yang terlampau besar itu dan mungkin atas alasan itu pula dirinya memutuskan untuk menyerah. " balas Ryuu sesaat setelah mengingat adanya kejanggalan mengenai Rougu disaat seleksi awal berlangsung.
Sesaat sebelum Anma mengatakan pendapatnya mengenai Rougu, beberapa pengawas di tengah areana itu mulai memperkenalkan para petarung yang saling berhadapan diatas tanah yang terbagi menjadi dua area pertempuran
" Mari kita sambut, Helenia Lainnama. Seorang pendekar wanita yang belakangan ini mulai terkenal setelah munculnya sebuah party misterius yang sekarang dikenal sebagai party Pengembara Malam!! " ucap semangat salah seorang pengawas ketika Hena nampak berjalan menuju arena pertarungan dengan penuh tekad dan keberanian.
" Sementara itu di sisi lain dari arena ini, seorang yang sama-sama memiliki keterampilan luar biasa atas penggunaan teknik berpedangnya sampai-sampai disebut sebagai seorang Blade Master! Inilah dia Argoro Austin!! " Lanjut pengawas itu sembari menyambut seorang petualang wanita dengan pakaian kesatria hitam yang membawa sebuah pedang besar yang ditengahnya nampak terukir sebuah tanda rune berwarna merah menyala.
Bersama dengan sorak meriah para penonton yang saling mendukung jagoannya masing-masing, Brotus yang kala itu kembali menyamarkan identitasnya mulai menyapa Anma dengan maksud untuk menjelaskan beberapa hal agar nantinya rencana yang telah tersusun rapi olehnya tidak hancur karena ulah Anma.
" Hehehe.... bukankah sudah aku bilang sebelumnya bahwa aku tidak terlalu peduli dengan apa yang kamu rencanakan demi meraih banyak imbalan atau menyambung beberapa koneksi lain selain yang kamu miliki saat ini. Namun, perlu kamu ingat kembali bahwa kamu sendiri sudah menganggapku sebagai seorang atasan dan layaknya sebagai seorang atasan darimu, aku bisa melemparkan jutaan keping emas untuk sesuatu yang menjajikan untukku. Maka dari itu, setidaknya pikirkanlah kembali apa yang sebenarnya kamu mau dari mereka dan apa keuntungannya jika kamu benar-benar sukses menjalankan rencana itu? " Balas Anma sembari menjelaskan bahwa apapun perkataan dari Brotus tidak dapat mengubah rencana besar yang sebelumnya telah disesuaikan.
Mendengar ucapan itu, keyakinan dalam diri Brotus mulai goyah hingga satu titik dimana Hena dan lawannya hendak memulai sebuah pertarungan, Brotus meminta Anma untuk mengikutsertakan dirinya agar nantinya dengan memanfaatkan kekuatan dari koneksi yang dirinya miliki, apapun yang Anma rencana dapat dipermudah.
" Helen! Tunjukkan kepada mereka arti dari seorang Blade Master sesungguhnya! " teriak Anma sesaat ketika Flora memintanya menyemangati Hena agar Hena nampak lebih bersemangat.
Bersama dengan ditariknya kedua pedang yang ada di kedua sisi pinganggnya, Hena menatap tajam ke arah Argoro Austin dengan sikap menyerang sembari menunggu pengawas itu memulai pertarungan diantara keduanya.