Armageddon Maker 3 Step To Revoluton

Armageddon Maker 3 Step To Revoluton
Sosok penting yang hilang



" Selamat pagi kakek!!!! " teriak Ela yang bersemangat untuk membangunkan kakeknya


" Selamat pagi juga Ela.... Aku kira kamu tidak akan datang lagi setelah selesai mendengarkan kisah di bab ke sepuluh kemarin. " ucapnya dari balik sebuah rak buku sembari berjalan membawa beberapa kertas yang nampak penting


" Hmno... kakek?!! Kenapa kakek bicara seperti itu? aku kan penggemar setia dari kisah yang kakek buat " balas Ela sembari berlari mendekat


" dan lagi setelah mendengar kelanjutan kisah itu, aku sangat penasaran mengenai seperti apa berbagai macam sosok itu~ dan... dan lagi... aku juga penasaran mengenai siapa sosok wanita yang datang dikala bulan merah itu?" lanjutnya setelah memeluk kaki dari kakeknya sembari menjelaskan apa yang membuatnya penasaran


" Hehehe... jadi kamu penasaran mengenai hal itu ya... " balasnya terawa sebelum menggendong tubuh Ela


" Jadi, jadi... apakah kakek akan memberi tahukan kepadaku siapa mereka? " ucap Ela dengan penuh harap


" Hm~ sepertinya tidak, Ela. Karena kakek ingin membuatmu dan sosok lain yang mendengarkan kisah ini agar terkejut.. " balasnya tersenyum


" He~ itu curang, kakek!!! Aku ingin tahu siapa mereka sekarang juga!! " balas Ela merengek


" Ela... bukankah ibumu pernah mengatakan beberapa peraturan yang harus kamu patuhi jika kamu berada di ruangan kakek? " ucap Kakek Ela setelah menyentil hidungnya.


Setelah menyebutkan beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh Ela, sebuah senyuman tanda keceriaan mulai nampak bersama dengan sebuah usapan pelan dari sang kakek.


" Jadi, jadi... apakah kakek akan bercerita lagi? " balas Ela setelah diberitahu siapa dua sosok yang sebelumnya ingin dirinya ketahui


" Karena ada beberapa alasan, kakek mungkin akan melanjutkan kisah ini bersama dengan kamu... " jawabnya yang terfokus pada kertas yang ada di hadapannya


" Wa~h!!! Syukurlah... syukurlah... dengan begitu aku bisa mengetahui bagaimana mereka bisa hidup sampai sekarang " balasan senang


" Hehehe... memang apa yang ingin kamu ketahui lagi? bukankah aku sudah memberitahukan siapa mereka? " ucapnya bertanya


" Nmo... kakek ini... aku kan ingin tahu semua hal yang berhubungan dengan negri melayang ini, paman dan bibi yang memiliki kekuatan super, mereka yang tiada dan bagaimana cara membangkitkan kembali sosok.... " ucap Ela yang belum selesai mengatakan semua yang ingin dirinya ketahui


" Susususuu~t... kamu tidak boleh mengatakan semua hal itu sekaligus di sini... " ucap kakek Ela yang menahan mulut Ela untuk berhenti bicara


" Ehehehe... maaf ya kakek... aku tidak sengaja mengatakannya... " balas Ela sembari memegangi mulutnya dan menyembunyikan tawanya


" untuk asal muasal dari paman dan bibimu akan ada di buku ke empat dan bersama dengan itu beberapa plot kosong akan terisi seperti saat kamu membaca beberapa buku seri itu dari awal sampai akhir... " ucapnya menjelaskan


" Tapi, kakek... dari beberapa buku yang sudah aku baca, beberapa kisah nampak berbeda dan sosok seperti arapaima dan sosok wanita itu pun tidak pernah ada... " balas Ela dengan nada kesal


" Hm... Jadi sosok itu akan di perlihatkan di beberapa bab ke depan ya? " ucap Ela yang kecewa karena sosok yang di ucapkan oleh kakeknya masih dirahasiakan


" Tapi tenang saja... baik sosok ini, sosok itu maupun sosok lain seperti yang kamu ucapkan itu akan kamu temukan di sini " ucapnya sembari menunjukkan sebuah kertas yang ternyata adalah peta


" Wa~h... Peta dari negri para demi!!! Jadi kita akan pergi ke negri itu, Kakek?!! " balasnya antusaias


" Hehehe... iya, tentu kita akan kesana setelah like, komentar maupun beberapa hal lain sudah terpenuhi dan kamu juga harus mempersiapkan mental kamu ya... karena setelah bab ini, beberapa hal yang berkaitan dengan kekerasan akan semakin banyak hingga aku pun harus merahasiakannya dari ibumu.. " jelasnya berbisik


" Iya, kakek... aku pun sudah tahu bahwa hal ini mungkin akan terjadi mengingat garis besar dari kisah imi berfokus pada dark fantasi. Tapi karena unsur darknya masih prematur jadi aku kira akan baik baik saja, tapi ternyata di beberapa bab sebelumnya ada bagian yang harus kakek ubah bukan? " ucap Ela yang bersikap seolah bukan dirinya sendiri


" Hehehe... aku tidak menyangka bahwa kamu mengetahui hal itu. " balas Kakek Ela sembari mengusap kepalanya dengan lembut


" Hehehe... iya kan.. soalnya bibi Nisel itu selalu memakai baju berlumuran darah.... jadi... hehehe... aku pikir bahwa kekerasan yang sudah ada di Armageddon Maker Pack of Zero akan diperhalus lagi... " ucap Ela tanpa keraguan


" Hm~ ? Armageddon Maker pack of Zero masih terlalu dini untuk di bahas... terlebih masih ada beberapa hal lain yang perlu di perbaiki dan sosok seperti Nisel seharusnya tidak boleh di singgung di bab khusus ini... " balasnya yang merasa kecewa pada Ela


" Em... maaf ya.. kakek.... " ucapnya menyesal


Kakek dari Ela hanya terdiam dan kembali memperhatikan beberapa kertas yang ada dihadapannya sepagi mengabaikan apa yang Ela katakan


" Ela... sekarang sudah waktunya kita kembali... " ucap seorang perempuan yang berjalan mendekati Ela


" E~? Ibu~!!! aku masih ingin di sini!! " balasnya menolak


" Tapi bukankah kakekmu sudah melarangmu melewati batasan yang sudah ditentukan... " balas Ibu Ela sembari membawanya dengan paksa


" Hmmmmm!!! Kakek!!!! aku minta maaf atas ucapanku barusan!!! jadi aku mohon kembalilah kesini!!! " teriak tangis dari Ela setelah menyadari bahwa ruangan tempatnya berada saat ini telah berubah menjadi sebuah perpustakaan kosong yang nampak lama tidak terurus.


" He~!!! Ibu!!!! Apakah kakek akan kembali!!! " ucapnya sambil menangis


" Ibu tidak tahu, sayang.. Jika kamu sudah memahami sikap kakekmu sendiri, seharusnya kamu sudah tahu seperti apa jawaban yang akan ibu berikan nanti bukan? " balasnya sembari memeluk dan mengusap Ela agar lebih tenang


" Setidaknya kesalahan kecil seperti ini tidak akan membuat dirinya sangat marah jika aku kembali mengingat keslahan yang lebih besar di masa itu... " ucapnya dalam hati setelah melewati sebuah lukisan kusam yang menggambarkan sebuah keluarga besar yang rukun dengan sebuah tempat yang sengaja di kosongkan di tengahnya.