ARIES

ARIES
Perang Sungguhan



Rintik-rintik hujan menyapa pagi yang dingin ini. Berbekal payung dan jaket rajut berwana merah, Aries berjalan menuju halte yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Jalanan masih agak lenggang, mungkin karena ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Gadis itu sengaja berangkat pukul 05.30 untuk menghindari keterlambatan. Mengingat jarak antara rumahnya dan SMU Taruma cukup jauh.


Sembari menunggu bus di halte yang masih sepi, Aries menghabiskan waktu dengan menggambar dibuku hariannya yang berukuran sedang. Tangan terampilnya dengan lihai menggoreskan bolpoin berwarna hitam hingga membentuk suatu objek. Sudah menjadi hobinya mencorat-coret buku yang ia sebut sebagai jurnal, hingga menghasilkan beberapa gambar menawan yang mampu menarik perhatian.


Sepuluh sampai sebelas menit menunggu di halte seorang diri akhirnya membuahkan hasil. Bus Transjakarta datang dengan membawa  tidak lebih dari 10 orang penumpang. Tanpa pikir panjang, gadis berjaket merah itu segera mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.


Tak lama bus berhenti sesuai tujuan. Karena hujan masih membasahi bumi, Aries berjalan santai dibawah payung hitamnya.


Disekolah, parkiran masih sepi bahkan nyaris kosong. Hanya ada beberapa mobil berjejer disana. Sebelum ke kelas, dirinya menyempatkan waktu ke perpustakaan untuk membaca satu atau dua buku filsafat dan menambah ilmunya. Aries selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja larut malam hingga tak ada waktu baginya belajar dirumah. Jadi menurutnya tepat jika ia membagi waktu belajarnya saat pagi hari.


Tiga puluh menit kemudian bel masuk dibunyikan. Aries bersiap-siap menuju kelas untuk mengikuti pelajaran. Tapi ditengah-tengah perjalanan, gadis itu bingung karena banyak siswa siswi berkumpul didepan mading dekat toilet putri. Terbersit rasa penasaran pada diri Aries, namun ia urungkan karena sebentar lagi kelas akan dimulai. Dan lagi-lagi banyak anak berkumpul di mading yang terletak diujung koridor. Ada tiga mading disekolah ini, dan tiga-tiganya sama-sama menarik perhatian siswa-siswi. Yang membuat Aries merasa aneh adalah setelah mereka membaca apa yang tertempel pada papan itu, mereka melihat Aries sambil berbisik-bisik satu sama lain. Memangnya apa isi mading itu? Aries ingin mengeceknya, namun guru yang mengajar sudah menampakkan batang hidungnya. Ya sudahlah, dia juga tidak terlalu penasaran.


***


Tiga jam berlalu hanya diisi ulangan matematika yang sempat tertunda. Bu Ani yang mengajar memperbolehkan siapa yang sudah selesai dapat istirahat lebih awal. Aries lah yang pertama mengumpulkan hasil kerjanya. Bukan karena dia sombong dapat mengerjakan soal dengan cepat, tapi karena Aries ingin segera ke toilet.


Di toilet, dia mendengar bel istirahat berbunyi. Ia segera membersihkan diri dan keluar dari sana. Baru saja ia berniat ke kantin menemui teman-temannya, Dara dari arah berlawanan menghampiri sambil berlari-lari kecil.


“Aries, lo udah liat mading?” tanyanya secara tiba-tiba. Aries menggeleng.


“Ikut gue,” Dara lantas menarik tangan Aries.


Memangnya apa yang begitu penting sampai Aries harus melihatnya sendiri. Disana, didepan mading yang tak jauh dari toilet, sudah ada Arya dan lainnya berdiri menatap beberapa lembar poster didalamnya. Arya yang tahu kehadiran Aries lantas memundurkan kakinya memberi kesempatan pada gadis itu membaca apa yang di papan. Mata Aries membulat sempurna. Dia terkejut dengan tulisan yang mengatasnamakan dirinya. Tulisan yang memuat identitas lengkap Aries disertai fotonya yang dicorat-coret. Dia tidak berkomentar apapun, ia mematung meski dadanya saat ini benar-benar sesak. Yang membuat Aries kesal adalah kenapa bisa ada latar belakang ayahnya dan mendiang ibunya seakan-akan orangtuanya bahan tontonan.


“Ini udah keterlaluan guys,” komentar Aji.


“Siapa yang tega buat ini coba?” ujar Megan.


“Siapa lagi kalau bukan Bagas,” jawab Juna.


“Kali ini mereka udah bener-bener kelewatan,” sambung Dara.


Aries masih terdiam, jadi ini alasan kenapa mading sangat menarik perhatian se-pagi ini. Aries lalu berjalan menjauh entah kemana tanpa berbicara sepatah katapun. Sementara yang lainnya tetap ditempat sambil terus melontarkan argumennya masing-masing. Tak lama Aries datang kembali membawa sebuah batu berukuran kecil ditangannya.


“Minggir,” peringat Aries. Mereka tersentak dan seketika menjauh dari mading tersebut.


Pyarr...


Dilemparnya batu tersebut hingga membuat etalase kaca mading pecah berhamburan. Untung pecahannya tidak sampai mengenai orang-orang disekitarnya. Ada berbagai macam reaksi dari keempat temannya, terutama Juna yang tertawa takjub karena menilai tindakan Aries begitu nekat. Tanpa pikir panjang, Aries lalu menarik poster-poster itu dan meremasnya menjadi satu hingga membentuk bulatan. Masih dengan mulut membisu, Aries berjalan dengan cepat menuju kantin dimana sudah ada Bagas dan rekan-rekannya yang tengah makan.


Bagas terkejut ketika sebuah bulatan kertas mendarat tepat di mangkok baksonya yang penuh kuah.


“Maksud lo apa bikin kayak gitu?” labrak Aries dengan tegas. Bagas mengangkat kepalanya, memperlihatkan mata hitam pekat miliknya. Bukannya mendapat jawaban, Bagas malah menunjukkan senyum liciknya.


“Lo mau cemarin nama gue, hm?” mata elang Aries menangkap manik hitam milik Bagas.


“Kenapa harus marah-marah? Gue 'kan cuma shareing informasi,” kata Bagas dengan nada santai.


“Dengan cara jelek-jelekin keluarga orang lain?!” tegas Aries.


Bagas lalu berdiri menatap balik Aries yang tengah menatapnya dalam-dalam. “Bukannya keluarga lo emang udah jelek,” lanjut Bagas sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Tak lupa ia memberi senyuman licik diakhir kalimatnya. Kalau bukan karena terhalang meja, Aries pasti sudah memukul wajah cowok itu.


“Tau apa lo soal keluarga gue? Elo itu cuma orang awam yang tau luarnya doang, dan lo anggap itu aib gue?… Salah.” ucap Aries penuh penekanan.


Ketika Aries hendak berbalik, Bagas berucap dengan keras agar yang ada disekitarnya dapat mendengar, “Anak seorang kriminal yang coba melupakan masa lalu tapi juga gagal di masa depan. Yang hidupnya bergantung pada pemerintah. Dan ayah lo, seorang pemabuk, penjudi yang sekarang ini dipenjara karna kasus pembobolan ATM. Melakukan dua kali percobaan melarikan diri dan selalu gagal. Seenggaknya sekarang gue tau, dari mana lo dapet sifat 'bar-bar' lo itu. Lalu setahun yang lalu, Kakek sekaligus keluarga lo satu-satunya pergi selama-lamanya. Tragis juga hidup lo.”


Ucapannya membuat Aries semakin mengeratkan kepalan tangannya.


“Hah wow… untung aja ibu lo meninggal waktu lahirin lo. Karena gue yakin dia pasti malu punya anak cewek yang kelakuannya kayak setan.” lanjut Bagas.


Refleks Aries langsung mengambil pisau kecil diatas meja yang sengaja disediakan untuk memotong buah-buahan, lalu mengambil ancang-ancang untuk melempar pisau itu ke depan. Bagas dan teman-temannya sontak menjauh kebelakang.


“Jangan, jangan,” beruntung Arya dan Juna yang ada didekatnya segera menghentikan gadis itu dan mengambil pisau dari tangan Aries.


Cewek itu seperti sudah kehilangan akal ketika menyangkut mendiang ibunya. Aries yang sedari kecil tidak pernah mengenal ibunya merasa darahnya naik berkali-kali lipat. Dia tidak terima ibunya dibawa-bawa dalam perdebatan kali ini.


“Elo emang gak punya hati, gak punya otak, gak punya nyali nyerang orang dari psikis nya. Pengecut! Sekumpulan pecundang.” ujar Aries yang amarahnya sudah tak terkontrol.


Sebelum terjadi perang sungguhan, Arya dan lainnya membujuk Aries pergi dari area kantin. Sudah cukup mereka menjadi tontonan umum. Namun baru beberapa langkah, Bagas yang merasa tersinggung dengan ucapan Aries langsung melempar puding ke kepala gadis itu. Aries berhenti dan memegang belakang kepalanya. Sudah habis kesabaran Aries kali ini. Cewek itu meraih botol saus dan membuka tutupnya lebar, kemudian ia siramkan ke seragam Bagas. Namun dengan cepat Bagas menangkisnya dengan nampan. Tapi tetap saja Bagas tidak mau kalah. Kini cowok itu mengambil kue berukuran kecil yang rencananya akan ia makan sebagai penutup, lalu melemparkannya kembali pada Aries tepat mengenai pipi gadis itu. Dan lagi-lagi Aries tidak mau kalah, ia mencari amunisi seperti siomay dan pasta untuk dilempar kembali ke cowok itu. Begitu seterusnya. Tidak ada yang berhasil melerai mereka berdua. Bahkan Arya pun kewalahan karena Aries berlari dari satu meja ke meja lain untuk mencari senjata. Sama halnya dengan Bagas, ia terus melempar berbagai makanan dan minuman milik orang lain. Sesekali ia berlindung dari lemparan gadis itu. Orang-orang yang ada dikantin itupun berhamburan menjauh, namun tetap menyoraki keduanya. Bahkan tak sedikit yang merekam kejadian itu.


Aksi mereka akhirnya terhenti ketika salah seorang guru datang karena mendengar keributan.


“Apa-apaan ini?! Kalian berdua hentikan!” ucap pak Ridwan. Bagas dan Aries berhenti saling lempar. Penampilan mereka kini terlihat kacau. Bukan mereka saja yang berantakan, kantin juga sudah seperti kapal pecah.


“Kalian berdua ikut saya, sekarang! Yang lainnya bubar!” perintah pak Ridwan sambil berkacak pinggang. Setelah itu mereka berdua mengekor guru tersebut yang mengarahkannya ke ruangan beliau.


***


Diruang guru, Aries dan Bagas duduk berdampingan. Namun dari ekspresi mereka sangat nampak masih kesal satu sama lain. Setelah membaca poster yang kusut itu, pak Ridwan kini mengerti duduk persoalannya.


“Saya tidak mengerti sama jalan pikiran kalian. Bisa-bisanya kalian membawa masalah pribadi ke sekolah. Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan tempat saling menghina.” ujar pak Ridwan.


Guru itu sengaja tidak membawa masalah ini ke kepala sekolah. Karena ia tahu, kepala sekolah akan membela Bagas dan meloloskannya dari hukuman. Dan itu pasti menimbulkan ketidakadilan bagi Aries.


“Akibat perbuatan kalian, kantin harus ditutup sementara. Gak kasihan sama yang jaga kantin? Mereka harus beresin kekacauan yang kalian buat.” lanjutnya.


Pak Ridwan menghela napasnya sebelum kembali berbicara.


“Kalian harus bertanggungjawab. Pulang sekolah kalian berdua harus membersihkan kantin sampai bersih.”


“Dia dulu yang mulai, dia aja yang suruh bersihin sendiri.” elak Bagas.


“Heh, yang lempar makanan pertama kali siapa? Elo!” balas Aries yang tak kalah 'ngegas' nya.


“Yang datang-datang langsung marah-marah siapa? Elo 'kan,” balas Bagas kembali.


Dua anak itu memang susah untuk mengalah. Baru tenang sebentar, mulut mereka sudah gatal untuk saling berdebat.


“Cukup! Kalian tidak menghargai saya disini?!” bentak pak Ridwan.


“Awas kalau sampai salah satu dari kalian ada yang kabur dari hukuman, nama kalian saya coret dari daftar peserta ujian bulan depan. Mengerti?!” lanjutnya.


Aries dan Bagas hanya bisa diam. Kemudian pak Ridwan menyuruh mereka berdua kembali ke kelas masing-masing. Ketika akan melewati pintu keluar tanpa sengaja mereka saling bersenggolan karena lubang pintu yang ukurannya kecil.


“Duh… minggir!” ujar Aries sambil mendorong tubuh Bagas menjauh. Begitu pula dengan Bagas yang tak mau mengalah. “Elo yang minggir!”


“Inget ya, urusan kita belum selesai” lanjut Bagas kemudian mengambil langkah menjauh.


“Bodo” balas Aries menatap punggung Bagas yang mulai menjauh.


Pak Ridwan menyuruh mereka kembali ke kelas, namun mereka sama-sama tidak mengindahkan perkataan guru BK tersebut. Bagas menghabiskan waktu pelajaran dengan membersihkan seragamnya yang kotor di toilet. Sementara Aries mencari tempat yang tenang untuk menyendiri.