ARIES

ARIES
Hukuman



Ceklek


Pintu dari kayu itu terbuka sempurna. Menampilkan isi rumah yang rapi namun sepi. Aries meletakkan tasnya diatas sofa. Hari ini dia benar-benar lelah. Dia bahkan belum istirahat selepas pulang dari sekolah maupun kerja. Baru menginjakkan kaki ke dalam rumah berkeramik putih, Aries langsung tertuju ke bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tamunya. Foto yang ia ambil dari koran lama yang ia potong kemudian ditempel dibingkai persegi. Foto yang menampakkan wajah ayahnya. Aries tidak memiliki foto ayahnya atau bahkan pernah berfoto bersamanya, jadi Aries hanya bisa menyimpan gambar dari koran sebagai kenang-kenangan. Sebagai pengingat bahwa Aries masih memiliki ayah.


Terlintas dipikiran cewek itu, 'sekarang semua orang sudah tau siapa keluarga ku. Hal yang paling aku jaga… sekarang sudah tersebar'


Dia tidak pernah menginginkan keluarganya terekspos oleh orang lain. Apalagi sampai menjadi bahan hinaan. Aries sangat menyayangi keluarganya, meski ia tidak pernah mengenal kasih sayang orang tua. Ibunya meninggal karena melahirkan Aries. Sementara ayahnya tidak pernah menganggap Aries sebagai anaknya. Aries tidak masalah dengan semua itu karena ia masih memiliki abah nya– panggilan Aries terhadap kakeknya. Tapi sekarang abah nya sudah meninggalkan Aries. Dan disinilah dia sekarang. Gadis remaja yang bertahan hidup sendiri dengan apa yang dipunyainya.


Mengingat semua itu membuat Aries ingin menangis dan mengeluh. Tapi ia tahu itu cuma sia-sia. Akhirnya Aries memilih tidur untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ia cuma punya waktu tidur beberapa jam sebelum kembali beraktivitas.


***


Sinar matahari memaksa masuk melewati celah jendela kamarnya. Ia mengerjap beberapa kali. Sampai ia akhirnya sadar, “Sial! Gue kesiangan.”


Gadis yang baru terbangun dari mimpinya itu terperanjat melihat jam di dindingnya sudah pukul setengah tujuh. Dengan secepat kilat Aries mengambil handuk dan pakaiannya dari dalam lemari. Lalu mandi dalam waktu sepuluh menit. Ia sangat terburu-buru, sampai tidak sempat menyisir rambutnya. Jadi Aries hanya mencepol rambutnya untuk mempersingkat waktu.


“Duh.. ini angkot mana lagi?” dengan tidak sabaran Aries menunggu dipinggir jalan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Sadar ia sudah sangat terlambat, Aries memilih berlari ke sekolah. Meski jarak sekolahnya memakan waktu satu jam jika menaiki motor. Untung ditengah jalan Aries mendapat tumpangan dari mobil pic up yang akan menuju arah yang sama.


Beberapa menit kemudian Aries sampai didepan gerbang yang masih terbuka lebar. Meski gerbangnya terbuka lebar bukan berarti gadis itu tidak terlambat. Aries segera berlari ke kelasnya. Melewati koridor yang sudah sepi. Hanya langkah kakinya yang menggema di seluruh bangunan besar ini. Ketika sampai dipintu kelas, Aries berhenti karena mendapati guru yang sudah ada di mejanya. Semua siswa menatap Aries yang tengah ngos-ngosan.


“Maaf Bu, saya terlambat” ucap Aries berusaha mengatur napasnya. Bu Ani berkacak pinggang dan menghampiri Aries.


“Tau ini jam berapa? Tuh, jam de-la-pan. Telat berapa jam kamu?” ujar guru tersebut sambil menunjuk jam dinding diatas whiteboard.


“Ya maaf Bu,” Aries menunduk.


“Saya bisa aja maafin kamu, tapi bukan tugas saya menghukum atau mengizinkan siswa tidak disiplin seperti kamu masuk ke kelas. Sekarang kamu ke ruang BK, minta izin, boleh atau tidak mengikuti pelajaran. Sana!” Aries mengangguk. Cewek itu kemudian melangkahkan kakinya ke ruang BK yang tak jauh dari kelas nya.


***


“Ya ampun pak, gak usah diseret-seret juga kali, saya juga gak bakalan kabur” protes Bagas ketika pak Ridwan menarik lengannya supaya mengikuti guru tersebut.


Mendengar suara yang tidak asing lagi Aries menolehkan kepalanya. Keningnya berkerut, setiap kali melihat wajah berandalan itu membuat mood Aries jadi hancur.


“Duduk!” perintah pak Ridwan kepada Bagas. Cowok itu juga merasakan hal yang sama seperti Aries. Kenapa pula cewek abnormal itu ada disini? Pikir Bagas.


Aries sudah lebih dulu datang ke ruangan pak Ridwan dan menunggu seperti yang diperintahkan oleh guru itu. Pak Ridwan bilang mau mengurus sesuatu terlebih dahulu, makanya Aries disuruh menunggu didalam ruangannya. Ternyata yang diurus adalah cowok berandalan itu.


Bagas lalu menduduki kursi tepat di sebelah Aries. Mata mereka saling melirik meski tak saling menyapa. Sampai pak Ridwan membuka pembicaraan.


“Lagi-lagi kalian. Mau kalian apa sih? Belum cukup hukuman yang saya kasih kemarin?” ujar pak Ridwan. Tidak ada jawaban dari keduanya.


“Aries, kenapa kamu terlambat?” tanyanya.


“Kesiangan pak” jawab Aries menunjukkan wajah bersalah. Pak Ridwan menghela napas. “Emang kamu tidur jam berapa sampe kesiangan?” lanjutnya. Tapi Aries tidak menjawab, cewek itu hanya menunjukkan cengirannya.


“Kamu, apalagi alasan mu?” kini giliran Bagas mendapat pertanyaan yang sama. Berbeda dengan Aries, Bagas justru tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. “Alarm saya mati.”


Pak Ridwan melihat wajah mereka secara bergantian. “Tata tertib sekolah tertulis jika ada siswa yang melanggar peraturan sekolah sebanyak dua kali, maka akan ada sanksi. Apalagi kamu, sudah seringkali terlambat.” katanya sambil menunjuk Bagas.


“Biar saya diskusikan dengan kepala sekolah, hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua.” lanjutnya.


Pak Ridwan kemudian pergi ke kantor kepala sekolah tak jauh dari ruangannya. Meninggalkan Bagas dan Aries yang saling membuang muka.


“Lah, yang bikin gue telat itu elo” ucap Aries tak terima.


“Kenapa jadi gue?” balas Bagas.


Aries menatap tajam mata milik Bagas.


“Gara-gara elo gue pulang malem. Lo sengaja 'kan biar gue terus-terusan melanggar peraturan sekolah trus gue dikeluarin. Itu 'kan maksud lo?”


Bagas melotot sambil menjawab, “Itu salah lo sendiri, kenapa lo masuk ke sekolah yang bahkan gak sederajat sama lo”


“Keterlaluan ya lo. Ngomong sekali lagi gue gampar,” balas Aries.


Perdebatan mereka terhenti ketika pak Ridwan sudah masuk ke ruangannya kembali. Mereka jadi terdiam seakan tak terjadi apa-apa.


“Kepala sekolah bilang, hukuman yang pas buat kalian adalah lari keliling lapangan basket sebanyak 15 kali.” ucapan pak Ridwan berhasil membuat dua remaja itu membulatkan matanya.


“Loh pak, gak bisa gitu dong Pak. Kasih hukuman yang bermanfaat dikit kek, ini namanya kekerasan fisik” bantah Bagas.


“Ee.. pak, gak bisa dikurangi?” tambah Aries.


“Ini sudah keputusan kepala sekolah. Daripada kalian lari-lari ngejar waktu supaya gak terlambat tapi endingnya telat juga, mending olahraga lari aja sekalian. Biar sehat” ucap guru tersebut.


Mereka tidak lagi membantah. Kesialan apalagi yang ini. Kenapa setiap kali bertemu cowok berandalan itu dirinya selalu susah? Pikir Aries.


***


Di lapangan indoor itu Aries dan Bagas melaksanakan hukuman. Mereka berlari dengan tempo sedang mengitari lapangan yang luasnya melebihi lapangan futsal itu. Entah sudah berapa putaran mereka berlari, mereka sama-sama telah mengeluarkan keringat dari pelipisnya.


Aries berlari lebih dulu didepan Bagas. Hanya berjarak lima langkah saja. Bagas yang melihat punggung cewek itu berniat mendahului Aries dan sengaja menyenggolnya. Tak terima, Aries kembali menyalip Bagas dari arah belakang dan mempercepat langkahnya. Begitupun dengan Bagas yang tak mau kalah, kembali mendahului Aries. Astaga... Dalam keadaan dihukum mereka masih saja ingin bersaing.


Tapi yang namanya perempuan staminanya kalah dari laki-laki. Bagas sudah mengitari lapangan sebanyak lima belas kali seperti perjanjian. Oleh karena itu Bagas diperbolehkan beristirahat dan mengambil minuman. Cowok itu ke kantin sebentar karena ia ingin membeli minuman dingin disana. Lalu kembali lagi melihat Aries yang masih berlari sambil terhuyung-huyung.


Cewek itu tak bisa mengatur napasnya dengan benar. Ia sangat kelelahan. Aries kemudian mengambil posisi duduk dipinggir lapangan sambil merentangkan kedua kakinya seperti orang kehabisan tenaga. Dia lalu mulai mengatur napasnya perlahan. Dan entah datang dari mana, sebuah botol mineral terulur didepannya. Dilihatnya orang yang memberikan minuman itu kepada Aries. Tak disangka, Bagas dengan muka datarnya menyodorkan minuman kepada musuhnya sendiri.


“Buat gue?” tanya Aries yang langsung dijawab deheman oleh Bagas.


“Tumben baik, lo kasih racun apa?” ucap Aries curiga.


“Mau apa enggak? Gak mau ya udah” jawab Bagas menarik kembali botol ditangannya.


“Eh iya. Baperan lu,” ucap Aries menerima botol mineral dari Bagas. Cowok itu kemudian berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi. Namun senyum aneh terukir di bibirnya.


Suara semburan air keluar dari mulut Aries. Baru sedetik ia meminum air itu, Aries sudah mengeluarkannya kembali karena rasa air mineral itu sangat asin. Seperti air garam. Aries sampai terbatuk-batuk dibuatnya. Terdengar suara tawa bahagia dari Bagas diseberang sana.


“Sukurin. Emang enak” ucapnya sambil menjulurkan lidah.


“Brengsek ya lo” balas Aries melempar botol itu ke arah Bagas. Kenapa pula ia bisa terjebak oleh trik Bagas semacam itu. Sudah jelas-jelas cowok itu membencinya, kalau tiba-tiba dia jadi baik pasti ada apa-apanya. Dan sekarang terbukti. Aries menggeram karena lagi-lagi dia kena sial gara-gara cowok itu.


Sementara Bagas hendak berniat pergi ke toilet melewati koridor, ia sempat melirik mading sekilas. Merasa ada yang aneh, Bagas lalu memundurkan langkahnya kembali. Dilihatnya selembaran pengumuman tersebut.


“Apa-apaan ini, wah gak bener, gue harus nemuin kepala sekolah kalo gini.” Bagas bermonolog. Pengumuman apa yang membuat cowok berdarah China tersebut terkejut dan berniat menemui kepala sekolah. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Aries?