ARIES

ARIES
Pingsan



Berita tersebar begitu cepat. Rekaman yang menunjukkan keributan di tempat parkir kemarin sudah terdengar oleh kepala sekolah dan pemilik yayasan itu sendiri, yaitu Pak Fakhtur.


Masalah kali ini bukan hanya antar siswa saja, namun juga menyangkut nama baik sekolah. Bagaimana tidak, Bagas yang menjadi perwakilan olimpiade SMU Taruma melakukan kecurangan pada saat seleksi. Pihak sekolah juga tidak bisa menutup mata soal ini. Makanya, kepala sekolah memanggil Bagas dan Aries kembali.


“Ada yang mau menjelaskan?” tanya kepala sekolah, setelah memutar rekaman itu kesekian kali.


Keduanya terdiam, tak ada ekspresi sama sekali diwajah mereka.


“Saya minta maaf, saya memang curang waktu seleksi kemarin” aku Bagas.


“Terus?” kepala sekolah masih meminta penjelasan.


Bagas menghela pelan, “…. dan saya siap mengundurkan diri olimpiade.”


Kepala sekolah memundurkan punggungnya. “Selama ini sekolah belum pernah ada kasus keributan seperti ini. Kenapa?”


Kini giliran Aries menjawab, membasahi bibirnya terlebih dahulu. “Saya cuma menyampaikan pendapat saya aja, Pak, maaf kalau terlalu berlebihan.”


“Memangnya tidak bisa… menyelesaikan dengan cara baik-baik? Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?” kepala sekolah mulai tegas.


Aries dan Bagas sama-sama tertunduk diam. Tidak mau menjawab ataupun saling menyalahkan.


“Bagas, saya sangat menghargai ayah kamu. Selama ini saya tidak memberikan sanksi atas kesalahan-kesalahan yang sudah kamu perbuat, itu karena saya tidak mau nama baik Pak Fakhtur tercoreng gara-gara kamu.”


“Dan kamu Aries, kamu baru beberapa bulan masuk sekolah ini, tapi kamu sudah bikin keributan lebih dari satu kali. Kamu juga jangan lupa, Pak Fakhtur yang membiayai sekolah kamu, jadi tolong… jangan merusak citra sekolah.”


Pria beruban itu kemudian menggeser dua amplop yang berbeda dihadapan Aries dan Bagas.


“Itu sanksi buat kalian.”


Aries membuka isi amplop putih itu, sebuah surat! Itu adalah surat skorsing selama tiga hari. Bagas juga mendapatkan sanksi yang sama.


***


Disepanjang koridor yang sepi, Aries berjalan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang tak karuan. Sekarang ia merasa bersalah karena membuat malu nama sekolah, dan sudah membuat kecewa orang yang menyekolahkannya. Lihat? Inilah hasil dari kenekatannya.


“Aries!” sapa Dara dari kejauhan. Aries yang melihat teman-temannya berkumpul dimeja makan langsung menghampiri.


Aries duduk didekat Megan, langsung mendapat elusan di pundak.


“Sabar ya soal yang kemarin” ucap Megan. Aries tersenyum palsu.


“Ini semua tuh salahnya Bagas, coba kalo dia nggak curang, pasti elo yang bakal lolos.” Dara berargumen.


“Lagian kenapa sih… Bagas harus nuker hasil ujiannya? Gue kira dia cowok gentle,” ucap Megan.


“Mendingan jangan bahas itu sekarang. O iya, Ris, katanya lo dipanggil kepala sekolah? Kenapa?” tanya Juna mengalihkan.


Aries menghela, “Iya. Gue diskors selama tiga hari.”


“Nah, terus… siapa yang maju ke olimpiade?” tanya Aji.


Aries menggedik kan bahu, tidak tahu apakah seleksi akan dilanjutkan atau tidak.


“Juna, thanks ya udah bantuin gue” ucap Aries, mendapat senyuman dan anggukan dari orang yang sudah membantunya mengungkapkan kecurangan Bagas.


“Apapun yang terjadi… kita semua pasti dukung lo kok” ucap Megan, membawa kembali senyum Aries.


“Thanks ya,” balas Aries.


***


Di lain tempat, kemanapun Bagas pergi, orang-orang mencibir Bagas secara terang-terangan. Padahal sebelumnya tidak ada yang berani mencari gara-gara dengan anak pemilik sekolah, tapi sekarang, karena pengaruh cewek baru itu Bagas jadi kehilangan citranya.


Seperti saat melewati mading, disana ada beberapa siswa-siswi yang membaca berita tentang dirinya. Ketika mereka melihat Bagas lewat, mereka menyindir, “Nggak nyangka ya, ternyata dia nggak sepintar yang gue pikir.”


Di toilet juga tak luput dari sindiran.


“Ternyata ada ya, orang payah yang bangga menang dengan cara curang” sindir David melirik Bagas disampingnya.


“Selama ini dugaan gue bener. Elo itu cuma bisa manfaatin nama bokap lo doang, padahal nggak bisa apa-apa” sambungnya. Bagas masih tidak menanggapi. Ia fokus mencuci mukanya di wastafel.


“Bener kata tuh cewek, elo itu pecundang.”


Reflek Bagas memukul pipi David hingga menjauh. Tak terima, David membalas pukulannya. Bagas hendak meninju cowok itu lagi, namun Arya yang baru keluar dari bilik langsung memisahkan mereka.


“Udah! Berhenti! Lo mau kena kasus lagi?!” Arya berdiri ditengah-tengah Bagas dan David.


“Dav, lo pergi!” pinta Arya. David pun mengacungkan jari tengahnya sampai akhirnya keluar dari toilet.


Arya menatap wajah Bagas.


“Apa?! Lo mau bully gue juga?!” ucap Bagas, masih tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.


“Jangan salahin siapa pun yang nge-bully lo, mereka bebas berpendapat. Introspeksi aja diri lo sendiri” sahut Arya, kemudian pergi dari hadapan Bagas. Sementara cowok itu memutar matanya tidak peduli. Ia merasa semua orang sama saja, hanya bisa mencampuri urusannya.


Tak mau berlama-lama di toilet sendirian, Bagas keluar hendak pergi ke suatu tempat. Namun ketika ia melewati koridor tengah, Bagas melihat Aries berdiri di tangga. Cowok itu mengerutkan keningnya, kenapa ia harus bertemu dengannya disini?


Tapi tunggu, ada yang aneh dari gadis itu. Ia menuruni anak tangga satu persatu, sambil memegang kepalanya. Langkahnya nampak sempoyongan. Khawatir Aries akan jatuh, Bagas kemudian berjalan mendekat. Namun tak lama gadis itu kehilangan kesadarannya dan jatuh berguling ke bawah. Dengan secepat mungkin Bagas berlari ke arah Aries yang sudah tak sadarkan diri. Sebelum terjatuh, Aries sempat menyenggol pot bunga dari tanah liat berukuran sedang, dan pecah mengenai kepalanya. Bagas yang sedikit panik menyingkirkan pecahan pot itu dari kepala Aries. Disaat-saat seperti ini kenapa sekolah terasa sepi sekali? Mungkin karena sudah jam pelajaran, jadi tidak ada orang yang berlalu lalang. Mau tidak mau, Bagas akhirnya membawa Aries ke UKS dengan cara membopongnya.


Namun ternyata, dia tidak sendirian, ada orang lain ditempat itu. Orang itu bersembunyi dibalik tembok saat Aries jatuh pingsan. Dan ketika Bagas hendak menolongnya, orang itu memanfaatkan situasi dengan mengambil foto lalu men-share nya.


Di UKS, tidak ada orang sama sekali. Biasanya ada petugas PMR yang berjaga setiap harinya. Atau mungkin mereka sedang ke kamar mandi?


Bagas membaringkan Aries ke salah satu kasur terdekat. Ia bingung harus berbuat apa. Bagas lalu menekan leher atas Aries, mencari apakah denyut nadinya masih ada. Syukurlah, ternyata gadis itu masih hidup. Tapi wajahnya begitu pucat. Apa Aries sakit?


Tak lama datang dua orang perempuan yang diyakini sebagai petugas PMR.


“Dari mana aja sih? Bukannya jaga UKS malah keluyuran” tegur Bagas.


“Ya maaf, namanya juga manusia perlu ke kamar mandi” jawab salah satu perempuan memakai slayer kuning, kemudian mengambil kotak P3K.


“Ya udah tuh, urusin.”


“Iya-iya, keluar dulu sana.”


Bagas pun keluar membiarkan anak PMR yang mengurus Aries. Setidaknya Bagas sudah tenang Aries dirawat oleh yang lebih ahli. Cowok itu pun hendak ke kelas mengambil tasnya. Tapi ditengah jalan Bagas merasa orang-orang kembali mencibirnya. Tapi kali ini tatapan mereka seperti mengutarakan kebencian.


“Gas!” panggil seseorang.


“Aldo.”


Cowok yang memanggil Bagas adalah Aldo, kawannya.


“Gue nggak nyangka lo setega ini. Gue bantuin lo karna gue tau ini penting buat lo. Tapi setelah lo gagal lo marah dan nyakitin Aries? Jahat tau nggak” raut wajah Aldo terlihat serius. Bagas tidak mengerti apa  yang dimaksud Aldo menyakiti Aries.


“Gue nggak ngerti maksud lo” ujar Bagas bingung.


Dan bukannya menjelaskan, Aldo malah pergi begitu saja, meninggalkan Bagas dengan tanda tanya.


Bagas sama sekali tidak mengerti, kapan ia menyakiti Aries?


Ditempat lain Bagas sempat bertemu dengan Bima dan Rico. Tapi mereka seakan mengacuhkan Bagas dengan tidak bertegur sapa.


“Rico! Bima!” panggilan Bagas tidak mereka hiraukan. Mereka melengos pergi begitu saja.


Sebenarnya ada apa ini? Kenapa teman-temannya juga ikut menjauhi Bagas? Pasti ada sesuatu yang salah.