
*Jangan lupa tinggalkan jejak
Karena like dan komen itu gratis, oke!
Selamat membaca*
★★★
Sore menjelang malam, direktur sekaligus pendiri Garuda Corp masih setia duduk di ruangan pribadinya. Suasana hatinya sedang tidak enak, setelah melihat rekaman yang tertera di layar ponselnya. Rekaman video yang menampilkan anak laki-lakinya sedang berdebat dengan seorang gadis.
Pak Fakhtur menghela napas. Tidak tahu lagi apa yang sudah dilakukan putranya, sampai membuat keributan seperti ini. Terlebih lagi, ia mendengar dengan jelas apa yang Bagas katakan. '…. tiap hari dijejali harta buat gantiin kasih sayang orang tua'
Mengetahui hal itu membuat Pak Fakhtur merasa bersalah. Tidak biasanya Bagas mengatakan isi hatinya. Ia juga tidak menyangka, kalau Bagas ternyata membutuhkan sosok ayahnya. Padahal dari luar Bagas selalu bersikap acuh tak acuh terhadap ayahnya sendiri.
Jadi Pak Fakhtur berniat pulang lebih awal untuk berbicara dengan Bagas. Tapi sayang, ketika Pak Fakhtur sampai dirumahnya Bagas justru pergi tanpa pamit. Bisa ia lihat Bagas pergi dengan motornya dari jendela kamar Bagas. Ya… ia sadar ini adalah salah nya karena tidak pernah menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mungkin Bagas kesal dan melampiaskannya diluar sana.
***
Pukul delapan malam. Aries tengah membuat teh saat mendengar suara ketukan di pintunya. Heran, dia tidak pernah kedatangan tamu malam-malam.
“Pak Fakhtur?”
Pria berumur 40 an itu berdiri diambang pintu sambil menenteng tas plastik.
“Maaf saya ganggu kamu malam-malam.”
“Oh enggak, Pak. Silahkan masuk,” ucap Aries sesopan mungkin. Kedatangan orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya membuat Aries bertanya-tanya sebenarnya ada apa.
Aries ikut duduk di sofa setelah membuatkan minuman untuk si tamu.
“Kalo kamu nggak keberatan, saya bawain makanan buat kamu.”
“Ya ampun, Pak, harusnya anda nggak perlu repot-repot.”
Pak Fakhtur hanya terkekeh pelan. Aries mengambil bingkisan yang disodorkan. Tidak enak kalau menolak pemberian darinya.
“Saya kesini… sebenarnya mau membicarakan masalah Bagas.” Pak Fakhtur membuka obrolan. Aries mendengar dengan seksama.
“Saya tau, kamu dan Bagas tidak pernah akur. Kalian berdua sering membuat keributan disekolah, dan membuat repot guru-guru.”
Mendengar itu Aries hanya menundukkan kepalanya.
“Saya minta maaf kalau Bagas selalu mengganggu kamu, dan bikin susah kamu. Dia memang masih kekanak-kanakan. Belum bisa bersikap dewasa” lanjut Pak Fakhtur.
“Anda nggak perlu minta maaf ke saya atas nama Bagas. Saya rasa, Bagas udah cukup dewasa buat mengakui kesalahannya sendiri. Lagipula saya nggak pernah dendam kok sama Bagas.”
Pak Fakhtur tersenyum kecil. Gadis ini ternyata lebih dewasa dari dirinya. Pria berkacamata itu menghela sebelum kembali berbicara.
“Saya merasa bersalah karena tidak pernah ada disisinya. Sebagai seorang ayah saya sudah gagal mendidik Bagas. Dia lebih memilih menghabiskan waktu diluar sana ketimbang dirumah sendiri. Saya pikir saya sudah memberikan yang terbaik untuk dia, tapi nyatanya… Bagas justru membenci saya.”
“Saya yakin bukan cuma Anda yang gagal jadi orang tua. Bagas selalu bilang, kalau dia butuh pembuktian. Saya rasa itu karna Bagas cuma mau mencari perhatian Pak Fakhtur aja” ucap Aries.
Pak Fakhtur mengangguk pelan. Kalau memang itu benar, ia akan merasa bersalah karena mengacuhkan Bagas.
Mereka melanjutkan obrolannya, sampai pada pukul sembilan, Pak Fakhtur pamit pulang. Aries mengantarkan beliau menuju mobilnya yang terparkir di depan gang. Sambil berjalan pun, mereka masih sempat mengobrol beberapa hal.
“Aries, saya minta tolong, saya nggak bisa terus-terusan jagain Bagas, jadi tolong kamu awasin dia ya, tarik aja telinganya kalo dia salah” ucap beliau.
Aries sedikit tertawa, “Pasti.”
Tak lama mereka sampai didepan gang, atau lebih tepatnya di depan taman tempat mobilnya terparkir.
“Kalo gitu saya pergi dulu” pamit Pak Fakhtur.
“Iya, Pak. Hati-hati.”
Setelah mobil Pak Fakhtur menghilang ke jalan raya, Aries kembali ke rumahnya.
***
Di lain tempat, Bagas duduk sendirian ditengah-tengah orang yang berjoget ria. Cowok itu tak melakukan apapun selain meneguk minuman beralkohol dalam gelas kecil. Tak peduli sudah dua botol ia habiskan sendiri. Tak seperti biasanya yang selalu ditemani ketiga temannya, malam ini ia ke kelab malam sendirian. Karena besok dirinya tidak perlu masuk sekolah sebab diskors, jadi ia tak peduli mau pulang jam berapapun. Bagas baru akan pulang sampai dirinya puas.
Akhirnya setelah tiga puluh menit mengendarai motor, Bagas sampai dirumah. Pukul dua pagi. Bagas membuka pintu kamarnya, ia terkejut, rupanya ada seseorang di dalam kamarnya.
“Papa?”
Bagas mendapati Papanya tengah duduk di kasurnya sambil memegang foto keluarga. Papanya tersenyum, dan meletakkan foto itu kembali ke atas nakas.
“Papa ngapain disini?” tanya Bagas.
“Nungguin kamu pulang.” Pak Fakhtur mendekat ke putranya. “Kamu udah makan?”
Bagas bingung, tidak biasanya ayahnya ada di kamarnya dan menanyakan keadaannya. Bagas menggeleng, karena ia memang belum makan sejak pulang sekolah.
“Kamu mau makan diluar bareng papa?” tawar Pak Fakhtur.
Dalam hatinya Bagas terkejut. Ayahnya tidak pernah sekalipun makan bersamanya meskipun dirumah. Bahkan terakhir kali mereka makan bersama saat ibu kandungnya masih ada.
“Eum... Bagas capek. Bagas mau langsung istirahat aja.” padahal Bagas ingin sekali pergi dengan Papa nya walau sekedar makan. Tapi suasananya sedang tidak tepat.
“Oh, ya udah, ganti baju terus langsung tidur, ya.”
Bagas mengangguk. Pak Fakhtur berjalan ke pintu, hendak keluar dari kamar Bagas.
Bagas segera mandi agar badannya kembali segar, setelah itu baru ia tidur dengan nyenyak tanpa takut terlambat sekolah, lagi.