ARIES

ARIES
Pameran Seni



\=> like, komen, dan tip kalo bisa 😁


★★★


Setelah tiga hari tidak diperkenankan masuk ke sekolah, Bagas akhirnya dapat mengikuti kegiatan pembelajaran lagi. Ya walaupun dia lebih suka ada di rumah sebab tak perlu khawatir terlambat lagi, tapi belajar dan bertemu kawan-kawannya juga penting. Oh iya benar juga, Bagas tidak bertemu atau berkomunikasi dengan teman-temannya selama tiga hari. Mungkin mereka masih marah karena kesalahan pahaman itu. Tapi Bagas juga malas mau menjelaskan bagaimanapun, ia juga kecewa karena temannya lebih percaya gosip daripada temannya sendiri.


Dikantin selepas pelajaran pertama, Bagas duduk sendirian dimeja area luar. Sambil menikmati angin segar, Bagas memasang earpods disalah satu telinganya. Kepalanya ia sandarkan pada sandaran kursi kayu. Matanya terpejam, merasakan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan.


Namun tiba-tiba ketenangannya terganggu oleh ketukan meja. Bagas membuka matanya, rupanya itu Aldo, Bima, dan Rico. Aldo senyum-senyum tidak jelas.


“Gas, gimana kabar lo, udah tiga hari nggak ketemu. Sepi tau kalo nggak ada lo” ucap Aldo. Bagas memicingkan matanya. Aneh, padahal waktu terakhir mereka bertemu, Aldo marah-marah dan mengatakan Bagas orang jahat.


“Lo hilang ingatan? Perasaan baru kemaren lo maki-maki gue,” balas Bagas. Aldo tersenyum canggung, menampilkan deretan giginya yang putih.


“Iya.... soal itu sorry ya, gue nggak tau kalo itu cuma salah paham.”


Bagas menghela. Kini giliran Rico yang meminta maaf.


“Gue juga minta maaf ya, gue kemakan gosip, sampai-sampai gue gak percaya sama temen gue sendiri.”


“Iya, Aries juga udah konfirmasi kalo itu cuma salah paham” ujar Bima.


“Aries?”


“Gas, gue bener-bener minta maaf, kalo aja gue tau David cuma mau fitnah lo, gue pasti dukung lo kok” ucap Aldo semangat.


“Makanya lain kali tanya dulu. Kita udah temenan berapa taun sih, nggak mungkin lah gue ngelakuin itu.”


“Ya sorry, lagian kayaknya lo 'kan benci banget sama cewek itu.”


Bagas kembali menghela, “Sebenci-bencinya gue sama orang, gue nggak akan ngebunuh juga kali.”


“Iya-iya gue percaya.”


“Ya udah ah, gue mau ke toilet dulu” pamit Bagas.


“Eh, Gas, lo nggak marah 'kan?” Aldo memastikan.


“Kagak!”


***


Setelah dari toilet, Bagas berjalan lurus. Di persimpangan koridor ia menabrak seseorang.


“Duh, kalo jalan pake mata!” ucap Bagas.


“Jalan ya pake kaki… pake mata emang sirkus” balas si cewek. Yap, siapa lagi yang berani menjawab Bagas selain Arieska Purnama Rain.


Cewek itu langsung melenggang pergi. Bagas melihat Aries membawa tumpukan kertas di tangannya. Sempat Bagas baca tulisan di kertas putih itu, pameran seni? Penasaran, Bagas mengikuti Aries dari belakang. Cewek berkuncir itu menempelkan lembaran kertas yang dibawanya ke mading pengumuman.


Bagas mendekat, berdiri disebelah Aries persis dan mengambil kertas bergambar ditangan cewek itu tanpa permisi.


“Sejak gue jadi ketua ekskul seni” jawab Aries santai, kemudian mengambil kembali poster ditangan Bagas. Lalu pergi meninggalkan Bagas.


“Dasar norak!” teriak Bagas.


“Biarin!” jawab Aries dari kejauhan.


Setelah berpikir sejenak, Bagas lalu mengambil HP-nya dan memotret poster di mading. Ia hanya ingin tahu kapan pameran itu dilaksanakan.


***


Dua hari setelahnya, pameran seni benar-benar diadakan disekolah. Beberapa siswa antusias dengan mengirimkan karya-karya mereka berupa lukisan ataupun seni fotografi. Jarang-jarang sekolah mengadakan kegiatan yang melibatkan kreativitas yang dimiliki siswa-siswi. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Sekolah selalu sibuk mengurus lomba-lomba yang berhubungan dengan cerdas cermat. Jadi inilah ajang siswa-siswi untuk menunjukkan bakat seni mereka. Ditambah beberapa sekolah lain juga ikut datang dan berpartisipasi dalam pameran kali ini.


Orang yang paling sibuk hari ini adalah Aries. Ia mondar-mandir menata, mendata, dan menjadwal setiap kegiatan. Dibantu oleh Aji tentu saja, dan anak-anak ekskul seni.


Sekolah sangat mendukung kegiatan ini. Makanya, khusus untuk hari ini jam pelajaran akan dikurangi.


“Ini yang lukisan abstrak dijadiin satu sama lukisan yang ada disana ya” pinta Aries kepada salah seorang anggota ekskul seni.


“Terus yang sketsa ditaruh disana aja, biar dapet cahaya.”


Persiapan hanya memakan waktu selama satu setengah jam, sebelum pameran SMU Taruma resmi dibuka.


“Ris, gimana persiapanya, ada yang mau dibantu?” tanya Megan.


“Enggak usah makasih. Ini udah selesai kok, tinggal dekorasinya aja.”


“Oke, sukses ya.”


“Iya, thanks ya.”


Satu jam kemudian.


Aula besar dan luas itu dipenuhi orang-orang yang hendak melihat karya seni para murid. Bukan cuma anak-anak Taruma saja, tapi banyak sekolah lain yang menjadi tamu pada pameran kali ini. Aries dan rekan satu klub seni yang menjadi pembicara kegiatan ini. Karena jam pelajaran sebagian dihentikan, banyak guru-guru yang akhirnya mendatangi aula sekedar melihat-lihat saja. Sekolah sangat mendukung kegiatan ini, jadi wajar kalau acara berjalan lancar.


Ditempat lain, Bagas bingung mau berbuat apa. Di kelas ia hanya tidur-tidur an seperti orang tiada semangat. Meski Aldo, teman satu kelasnya berulang kali mengajak Bagas ke kantin tapi cowok itu tetap menolak. Dan disinilah ia sekarang, dikelas sendirian dengan bangku-bangku kosong dengan tas si pemilik. Anak-anak dikelasnya lebih memilih menghadiri pameran yang diadakan di aula. Karena jenuh, Bagas akhirnya keluar kelas.


Entah kenapa, kakinya berjalan dengan sendirinya melewati aula yang ramai itu. Padahal Bagas sedang tidak ingin kesana. Tapi karena sudah terlanjur kemari, Bagas mau tidak mau mampir sebentar ke aula. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri. Semoga cewek abnormal itu tidak melihat adanya Bagas di acaranya ini, bisa-bisa dia diusir.


Bagas membuka matanya lebar. Tidak menyangka banyak sekali lukisan yang mengagumkan. Dia melihat satu persatu lukisan abstrak maupun sketsa wajah. Indah… itulah kesan yang Bagas berikan. Melihat lukisan yang nampak memiliki kehidupan ini, mood Bagas kembali lagi. Ia bahkan senyum-senyum sendiri menikmati karya yang entah milik siapa. Bagas sempat menyentuh gambar berupa fauna alam liar. Sungguh, lukisan itu nampak nyata bagi Bagas. Ia jadi ingin memiliki lukisan ini.


“Woy, ngapain lu disini?” Belum puas Bagas menikmati lukisan itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


“Sial! Suara cewek itu” ucap Bagas dalam hati.


★★★


feedback? just comment ↓↓