ARIES

ARIES
Tentang Aries



Suara notifikasi yang khas dari ponsel Megan berbunyi membuat si empunya mengecek HP lalu meminta izin teman-temannya,


“Ee...Guys gue kesana dulu ya,” sambil menunjuk meja dibelakang mereka menggunakan matanya.


“Oke,” balas mereka satu persatu.


Aries mengikuti kemana Megan pergi dengan matanya. Walau sedikit susah karena Aries harus memutar kepalanya, tapi gadis bermata cokelat kehitaman itu ingin tahu siapa yang ditemui Megan. Rupanya sudah ada cowok yang menyambut kehadiran cewek bernama lengkap Megan Annora. Mereka berdua nampak sangat akrab. Bahkan dengan santainya cowok itu merangkul pundak Megan.


“Itu pacarnya Megan, namanya David.” suara yang khas itu membuat Aries menolehkan kepalanya kembali seperti semula.


“Oh,” jawab Aries singkat.


Sepertinya Arya sangat memperhatikan Aries, sampai-sampai dia menjelaskan sesuatu sekalipun Aries belum bertanya.


“Kenapa? Ada yang aneh sama mereka?” tanya Arya kala ia tahu Aries sesekali menolehkan kepalanya kebelakang.


“Hm? Gapapa kok,” jawabnya.


Entah ini hanya firasat Aries semata atau memang cowok bernama David itu bukan orang baik. Dari tampang dan gerak geriknya menunjukkan seakan dia bukan cowok baik-baik. Ditambah lagi bisa Aries lihat Megan seakan tidak nyaman berada dekat dengan cowok itu. Meskipun sebagai pacar, David tidak seharusnya mengutak-atik HP milik Megan. Karena dengan begitu bisa disimpulkan kalau David orang yang sangat posesif hingga membuat Megan merasa tidak nyaman.


***


Bel tanda masuk dibunyikan. Semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing mengikuti pembelajaran hingga tiba waktu pulang.


Aries yang baru saja keluar dari gedung utama mendapati sesosok yang ia kenal tengah meracau diparkiran. Dia mengomel tidak jelas pada mobil Nissan March berwarna ungu muda didekatnya.


“Kenapa, Ra?” tanya Aries pada Dara yang tengah kebingungan.


“Ini nih, mobil gue mogok, tukang servis nya gak bisa dihubungi lagi,” jawabnya sembari terus meletakkan HP di telinganya, berharap orang yang dihubungi menjawab telepon darinya.


Aries melirik kap mesin mobil yang terbuka.


“Gue boleh liat?”


“Ha? I..ya boleh sih,” jawab Dara sedikit ragu.


Aries kemudian mendekati kap mobil itu, melihat lebih detail mesin didalamnya.


“Lo bawa tool set?” setelah sedikit mengutak-atik mesin itu, Aries meminta peralatan seperti kunci inggris dan sebagainya.


“Ada di bagasi, bentar gue ambilin,”


Disamping menunggu Dara mengambil peralatan, Aries menaruh tasnya kebawah dan menggulung lengan kemeja seragamnya. Setelah itu Dara memberikan kotak yang berisi penuh peralatan. Dipilihnya beberapa benda seperti kunci soket dan obeng, kemudian tanpa ragu Aries mengutak-atik mobil itu lagi. Dara hanya melihat bagaimana lihainya tangan Aries memperbaiki mesin mobil.


Setelah beberapa menit Aries akhirnya selesai.


“Coba hidupin,” pinta Aries sembari mengelap kening nya menggunakan punggung tangan.


“Oke-oke,” jawabnya.


“Bisa! Ya ampun thank you banget ya, Ris,” seru Dara ketika suara mobilnya kembali menyala.


Aries mengangguk dan tersenyum sembari membereskan alat-alat.


“Lain kali kalo mau dipake servis dulu,” Aries menasehati.


“Iya-iya, thank you ya,” balas Dara.


“Gue duluan ya,” pamit Aries.


“Eh tunggu, elo pulang naik apa?” Aries yang hendak melangkahkan kakinya menjadi terhenti.


“Mm... angkot mungkin,” jawaban Aries nampak ragu karena jarang ada angkot ataupun bus yang masih menarik penumpang sore-sore begini.


“Gue anterin pulang ya, itung-itung sebagai tanda terimakasih karna lo udah bantuin gue,” tawar Dara.


Namun Aries menolak.


“Udah gak usah, gue bisa pulang sendiri.”


“Ayo dong, gue juga pengen tau dimana rumah lo. Sekalian mampir ke rumahnya Megan buat ambil seragam. Emangnya lo mau besok lo pake celana lagi trus dikecengin sama orang-orang?” bujuk Dara.


Aries nampak berpikir sejenak sebelum mengiyakan ajakan cewek berambut panjang itu. “Ya udah deh, yuk.”


Mereka berdua pun pergi meninggalkan area parkir dan melaju dijalan raya. Selama diperjalanan, Dara mempertanyakan kenapa Aries bisa mengerti soal mesin-mesin mobil. Menurutnya kalau cowok masih wajar, tapi Aries itu cewek, dan hanya sekian persen kaum hawa yang mengerti soal otomotif.


“Ris, kok lo tau soal mesin-mesin dari mana?”


“Oh… dulu gue sempet kerja di bengkel mobil deket rumah. Jadi wajar kalo gue tau sedikit masalah mobil.”


Dara mengangguk mengerti. “O iya,  gue sekalian mau mampir ke rumah lo ya, please?” lanjutnya.


“Ha? Aduh gimana ya, gue gak biasa terima tamu,” ucap Aries merasa tidak enak.


“Yah…bolehin dong, masalah makanan gampang, ntar bisa mampir dulu. Lagian gue bosen dirumah sendirian, nyokap bokap gue diluar kota.” ngotot Dara.


Aries menghela napas,


“Ya udah iya,” Aries menerimanya karena ia tipe orang yang tidak enakan terhadap teman sendiri. Lagipula sekali-kali membawa teman ke rumah tidak masalah, pikir Aries.


***


Mereka berhenti didepan gang sempit dipinggiran jalan. Didepan gang itu terdapat taman yang menjadi tempat parkir bagi mobil Dara.


“Yakin parkir disini?” tanya Dara celingukan.


“Iya. Tenang aja, mobil lo gak bakal hilang gue jamin, lagian disini 'kan banyak orang. Mobil lo aman,” kata Aries meyakinkan.


“Okey”


Mereka berdua akhirnya turun dari mobil dan berjalan masuk melewati gang sempit itu. Tak lupa Dara memasang alarm mobilnya sebelum meninggalkannya di area taman yang cukup luas.


Sekarang hanya perlu berjalan sebentar ke rumah Aries. Jalannya yang berliku-liku, naik-turun dan hanya dapat dilalui satu motor saja, membuat Dara kesulitan mengingat jalan mana saja yang sudah dilewatinya. Rumah-rumah yang saling berdempetan membuatnya tampak seperti perkampungan. Dan juga banyak warga yang berlalu lalang atau sekedar nongkrong di teras rumahnya menikmati sore ini. Anak-anak kecil berlarian saling kejar satu sama lain. Membuat kampung ini lebih hidup. Berbeda dengan kompleks perumahan yang dihuni Dara. Meski memiliki jalanan lebar dan mobil-mobil berjejeran, namun tidak ada warganya yang saling berkomunikasi satu sama lain. Perbedaannya sangat jelas terlihat.


Aries yang melihat Dara dengan ekspresi murung lantas bertanya.


“Kenapa, Ra?”


Dara hanya menggeleng. “Rumah lo mana sih?” lanjutnya mengalihkan.


“Deket kok, bentar lagi nyampe,” jawab Aries.


Sembari berjalan, mereka menyempatkan mengobrol beberapa hal.


“Eh elo berangkat kerja jam berapa?” tanya Dara memulai pembicaraan.


“Jam 8”


“Pulang?”


“Jam 1”


“Hah, serius?” Dara memasang wajah terkejut. Aries pun hanya mengangguk. Itu hal yang sudah biasa buat cewek berambut hitam sebahu.


“Emang lo gak capek apa?” tanya Dara kembali.


“Ya enggak lah, orang dibayar.”


“Ya tapi kan masa lo pulang malem-malem trus harus lewat jalanan sepi kayak gitu, emang gak takut apa?”


Aries nampak memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan gadis disebelahnya. Takut? Aries tidak memiliki rasa takut selama itu tidak mematikan.


“Hm… gimana ya jelasinnya, mungkin kalo lo jadi gue, lo bakal tau alasannya.”


Tak lama mereka berbelok melewati gang yang kanan kirinya hanya ada tembok berhiasi grafiti. Gang itu minim pencahayaan, sampai-sampai Dara memegang lengan Aries karena takut akan situasi kurang nyaman ini. Sebelum memasuki gang Dara sempat membaca tanda atau tulisan 'jalan buntu', yang artinya jalan ini tidak tembus kemana-mana. Tak lama mereka sampai di suatu tempat yang lumayan luas, berisi rerumputan ditambah jalan lurus setapak. Di sana ada rumah sederhana yang warnanya didominasi cokelat susu. Rumah yang sudah menjadi tempat tinggal Aries selama 17 tahun ini. Rumah yang hanya ditinggalinya seorang diri.


Aries mengajak Dara memasuki ruang tamu rumahnya. Sudah ada sofa dan meja yang tertata rapi, ditambah susunan bunga plastik yang terbuat dari kantung kresek warna warni bertengger diatas meja kayu. Kesan pertama bagi Dara adalah minimalis. Nyaman, tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit. Dapurnya juga tidak jauh dari ruang tamu. Dara bisa melihat Aries yang sedang menyiapkan minuman dari sana. Cewek berlesung pipi itu kemudian menghampiri beberapa bingkai foto yang terletak diatas meja. Itu foto seorang laki-laki dewasa yang menggendong anak perempuan. Dari foto itu mereka nampak sangat bahagia.


“Ini ayahmu?” tanya Dara.


Aries yang baru datang dan meletakkan gelas diatas meja lantas menjawab,


“Bukan, itu Kakek ku.”


“Oh... Tapi muka kalian mirip loh,”


“Namanya juga keluarga,” Aries terkekeh pelan.


Mereka akhirnya melanjutkan obrolan sambil memakan cemilan yang tadi dibelinya. Dengan posisi senyaman mungkin, Aries menceritakan satu persatu pertanyaan yang terlontar dari mulut Dara.


“Ris, gue mau nanya, elo 'kan dapet beasiswa langsung dari bokap nya Bagas… kok bisa sih? Emang lo pernah ketemu langsung sama pak Fakhtur?” pertanyaan yang sudah diprediksi oleh Aries akhirnya keluar. Cewek itu menghela napasnya sebelum berbicara.


“Dulu sebelumnya gue pernah sekolah disekolah non formal. Gurunya cuma orang sukarelawan yang ngajar anak-anak jalanan, termasuk gue.” Aries mengubah posisi duduknya menghadap bingkai foto di dinding.


“Banyak orang yang bilang kalau gue punya bakat di bidang seni. Gue mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba desain grafis yang diadain dikampung.” lanjut Aries masih tetap memandang bingkai foto yang didalamnya terdapat sebuah gambar yang dilukisnya sendiri.


“Dan ayahnya Bagas yang mensponsori lomba itu?” tebak Dara. Aries mengangguk.


“Akhirnya gue menang. Dan gambar gue dipake logo perusahaan bokap nya Bagas. Ya mungkin sebagai apresiasi, beliau ngasih kesempatan gue sekolah disekolah formal. Bukan cuma itu, semua kebutuhan gue beliau cukupi. Gue sampe kehabisan kata buat ngucapin terimakasih.” lanjut Aries.


“Pak Fakhtur ternyata orang yang baik ya, beda sama anak nya.” ucap Dara yang langsung disambut tawa kecil Aries.


Ting...


Suara notifikasi mengalihkan membicarakan mereka. Dengan sigap Dara mengambil ponselnya diatas meja.


“Duh, Ris, gue harus pulang sekarang, manager gue ngabarin kalo malem ini ada syuting,”


“Oh ya gapapa. Yuk, gue anterin ambil mobil lo.” Dara kemudian membereskan barang-barangnya dan memakai sepatu flat shoes nya kembali. Tak lupa Aries menutup pintu sebelum keluar mengantar Dara sampai ke taman.


Baru kali ini Aries bisa terbuka dengan seseorang. Mungkin karena sebelumnya ia tidak memiliki teman dekat yang bersedia mengantarnya pulang dan menetap beberapa jam.



Dara Luth Anggraeni