ARIES

ARIES
Ibu Tiri



Sambil dibaca dong, jangan cuma di-like😗


Author ucapkan terima kasih atas pengertiannya😊


Happy reading 💞


✏️✏️✏️


Di pagi yang cerah ini, Aries terpaksa bangun lebih awal dari biasanya. Karena mau tidak mau ia harus menjemput Bagas terlebih dahulu. Sebenarnya ia juga malas bertemu cowok menyebalkan itu, tapi bagaimana lagi, ia sudah terlanjur membuat perjanjian. Dan Aries adalah orang yang selalu menepati janji. Meski janji itu merugikan dirinya.


Setelah memarkirkan motornya dihalaman, Aries langsung memencet tombol bel yang terletak di samping pintu rumah. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka.


“Mbak Aries, silahkan masuk!” ucap Bi Rati–asisten rumah tangga.


Aries mengikuti sampai ke kamar Bagas. Karena katanya, Bagas tidak akan bangun sebelum tengah hari. Bahkan alarm pun belum cukup membuat Bagas membuka mata.


“Semalem, Den Bagas berpesan, kalo nanti mbak Aries dateng suruh langsung ke kamarnya aja, mbak” ucap Bi Rati sopan.


“Emang kenapa, Bi?”


“Kalo itu… Bibi juga nggak tau.”


Aneh, biasanya cowok tidak pernah mengizinkan cewek asing masuk ke kamar pribadinya karena alasan tertentu. Tapi Bagas, dia justru sebaliknya.


Sesampainya dikamar Bagas. Ada tulisan di pintu kamarnya yang terbuat dari whiteboard kecil.


"Dilarang masuk! Kecuali Bi Rati"


Dasar kekanak-kanakan, pikir Aries. Bi Rati kemudian membuka gagang pintu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu. Aries yang tadinya enggan masuk ditarik pelan oleh Bi Rati agar mau masuk kedalam. Disana, ia sudah disambut oleh deringan jam weker yang menggema dikamar bernuansa hijau tosca. Aries menggelengkan kepalanya. Suara sebising itu tak membuat Bagas terbangun. Bi Rati lalu mematikan jam weker diatas nakas. Kemudian mencoba membangunkan Bagas yang masih terlelap.


“Den Bagas, bangun, udah siang loh.” Bi Rati menepuk-nepuk pundak Bagas. Namun cowok itu tidak merespon sama sekali. Berulang kali Bi Rati membangunkan dengan cara yang sama. Namun tetap tak ada perubahan.


Disamping Bi Rati berusaha membangunkan tuan rumah, Aries malah sibuk mengamati sekeliling. Kamar yang luas dengan berbagai macam perabotan. Lemari kaca yang berisi penuh action figure. Kulkas mini, dan poster-poster tertempel di dindingnya. Kamarnya cukup berantakan untuk ukuran orang sekaya Bagas.


Melihat Bi Rati yang dari tadi belum berhasil membuat Bagas membuka mata, Aries juga ikut turun tangan.


“Biar saya aja yang bangunin, Bi.”


Aries lalu membuka lebar-lebar gorden yang menyorot langsung ke wajahnya. Kemudian ia beralih mengambil gelas berisi air mineral diatas meja. Lalu tiba-tiba… ia menyemburkan air yang sudah ada di mulutnya tepat mengenai wajah Bagas. Cowok itu pun segera bangkit, merasakan basah diarea kepalanya. Ia mengusap wajahnya terlebih dahulu, sebelum mendapati Aries berdiri disebelahnya mengenakan seragam lengkap.


“Heh! Lo nyembur gue?” marah Bagas.


“Iya, biar lo cepetan sadar,” jawab Aries santai, seakan tak ada dosa.


Bagas lalu melempar bantal ke arah cewek itu, meluapkan ketidakterimaan nya.


“Jorok banget sih lo! Gak ada cara lain, hah?!”


“Lo nggak usah kebanyakan protes. Sekarang lo liat tuh, matahari udah makin panas, gue nggak mau telat gara-gara elo,” ucap Aries menunjuk ke luar jendela.


“Pokoknya gue nggak mau tau, lo harus udah siap sepuluh menit. Gue tunggu dibawah, oke!” lanjutnya, berjalan ke pintu keluar.


Bi Rati yang melihat itu hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Seumur-umur selama dia bekerja disini, belum ada satupun anggota keluarga ataupun temannya yang berani membangunkan Bagas dengan cara kasar. Sepertinya Aries lebih dari sekedar teman, pikir Bi Rati.


***


Beberapa menit kemudian, Bagas sudah selesai mandi dan bersiap ke sekolah. Ia menuruni tangga dengan lesu. Mendapati Aries sedang asyik mengobrol dan sarapan dimeja makan bersama ibu tirinya membuat Bagas tidak senang. Ia lalu meminta Aries untuk segera berangkat tanpa berpamitan dengan ibunya itu.


“Buruan berangkat!” ujar Bagas singkat, kemudian berlalu keluar. Aries yang belum sempat menghabiskan roti dan susunya itu segera menyusul Bagas.


“Tante, Aries berangkat dulu,” pamitnya menyalami tangan wanita itu.


“Tunggu sebentar.” Tante Ayu mengambil beberapa roti yang sudah ia siapkan, kemudian di taruh dan ditata di kotak bekal.


“Bagas nggak pernah mau sarapan bareng Tante. Jadi Tante minta tolong, kamu pastiin Bagas makan sebelum berangkat ke sekolah ya,” lanjutnya, menyodorkan kotak bekal kepada Aries.


“Siap, Tante” jawab Aries.


Pintu mobil sebelahnya terbuka, menampakkan Aries yang langsung duduk memakai sabuk pengaman.


“Nih! Lo belom makan 'kan?” Aries menyodorkan kotak yang berisi roti lapis.


“Gak usah sok perhatian. Buruan jalan!” sahut Bagas tanpa melihat Aries sedikitpun. Kalau bukan karena permintaan Tante Ayu, Aries juga tidak mau dikira sok perhatian pada cowok menyebalkan ini.


“Gue nggak akan jalan sebelum lo makan roti ini,” ujar Aries, tak kalah juteknya.


“Kenapa jadi elo yang ngatur-ngatur gue?” jawab Bagas tidak terima.


Aries mengubah posisinya agar berhadapan langsung dengan wajah Bagas.


“Heh, denger ya, Bu Ayu udah susah-susah bikin sarapan buat lo, dan gue nggak mau makanan ini mubasir gara-gara lo.”


Bagas terkekeh pelan. “Bukan Bu Ayu yang buat, tapi Bi Rati,” ucapnya percaya diri.


“Salah! Gue lihat sendiri Bu Ayu yang nyiapin makanan sendiri. Jadi gue minta lo hargai kerja keras ibu lo sendiri. Sekarang makan!” ujar Aries dengan mimik muka serius.


Bagas sudah tidak tahan lagi dengan gadis ini. Ia lalu mengambil dengan kasar kotak bekal di tangan Aries, kemudian ia lempar ke jalanan melewati jendela.


“Gue gak peduli. Sekarang lo mau apa ha? Jalan sekarang!”


Aries langsung melotot melihat Bagas membuang makanan dari ibunya begitu saja. Ia sama sekali tidak menghargai niat baik ibunya. Melihat Aries tidak berkutik, Bagas nekat menyalakan mobilnya sendiri dan memasang gigi mundur. Aries yang terkejut segera mengambil alih kemudi. Dan membiarkan Bagas yang menang kali ini.


***


Diperjalanan, hanya ada keheningan menyelimuti mobil merah itu. Aries fokus menyetir, sementara Bagas hanya diam melihat ke arah jalanan beraspal. Sejujurnya Aries masih kesal dengan sikap Bagas yang keterlaluan. Memang apa susahnya memakan roti yang sudah siap santap. Dasar aneh!


“Lo kenapa sih, gak mau makan bareng ibu lo sendiri?” Aries angkat bicara.


“Dia bukan ibu gue!” jawab Bagas penuh penekanan.


“Bukan ibu lo gimana?”


Bagas menghela napasnya. “Ya dia emang istri bokap gue, tapi dia nggak akan pernah jadi ibu gue.”


“Oh, gue tau, masalah anak broken home ya.” Aries baru menyadari. Pantas saja sikap Bagas ke Bu Ayu sangat dingin. Bahkan hampir tidak menganggap keberadaan Bu Ayu dirumahnya.


“Dia itu nggak sebaik yang lo pikir," ucap Bagas tiba-tiba. “Dia nggak ada bedanya sama Tante-tante girang diluar sana. Yang cuma ngincar hartanya bokap doang.”


“Heh, jaga omongan lo!” tegur Aries. “Bu Ayu nggak seburuk yang lo kira.”


“Kalo emang dia wanita baik-baik, dia nggak akan ngerebut bokap gue dari sahabatnya sendiri.”


“Apa?” tanya Aries sedikit terkejut.


“Asal lo tau, setelah nyokap gue meninggal, tanpa rasa bersalah, Bu Ayu malah manfaatin kesempatan buat nikah sama Papa. Dan dengan bodohnya Papa mau. Dia bahkan nggak minta ijin dulu ke gue. Emangnya pendapat gue nggak penting apa, ” jelas Bagas. Aries dapat merasakan kekecewaan dari setiap kalimatnya.


“Gue yakin itu cuma penilaian lo doang. Lo ngerasa kecewa karena bokap lo secepat itu mengganti posisi Mama lo. Emangnya lo pernah, tanya alasan kenapa bokap lo nikah lagi?”


“Enggak lah, bodo amat,” jawab Bagas.


“Nah itu, sifat jelek lo yang itu bikin keluarga lo nggak harmonis. Elo terlalu cepat menilai orang dari sudut pandang lo sendiri. Lo nggak pernah tau ada alasan baik dibaliknya.”


Bagas sempat terpengaruhi oleh kata-kata Aries yang baru saja terucap. Namun ia cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu.


“Kenapa jadi lo yang nasehati gue? Padahal elo sendiri nggak punya pengalaman apa-apa soal keluarga 'kan.”


Entah secara sadar atau tidak, ucapan Bagas menyinggung perasaan Aries.


“Elo emang rese' ya jadi orang. Percuma gue ngomong panjang lebar sama orang yang kepalanya batu!” timpal Aries, sedikit kesal karena ucapannya tadi sia-sia.


Tapi, ada satu hal yang menarik. Bagas sebelumnya tidak pernah mau membicarakan masalah keluarganya kepada orang lain, termasuk teman-temannya sendiri. Tapi kenapa kali ini ia bisa merasa terbuka oleh gadis itu. Seperti tanpa beban.