ARIES

ARIES
Album Foto



“Nak Aries, Tante boleh ngomong sesuatu sama kamu?” ucapnya tiba-tiba. Dari nada bicaranya, sepertinya apa yang hendak dibicarakan akan serius.


“Boleh, Tante,” jawab Aries sedikit bingung.


“Kalo Tante boleh tau, nama lengkap kamu… Arieska Rain Purnama bukan?” tanya Bu Ayu, membuat Aries terkejut dalam hati. Bagaimana Bu Ayu bisa mengetahui nama lengkap Aries? Padahal ini pertemuan kedua mereka.


“Iya. Kok Tante bisa tau?”


Ibu Ayu menghela nafasnya sambil menunduk. “Dulu Tante punya sahabat, dia juga punya anak perempuan. Dia bilang kalau nama anaknya itu gabungan dari kedua orangtuanya.”


Ucapan Tante Ayu semakin membuat Aries kebingungan.


“Kamu mirip seperti ibu kamu,” lanjutnya menatap kedua mata Aries.


“M-maksud Tante?”


“Sebentar.” Tante Ayu beralih mengambil sebuah benda dari dalam laci.


“Ini! Ini foto ibu kamu waktu masih SMA.” Ia menunjukkan sebuah album foto kepada Aries. Mendengar ada foto ibunya didalam sana, Aries bersemangat ingin mengecek.


Di foto itu memperlihatkan tiga orang perempuan berseragam SMA berpose saling memeluk satu sama lain. Satu diantaranya adalah Tante Ayu.


“Tante sama ibu kamu udah sahabatan dari SMA. Ibu kamu yang paling tomboi diantara kita bertiga.” Tante Ayu menunjuk perempuan berkuncir yang berada disebelah kanan. Aries tersenyum, mengetahui kalau itu ibunya.


Di foto selanjutnya, ada Tante Ayu dan ibunya mengenakan kebaya, berpose sambil menunjukkan buket bunga. Nampak keceriaan yang terpancar dari dua wanita tersebut. Kemudian Tante Ayu mengambil foto itu dan memberikannya pada Aries. Ia lalu membalik foto tersebut. Ada tulisan 'Ayu dan Raina' dibelakang sana.


“Tante langsung tau kalo kamu anaknya Raina, bukan cuma karna kalian mirip, tapi juga karna kamu pake kalung ibu kamu.”


Benar juga, disetiap foto ibunya selalu memakai kalung yang sama persis dengan yang Aries pakai selama ini. Ternyata Aries dan ibunya benar-benar mirip. Bukan hanya dari bentuk fisik, tapi gaya berpakaian mereka juga hampir sama, selalu menggunakan warna hitam.


“Aries, kalung kamu kemana?” tanya Tante Ayu ketika melihat leher Aries kosong.


“Ada kok Tante,” jawab Aries sambil tersenyum meyakinkan. Tante Ayu hanya mengangguk.


“Tante, saya boleh simpan foto ini?”


“Boleh.”


“Makasih Tante. Kalo boleh tau, ibu dulu orangnya kayak gimana?” tanya Aries bersemangat.


Aries tertawa mendengar cerita Bu Ayu tentang ibunya. Sekarang ia tahu, dari mana sifat nekatnya berasal.


“Setelah lulus SMA, ibu mu pindah ke Semarang. Dia melanjutkan kuliah disana. Ya walaupun kita udah berpisah, kita masih sering komunikasi. Terus nggak lama Tante dapat undangan pernikahan. Tante bela-belain dateng jauh-jauh dari ke Semarang, buat lihat siapa laki-laki yang berhasil menangin hati ibu kamu,” lanjutnya, menambahkan sedikit gurauan.


“Dulu ayah kamu kelihatan baik, sopan,  berwibawa. Tante bahkan sempat berpikir ibu mu beruntung dapet laki-laki pekerja keras seperti dia. Tapi gak lama, Tante dapat kabar kalo ibu kamu…” Ibu Ayu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tanpa dilanjutkan pun, Aries sudah mengerti.


“Waktu Tante tau ayah kamu dipenjara, Tante langsung ke Semarang nyariin kamu. Saya mau bawa pulang kamu, mau merawat kamu. Tapi kamu udah pergi duluan, dan Tante nggak tau kamu kemana, sama siapa.” ekspresi Tante Ayu murung seketika. Seakan merasa bersalah karena gagal menjaga anak sahabatnya sendiri.


“Kakek yang bawa aku ke Jakarta,” ujar Aries seakan ikut menjawab pernyataan Tante Ayu. “Seenggaknya Kakek udah merawat aku sampai umur 15 tahun,” sambungnya.


Tante Ayu mengelus pundak Aries, menunjukkan empatinya.


“Sekarang kamu tinggal dimana?” tanya Tante Ayu mengalihkan.


“Di perkampungan Tante,” jawab Aries.


“Eeh... Kamu mau 'kan, tinggal bareng Tante, disini?” tanyanya ragu.


Aries nampak bingung menjawabnya. “Gak usah Tante, makasih. Saya udah biasa tinggal sendirian, lagipula saya lebih nyaman tinggal dirumah sendiri.”


“Oh, ya sudah kalau begitu. Tante nggak akan maksa kok. Tapi kamu harus sering-sering main ke sini ya, biar nanti Tante masakin makanan kesukaan ibu kamu,” ujar Bu Ayu semangat.


Aries terkekeh pelan. “Iya Tante, insyaallah.”


Lalu tak lama Bagas datang dan menegur Aries karena masih ada disini padahal matahari sudah terbenam.


“Heh! Ngapain lu masih disini? Buruan pulang! Awas aja kalo lu sampe telat berangkat kerja,” ancamnya.


Aries yang tadinya semangat bercerita dengan Tante Ayu, kini ekspresinya berubah drastis.


“Iya-iya, ganggu aja. Tante, Aries pamit dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi, oke” pamit Aries kepada ibu tiri Bagas. Kemudian menyalami tangannya. Tatapannya berubah ketika berhadapan dengan muka Bagas. Cewek itu melotot sebagai tanda pamit. Setelah itu Aries pergi dengan motornya.


***


Sampai dirumah, Aries membuka tasnya, mengeluarkan sebuah foto lalu mamajangnya dibingkai. Aries menatap foto ibunya lamat-lamat. Jadi seperti rupa ibu kandungnya. Aries sama sekali tak pernah mengetahui seperti apa ibunya. Bersyukur karena telah dipertemukan oleh Tante Ayu, sahabat baik ibunya.


Inilah yang namanya takdir. Aries tak pernah mengenal siapa ibu kandungnya. Lalu Ibu Ayu yang menjadi sahabatnya, menyayangi Aries seperti sahabatnya sendiri. Secara tidak langsung, Bagas lah yang mempertemukan mereka.