ARIES

ARIES
Cewek abnormal & Cowok berandalan



“Lo nggak mau minum? ya udah, kalo gitu besok nggak usah kerja lagi disini.”


Lagi-lagi ancaman yang tidak berpengaruh pada Aries. Apa dia pikir Aries adalah gadis bodoh yang mau menuruti perintahnya cuma gara-gara tidak ingin kehilangan pekerjaan? Ia kemudian mengambil gelas kecil yang disodorkan oleh Bagas.


Aries terkekeh geli menanggapinya.


“Masih bertingkah seolah-olah elo penguasa?” wajahnya seketika berubah serius. Air digelas kecil yang ada ditangannya ditumpahkan ke lantai. “Denger ya, mau lo anak pemilik cafe atau yang punya cafe ini sekalipun, elo gak punya hak buat maksa gue ngelakuin sesuatu yang gak gue mau, ngerti! Saya permisi,” lanjutnya. Cewek itu tersenyum diakhir kalimatnya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Bagas dalam keadaan wajah yang memerah.


“Ergh.. tu cewek emang bener-bener ngeselin ya. Kadang jutek, kadang sok manis, risih gue liatnya.” geram Bagas.


“Udahlah, lo nikmati aja dulu, selama dia jadi pelayan disini, kita jadi lebih mudah kan ngerjain dia” kata Bima sambil menyantap kentang goreng.


Dalam segi keadaan mereka lebih unggul. Aries cuma menjadi pelayan dan mereka bos nya. Mereka memanfaatkan posisinya untuk menekan Aries. Tapi gadis itu masih punya seribu satu cara mengalahkan mereka.



Arieska Rain


Esoknya, Aries datang ke sekolah seperti biasanya, berjalan kaki. Sepanjang pintu gerbang suara klakson mobil saling bersahutan. Setiap orang yang melewati Aries melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cewek itu merasa dirinya seperti ayam yang berkeliaran didalam kandang harimau. Perumpamaan yang berlebihan, meski memang begitu kenyataannya.


“Aries,” panggil seseorang dari arah belakang ketika cewek itu sudah memasuki gedung utama.


“Arya,” sapanya kembali sembari tersenyum kecil.


Sama seperti yang lainnya, baru beberapa detik melihat Aries, Arya sudah dibuat salah fokus dengan seragam bagian bawah cewek itu.


“Kok pake celana?” tanyanya. Aries dibuat gagu oleh pertanyaan Arya. Sejujurnya Aries juga tidak percaya diri mengenakan celana hitam panjang yang biasa dipakai siswa cowok. Tapi mau bagaimana lagi.


“Euh.. itu, kemaren 'kan rok ku sobek, dan aku cuma punya celana,”


“Emang kamu gak punya gantinya?" Aries menggeleng.


“Tapi cocok kok sama kamu, kalo emang nyaman percaya diri aja,” Arya meyakinkan Aries.


“Makasih ya,”


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kelas. Disepanjang koridor tidak ada bedanya dengan yang diparkiran. Mereka masih melihati Aries seakan-akan cewek itu orang asing yang tersesat. Ya dia memang tersesat, seharusnya dia bersekolah di SMU yang biasa saja, yang sesuai dengan lingkungannya. Bukan sekolah elit yang isinya anak-anak konglomerat.


“Gak usah terlalu dipikirin. Inget, kalo kamu percaya diri, orang-orang juga bakal respect,” lagi-lagi Arya menenangkan Aries. Mungkin karena cowok itu sadar Aries tidak suka atau risih diperhatikan seperti itu.


Tak lama mereka sampai dikelas 12B/III, kelas yang katanya paling rusuh nomor dua. Arya sudah duduk lebih dulu ditempatnya, sementara Aries mengecek kursinya menggunakan tangan. Jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Setelah benar-benar yakin tidak ada perangkap apapun, cewek penyuka warna hitam itu segera memposisikan diri. Sekilas ia melirik ke kanan belakang. Atau lebih tepatnya ke siswa laki-laki yang sedang menatapnya dengan wajah sombong, angkuh, dan sedikit sadis.


Beberapa menit setelahnya, guru yang mengajar datang dan memulai pembelajaran selama kurang lebih dua jam.


“Ris, kita langsung ke kantin aja ya," ajak Arya, dan langsung disetujui oleh Aries. “Tapi aku perpus dulu, nanti aku nyusul” sambung Aries. Setelah merapikan buku-bukunya mereka berdua keluar kelas.


Ditengah-tengah perjalanan,


“Katanya cewek tulen, tapi gak bisa bedain mana seragam cewek mana seragam cowok” ucap Bagas ketika Aries dan Arya berjalan melewatinya.


Secara sadar atau tidak sadar, Aries terpengaruh sindiran yang dilontarkan Bagas. Cewek itu berbalik menatap tajam lawan bicaranya yang tengah bersedikap dada.


“Bacot lu,” ucap Aries.


“Wih... santai dong, cewek normal gak pernah ngomong kasar, oh gue lupa… elo kan abnormal,” lanjut Bagas diselingi senyum miring.


“Udah lah, ayo.” Arya menggandeng tangan Aries menjauh dari mereka berempat sebelum cewek itu semakin tersulut emosinya.


“Dasar cewek abnormal,” guman Bagas melihat Aries dan Arya menjauh.


***


Di perpus, Aries sibuk memilih-milih buku yang ada di rak koridor paling belakang. Sudah ada tiga buku ditangannya, tapi dia masih ingin menambah tumpukan. Mungkin pikirnya selama dia bersekolah disini dia ingin mengejar apa yang tidak pernah ia pelajari waktu dulu.


“Aries?” sapa seseorang dari belakang.


“Oh hai,”


“Ternyata lo kutu buku juga ya,” cewek bernama Megan itu melihat beberapa buku ditangan Aries.


“Ya… banyak yang harus gue kejar,”


“Elo pake…” kalimat Megan terpotong.


“Iya gue tau, gue pake celana yang seharusnya dipake cowok,” potong Aries sambil berjalan menuju meja penjaga perpus guna meminta izin meminjam buku.


“Oh gue ngerti, gue udah liat videonya, sorry ya,” Megan memasang muka menyesal karena mengingatnya lagi dengan kejadian memalukan itu.


“Gak papa,” balas Aries sembari tersenyum.


Mereka berdua keluar dari perpustakaan menuju kantin yang terletak tak jauh.


“Gue masih punya setelan seragam satu lagi, lo mau pake aja?” tawar Megan.


“Serius?”


“Iya. Lagian gak pernah ke pake, soalnya gak muat,” Megan tersenyum kecut mengakui kalau berat badannya lebih besar dibandingkan Aries.


“Oke, makasih ya,”


Sesampainya dikantin bagian luar (outdoor), mereka tidak perlu mencari meja kosong karena seperti biasa mereka akan bergabung dengan teman-temannya.


“Nah ni dia, baru diomongin udah nongol,” kata Juna ketika Aries dan Megan mendudukkan dirinya di kursi panjang.


“Kenapa emang?” tanya Megan.


Aji yang duduk bersebelahan dengan Aries langsung mendekat.


“Aries, emang bener… elo kerja ditempatnya Bagas?”


Tanpa ragu Aries menjawab, “Iya”


“Tau dari mana?” lanjutnya.


“Nih,” Dara memperhatikan layar ponselnya. Disana ada beberapa foto yang menunjukkan Aries memakai seragam waiters tengah melayani para pelanggan di cafe itu. Disertai dengan keterangan 'Gaya nya aja gede, ternyata  cuma pelayan rendahan.'


Sudah bisa dipastikan, Bagas yang mengunggah foto-foto itu. Apalagi tujuannya selain membuat Aries buruk di mata semua orang.


“Kok bisa sih, elo kerja sama orang yang bahkan benci sama lo,” tanya Juna yang masih tidak percaya.


“Ya… mau gimana lagi, namanya juga hidup. Kalo gak kerja mau dapet uang dari mana,” jelas Aries sambil membuka buku yang baru dipinjamnya.


“Emang orangtua lo gak ngebiaya in lo?” kini giliran Dara yang bertanya.


“Eh… gimana ya, susah jelasinnya,”


Sebenarnya Aries kurang suka membicarakan soal keluarganya kepada orang lain. Dia tipe orang yang tertutup.


“Penting ya bahas itu sekarang? Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing 'kan? Dan itu privasi,” Arya menengahi. Untung ada dia. Sepertinya hanya Arya yang dapat mengerti betul perasaan Aries. Ya, sejak awal Arya memang menaruh respect pada cewek itu. Bahkan sejak pertama kali bertemu pun Arya merasa Aries berbeda dari siswi kebanyakan.


“Tapi aku salut sama kamu, udah cantik, berani, mandiri, pekerja keras lagi. Bener-bener cewek idaman,” goda Aji yang sukses mencetak senyum di wajah Aries.


Di lain tempat yang tak jauh, masih di area kantin, seseorang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka. Seseorang yang sangat ingin melihat Aries menderita. Siapa lagi kalau bukan cowok berandalan–sebutan Aries untuk Bagas dan teman-temannya. Ya, Bagas kini memperhatikan Aries dengan mimik muka kesal. Sebab rencananya membuat Aries jatuh karena bekerja sebagai pelayan di cafe nya gagal. Cewek itu masih bisa tersenyum dan tertawa seakan tidak terpengaruh.


“Apa sih yang bokap gue lihat dari cewek kampung itu, sampai-sampai bokap belain dia mulu,” geram Bagas.


“Lo mau tau siapa cewek itu, dan kenapa bokap lo bisa nemuin dia?” ucapan Aldo membuat penasaran Bagas.


“Nih, semua yang pengen lo tau ada disini.” Aldo kini menggeser sebuah flasdisk ke hadapan Bagas.


Jika diingat-ingat lagi, Bagas pernah meminta Aldo mencari tahu identitas Aries. Tapi siapa sangka Aldo mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga hari. Kemampuan hacker satu ini tidak bisa diragukan lagi.


“Hebat juga lo” puji Bagas.


“Tunggu aja, semua aib lo bakal ke bongkar. Sampai-sampai lo gak punya muka lagi disekolah ini, cewek abnormal.” lanjutnya



Bagas Sadewa