
Semilir angin menerbangkan rambutnya yang diikat sempurna. Diatas ketinggian sekitar 15 meter, Aries duduk ditepian rooftop. Kedua kakinya ia biarkan mengambang diatas udara. Tangannya ia selipkan diantara pipa besi pembatas. Merenung, menatap kosong ke bawah sana.
“Hai! Juna bilang kamu pasti ada disini.” sebuah suara membuatnya menoleh.
Aries tersenyum kecil. Arya ikut menyelipkan kakinya diantara pipa.
“Jangan galau cuma gara-gara kamu nggak lolos. Masih banyak kesempatan lain waktu.”
Aries menghela napas, “Aku nggak ngerti… sekeras apapun aku berusaha, aku tetep gagal.”
“Kamu bukannya gagal, cuma kurang beruntung, karna lawan mu Bagas. Coba kalo lawannya aku, pasti kamu yang menang.”
Aries tertawa kecil. “Ya karna kamu orangnya jujur, nggak kayak Bagas.”
“Aku heran ya, kenapa dia nggak bisa menghargai kerja keras aku sedikit pun. Yang dia pikirin cuma nama baik dia, dan cara supaya bikin aku nge-down” lanjut Aries.
“Ya mungkin Bagas menganggap kamu itu rivalnya. Jadi dia melakukan segala cara untuk ngalahin kamu. Karena merasa tersaingi. Yang perlu kamu lakukan, itu buktikan kalo kamu bukan orang lemah, kalo kamu juga bisa jadi kebanggan Taruma.”
Aries menarik kedua sudut bibirnya ke bawah, “Iya juga sih, dari awal aku juga udah ngerasa ada yang aneh. Kegagalan aku kali ini kayak disengaja.”
Mata Aries mendadak tajam. “Liat aja, aku bakal bales kekalahan aku.”
Arya mengerjapkan matanya dua kali, khawatir kalau Aries sudah berkata demikian, mungkin ia akan melakukan sesuatu yang besar. Jangan lupa, Aries adalah perempuan paling nekat disekolah ini. Apapun bisa ia lakukan.
***
Kringg...
Bel pulang sekolah dibunyikan. Karena tidak ada ekskul basket hari ini, Bagas bisa pulang tepat waktu. Sampai di parkiran hendak mengambil mobilnya, Bagas terkejut bukan main. Mobil merah kesayangannya penuh coretan tinta hitam. Di badan mobil tertulis 'loser' dan dikaca tertulis 'sampah'. Apa maksudnya ini? Bukan cuma itu, keempat ban mobilnya juga sengaja dikempeskan.
Bagas mematung memandangi mobilnya. Tangannya mengepal kuat. Ia mendekat, di kaca depan ada selembar kertas yang ditempel menggunakan permen karet. Bagas menarik kertas itu membacanya. Itu adalah print out hasil ujian Bagas yang sebenarnya, sebelum ditukar nilainya dengan nilai Aries. Ia terbelalak, siapa yang melakukan ini?. Dibalik kertas itu ada tulisan tangan seseorang 'sekalinya pecundang tetap aja pecundang! Dasar curang!'
Geram, Bagas berteriak “Siapa yang coret-coret mobil gue?!”
“Gue! Kenapa? Marah?” Aries berjalan mendekati Bagas. Sebuah pilox ia lemparkan dari tangannya.
“Lo emang bener-bener gila! Maksud lo apa ngerusak mobil gue?! Lo nantangin gue?!” ucap Bagas tak bisa menahan amarahnya.
“Lo emang gak tau diri ya jadi orang. Mau lo tu apa?! Mau cari perhatian? Ha?” lanjut Bagas.
“Yang gak tau diri itu elo. Lo pikir gue nggak tau, elo yang udah nuker hasil ujian gue. Yang bikin usaha gue sia-sia! Menang dengan cara curang… dan lo bangga? Lo tuh sampah tau nggak!” ucap Aries tak kalah tegas.
Dalam hati Bagas terkejut, kenapa Aries bisa tahu kalau ia menukar hasil ujiannya? Padahal yang tahu hanya dia dan Aldo saja.
“Gue nggak ngerti maksud lo.”
“Masih pura-pura ****?! Gue gak nyangka ya, Gas, lo selicik itu. Sebegitu pentingnya nama baik lo, sampe elo ngelakuin hal rendahan kayak gitu! Lo nggak tau kan perasaan gue kek gimana?”
“Gak penting” potong Bagas, berniat pergi menghindari pembicaraan yang akan memojokkannya. Namun Aries mencekal lengannya.
“Bagas! Gue tau lo orang kaya, gue tau lo bisa lakuin apa aja. Tanpa ikut olimpiade pun orang-orang tetap bakal menghargai lo. Beda sama gue yang harus kerja keras cuma buat sekolah.”
Keributan semakin menarik perhatian orang-orang. Mereka berkerumun dilahan parkir. Tak sedikit yang mengabadikan keributan tersebut, tentu saja untuk diunggah ke situs resmi TNet. Center.
“Percuma gue ngomong panjang lebar kayak gini, orang egois kayak lo nggak mungkin bisa ngerti!” tukas Aries. Cewek itu kemudian berjalan ke depan, menabrak bahu Bagas dengan sengaja.
Namun selang berapa detik, Bagas yang tadinya diam karena merasa terpojokkan, akhirnya angkat bicara.
“Lo pikir enak jadi anak orang kaya?! Yang tiap hari dijejali harta buat gantiin kasih sayang orang tua! Yang selalu dianggap kekanak-kanakan, nggak bisa jadi orang yang diandalkan. Iya emang gue curang. Tapi kalo lo pikir gue curang cuma buat ngalahin lo, lo salah! Karna bukan cuma lo yang butuh pembuktian.” Bagas lalu pergi menghilang diantara kerumunan. Aries melipat tangannya didepan dada. Bingung, siapa yang salah dan siapa yang benar disini.
Bukan cuma siswa, para guru juga menyaksikan perdebatan tersebut dari lantai dua, lebih tepatnya dari balkon ruang guru.
“Anak jaman sekarang kok ya suka benget jatuhin satu sama lain. Bersaing sana sini” ucap Bu Ani sambil menyeruput teh dari cangkir putihnya. Hal itu disetujui oleh guru-guru lainnya. Pak Ridwan yang ikut menyaksikan tidak menyangka, Bagas akan mengatakan hal itu.
Kasus antara Bagas dan juga Aries memang mendapat perhatian khusus dari para guru. Sejak kehadiran Aries yang membuat heboh waktu menyiram Bagas menggunakan air mineral, seluruh Taruma membicarakan kasus tersebut, seakan masalah yang terjadi antara Bagas dan Aries sudah menjadi makanan sehari-hari dan selalu ditunggu-tunggu.