
\=> Vote dan like nya jangan lupa, oke
∅∅∅
Hari diadakannya seleksi akhirnya tiba. Pada waktu istirahat Bagas dan Aries ditempatkan disatu ruangan yang sama, menunggu. Kelas XI/B, adalah ruang kelas yang menjadi tempat diadakannya ujian seleksi.
Ruangan itu kosong, hanya ada Bagas dan Aries yang duduk berjauhan. Tidak ada percakapan diantara mereka. Aries sibuk dengan jurnal gambarnya, sementara Bagas hanya diam sambil melirik-lirik Aries. Cewek itu, disaat-saat seperti ini masih sempat-sempatnya menggambar, batin Bagas.
Tak lama Pak Ridwan datang dengan lembar soal ditangannya. Ia memberi sedikit pengarahan, agar kedua muridnya bisa mengerjakan semaksimal mungkin. Mereka diberi waktu hingga bel masuk dibunyikan. Kini hanya tinggal menunggu hasilnya besok.
***
“Woi, lemes banget lu, kek belom makan.” Rico, Aldo dan Bima menghampiri Bagas dimeja kantin. Melihat teman-temannya datang membuat perasaan Bagas lebih baik, meski sebelumnya ia sempat pesimis dengan hasil seleksinya nanti.
“Gimana hasil seleksinya?” tanya Rico.
“Belom tau. Mungkin besok.”
Rico mengangguk mengerti.
“Ya udah, kalo gitu nanti malem kita kumpul aja gimana, mumpung orang tua gue lagi keluar negeri. Jadi kita bisa bikin party kecil-kecilan dirumah gue” ajak Aldo.
“Boleh tuh boleh, sekalian gue mau nginep dirumah lo. Bosen gue liat orang tua gue berantem mulu.” Rico mengiyakan.
“Gue sih ngikut aja” ucap Bima.
“Kalo lo, Gas?”
Bagas nampak berpikir sebelum akhirnya menjawab iya. Matanya melirik kearah kanan, lebih tepatnya kearah Aries yang sedang lewat bersama Arya. Cewek itu nampak bahagia sekali rupanya, berbeda dengan Bagas.
***
Malam tiba terlalu cepat. Bagas ragu apa dia harus pergi malam ini. Tapi setelah melihat mobil ayahnya melaju meninggalkan rumah, Bagas memutuskan bersiap ke rumah Aldo. Setidaknya jika bersama teman-temannya mungkin rasa cemas yang tidak jelas ini akan hilang.
Dirumah Aldo, dia disambut dengan semangat oleh si tuan rumah. Bima dan Rico sudah datang terlebih dahulu. Membantu menyiapkan cemilan dan beberapa kaset video game yang nanti akan mereka mainkan.
“Gue kira lo nggak bakalan dateng. Akhir-akhir ini lo sering ngejauh kenapa sih?” tanya Aldo, membuka tutup botol minuman soda.
“Perasaan lo aja kali” jawab Bagas meneguk minuman.
Mereka berempat kompak bermain game yang terhubung di televisi. Game petualangan adalah yang termasuk favorit mereka. Hampir tiga jam beradu dengan joystick, namun mereka sama sekali tak ada niat mengakhiri permainan. Mereka sama-sama menikmati permainan tersebut. Namun tidak dengan Bagas. Dari awal permainan dia sudah tidak fokus. Beberapa kali ia kalah sampai mendapat coretan bedak diwajahnya.
“Guys, gue ke toilet dulu ya” izin Aldo.
“Oh, oke.”
Bagas melihat Aldo berjalan kebelakang. Sesuatu terlintas dipikirannya. Ia segera menyusul Aldo. Menunggu didapur sampai Aldo menyelesaikan ritualnya di toilet.
“Parah, kebanyakan makan pedes gue” ucap Aldo beralih mengambil minuman di kulkas. Bagas hanya terkekeh. Sebenarnya Bagas ingin meminta sesuatu kepada kawannya satu ini.
“Ee... Al, sebenernya gue masih kepikiran soal hasil seleksi besok. Gue bener-bener penasaran.”
“Lo tenang aja, gue yakin lo bakal lolos.”
“Ya tapi tetep aja gue nggak tenang. Lo bisa bantuin gue 'kan?”
Aldo menaikkan kedua alisnya, mengerti betul apa dimaksud kawannya. “Eng... gimana ya, besok juga bakalan dikasih tau kan.” Aldo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Ya tapi gue penasarannya sekarang. Ayolah, Al, bantuin gue” pinta Bagas.
Aldo membawa Bagas keruangan pribadinya. Fyi, Aldo adalah salah tau hacker bersifat anonymous. Kemampuan meretasnya ia dapat secara otodidak. Tapi jangan salah, Aldo bukanlah hacker yang tidak bertanggung jawab yang meretas demi keuntungan pribadi dan merugikan orang lain.
Diruangan yang gelap, hanya ada satu sumber penerangan yaitu lampu bohlam kecil yang menggantung di langit-langit. Ada banyak berbagai macam komputer disana. Mulai dari yang kuno sampai komputer tercanggih untuk mendukung hobi cowok bernama lengkap Aldo Imanuel itu.
“Kalo bukan karena lo sohib gue, gue juga males lakuin ini” ucap Aldo sambil mengutak-atik komputer.
“Cuma kali ini doang” jawab Bagas.
Komputer dinyalakan, sang maestro memainkan jemarinya dengan lihai, membuka situs resmi yang terhubung dengan SMU Taruma. Tinggal menambahkan kata kunci dan taraa... Aldo berhasil masuk tanpa diketahui. Ia bisa leluasa membuka berkas-berkas yang tersimpan di sana, bahkan berkas rahasia sekalipun bisa ia ketahui. Ini adalah cara yang sama yang Aldo gunakan untuk mencari tahu tentang Aries waktu lalu.
“Lo yakin, Gas?” Aldo memastikan kembali. Ia sudah berhasil menemukan berkas yang berisi hasil ujian seleksi yang diminta Bagas.
Bagas pun mengangguk yakin, dan klik. Terpampang jelas dilayar nilai antara Bagas dan Aries, selisih tujuh poin. Bagas terbelalak, bagaimana bisa nilainya lebih rendah dari Aries. Kalau begini, artinya Aries yang akan maju ke tahap selanjutnya. Aldo juga tidak percaya temannya kalah dari anak yang baru masuk sekolah tiga bulan lalu. Padahal Bagas notabene orang paling cerdas disekolah.
***
Esoknya, Bagas dan Aries kembali dikumpulkan ke ruang kepala sekolah. Pria berjas hitam itu memberitahu nilai masing-masing. Aries sedikit terkejut, ia mengerutkan dahi dan bertanya memastikan.
“Pak, ini benar nilainya?”
“Iya benar. Kenapa? Ada yang salah?”
Aries menggeleng. Ia masih tidak percaya nilainya lebih rendah dari Bagas. Seperti ada yang salah. Ia lalu melihat cowok disampingnya, tidak seperti biasanya, Bagas terkesan biasa saja. Padahal dirinya yang memenangkan persaingan kali ini. Tapi kenapa tidak ada ejekan karena sudah mengalahkan Aries?
***
“Selamat ya bro, dari awal gue udah tau lo bakal lolos” ucap Rico semangat.
“Entar malem kita rayain keberhasilan lo, gimana? Kita ke karaoke aja yuk.”
“Oke!” jawab Bagas tak kalah semangat. Teman-temannya yang lain juga mengiyakan ajakan Rico.
Lalu tiba-tiba Aries datang mengalihkan perhatian mereka berempat.
“Gue mau ngomong sama lo” tukas Aries.
“Ngomong aja kali. Oh gue tau, lo pasti mau ngucapin selamat kan ke gue” ucap Bagas percaya diri, atau lebih tepatnya menyindir.
Aries menghela berat, “Gue nggak tau apa gue yang terlalu bodoh atau lo yang terlalu fanatik.”
“Maksud lo apa?” ketus Bagas berbalik menghadap lawan bicaranya.
“Selama ini gue kerja keras buat buktikan kalo gue layak ada disini. Dan lo… lo cuma santai-santai aja, lo terlalu percaya diri akan keberhasilan lo.”
“Ya terus? Hubungannya sama gue apaan? Lo nggak terima kekalahan lo?”
“Kalo lo kira ini cuma permainan lo salah. Ini penting buat gue.” Aries menarik sudut bibirnya. “Tapi cowok kayak lo cuma mikirin ketenaran. Bullsh*t!”
Aries langsung berbalik setelah mengatakan sesuatu yang menyinggung Bagas.
“Heh, maksud lo apa ngomong gitu, hah?! Kalo gak terima bilang aja. Iri lo? Karena sampai kapan pun lo gak bisa nyaingin gue. Sadar diri kenapa sih.”
“Terserah apa kata lo. Percuma debat sama orang yang egonya tinggi kayak lo!”
Aries sudah sepenuhnya pergi dari kantin. Akibat keributan tadi, orang-orang sempat fokus ke mereka berdua. Bagas tidak ingin dilihat dengan mata seperti itu. Dia juga pergi menjauh dari kantin, meninggalkan ketiga temannya yang saling menatap bingung satu sama lain.
Entah sadar atau tidak, pikiran Bagas sangat kacau. Ucapan Aries merasuki otak Bagas dan menjalar ke alam bawah sadarnya. Itu selaras dengan apa yang telah diperbuatnya. Menukar hasil ujian Bagas dan Aries memang ide buruk.