
*Cuma ingin mengingatkan,
kalau author sangat membutuhkan like, vote dan rate dari kalian.
Selamat membaca*
★★★
Pelajaran dijam selanjutnya sudah dimulai. Anak-anak kelas 12 mengerjakan soal yang diberikan dengan tenang. Sampai suara speaker yang terpasang di setiap sudut koridor berbunyi, mengalihkan perhatian semua murid.
“Selamat siang, kepada siswa atas nama Bagas Sadewa dan Arieska Rain dimohon segera menghadap kepala sekolah. Terimakasih.”
Pengumuman yang singkat membuat Aries bingung. Kenapa namanya juga ikut disebut bersamaan dengan cowok berandalan itu?
Di jam istirahat, Aries menemui kepala sekolah seperti yang diperintahkan. Setelah mengetuk pintu, mengucapkan permisi lalu melangkah masuk. Sudah ada Bagas didalam sana. Duduk manis tepat dihadapan kepala sekolah.
“Saya memanggil kalian berdua karna saya mau membahas seleksi peserta olimpiade. Karna ditahun sebelumnya hanya Bagas yang jadi kandidat, jadi sekolah tidak perlu melakukan seleksi. Tapi karena sekarang Aries mau ikut serta, jadi seleksi akan kita adakan” ujar kepala sekolah, tersenyum.
Mereka berdua saling lihat. “Pesertanya cuma dua orang aja, pak?” Aries meletakkan tangan diatas meja. Kepala sekolah mengangguk, “Iya… karena emang cuma kalian yang mengajukan diri.”
Kepala sekolah mengambil beberapa map yang berbeda-beda warna. Dua diantaranya berwarna cokelat dan biru, diberikan kepada Aries. Sementara map berwarna merah dan hijau untuk Bagas.
“Itu salinan soal tahun lalu. Dan ada beberapa referensi yang bisa kalian gunakan untuk belajar. Kalian sama-sama mempunyai potensi di akademik. Semoga kalian bisa membawa nama baik sekolah.”
“Pasti” ucap Bagas yakin.
Kepala sekolah berdiri, menyalami mereka secara bergantian.
“Semangat ya.”
“Iya, pak.”
Keluar dari ruang kepala sekolah, Bagas menarik pelan rambut Aries yang diikat.
“Aduh. Apaan sih?” protesnya.
“Masih belum terlambat buat mengundurkan diri, cewek abnormal” ucap Bagas, mendekatkan wajahnya.
“Ngomong sama diri sendiri?” tanya Aries sok polos. Bagas mengernyit. Cewek itu melenggang pergi setelah membuat Bagas tersinggung.
“Gue bakal kalahin lo. Lihat aja nanti,” gumam Bagas.
***
Dikantin, Arya dan lainnya sibuk membicarakan seputar gosip yang sudah tersebar. Kabar diadakannya seleksi olimpiade tersebar begitu cepat. Aries dan Bagas kembali menjadi buah bibir anak-anak Taruma. Seperti kata orang, panjang umur bila orang yang sedang dibicarakan kebetulan datang ke tengah-tengah perbincangan.
“Hai” sapa Aries, langsung mendapat pertanyaan dari Dara bahkan sebelum Aries duduk.
“Aries, sini deh. Emang bener ya, elo mau ikut olimpiade?” ujar Dara bersemangat.
Aries mengangguk ragu, melihat temannya yang lain secara bergantian.
“Emangnya kenapa?”
“Ya ampun Aries… lo tau 'kan siapa yang jadi saingan lo? Bagas itu orang nomor satu di sekolah. Kepintarannya itu udah diatas rata-rata. Anak-anak lain aja nggak ada yang berani ikut olimpiade. Takut kalah saing,” cerocos Dara.
“Ya emang kenapa sih..? Aries juga pinter loh,” bela Arya. Yang dibela hanya menyengir bangga.
“Bukannya gitu, kalian tau sendiri 'kan Aries sama Bagas itu musuhan, bukan nggak mungkin Bagas bakal singkirin lo dengan cara sadis. Bisa jadi lebih parah dari yang kemarin,” lanjut Dara.
Cewek itu, selalu berlebihan ketika menasehati. Diantara empat orang itu, Dara memang yang paling heboh dengan berita gosip.
“Lagipula bagus dong, kalo Aries bisa kalahin Bagas. Nanti timeline-nya, anak baru, bintang baru” ucap Juna menaik turunkan kedua alis. Sementara Dara mendengus, menyerah kalau sudah berdebat dengan Juna.
Yang lain tertawa kecuali Megan. Meski ia sempat memperlihatkan senyum manisnya, tapi murung dimatanya tidak bisa disembunyikan.
“Gue nggak papa kok, cuma kurang enak badan aja” jawab Megan, terlihat jelas berusaha tersenyum.
“Lo yakin?” Dara memegang kening Megan, memastikan apakah suhunya meningkat. “Badan lo agak panas sih” lanjutnya.
“Nggak mau ke UKS aja?” sambung Aji. Megan menggeleng. “Udah aku nggak papa kok, tenang aja.”
Meski Megan berkata demikian, tapi Aries tidak percaya bahwa cewek itu baik-baik saja. Wajahnya juga pucat.
“Cewek abnormal” panggil seseorang dari belakang. Panggilan itu, hanya satu orang yang memanggil Aries dengan sebutan itu. Dengan berat hati Aries berbalik. Bagas berjalan ke meja Aries. Arya dan Juna berdiri, bersiaga kalau Bagas membuat gara-gara lagi.
“Ikut gue,” titahnya. Aries menyipitkan mata, menelisik jikalau ada kecurigaan. Melihat cewek itu tidak merespon, Bagas berniat menyeret tangannya untuk ikut. Tapi Arya menghadang nya.
“Minggir, gue gak punya urusan sama lo” ketus Bagas. Arya masih terdiam, berdiri diantara Bagas dan Aries.
Tidak mau ada keributan, Aries meyakinkan Arya untuk mundur.
“Udah udah.” Aries akhirnya mengikuti Bagas seorang diri.
***
Diruangan berbentuk persegi, Bagas membawa Aries masuk ke dalamnya. Hanya ada satu meja ditengah dan beberapa kursi berbahan stainles steel.
Aries mengedarkan pandangannya terlebih dahulu. Ruang ini sudah seperti ruang interogasi saja. Belum lagi tidak ada siapa-siapa disini. Hanya mereka berdua.
“Ngapain lo bawa gue kesini?”
Belum sempat Aries mendapat jawaban atas pertanyaannya, pintu ditutup secara tiba-tiba. Aries sempat terkejut, ia kira hanya akan berbincang empat mata dengan Bagas, tapi kenapa ada Bima dan juga Rico.
“Wah wah kalian mainnya jangan keroyokan gitu dong,” ucap Aries menjaga jarak.
“Diem, duduk lu.”
Bima menekan pundak Aries, memaksanya duduk. Aries berusaha tenang meski situasi saat ini agak mengkhawatirkan.
Bagas melempar sebuah amplop tebal berwarna cokelat ke atas meja. Bingung, Aries melihat mereka bertiga secara bergantian.
“Itu buat lo, kalo lo mau mengundurkan diri dari olimpiade.” Bagas menarik kursi dan duduk di dekat Aries.
Cewek itu membuka isi amplop lalu menghela nafas. “Lo mau nyogok gue?”
“Bukan, ini penawaran. Gue tau lo butuh uang buat memenuhi kebutuhan sehari-hari lo. Jadi kali ini lo singkirin gengsi lo itu, dan ambil ini.”
Jujur Aries tersinggung. Tapi ia juga tidak bisa bohong kalau ekonominya saat ini sedang lemah.
“Lo kira gue kacung, dikasih duit langsung nurut,” Aries membenarkan posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah Bagas. “Apa susahnya sih bersaing secara sehat? Atau lo takut anak baru kayak gue ngambil posisi lo, hm?” lanjutnya.
Bagas menggeleng pelan, menatap mata Aries lebih dalam. “Lo nggak akan ngerti. Gue gak mau ngambil resiko.”
“Elo sebegitu pengen eksis nya ya? Ck, udah ah, buang-buang waktu.” Aries berjalan menjauh menuju pintu.
“Gue bisa ngeluarin ayah lo dari penjara kalo lo mau.” ucapan Bagas membuat Aries terhenti. “Lo udah lama nggak ketemu dia 'kan?” lanjut Bagas.
Aries berbalik, “Gak ada yang bisa ngeluarin dia dari penjara.”
“Gue bisa, dengan uang jaminan.” Bagas mendekati Aries. “Tapi lo harus mengundurkan diri sekarang” lanjutnya.
Aries terdiam, bingung mengapa Bagas ingin sekali memenangkan persaingan kali ini. Sampai-sampai ia memberi tawaran yang Aries sendiri tak harus menjawab apa.
“Lo boleh mikir dulu, tapi tawaran ini cuma berlangsung satu hari.” Bagas memberikan amplop tadi ke tangan Aries, lalu pergi disusul kedua temannya.
Sementara Aries masih terdiam. Ia melihat amplop tebal berisi uang ditangannya. Apa yang harus ia lakukan? Disatu sisi Aries ingin membalas budi pada pak Fakhtur yang sudah menyekolahkannya, dengan membawa nama baik sekolah di acara olimpiade nanti. Tapi disisi lain Aries juga membutuhkan ayahnya, setidaknya sebagai pengingat kalau ia masih punya keluarga.
Aries benar-benar bingung, apa yang akan ia pilih.