
“Arya, disini rame banget” keluh Aries ketika sampai di area kantin yang sangat padat. Setelah memesan makanan, dua remaja tersebut sibuk mencari meja kosong yang tersisa.
“Namanya juga kantin, wajarlah kalo rame. Disana aja yuk,” ajak Arya. Aries mengikutinya dari belakang.
Arya menuju ke meja kosong ditengah-tengah. Aries tidak memprotes, meski cewek itu merasa tidak nyaman karena terus dilihati orang-orang.
“Kamu gak suka keramaian ya?” seperti bisa membaca pikiran Aries, Arya bertanya demikian.
“Hm? Kelihatan ya?” Aries balik tanya.
Arya terkekeh. Lucu menurutnya melihat cewek didepannya ini merasa canggung.
Mereka berdua kemudian melanjutkan memakan makanan yang tadi sudah dipesannya. Tidak ada percakapan sewaktu menyantap hidangan masing-masing. Sampai ada beberapa orang tiba-tiba ikut nimbrung dimeja mereka.
“Wuih, gebetan baru nih," celoteh anak bertubuh agak gempal itu, menepuk pundak Arya dan duduk di sampingnya tanpa permisi. Arya beradu kepalan tangan dengannya seakan sudah akrab.
Anak itu tidak sendirian. Ada tiga lainnya. Dua cewek tiba-tiba duduk disamping kanan kiri Aries, sementara satu cowok lagi duduk disebelah Arya.
“Eh kenalin, ini Aries murid baru di kelas gue,”
Aries tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Oh.. murid baru. Kenalin, Aji Nugraha. Tapi khusus kamu… panggil aja AA'.” ucapan cowok bernama Aji itu berhasil membuat tawa satu meja, tak terkecuali Aries.
“Gaya lu AA'… eek kali ah,” timpal cowok yang satunya.
“Aries." cewek itu menerima uluran tangan Aji.
“Namanya aja udah bagus, Aries. Pasti zodiaknya Taurus ya," lanjut Aji.
“Apaan sih, ngaco lu.” lagi-lagi cowok satunya menanggapi ucapan konyol temannya. “Gue Juna, ini Dara dan ini Megan,” sambung cowok itu.
“Oh jadi elo cewek yang bikin heboh satu sekolah," kata cewek disamping kanan Aries yang ia yakini bernama Megan.
“M-maksudnya?”
“Yang lo lakuin tadi dilapangan basket keren banget sumpah,” sambung Juna.
“Gue masih gak ngerti," bukannya pura-pura sok polos, Aries memang belum paham maksud Megan apa. Aries bikin heboh satu sekolah? Kalau yang mereka bicarakan soal Aries menuang air ke salah satu siswa memang benar dia melakukannya. Tapi tidak mungkin itu membuat kehebohan seperti yang dibilang Megan.
“Lo gak tau? Video lo udah kesebar, jadi trending topik di TNet.centre lagi. Nih,” jelas Megan sembari menyodorkan layar HP-nya, memainkan video yang sudah tidak asing lagi.
“Oh... ini. Gue kira apaan,” Aries menanggapinya santai. Dia tidak mau ambil pusing. Dia juga tidak bermaksud membuat kehebohan waktu itu. Aries cuma ingin memberi pelajaran pada remaja yang suka mem-bully itu.
“Jarang-jarang loh ada orang yang berani ngerjain gengnya Bagas. Salut gue sama lo. Udah cantik, berani lagi,” kini Aji yang berargumen.
“Antara berani sama nekat sih. Lo tau mereka siapa?” kata Juna.
Aries menggeleng, “Emang kenapa? Gak penting juga 'kan.”
“Wajar lo bilang gitu, karna lo masih baru. Biar gue jelasin.” Dara mengambil HP ditangan Aries, memperbesar layarnya menunjukkan wajah seorang siswa. “Nih, dia namanya Bagas Sadewa, anak pemilik sekolah ini. Kalo lo macem-macem sama dia, bukan gak mungkin lo bakal dikeluarin dari sekolah” lanjut Dara.
“Iya terus?” Aries masih tidak mengerti kenapa pula dia harus tahu identitas cowok itu. Kalaupun dia anak pemilik sekolah, itu tidak membuatnya takut atau bahkan meminta maaf padanya.
“Elo itu udah bikin dia marah, gue yakin sekarang dia lagi nyariin lo. Mendingan lo cepet-cepet minta maaf deh,” peringat Dara.
Aries malah tertawa mendengar mereka melebih-lebihkan siapa si Bagas itu. Padahal sejak awal Aries juga sudah tahu siapa Bagas dan keluarganya. Tidak susah mencari tahu keluarga Tanhar. Melihat ayahnya Fathurahman Tanhar adalah pebisnis yang memiliki perusahaan di bidang transportasi yang sudah terkenal dimana-mana.
“Yaudah lah, gue mau ke toilet dulu,” pamit Aries. Dia sebenarnya sudah tidak tahan dilirik sana sini oleh orang-orang. Ditambah teman-teman barunya membicarakan sesuatu yang tidak ingin gadis itu bicarakan.
“Mau AA' temenin?”
“Gak usah.”
Aries melangkahkan kakinya menjauh, menerobos diantara kerumunan orang yang sedang berjalan atau mengantri mengambil makanan. Cewek itu berjalan agak terburu-buru tanpa sadar ada kaki yang sengaja mengarah ke arahnya.
Duk
“Aw,” Aries tersungkur dengan lutut membentur lantai terlebih dahulu. Ditambah tumpahan pasta bercampur air sirup mengenai tepat di atas kepalanya. Suara yang tadinya riuh kini sunyi seperti kuburan dimalam hari. Semuanya berfokus pada siswi yang masih dalam keadaan tengkurap dengan seragam dan rambut yang kotor. Perlahan cewek itu mendongak, wajah yang sudah tidak asing lagi.
Dengan cepat Aries berdiri, mengusap rambutnya yang lengket. Darah Aries seakan naik dengan pesat.
“Kenapa? Marah? Ini pembalasan gue yang tadi, dan masih ada lagi. Lo tunggu aja nanti,” Bagas tidak mempedulikan wajah Aries yang seakan siap untuk meninjunya. Dia dan teman-temannya pergi begitu saja tanpa rasa bersalah. Begitu pula dengan Aries yang langsung melenggang pergi entah kemana, disusul Arya dan lainnya mengejar.
Aries sudah seperti kehilangan muka. Dia merasa sangat dirugikan. Kalau bukan karena banyak orang, Aries pasti sudah memukul habis cowok yang membuatnya seperti ini.
“Erghh... cowok sialan.” geram Aries. Dia meletakkan kepalanya dibawah keran wastafel. Air yang terus mengalir belum juga bisa menghilangkan noda pasta dirambutnya, meski sudah dibilas berkali-kali.
“Kan udah gue bilang jangan macem-macem sama Bagas, ini kan akibatnya.” Megan dengan senang hati membantu Aries mencuci rambutnya.
Ternyata gadis itu menuju toilet terdekat dan melampiaskan amarahnya dengan menciprat-ciprat kan air ke wajahnya sendiri, sebelum Megan dan Dara datang menenangkan.
“Gue bakal bales dia, liat aja entar.” cewek berkulit sawo matang itu mengangkat kepalanya. Menatap lurus ke cermin didepannya.
“Lo emang nekat banget jadi orang. Jangan sampe lo baru masuk udah dikeluarin gara-gara punya masalah sama Bagas.” Dara menasehati.
Sekarang Dara dan Megan membantu Aries mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer yang entah milik siapa.
“Gue nggak akan kalah, gue nggak akan kalah dari orang yang cuma bisa ngandelin namanya doang,” Aries bersumpah lisan maupun dalam hatinya. Dia tidak akan tunduk hanya gara-gara dia cowok atau karena dia anak pemilik sekolah.
“Aduh, ini apa lagi. Kalian dapet hairdryer dari mana coba?” tidak bisa dipungkiri Aries juga merasa terganggu dengan suara bising yang ditimbulkan benda berukuran sedang tersebut.
“Punya gue lah,” aku Dara.
“Lagian ngapain bawa hairdryer ke sekolah?”
“Lo gak tau aja, bukan cuma hairdryer, alat kosmetik, catok semua Dara simpen di loker.” Megan tertawa mengingat kelakuan cewek yang sudah menjadi sahabatnya selama dua tahun.
“Ini itu buat jaga-jaga tau” jelas Dara.
Ya wajar saja, Dara adalah seorang aktris yang kerap membintangi beberapa sinetron, walau bukan sebagai pemeran utama, Dara juga harus siap siaga jika propertinya dibutuhkan.
***
Kringg...
Bel kembali terdengar keempat kalinya. Aries dan kawan-kawan keluar toilet dan menuju kelas masing-masing. Aries memberanikan diri keluar meski seragamnya masih ada noda yang terlihat jelas. Dia tidak mau melewatkan kesempatannya belajar hanya karena masalah sepele ini.
Belum ada tanda-tanda guru akan datang ke kelas meski bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Masih dengan tissue ditangannya, Aries memasuki kelas tanpa melihat langsung mata orang-orang disekitar. Kelas yang semula ramai tiba-tiba diam saat Aries menampakkan diri di pintu masuk. Sadar ada yang tidak beres, Aries yang semula ragu menatap seseorang kini mengangkat wajahnya. Dia mendapati semua penghuni kelas melihatnya dengan tatapan sinis. Sudah bisa ditebak, mereka pasti menggosipi Aries soal kejadian dikantin. Malas menanggapi mereka, Aries langsung duduk di kursinya sendiri.
“Lo nggak papa?” tanya Arya yang sedari tadi ada dikelas. Yang ditanya pun cuma menganggukkan kepala dan tersenyum singkat.
Diantara orang-orang yang meliriknya, satu orang terlihat sangat gembira. Aries tidak sadar salah satu temannya Bagas ada dikelas yang sama dengannya. Siapa lagi kalau bukan Bima. Cowok itu tersenyum miring seakan mendapat kemenangan. Dia sangat puas rencananya membuat gadis itu dipermalukan berhasil. Meski Aries membuang muka, Bima masih saja menatapnya seakan menunggu sesuatu.