
*Readers yang terhormat,
author sangat mengharapkan like komen dan vote dari kalian.
Selamat membaca*
∞∞∞
Suara musik RnB menggema di seluruh tempat itu. Didalam club yang minim pencahayaan, Rico dan Aldo sibuk bermain biliar dengan pengunjung lain. Sementara Bagas dan Bima memilih menikmati minuman didepan meja bartender.
“Lo masih nggak enak ati sama Anya? Atau lo kecewa karna sekarang Anya jadi adik tiri lo?” tanya Bima.
Untuk kesekian kalinya Bagas meneguk air dari gelas kecil. “Gue nggak tau, Bim. Udah lah nggak usah bahas itu, kita ini disini buat senang-senang, bukan malah mikirin yang ada dirumah.”
Bima sepertinya mengerti suasana hati sahabatnya ini, dia hening sejenak sebelum kembali berbicara.
“Gue tau lo masih punya perasaan ke Anya. Lo tau nggak sih, Gas, Anya itu masih sangat peduli sama lo. Dia juga masih ngerasa bersalah udah bikin lo kecewa” ujar Bima.
“Lo kayaknya tau banget masalah Anya?” respon Bagas.
“Asal lo tau, tiap kali kita hangout, Anya selalu hubungi gue, tanya gimana keadaan lo, apa aja yang lo lakuin. Dia juga nyuruh gue jagain lo.” Bima kembali meneguk minumannya. Sedangkan dari raut wajah Bagas terlihat berpikir.
“Lo tau sendiri gue belum bisa maafin dia,” ucap Bagas.
“Karna lo nggak kasih kesempatan. Lo selalu ngehindar. Coba deh sekali-kali habisin waktu sama keluarga baru lo, siapa tau lo bakal nyaman.”
Bagas terkekeh, “Nggak mungkin. Udah ah, capek ngomong sama lo. Mendingan gue main.”
Bagas pergi meninggalkan Bima yang memutar matanya malas. Kawannya satu ini memang susah diberi nasihat. Kalau bukan karena Anya, Bima juga tidak mau ikut campur urusan Bagas. Karena sebenarnya cowok beralis tebal itu menyimpan rasa pada saudari tiri sahabatnya itu. Tapi Bima tidak mau merusak pertemanan mereka hanya karena perempuan.
Mereka berempat keasyikan menikmati suasana malam itu. Tidak peduli hari sudah berganti. Selama belum puas, mereka tidak akan meninggalkan club terbesar di Jakarta itu.
***
Paginya, alarm Bagas berbunyi kesekian kalinya. Si empunya kamar pun masih terlelap dalam mimpinya. Sampai suara gedoran pintu membangunkannya.
“Den Bagas, bangun, den udah jam 8, nggak mau ke sekolah?”
Suara Bi Rati membuat Bagas terlonjak. Jam delapan? Itu artinya ia sudah sangat, sangat terlambat. Dengan secepat kilat Bagas membuka kunci pintu kamarnya dan mendapati Bi Rati berdiri sambil membawa nampan berisi sarapannya.
“Ya ampun Bi, kok nggak dibangunin dari tadi? Udah telat banget ini,” racaunya. Ia kemudian berlari ke kamar mandi. Sedangkan Bi Rati menaruh sarapan Bagas ke atas nakas.
“Tadi Bibi udah teriak-teriak tapi nggak dijawab.”
Sementara Bagas mandi, Bi Rati menyiapkan seragam dan buku pelajaran yang akan dibawa Bagas hari ini. Sudah menjadi hal biasa Bi Rati menyiapkan keperluan Bagas seperti ini. Karena dirumah ini hanya Bi Rati saja yang ia percaya bisa mengurus dirinya.
Setelah persiapan lima belas menit, Bagas langsung berangkat tanpa memakan sarapannya karena sudah tidak ada waktu lagi. Lagi pula siapa suruh pulang sampai jam tiga pagi. Sudah tau dirinya itu 'kebo', kalau tidak dibangunkan mungkin ia masih tidur sampai sore nanti.
Tak lama, ia sampai didepan gerbang SMU Taruma. Ia menghentikan mobilnya diluar sekolah. Bingung karena gerbangnya tertutup rapat. Padahal biasanya gerbang tidak pernah tertutup sampai pulang nanti. Tapi kenapa hari ini pintunya ditutup rapat? Seperti sengaja tidak membolehkan Bagas yang terlambat masuk ke sekolah. Meski sudah diklakson berkali-kali, gerbang tetap tidak bergerak. Padahal pos satpam ada didekat pintu gerbang. Tidak mungkin mereka tidak mendengar. Merasa frustrasi, Bagas turun dari mobil dan mencari celah diantara gerbang besar itu. Namun tidak ada. Pintunya tertutup rapat.
Dan entah datang ide dari mana, Bagas berlari ke belakang sekolah dan menemukan pohon besar yang terhubung dengan dinding sekolahnya. Tanpa pikir panjang, Bagas memanjat pohon itu dengan hati-hati. Hingga akhirnya ia berhasil menyentuh tembok paling atas dan turun melalui pohon lainnya yang ada di dalam area sekolah. Ketika hendak turun, tinggal satu langkah lagi, Bagas mendengar suara shutter kamera. Ia mematung sejenak, sebelum membalikkan badan dan melihat siapa yang memergokinya.
“Elo?! Ngapain lo disini?” Bagas menemukan Aries berada dibelakangnya sambil memegang ponsel dengan kamera mengarah ke arah Bagas.
“Hm… kira-kira apa kata orang ya, kalo siswa terpandang di sekolah harus diam-diam manjat pohon biar nggak ketauan telat?” sindir Aries.
“Heh, jangan coba-coba! Hapus nggak!”
“Ogah. Ini bisa jadi bahan kecengan, pasti seru kalo disebarin.”
“Kelas gue lagi jam kosong, kenapa? Wlee” ucap Aries sambil menjulurkan lidah, meledek.
“Alesan aja lo. Heh! Gue belom selesai ngomong.” Bagas mengejar Aries yang sudah masuk kedalam gedung sekolah. Bagaimana pun juga Bagas tidak bisa membiarkan cewek itu merusak reputasinya.
“Tunggu, gue minta HP lo! Cepetan!” Bagas menarik pelan lengan Aries.
“O-gah. Lepasin ah,” berontaknya.
Bagas berniat merebut HP milik Aries, namun benda pipih itu sudah tidak ada ditangannya. Mungkin cewek itu memasukkannya ke saku seragam.
“Heh lepasin nggak! Lo jangan macem-macem” peringat Aries ketika Bagas dengan nekatnya meraba saku yang ada di roknya. Cewek itu berusaha menjauhkan diri dari tangan Bagas. Namun cowok itu menghimpit nya dengan loker almari.
“Diem! Mana sih HP lo?!” Bagas mulai kesal sendiri karena tidak menemukan ponsel pintar milik Aries. Cowok itu tidak tahu saja kalau HP-nya ia simpan di kantung kemeja yang dilengkapi rompi.
“Heh heh heh, astaghfirullah kalian ngapain berduaan disini?”
Sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Dengan cepat Aries mendorong tubuh Bagas agar tidak menimbulkan fitnah. Bu Ani dengan tatapan intimidasi menghampiri mereka yang salah tingkah.
“Kalian ini, ini masih jam pelajaran 'kan? Kenapa malah berduaan disini? Kamu lagi masih bawa tas segala, jangan-jangan kalian berdua terlambat lagi.”
“Enggak, Bu. Dia doang yang telat.” Aries membela diri.
“Halah kalian ini pasti sekongkol, biar ini jadi urusan BK” ucap Bu Ani, kemudian wanita itu menggiring Bagas dan Aries dengan cara menarik pelan telinga mereka. Sampai akhirnya tiba diruang BK, baru wanita ber-konde itu melepaskan mereka, dan membiarkan sisanya diurus oleh pak Ridwan.
“Sudah saya duga kalian bakal mampir,” ucap pak Ridwan, membenarkan posisi duduknya. Aries dan Bagas saling melirik.
“Kamu, gimana caranya kamu bisa masuk? Gerbang sudah saya tutup rapat-rapat” ucap pak Ridwan ditujukan kepada Bagas. Tapi Bagas menjawab dengan gagu.
“Manjat pohon belakang lah, Pak” sela Aries. Bagas menendang kaki cewek yang duduk disebelahnya. Mendengar itu Pak Ridwan menggeleng-gelengkan kepala.
“Saya sudah pikirkan hukuman yang pantas untuk kalian berdua.”
“Loh, kok saya juga, Pak? Saya 'kan nggak telat” protes Aries.
“Kamu meskipun lagi jam kosong nggak boleh keluyuran seenaknya, ngerti? Jadi kamu sama bersalahnya” ujarnya.
Spontan Bagas menahan tawanya. Ya setidaknya, Bagas tidak dihukum sendirian.
***
Setengah jam mereka habiskan dengan melaksanakan hukuman dari guru BK tersebut. Seperti biasa, Bagas hanya leha-leha duduk diatas wastafel sambil memainkan sikat panjang. Sementara Aries sibuk membersihkan lantai di setiap bilik toilet guru. Hukuman kali ini tidak diawasi, jadi Bagas bebas tidak melakukan tugasnya.
Setelah selesai dengan tugasnya, Aries berdiri bersandar sambil meletakkan tangan di depan dada. “Udah gue duga lo nggak ngapa-ngapain” ucapnya. Bagas hanya meresponnya dengan alis terangkat sebelah.
Sebelum menghidupkan keran, Aries meletakkan ember terlebih dahulu dibawah wastafel. Lalu kemudian membasuh wajahnya dengan kedua tangan. Bagas yang berada tepat disampingnya diam-diam melihat wajah cewek itu yang terkena air. Yang membuatnya salah fokus adalah adanya bekas luka berukuran sedang tepat di sudut dahi sebelah kanannya. Ketika poni tipisnya tersingkap karena basah, bekas luka itu makin terlihat jelas. Dan ada bekas jahitan. Aries yang sadar sedari tadi diperhatikan, menegur Bagas dengan pelototan mata.
“Apa liat-liat?!”
Bagas langsung mengalihkan pandangannya. “Cih, nggak usah kepedean. Gue aja eneg liat muka lo,” katanya sambil menciprat kan air ke wajah Aries.
“Udah ah terserah, pokoknya tugas gue dah selesai, terserah lo mau ngapain. Gue mau balik ke kelas. Bye” ucap Aries mengambil langkah keluar dari toilet guru.
“Ya udah sono lu, jauh-jauh dari gue.”
Aries sudah sepenuhnya keluar dari toilet. Tapi Bagas masih kepikiran soal bekas luka di dahi cewek itu. Tidak mungkin kalau hanya terbentur dinding atau tergores sesuatu. Dilihat dari ukuran dan bekas jahitannya, sepertinya Aries pernah kecelakaan. Tunggu-tunggu, kenapa Bagas jadi memikirkan soal cewek itu? Dari mana asal luka itu bukan sesuatu yang harus Bagas pikirkan saat ini bukan. Saat ini Bagas hanya fokus pada hukumannya, agar ia dapat kembali ke kelasnya.