
Aries berjalan gontai menaiki tangga. Tas dan jaket rajut nya masih ia bawa. Masuk kelas pun rasanya percuma. Sebentar lagi bel istirahat juga akan dibunyikan. Jadi Aries bermaksud ke perpustakaan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tapi diujung tangga dia melihat dua orang yang sedang berdebat. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Aries kenal salah satu dari dua orang tersebut. Itu Megan. Dan cowok yang berdebat dengannya pasti pacarnya, si David.
Aries ragu untuk melanjutkan langkahnya. Padahal tinggal beberapa anak tangga lagi. Ketika hendak berbalik Aries mendengar Megan menjerit pelan. Ia melihat cowok itu menggenggam erat lengan kanan Megan sampai-sampai cewek itu kesakitan.
“Woy!” teriak Aries yang langsung membuat kedua orang itu melihatnya. Aries menghampiri dan mencoba melepaskan tangan David dari Megan.
“Lepasin temen gue! Lo jadi cowok gak usah kasar sama cewek!” maki Aries.
“Lo gak usah ikut campur. Minggir!” David hendak mengajak Megan pergi namun dihalangi oleh Aries.
“Kalo lo sakitin Megan gue aduin lo ke kepala sekolah” ancamnya. Hal itu membuat David semakin kesal.
“Apa urusannya sama lo, hah?! Gak usah sok jadi pahlawan” ucap David dengan nada kesal. Cowok itu lalu hengkang dari hadapan mereka berdua.
“Megan, lo gak kenapa-napa kan?” tanya Aries. Megan hanya menjawabnya singkat lalu ikut pergi meninggalkan Aries dibelakang. Meski Aries berulang kali memanggil Megan dan berusaha mengejarnya, tapi cewek itu mengacuhkannya.
“Megan… Megan tunggu. Aduh apaan sih?” tiba-tiba Bagas datang dari balik dinding dan menarik Aries.
“Ikut gue” ucap Bagas terus memaksa Aries mengikutinya. Sampai di ujung koridor baru Bagas melepas tangan Aries.
“Gak usah pake tarik-tarik segala kenapa sih” protes Aries sembari memegang pergelangan tangannya yang memerah.
“Ini apa ini maksudnya?” ucap Bagas menunjuk mading dengan dagunya. Dengan mata malas Aries membaca tulisan didalam mading tersebut.
“Berani-beraninya elo mengajukan diri sebagai peserta olimpiade. Lo tau gak, selama ini gue yang jadi perwakilan SMU Taruma, dan gue juga yang selalu jadi juaranya. Elo, anak baru udah berani mau ngambil posisi gue? ” lanjut Bagas.
Aries yang mendengarnya lantas terkekeh geli. “Ya terus kenapa? Lo takut bersaing sama gue?”
“Heh, gue bukannya takut, gue gak sudi bersaing sama elo. Gak selevel. Jadi gue minta elo mengundurkan diri dari calon peserta. Karna lo gak layak” ucap Bagas merendahkan kemampuan Aries.
Tapi Aries menanggapinya dengan santai. “Kita liat aja nanti. Gue, atau elo yang lolos seleksi” ucap Aries hendak pergi dari hadapan Bagas. “Dan gue minta kita bersaing secara sehat. Ngerti?” lanjutnya.
Bagas menatap punggung Aries menjauh. Seperti yang Bagas duga, cewek itu tidak mau kalah begitu saja. Kalau begitu Bagas harus membuktikan kalau dia masih siswa terbaik dan dapat mengikuti olimpiade fisika tahun ini.
***
Bel istirahat sudah dibunyikan dari tadi. Setelah meletakkan tasnya ke kelas Aries langsung ke kantin berkumpul bersama teman-temannya.
“Hai” sapa Aries langsung menempatkan diri ditengah-tengah Aji dan Juna.
“Eh, katanya tadi kamu telat?” tanya Aji dan segera mendapat anggukan dari Aries. “Trus? Dihukum?” lanjutnya.
“Iya. Cuma suruh lari muterin lapangan doang kok” jawab Aries tanpa melihat wajah Aji, karena dia fokus pada jurnal gambarnya.
“Si Bagas juga telat 'kan? Dihukum gak?” giliran Dara bertanya.
“Iya. Nyebelin tau gak, harus ketemu sama dia. Setiap kali ketemu cowok berandalan itu rasanya gue selalu sial.” ekspresi Aries berubah kesal.
“Jangan ngomong gitu, entar jodoh loh.” Juna mencoba mencairkan suasana.
“Cih, najis. Liat mukanya aja bawaannya pengen nabok” balas Aries dan langsung direspon kekehan oleh yang lainnya.
Mereka kemudian melanjutkan aktivitas makan nya. Kecuali Aries yang masih berkutat pada jurnalnya itu. Dia menggoreskan tinta hitam hingga membentuk suatu gambar abstrak.
“Kamu nulis diary?” tanya Aji yang sedari tadi memperhatikan Aries berfokus pada buku ditangannya.
“Boleh-boleh” jawab Aji.
Aries kemudian memperlihatkan hasil gambarnya kepada cowok bermata sipit itu. Jarang-jarang Aries mau memperlihatkan sesuatu yang bersifat pribadi seperti jurnalnya ini. Karena baginya, buku itu berisi lukisan-lukisan yang menggambarkan perasaan dan kepribadian cewek bertipe kolaris itu. Makanya buku gambar itu ia sebut sebagai 'jurnal'.
“Gambarnya bagus-bagus. Ini kamu sendiri yang buat?” tanya Aji mengagumi lukisan tangan Aries. Cewek itu menjawabnya dengan anggukan kepala. “Kamu punya bakat loh di bidang seni. Kamu mau ikut ekskul seni gak? Kebetulan aku lagi cari anggota buat bikin event seni” tawar Aji.
“Boleh-boleh” jawab Aries semangat.
“Asik... Kalo gitu nanti pulang sekolah aku kenalin sama seniman-seniman di sekolah ini, siapa tau nanti dapet inspirasi.” senyum lebar terpampang dimuka bulat Aji. Cowok itu sebenarnya juga memiliki bakat dalam hal seni. Hanya saja dia lebih suka menikmati karya orang lain ketimbang menghasilkan karya sendiri. Jadi dia ditunjuk menjadi pengurus ekskul seni.
“Halah, modus lo. Bilang aja lo pengen lebih sering ketemu Aries” gurauan Juna dibalas cengiran oleh Aji.
Aries mengedarkan pandangannya ke seluruh meja. “Megan mana?”
“Tadi aku liat dia sama David” jawab Arya. Cewek itu hanya mengangguk mengerti. Aries tidak mungkin menceritakan soal masalah Megan tadi. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau ia juga khawatir dengan cewek berambut panjang itu.
“Eh.. guys aku ngambil makanan dulu ya” ucap Aries.
“Oke” jawab mereka bertiga secara bersamaan.
Aries lalu berjalan menuju meja berjejer yang diatasnya sudah terdapat berbagai macam makanan. Meski kantin menyediakan makanan dalam bentuk prasmanan, tapi jangan disangka tidak ada antrian panjang. Justru saat ini kantin tengah ramai-ramainya. Hanya untuk mengambil minuman di kulkas mini saja Aries harus berdesak-desakan. Namun tanpa sengaja cewek itu bersenggolan dengan orang lain yang membawa nampan penuh.
“Sorry-sorry.” Aries yang tidak sengaja menyenggol tapi Megan yang meminta maaf.
“Megan? Makanan lo banyak banget, sini gue bantuin” ucap Aries. Melihat Megan kesusahan membawa setumpuk piring dan gelas dalam satu nampan, cewek itu menawarkan bantuan. Aries kemudian mengambil dua gelas minuman cup berukuran sedang agar beban yang dibawa Megan jadi berkurang.
“Thanks ya.”
Aries mengangguk. “Ini serius mau lo habisin semuanya?” tanyanya sembari berjalan beriringan.
“Enggak, ini pesenannya David” ucapan Megan membuat Aries menautkan alisnya. Harusnya cowok yang mengambil makanan untuk ceweknya, ini malah sebaliknya.
“Kok lo mau sih disuruh-suruh sama si David itu?”
Megan menjawab pertanyaan Aries dengan helaan napas, “Ya mau gimana lagi.”
Aries tahu Megan tertekan dengan hubungannya bersama cowok tinggi itu. Apalagi David berperilaku kasar terhadapnya. Apapun itu Aries tidak bisa membiarkan Megan sakit hati maupun sakit fisik.
Aries berencana membuat David kapok sudah memperlakukan pacarnya seperti pesuruh. Jadi, dengan dua minuman ditangannya Aries berniat menumpahkannya ke seragam David.
“Ck, **** banget sih lo! Liat seragam gue jadi kotor. Bau soda lagi,” David yang semula bermain game di ponselnya terlonjak kaget. Seragam bagian atas dan bawahnya sama-sama basah terkena minuman bersoda.
“Sorry, gue sengaja” ucap Aries tanpa ekspresi. David yang belum mengetahui siapa yang menabraknya, seketika membulatkan matanya kesal.
“Lo lagi lo lagi. Mau lo apa sih, hah?!” makinya dan membuat semua mata teralihkan. David benar-benar kesal dibuatnya.
“Gue cuma mau ngecek doang, lo bisa berdiri atau enggak. Ternyata lo bisa berdiri, bisa jalan, bahkan bisa ngomong juga.” ucapan Aries membuat David dan Megan yang cemas jadi tidak mengerti. “Makanya, lain kali gak usah nyuruh-nyuruh orang seenaknya. Megan ini pacar lo, bukan pembantu lo, ngerti?!” lanjutnya.
“Elo gak usah ikut campur urusan gue. Lo urusin aja urusan lo sendiri. Gak usah cari perhatian” ucap David yang kemudian pergi dari kantin.
Aries tidak peduli jika semakin banyak orang yang membencinya. Baginya, sesuatu yang seharusnya salah, tidak boleh dibiarkan. Meski artinya menambah musuh baru, Aries sudah siap.