
Vote dan like nya jangan lupa
Kritik dan saran sangat dibutuhkan
Selamat membaca!
∞∞∞
“Astaga! Guys liat nih!” seru Dara memperlihatkan layar HP-nya ke Arya, Juna, dan Aji.
“Ini serius? Keterlaluan!” tanggap Aji kesal. Juna dan Arya juga memberikan reaksi yang sama.
“Jahat banget nggak sih” ucap Dara, memperhatikan HP-nya sekali lagi.
“Gila! Bagas udah bener-bener gila! Ini termasuk tindak kriminal.”
Tindak kriminal yang Juna maksud adalah foto yang baru beberapa menit diunggah ke situs TNet.Center. Foto yang memperlihatkan Bagas sedang memegang pecahan pot, dan Aries yang tak sadarkan diri di bawahnya. Dari sudut seperti itu, orang-orang akan mengira Bagas yang telah sengaja membenturkan kepala Aries menggunakan pot bunga, sampai cewek itu pingsan.
Arya tiba-tiba berjalan cepat menuju UKS, untuk melihat keadaan Aries. Lalu kemudian disusul oleh teman-temannya. Namun di persimpangan koridor, Arya bertemu dengan Bagas, dan menatap cowok itu tajam.
Arya dengan tak terduga meninju pipi Bagas seperti orang kalap. Juna dan Aji mencoba menenangkan Arya sebelum dilihat orang banyak.
“Lo apain Aries?!”
“Lo mau celakain dia, hah?!” bentaknya.
“Gue nggak ngerti maksud lo apa! Kapan gue nyelakain Aries?!” Bagas memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
“Pura-pura **** lagi. Gue tau lo benci Aries, gue tau lo nggak mau dia sekolah disini. Makanya lo mau nyingkirin dia! Gue nggak nyangka lo sejahat itu!”
“Elo kalo ngomong dijaga ya!” Bagas mendorong tubuh Arya kasar.
“Stop!” lerai Juna. “Nggak ada gunanya debat disini.”
Juna membawa Arya pergi, sementara Bagas hanya menatap kepergian mereka dengan dendam.
Jenuh dengan omongan orang-orang yang menghakiminya, Bagas akhirnya membuka ponsel pintar miliknya guna mencari hiburan. Baru beberapa detik HP dinyalakan, sudah ada belasan notifikasi dilayar. Notifikasi itu berasal dari situs TNet.Center yang diikutinya. Bagas mengerutkan kening. Ada satu kiriman yang menjadi trending topik nomor satu disekolah. Adalah sebuah foto yang menyertakan dirinya. Dengan tulisan yang memprovokasi.
Sekarang Bagas tahu, kenapa sikap orang-orang seakan memandang Bagas sebagai penjahat. Tapi ini hanyalah salah paham, foto itu tidak menunjukkan hal yang sebenarnya terjadi. Siapa yang mengunggahnya? Dan apa maksud tulisan yang berisi Bagas hendak mencelakai Aries, padahal justru Bagas lah yang menolong cewek itu, dan membawanya ke UKS. Setelah diperhatikan lagi, rupanya David yang mengunggah foto itu, dan menciptakan rumor yang merugikan Bagas. Dengan kasusnya yang selama ini menyebutkan bahwa Aries dan Bagas bermusuhan akan mudah membuat orang-orang terprovokasi.
“Sialan tuh orang, mesti gue kasih pelajaran!” gumamnya.
***
Ditempat parkir, David hendak masuk ke dalam mobil Nissan miliknya. Namun dari arah belakang Bagas menarik lengan David lalu mendorongnya hingga punggung David membentur pintu mobil.
“Maksud lo apa, nge-share berita yang bener?! Lo mau fitnah gue?!”
David tersenyum miring, “Nggak bener gimana maksud lo? Udah jelas-jelas elo yang bertanggung jawab waktu Aries pingsan, karna cuma lo yang ada disana.”
“Tapi foto itu menunjukkan sebaliknya 'kan? Dan orang-orang percaya kalo lo yang udah bikin cewek itu pingsan.” David menunjukkan seringainya.
“Sekarang semua tau kalo lo orang jahat” lanjutnya.
Bagas mengerti sebenarnya David tahu yang sebenarnya terjadi, tapi dia memanfaatkannya untuk memfitnah Bagas.
“Lo emang bener-bener licik ya.”
“Kayak elo nggak aja” balas David, kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya, dan meninggalkan Bagas.
Bagas merutuki dirinya sendiri. Ketika ia memusuhi Aries, ia selalu terkena masalah. Sekarang ia menolong gadis itu, tapi tetap saja masalah tidak berpaling darinya. Ternyata benar, cewek itu datang membuat rumit hidup Bagas.
***
Di lain tempat, Aries mulai membuka matanya dan tatapannya langsung kosong. Pusing di kepalanya belum hilang sepenuhnya. Matanya kemudian menangkap Arya yang duduk disampingnya, lalu Juna yang berdiri dibelakang sofa, dan Dara serta Megan duduk berbagi sofa. Sementara Aji sibuk melihat foto yang terpajang di dinding rumah Aries.
Perlahan Aries bangkit dan mendudukkan diri. Ia sempat memegang keningnya. Ada perban kecil disana.
“Aries, lo nggak papa?” tanya Megan khawatir. Aries tersenyum dan mengangguk. Ia melihat sekeliling, ternyata ia sudah ada dirumah.
“Thanks ya, udah nganterin gue balik” ucap Aries serak.
“Lo tenang aja, kepala sekolah udah tau soal ini, paling nanti Bagas disidang” ujar Juna membuat Aries bingung.
“Hah? Bagas kenapa?” suara Aries terdengar lemah.
“Dia yang udah mukul lo pake pot sampe lo pingsan” jelas Dara.
“Hah?” Aries tambah bingung. Bukannya tadi ia pingsan karena kepalanya memang sedang pusing? Dia bahkan tidak tahu ada Bagas disana.
“Guys, kayak nya ini salah paham. Bagas nggak mungkin mukul gue.”
“Iya bisa aja dia mukul nya dari belakang, makanya lo nggak sadar” tambah Juna.
Megan datang membawa segelas teh dan meminta Aries meminumnya. Setelah menyeruput teh hangat itu, pikiran Aries kembali jernih.
“Ini… ayah kamu?” tanya Aji, mengganti topik.
“Iya.”
Aji mengangguk mengerti, ia kembali memperhatikan foto-foto di dinding.
Dan Arya, meski ia tak mengeluarkan suara sedikitpun, tapi pikirannya mengarah ke ucapan Aries yang bilang bahwa kejadian itu salah paham. Kalau memang benar salah paham, ia merasa bersalah karena sudah memukul Bagas.
“Iya udah, Ris, kamu mendingan istirahat. Kita pulang dulu, udah sore soalnya” pamit Arya.
Setelah mereka pulang, tinggal lah Aries sendiri rumahnya. Masih terpikirkan kenapa teman-temannya mengira Bagas yang mencelakai nya. Rasanya tidak mungkin.