ARIES

ARIES
BAGAS



Pagi itu rasanya kacau sekali. Mobil BMW berwarna merah mengkilat itu tergores bus yang melaju dari arah yang sama.


“Woi, ati-ati dong” maki si pengemudi mobil.


Padahal jika ditelisik dari awal, mobil itulah yang menaikkan kecepatan hingga tak sengaja menyenggol badan bus. Tapi yang namanya orang kaya mana mau disalahkan. Mobil itupun segera tancap gas meninggalkan bus biru itu.


Pengemudi yang memakai seragam SMU itu nampak terburu-buru. Dilaluinya jalanan seperti pemain bola yang menggiring bola secara zig zag. Entah apa yang dipikirkan cowok itu hingga datang ke sekolah dengan sangat terlambat.


“Duh, pake macet lagi. Lewat mana ya.” dia mulai berbicara dengan dirinya sendiri. Mencari-cari celah di sekitar jalanan sempit untuk menemukan jalan pintas. Seperti dia sudah mengenal betul jalanan sekitar sini, dengan mudahnya cowok berkulit putih itu meliuk-liuk di jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil.


Setelah beberapa menit mengemudi, cowok yang akrab disapa Bagas itu langsung memarkir mobilnya ke sembarang tempat dan segera berlari-lari kecil mengitari gedung sekolah nya yang sudah sepi. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kelasnya, dirinya merasa terpanggil oleh teriakan namanya dari belakang.


“Bagas!”


Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Bagas membalikkan badannya dengan wajah datar. Pria paruh baya yang memanggilnya tadi menghampiri Bagas.


“Tau ini jam berapa? Ini nggak sekali dua kali kamu terlambat. Sekarang apa lagi alasan kamu?”


“Ya elah, yang penting 'kan berangkat. Repot amat.” baru saja Bagas ingin membalikkan badan kembali, guru itu menarik tasnya dan membawa menjauh dari si pemilik.


“Loh Pak, balikin tas saya, Pak.”


“Ke ruangan saya sekarang.”


Bagas cuma bisa mengeluh dan memutar bola matanya malas. Tak ada rasa takut ataupun bersalah, dia dengan santainya berjalan mengekor dibelakang guru tersebut.


“Duduk!” perintahnya.


Bahkan dari caranya duduk pun Bagas terlihat tak peduli dengan apa yang akan dilakukan gurunya setelah ini.


“Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu. Apa susahnya datang ke sekolah tepat waktu? Bapak tau ini sekolahan punya keluarga kamu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya. Bapak akan menghubungi ayah kamu.”


“Percuma dihubungi, dia juga nggak akan ngurusin saya,” ucapan Bagas tidak menghentikan Pak Ridwan mengangkat teleponnya.


Pak Ridwan menjauh dari Bagas agar pembicaraan dengan ayahnya tidak didengar oleh Bagas. Disamping menunggu Pak Ridwan yang tengah menelepon, Bagas melihat ke arah kantor kepala sekolah. Disana ada cewek yang mengenakan seragam yang sama seperti dirinya diantar oleh salah satu guru wanita memasuki kantor kepala sekolah. Sekilas tidak ada yang aneh dari cewek itu, hanya saja Bagas tidak familiar dengannya. Kalau dia memakai seragam sekolah ini, itu artinya dia siswi sini juga. Atau perempuan itu murid baru?


Setelah selesai menelepon, Pak Ridwan kembali duduk dihadapan Bagas.


“Bapak sudah bicara dengan ayah mu. Beliau bilang kamu harus dihukum.”


“Ya nggak bisa gitu dong, Pak. Masa cuma gara-gara telat aja pake dihukum? Nggak mau ah.”


“Ini perintah dari ayah kamu. Sekarang kamu pompa semua bola basket yang ada.”


“Enggak ah, males banget. Lagian kurang kerjaan banget mompa bola basket” bantah Bagas.


“Heh, itu hukuman paling ringan buat kamu. Kalo kamu gak mau ya sudah, pulang sekolah nanti kamu bersih-bersih kantin.”


“Ya ampun pak, pulang sekolah tuh waktunya pulang bukan malah bersih-bersih. Lagian itu kan tugasnya tukang bersih-bersih. Kalo saya yang bersihin, dia makan gaji buta dong.” ada saja alasan Bagas untuk menghindar dari hukuman yang diberikan pak Ridwan. Tapi sebagai guru pak Ridwan juga tidak boleh kalah.


Baru saja Bagas ingin membantahnya lagi, tapi pak Ridwan sudah berucap,


“Bapak sudah bilang 'kan, meskipun kamu pemilik sekolah ini, kamu bakal diperlakukan sama seperti siswa lainnya. Kamu salah ya kamu terima hukumannya.”


Bagas cuma bisa menghela nafasnya berat.


“Sudah, sekarang kamu kerjakan hukuman kamu atau kamu pulang saja sana.”


Ini sudah seperti hari kesialan bagi Bagas. Tadi pagi mobilnya tergores bus, sekarang dapat hukuman, ditambah hp nya disita lagi. Lengkap sudah kesialan Bagas. Tapi ini memang salahnya sendiri. Siapa suruh semalam dia pergi ke klub dan pulang larut malam sampai-sampai kesiangan seperti sekarang ini.


***


Kringg...


Bel istirahat pertama berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Ada yang berkerumun di kantin, ada pula yang bermain sepak bola. Berbeda dengan anak-anak lain yang senang dijam istirahat, Bagas malah merasa lesu dan tidak bersemangat. Sudah dua jam lamanya Bagas duduk bersila di pinggir lapangan basket indoor memompa bola basket menggunakan pompa khusus seperti yang disuruh pak Ridwan. Jujur walau hanya disuruh memompa bola basket, tetap saja menguras banyak tenaga, karena jumlah bola yang harus di pompanya lebih dari 50 buah.


“Woi, disini ternyata. Gue kira Lo gak berangkat.” tiba-tiba temannya Rico mengejutkan dari samping dengan menepuk pundak Bagas. Kemudian disusul oleh dua teman lainnya, Bima dan Aldo.


“Kesel gue, baru kali ini gue di hukum.” Bagas membanting pelan bola basket ditangannya. Seakan tak merasa kasihan pada kawannya itu, ketiga temannya malah menertawakan Bagas.


“Ya lagian tiap hari telat mulu, begadang lo?” kata Aldo.


“Ya suka-suka gue dong, sekolah juga punya gue. Mau telat kek suka-suka gue lah. Beraninya dia ngasih hukuman” ucapnya menyombongkan diri.


Ya memang orang tua Bagas adalah pemilik sah SMU Taruma, salah satu sekolah elite yang ada di Indonesia. Bagas selalu menggunakan title nya untuk melanggar tata tertib sekolah ini. Karena pikirnya tidak akan ada yang berani macam-macam dengannya yang notabene anak pemilik sekolah. Bahkan kepala sekolah pun berpihak padanya dan selalu meloloskannya dari hukuman. Cuma pak Ridwan saja yang berani menghukum Bagas tanpa takut kehilangan jabatannya sebagai guru.


“Udah gak usah marah-marah, yuk main” kata Bima mencairkan suasana. Bima kemudian mengambil salah satu bola basket yang sudah terisi angin lalu memainkannya ke tengah lapangan, disusul oleh tiga lainnya. Mereka asyik bermain basket, memantul-mantulkan bola ke lantai dan memasukkannya ke ring. Tapi tak lama bola itu menggelinding ke arah seorang siswa yang berada dibawah tribun penonton. Bagas mengambilnya, namun dia teralihkan dengan buku yang ada disebelah siswa berkacamata tersebut. Buku berwarna biru bersampul kucing itu mencuri perhatian Bagas. Diambilnya buku itu tanpa meminta ijin kepada si pemilik.


“Apaan nih? Cowok nulis diary, alay lu” katanya ketika membuka buku itu satu persatu.


“Balikin!” cowok berkacamata itu berusaha mengambil bukunya kembali. Namun diabaikan oleh Bagas.


“'Aku melihatnya hari ini. Memakai pita merah di rambutnya, terlihat sangat cantik. Ingin rasanya ku pegang rambut indahnya itu.”


Bukannya mengembalikan, Bagas malah membacakan isi buku tersebut yang menjadi privasi orang lain. Dan parahnya, orang-orang yang ada disekitar tertawa mendengarnya. Belum puas, Bagas membawanya ke tengah-tengah lapangan dan membaca lembar berikutnya yang dirasa lucu. Si pemilik pun hendak merebutnya kembali, tapi ditahan oleh ketiga temannya. Bagas merasa ini hal yang lucu, dan tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia terus memundurkan kakinya sampai berada tepat dibawah tangga. Dan kemudian,


byurr...


satu siraman tepat mendarat di atas kepala Bagas. Bagas mematung sementara yang lainnya terkejut dan menengok ke atas. Disana, cewek yang datang entah darimana menuangkan satu botol air mineral ke bawah. Hingga airnya habis, dia melemparkan botolnya ke bawah dan berkata,


“Jangan ganggu orang lain kalo gak mau diganggu.” suaranya terdengar nyaring menggema di area lapangan. Semua orang terlihat terkejut. Bagas yang semula mematung, mulai angkat bicara.


“Heh! Apa-apaan ni?! Brengsek! Turun lo!” amarahnya memuncak melihat kondisi dirinya yang basah kuyup. Dan bukannya menuruti ucapan Bagas, cewek yang tidak dikenalnya itu justru membuang muka dan pergi dari tempatnya berdiri. Tak tinggal diam, Bagas disusul teman-temannya menaiki anak tangga untuk menyusul cewek itu. Tapi nihil, dia sudah menghilang entah kemana.


“Sialan! Siapa tuh orang? berani-beraninya nyiram gue pake air. Kalo gue ketemu habis dia.” dalam hatinya Bagas mengutuk perempuan itu. Bagas tidak mengenal siapa dia. Juga tidak pernah melihatnya disekolah ini. Tapi dia mengenakan seragam SMU Taruma, yang artinya dia sekolah disini.


Mulai dari itu, Bagas dan teman-temannya mencari tahu tentang siapa gadis itu, dan berencana membuat perhitungan padanya. Tidak peduli dia wanita atau bukan. Baginya, siapa yang sudah berbuat macam-macam padanya, akan menjadi korban bully-an Bagas dan teman-temannya.