
Like nya dulu boleh 😇
🎗️🎗️🎗️
Tik tok tik tok
Dentingan jam terasa nyaring di telinganya. Matanya tak ia alihkan dari jarum jam yang terus bergerak selangkah demi selangkah. Sebentar lagi waktunya pulang. Aries sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran kali ini. Pikirannya melayang tak tahu kemana. Panggilan sang guru pun tak ia hiraukan.
“Aries! Arieska Rain Purnama!” panggil Bu Ani kesekian kali.
“Iya, Bu?” Aries tersentak, mengerjapkan mata berulang kali. Semua mata memandangnya saat ini.
“Kamu ini, dari tadi ibu perhatikan ngalamun terus. Ada apa sih? Nggak suka sama pelajaran saya? Atau kamu lagi galau ya?”
“Enggak, Bu. Saya… saya lagi nahan mules,” jawab Aries, pura-pura memegangi perutnya. Anak-anak lain menahan tawanya ketika mendengar jawaban gadis itu.
“Saya boleh ijin ke toilet 'kan?”
Karena melihat ekspresi Aries yang seakan menahan sakit, akhirnya Bu Ani mengijinkan.
“Ya udah sana, jangan lama-lama!”
“Siap, Bu.”
***
Di toilet, Aries memang duduk diatas kloset, namun dalam keadaan tertutup. Di bilik paling ujung Aries merenung untuk membersihkan pikirannya dari hal-hal buruk. Ia bahkan membawa jurnal gambar nya yang ia selipkan didalam seragam abu-abunya. Hanya dengan menggambar pikiran Aries bisa teralihkan. Ia memilih menetap beberapa menit sampai bel pulang berbunyi.
Dua puluh lima menit kemudian, Aries baru keluar dari bilik toilet tanpa melakukan apa-apa selain menggambar. Ia yakin sekolah pasti sudah sepi, karena bel pulang sudah berbunyi sedari tadi. Aries pergi ke kelasnya dahulu untuk mengambil tas. Memang kelasnya sudah bubar, namun tidak sepenuhnya kosong. Disana, masih ada Arya yang duduk di bangkunya sambil memainkan gawai. Kenapa Arya belum pulang? Apa ia sedang menunggu Aries? Itulah pertanyaan yang ada dibenak cewek itu.
“Arya, kok masih disini? Yang lain udah pada pulang loh,” ucap Aries.
“Ya 'kan aku nungguin kamu. Perut kamu masih sakit? Atau aku anterin pulang aja yuk.” Arya menunjukkan kepeduliannya terhadap sahabatnya itu. Tapi Aries tidak enak karena ia hanya berpura-pura sakit perut saja.
“Enggak usah, aku masih bisa pulang sendiri kok. Makasih ya,” tolak Aries. Kemudian mengambil tasnya lalu berniat mendahului Arya.
“Aku… duluan ya,” pamit Aries. Arya cuma mengangguk. Mungkin Aries memang butuh waktu sendiri, pikir Arya.
***
Ditempat parkir, Aries sudah mengeluarkan kunci motornya untuk bersiap pulang ke rumah. Namun dari kejauhan, Aries melihat ada seseorang yang duduk diatas motonya. Orang itu nampak tidak asing.
“Bagas? Ngapain tuh anak disitu,” gumamnya. Bagas, orang yang ingin ia hindari malah sekarang sedang duduk diatas jok motornya. Padahal jelas-jelas mobilnya terparkir tepat disebelah motor Aries. Apa jangan-jangan ia sengaja menunggu si pemilik?
Karena sudah sore, Aries terpaksa menemui Bagas. Kalau tidak bagaimana ia bisa pulang.
“Woi, ngapain nangkring disitu? Minggir! Gue mau pulang,” tegur Aries. Tapi Bagas tidak beranjak sedikitpun. Ia malah melemparkan kunci mobilnya ke arah Aries. Dengan sigap Aries menangkapnya, meski ia tidak mengerti apa maksudnya.
“Mulai hari ini lo jadi sopir gue. Setiap hari lo harus ikut kemanapun gue mau. Kalo gue panggil, lo harus dateng. Gak peduli mau weekend kek terserah. Ngerti?” ucap Bagas percaya diri.
“Ya nggak bisa lah. Moto gue mau lo taruh mana?”
“Lo tenang aja kali. Gue bakal suruh orang buat ngambil motor lo nanti. Udah sekarang lo masuk, lo setirin gue. Bisa nyetir 'kan?”
Aries mendengus.
“Bagus.” Aries bahkan belum menjawabnya, tapi Bagas sudah masuk kedalam mobil.
Kalau bukan karena perjanjian bodoh itu, Aries tidak akan mau disuruh-suruh seperti ini. Apalagi menjadi sopir cowok menyebalkan ini.
***
Diperjalanan, tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Bagas sibuk dengan gadget nya, sementara Aries fokus menyetir dengan muka yang tertekuk. Lagu Justin Timberlake berjudul Can't Stop The Feeling yang diputar di radio menjadi penengah keheningan antara mereka. Sampai Aries mematikan radio tersebut.
“Heh, kok dimatiin? Orang masih didengerin juga.” Bagas menyalakan kembali radio tersebut. Namun lagi-lagi Aries mematikannya.
“Berisik tau nggak!”
“Ya biarin namanya juga musik. Kalo lo mau hening, dikuburan sana!” Radio kembali dinyalakan. Namun tak lama Aries mematikannya lagi.
Bagas yang tahu hanya mendengus. Ia mencoba menghidupkannya sekali lagi. Namun secepat kilat tangan Aries memukul tangan Bagas yang hendak menyentuh tombol radio.
“Aduh, sakit ****!”
“Sukurin!” balas Aries.
“O iya, sebelum kita pulang, gue mau ke mall dulu, oke,” ucap Bagas tanpa dosa.
Aries terkejut. Bagaimana tidak, rumah Bagas tinggal beberapa blok lagi, dan baru sekarang ia mengatakan ingin pergi ke mall yang sudah terlewat jauh?
“Gas! Rumah lo tuh dah deket loh. Nanggung ****!” jelas Aries.
“Kenapa nggak bilang dari awal, *****? Nanggung bat, astaga!” Aries menahan kekesalannya.
“Tinggal putar balik apa susahnya sih?” ucap Bagas tak mau kalah.
Aries hanya bisa menggeram menuruti perintah orang disebelahnya. Ingin sekali rasanya membenturkan kepala Bagas ke pintu tujuh kali. Supaya Bagas tidak melayang terlalu tinggi.
***
Sesampainya di mall yang cukup besar. Bagas langsung masuk ke bagian kebutuhan pria. Ia melihat-lihat diantara rak sepatu. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Aries juga disuruh menemaninya, dan mengikutinya seperti anak itik mengikuti induknya.
“Nih, pegang!” perintah Bagas, menyodorkan kedua sepatu lawasnya.
“Taro bawah aja kenapa sih,” tolak Aries.
“Pegang! Sekalian bawa,” ngotot Bagas. Aries yang seperti sudah kehabisan tenaga lagi-lagi hanya bisa menurut.
Setelah membayar sepatu yang telah dipakainya, Bagas beralih ke tempat dimana jaket-jaket branded terpajang. Bagas lalu melepas luaran seragam yang seperti rompi, kemudian memakai jaket kulit berwarna cokelat. Ia lalu bergaya didepan cermin bak model yang beraksi didepan kamera. Ditambah lagi, ia memakai kacamata hitam yang dia beli dari toko sebelah. Aries hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Bagas yang sok keren itu.
Entah karena ingin pamer atau bagaimana, barang-barang yang baru saja Bagas beli langsung ia kenakan saat itu juga. Jadi tidak ada tas belanjaan, karena baju dan sepatunya yang lawas Aries yang membawa.
Belum puas, Bagas kini berada di toko jam tangan ternama. Ia menjajal beberapa jam ditangannya, sebelum salah satu jam tangan mewah itu dibawa pulang. Ia sempat melirik Aries yang duduk sambil memainkan telinganya. Melihat gadis itu berubah menjadi wanita penurut ternyata lucu juga. Sebagai imbalan, Bagas berniat memberi sesuatu kepada Aries. Ia meminta si penjual mengambilkan sebuah benda yang nantinya akan ia berikan pada gadis itu.
“Nih, buat lo.” Bagas menyodorkan kotak kecil.
“Apaan isinya?” ucap Aries curiga.
“Buka aja sendiri.”
Aries lalu membuka kotak pemberian dari Bagas itu. Aries tidak percaya Bagas akan memberinya sesuatu yang bernilai. Benar 'kan, ia hanya main-main. Kenapa Bagas memberinya gunting kuku? Apa dia pikir Aries tidak dapat membeli gunting kuku sendiri?
“Lo nyindir gue?” ucap Aries tak bersemangat.
Bagas hanya tersenyum dan menggedik kan bahu. Lalu ia melanjutkan jalannya, diikuti oleh Aries.
Butuh sekitar tiga puluh menit hanya untuk membeli satu set pakaian dan aksesoris yang Bagas pakai. Lalu setelah itu mereka kembali melajukan mobilnya menuju rumah Bagas.
“Lain kali kalo mau ke mall gak usah ngajak gue. Suntuk tau gak!” ucap Aries.
“Loh, bukannya cewek paling suka diajak ke mall ya?” sindir Bagas.
“Ya kalo ceweknya yang beli sih nggak masalah, lah ini, cuma dijadiin hanger doang,” protesnya.
Bagas menahan tawa. “Ya itu mah nasib.” Aries cuma bisa menggeram.
***
Beberapa menit kemudian, mobil Bagas memasuki gerbang besar itu. Dan memarkirkannya persis didepan rumah. Sebelum turun, Bagas mengatakan satu hal.
“Inget, besok sebelum berangkat sekolah lo harus jemput gue ke rumah, ngerti?”
Aries berdecak, “Iya-iya ah, bawel lu.”
Keluar dari mobil, Aries melihat motornya sudah ada di halaman. Itu artinya ia bisa langsung pulang dan terbebas dari Bagas. Namun belum sempat Aries melangkah, sebuah suara memanggilnya.
“Aries?” Yang dipanggil pun menengok.
“Masuk dulu yuk!” lanjut wanita itu.
Melihat ibu tirinya berdiri didepan pintu membuat Bagas membuang muka. Sebelum Aries menjawab ajakan Ibu Ayu, Aries melihat Bagas terlebih dahulu. Setelah Bagas memberi isyarat dengan kepalanya, baru Aries berjalan mendekat memasuki rumah besar itu.
“Duduk dulu, biar tante bikinin minum.”
“Makasih tante.”
Aries lalu mendudukkan dirinya di sofa panjang di ruang tamu. Sementara Bagas langsung pergi ke kamarnya tanpa berucap sepatah katapun.
Tak lama, Bu Ayu datang dengan nampan berisi minuman dan beberapa camilan.
“Minum dulu,” perintah Bu Ayu. Aries mengangguk dan meneguk minuman berwarna jingga tersebut.
Tanpa disadari, Bu Ayu sedari tadi memperhatikan Aries dengan mata berbinar-binar. Tak ada yang tahu apa yang ada dipikiran wanita itu. Kenapa setiap melihat Aries ia seperti melihat orang yang dikenalnya.
“Nak Aries, Tante boleh ngomong sesuatu sama kamu?” ucapnya tiba-tiba. Dari nada bicaranya, sepertinya apa yang hendak dibicarakan akan serius.
“Boleh, Tante,” jawab Aries sedikit bingung.
Apa yang mau dibicarakan oleh Bu Ayu terhadap Aries? Kenapa pula wajah Bu Ayu nampak serius? Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu Aries?