ARIES

ARIES
Dia Rajanya



Reader yang terhormat,


Tolong hargai penulis dengan membaca sungguh-sungguh isi cerita.


Bila ada saran atau kritik mohon dikoreksi.


Terimakasih atas pengertiannya.


Selamat membaca.


★★★


Bel terakhir dibunyikan satu jam yang lalu. Semua siswa sudah mengosongkan sekolahan. Kini tinggal Aries dan Bagas yang masih tetap berada disekolah untuk melaksanakan hukuman. Tidak peduli hari sudah semakin senja, kedua remaja itu tidak diperbolehkan meninggalkan kantin sebelum tempat itu bersih seperti semula.


“Heh, kerjain bagian lo. Udah sore, gue mau pulang” tegur Aries sambil melemparkan serbet ke kepala Bagas.


Cowok itu masih saja bermain game di ponselnya sambil duduk diatas meja. Seragamnya pun sudah acak-acakan. Dia hanya mengenakan kemeja putih, sementara rompi abu-abu dan dasi hitamnya entah ditaruh dimana.


“Berisik lu,” balas Bagas kembali melempar serbet.


Baru saja Aries ingin memukulnya menggunakan sapu, tapi pak Ridwan sudah memperingatkannya.


“Cukup! Bagas, kasih HP kamu ke saya!” ucap pak Ridwan.


Bagas cuma bisa mendengus menyerahkan HP-nya ke tangan guru itu. Dengan berat hati cowok itu mengambil sebuah pel beserta embernya, lalu kemudian mulai mengepel lantai yang sebenarnya masih kotor.


“Itu masih kotor… disapu dulu, gimana sih” protes Aries ketika tahu Bagas tidak becus mengerjakan tugasnya.


“Banyak omong lu. Lo aja sini yang bersihin,” balas Bagas. Melihat mereka berdua saling berdebat, pak Ridwan bermaksud menengahi.


“Kalo ribut terus kapan selesainya.”


Guru berumur 32 tahun itu sengaja mengawasi mereka agar mereka dapat melaksanakan hukumannya dengan baik, meski ini sudah diluar jam kerjanya.


***


Beberapa menit berlalu, sekarang tinggal mengelap meja dan menaikkan kursi, baru setelah itu hukuman mereka selesai dan mereka diperbolehkan pulang. Tapi sebelum pulang ada sedikit nasehat dari pak Ridwan, “Lain kali kalo kalian buat ulah lagi, hukuman kalian akan lebih berat lagi. Mengerti?”


Tidak ada jawaban dari keduanya. Aries hanya menganggukkan kepala sementara Bagas berpura-pura tidak peduli. Mereka akhirnya berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mungkin mereka kelelahan sampai tak mampu berdebat lagi. Belum lagi Aries yang nanti malam harus bekerja. Lelahnya akan berkali-kali lipat.


Ketika menuruni anak tangga di pintu keluar, Aries mendapati Arya yang tengah duduk diatas motor klasik milikinya. Dia terlihat tidak melakukan apa-apa, hanya sesekali menengok jam ditangannya.


“Arya? Kok belum pulang?” tanya Aries. Arya pun langsung tersenyum mendengar suara yang sudah ditunggunya selama dua jam.


“Nungguin kamu,” jawab Arya jujur. Aries mengerutkan dahi, untuk apa dia menunggu Aries.


“Nunggu aku? Kenapa?”


“Aku khawatir sama kamu” ucap Arya berterus-terang. Aries yang mendengarnya hanya terkekeh. Apa-apaan cowok itu, dia bukan siapa-siapa Aries tapi dia mengkhawatirkan gadis itu.


“Aku anter pulang yuk?” ajak Arya. Aries nampak berpikir untuk menerima tawaran Arya atau tidak. Ini sudah sore, mungkin sudah tidak ada angkutan umum diluar sana.


“Ya udah deh, yuk” Aries menerima tawarannya. Tak lama mereka meninggalkan sekolah dan melaju di jalan raya.


Hembusan angin cukup kencang membuat bulu kuduk siapapun berdiri kedinginan. Untung Aries membawa jaket rajut dan mengenakannya. Sementara Arya memakai jaket jeans seperti yang dikenakannya setiap hari ke sekolah. Selama diperjalanan tidak ada obrolan panjang. Karena Arya tahu, Aries sudah sangat lelah hari ini. Jadi Arya membiarkan Aries bersandar di punggungnya.


“Ris? Aries?” panggil Arya.


“Hm?” jawab Aries lesu.


“Jangan tidur, bahaya”


Aries kemudian mengangkat kepalanya, mencoba melawan rasa kantuknya. “Iya-iya”


“Dah sampe,” seru Aries turun dari motor, begitu juga dengan Arya.


“Kamu tinggal sendirian disini?” Arya mengedarkan pandangannya ke rumah sederhana itu.


“Iya. Sorry ya, aku gak bisa ijinin kamu masuk”


“Gak apa, aku ngerti kok. Sampai ketemu besok” Arya menunjukkan kepalan tangannya.


“Oke. Makasih udah dianterin pulang,” Aries membalas uluran tangannya dengan cara yang sama.


Tak lama Arya melajukan motornya melewati gang-gang sempit. Sementara Aries masuk kedalam rumahnya dan bersiap-siap berangkat bekerja, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.



Arya Gusta


***


Di lain tempat, Bagas baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Sama seperti seperti Aries, Bagas sampai dirumah saat hari sudah gelap. Cowok itu tidak langsung ke kamar seperti biasanya. Dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tamu. Bagas sudah tidak memiliki tenaga lagi sekarang. Makanya ia meminta Bi Rati–pembantu rumahnya untuk mengambilkan minum dan beberapa cemilan.


“Bagas, kok baru pulang?” suara lembut saudarinya membuat Bagas terkejut dan langsung mengambil posisi duduk.


“Tumben pulang jam segini,” Anya mendudukkan dirinya disebelah Bagas.


“Ada urusan,” jawab Bagas ketus tanpa melihat wajah Anya.


Untuk beberapa alasan mengapa Bagas bersikap dingin dan cuek kepada saudari tirinya itu. Cerita masa lalu lah yang membuat Bagas terjebak dalam situasi seperti sekarang ini. Bagas tidak pernah menyangka, orang yang dulu dicintainya dan pernah merajut kasih dengannya, kini sekarang duduk disampingnya sebagai adiknya.


“Ada yang mau aku tanyain. Aku nemuin ini dikamar kamu,” Anya menunjukkan sebuah poster yang sama yang menjadi perbincangan di SMU Taruma.


“Siapa yang nyuruh lo masuk ke kamar gue?! Lancang banget jadi orang,” Bagas dengan secepat kilat merebut poster itu dari tangan Anya.


“Aku cuma naruh baju kamu yang udah disetrika, itu aja kok” Anya merasa bersalah karena sudah membuat Bagas marah.


“Berapa kali gue bilang, cuma Bi Rati yang boleh masuk kamar gue, ngerti?!” bentak Bagas kemudian beranjak pergi dari hadapan Anya. Anya ingin menahannya tapi ia takut hal itu akan membuat Bagas lebih marah lagi.


Bagas memang mudah sekali marah terhadap hal-hal kecil. Apalagi yang berbuat kesalahan itu ibu tirinya atau Anya sendiri. Semenjak mereka menjadi saudara, Bagas semakin menjauh dari Anya. Mungkin Bagas kecewa dengan sikap Anya yang dulu menghilang tanpa kabar ketika Bagas sedang terpuruk karena kehilangan ibu kandungnya.


Dikamar, Bagas membanting tubuhnya ke atas kasur begitu saja. Ia lantas menatap poster yang ia buat sendiri untuk menghancurkan Aries. Rencananya membuat cewek itu malu sudah gagal. Malah dia sendiri yang kena sial membersihkan sekolah. Dia lalu meremas poster itu dan melemparnya ke tempat sampah disamping meja belajarnya.


“Argh.. sial banget hidup gue. Disekolah ada cewek abnormal itu, dirumah bawaannya emosi mulu. Kapan gue bisa hidup tenang” Bagas mulai bermonolog.


Ia tidak mau membuat pikirannya semakin kacau. Cowok berponi itu lantas pergi ke kamar mandi dan berniat mengunjungi kafe milik keluarganya.


***


Di sebuah kafe bernama D'COUNTIN itu tempat dimana Aries berkerja. Belum lama memang, tapi Aries sudah mendedikasikan dirinya menjadi waiters profesional meski kafe ini milik musuhnya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Bagas Sadewa.


Cowok berkulit putih itu duduk dengan santainya dimeja dekat dengan jendela. Hanya ditemani sebotol minuman soda dan beberapa cemilan berupa kacang kulit. Bagas sengaja tidak mengajak teman-temannya karena ia sedang ingin sendiri. Meski begitu tidak menghalangi Bagas mengganggu Aries yang tengah bekerja.


Cowok itu berkali-kali lempar kulit kacang ke lantai sembarangan. Bukan tanpa sengaja, Bagas memang ingin mengganggu Aries yang tengah bersih-bersih.


“Woi, bisa gak kalo makan sampah nya dikumpulin sendiri?” ucap Aries menahan emosi. Siapa yang tidak emosi ketika lantai sudah disapu tapi sengaja dikotori kembali.


“Suka-suka gue lah, orang tempat ini punya gue” ujar Bagas menyombong.


“Bisa gak sih sehari~ aja lo gak bertingkah sebagai raja?” entah kenapa setiap Aries mendengar Bagas menyombongkan dirinya ia merasa tidak terima.


“Loh, kenyataannya disini memang gue 'kan rajanya? Elo sebagai pelayan tugas lo cuma bersih-bersih, oke” ucap Bagas dengan nada santai.


Tak ingin lagi berdebat, Aries memilih melanjutkan pekerjaannya. Tak peduli Bagas tetap terus mengganggunya. Sepertinya cowok itu senang sekali melihat Aries kesusahan. Itu merupakan kesenangan tersendiri bagi Bagas. Tak peduli meski jam sudah lewat tengah malam. Bahkan kafe ini pun sudah sangat sepi karena memang sudah waktunya tutup. Harusnya jam segini Aries sudah merebahkan dirinya di kasur empuk favoritnya, bukan malah membersihkan kafe seperti sekarang ini.