ARIES

ARIES
Perkelahian



Keduanya masih saling menatap dalam hitungan detik. Hanyut dalam suasana. Sampai akhirnya Aries sadar dari situasi canggung ini.


“Ergh... Modus lo ya. Mentang-mentang gak ada orang, nyari-nyari kesempatan.” Aries berdiri dan mengibaskan pakaiannya seperti mengusir debu. Kemudian merebut kembali payungnya lalu pergi sebelum Bagas sadar wajah Aries bersemu merah.


“Lah… gue yang ditubruk dia yang marah” gumamnya. Lalu menyusul Aries.


Hujan mulai reda. Aries dan Bagas sama-sama menunggu di halte yang sangat sepi.


“Percuma gue bawa payung, kalo endingnya juga bakal kehujanan.” Aries memeras jaketnya, mengeluarkan air yang bertandang didalamnya.


“Ini semua tuh gara-gara lo” ucap Aries menyalahkan Bagas.


“Siapa suruh lo pelit!” balas Bagas.


Meski berada dibawah satu atap, tapi Aries dan Bagas sama-sama menjaga jarak satu sama lain. Aries memilih duduk di kursi panjang sambil merentangkan kaki. Sementara Bagas berdiri agak jauh, bersedikap dada dan bersandar pada sebuah tiang.


“Oh iya, motor lo kemana? Kenapa tadi pagi berangkatnya juga jalan kaki?” tanya Bagas tiba-tiba. “Jangan-jangan motornya lu jual ya? Ih... parah, nggak menghargai pemberian orang lain. Kalo bokap gue tau, kecewa dia” tuduhnya.


“Heh, sembarangan lo!” sentak Aries. “Motornya gue taruh rumah. Jalanan depan rumah gue banjir, jadi kalo gue tetep paksain naik motor bisa rusak mesinnya. Lo mau nge-service?” jelas Aries.


“Dih, males banget.”


Hujan sudah sepenuhnya berhenti. Kendaraan lalu lalang sudah terlihat kembali. Dan syukurlah bus yang ditunggu sudah datang. Segera mereka berdua bersiap masuk kedalam bus sebelum mati kedinginan. Pintu terbuka, Aries dan Bagas berebut masuk melewati pintu sempit itu.


“Duh... Minggir kenapa sih” ucap Aries menangkis tangan Bagas yang menghalangi. Dan yang berhasil masuk pertama adalah Bagas.


Karena didalam sangat penuh sampai berdesak-desakan, terpaksa Aries harus berdekatan dengan cowok menyebalkan itu.


Sampai kurang lebih tujuh menit, bus kembali berhenti di halte selanjutnya. Beberapa penumpang mulai turun. Ibu paruh baya yang duduk tak jauh tempat Aries ikut turun disini. Melihat ada kursi kosong, Aries segera menempatinya. Namun sial didahului oleh Bagas.


“Heh, minggir gak! Gue juga mau duduk disini” ucap Aries.


“Siapa cepat, dia dapat” jawab Bagas, menyunggingkan senyum.


Aries berdecak kesal. “Ngalah kek sama cewek.”


“Gue sih mau-mau aja ngalah sama cewek, kalo ceweknya normal” jawab Bagas semakin membuat marah Aries.


Aries menggeram. Ia lalu pindah berdiri didepan yang agak lengang. Sambil memeluk tasnya, ia bersandar pada sandaran kursi disampingnya.


Hampir setengah jam lamanya, bus berhenti di halte terakhir. Semua penumpang turun termasuk Aries dan Bagas. Aries kembali melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki. Sementara Bagas menghentikan taksi yang kebetulan lewat didepannya. Sebelum masuk kedalam mobil, Bagas sempat melihat punggung Aries menjauh. Cewek itu berjalan sambil memeluk tasnya, tanda kedinginan.


Aries memang sangat kedinginan. Meskipun ia memakai jaket sekalipun itu tidak membantu, sebab jaketnya juga masih basah. Ia berjalan lamban sambil menggosok-gosokkan tangannya, berharap menghasilkan kehangatan walau sedikit. Lalu tiba-tiba ada taksi yang berhenti disampingnya. Aries mengamati sejenak mobil biru itu. Pintu belakangnya lalu terbuka, dan memunculkan kepala seseorang.


“Cepetan masuk!” titah Bagas.


Aries memicingkan mata, apa benar Bagas baru saja menawarinya tumpangan?


“Ayo masuk! Malah planga-plongo” pintanya sekali lagi.


Baiklah, untuk sekali ini saja Aries mau menerima tumpangan cowok rese' itu. Karena kalau tetap jalan kaki takutnya hujan kembali turun.


“Iya-iya.”


Setelah didalam, Aries sedikit canggung. Mereka berdua sama-sama duduk memepet pintu.


“Tumben lo nawarin tumpangan” ujar Aries memulai obrolan.


“Lo jangan salah sangka dulu. Di dunia ini nggak ada yang gratis, lo juga mesti bayar. Patungan” jawab Bagas.


Aries memundurkan kepalanya. “Lah, tau gitu mendingan gue jalan kaki.”


“Udah untung dikasih tumpangan, bukannya makasih malah ngeluh.”


Aries hanya memutar bola matanya. Oke, kali ini Aries yang mengalah. Ia tidak mau kalau sampai diturunkan di tengah jalan.


Tak lama, Aries meminta diturunkan didepan gang yang cukup sempit. Jadi wajar kalau mobil taksinya tidak dapat masuk lebih jauh lagi.


“Rumah lo yang mana?” tanya Bagas sembari melihat rumah-rumah yang ada didalam gang.


“Masih jauh” jawab Aries singkat. Setelah memberi ongkos patungan kepada Bagas, Aries keluar dan berjalan memasuki area perkampungan. Bagas masih melihat kepergian gadis itu. Sampai Aries benar-benar telah menghilang, baru Bagas menyuruh si sopir untuk jalan.


***


Dirumah, Bagas yang baru pulang mendapat sambutan dari ketiga temannya diruang tamu.


“Kok baju lo basah, kehujanan?” Aldo melihat seragam dan rambut Bagas yang belum juga kering.


“Ya iyalah. Mobil gue mogok, terpaksa gue harus jalan kaki. Mana lupa bawa payung lagi.”


Menyebut kata "payung", entah kenapa tiba-tiba Bagas teringat saat Aries jatuh di atas tubuhnya. Saat mata hitamnya bertemu mata cokelat milik Aries. Waktu seakan berhenti sejenak saat itu. Wajah Aries, tidak pernah sedekat ini sebelumnya.


“Ya lagian elo disuruh cepet-cepet pulang malah makan mulu” ujar Bima mengalihkan pikiran Bagas.


“Ah ya udah lah, gue ganti baju dulu.”


Bagas berjalan hendak melewati tangga.


“Bagas, ya ampun kok sampai basah kuyup begini.” Ibu Ayu memegang kepala Bagas, tapi segera Bagas singkirkan.


“Ibu buatkan minuman anget ya” tawar ibunya.


“Gak perlu” jawabnya.


“Bi, buatin Bagas teh anget. Nanti langsung taro dikamar” pinta Bagas pada Bi Rati yang sedang ada didapur.


Setelah mendengar jawaban iya dari pembantunya itu, Bagas menaiki tangga menuju kamarnya. Tanpa menghiraukan ibunya yang mungkin tersinggung.


Teman-teman Bagas hanya diam dan melihat satu sama lain. Mereka sudah tahu keadaan Bagas dan keluarganya. Mereka juga tidak ingin ikut campur.


***


Malamnya, Bagas dan teman-temannya berada di kafe. Mereka sengaja memilih meja diluar ruangan. Ramalan hujan mengatakan bahwa malam ini cuacanya cukup terang. Tidak ada awan mendung diatas sana. Bintang-bintang juga bersinar. Ditambah malam ini adalah malam bulan purnama. Jadi mereka tidak mau melewatkan suasana malam ini.


Dimeja bundar itu, Bima dan Aldo asyik bermain game di ponselnya. Sementara Bagas dan Rico memakan kentang goreng yang sudah dipesan. Tanpa teman-temannya sadari, Bagas sedari tadi memperhatikan Aries yang mondar-mandir melayani para pelanggan. Dia nampak ramah pada pelanggan. Berbeda dengan kesehariannya yang selalu marah-marah. Seperti memiliki dua kepribadian saja.


Namun semakin lama Bagas semakin mempertajam penglihatannya. Didepan sana, Aries yang sedang menaruh makanan diatas meja justru diganggu oleh pelanggannya sendiri. Bisa dilihat orang-orang itu adalah remaja yang seumuran dengannya. Mereka menggoda Aries dengan menyentuh rambutnya. Bahkan salah satu cowok itu berani memegang tangan Aries. Gadis itu sudah acuh dengan meninggalkan mereka, namun


dihalangi. Bagas yang melihat hal itu lantas geram. Tanpa sadar ia menggebrak meja pelan, lalu berjalan menghampiri Aries. Teman-temannya yang bingung hanya mengikuti kemana Bagas pergi.


“Kamu disini aja nemenin kita. Nanti kita bayar kok, tenang aja” ujar salah seorang cowok yang menggenggam tangan Aries.


“Maaf saya masih ada kerjaan.” Aries berusaha melepaskan tangannya.


“Loh bukannya ini juga termasuk kerjaan kamu ya? Memuaskan pelanggan?” ucap cowok itu merendahkan.


Aries masih belum bisa melepaskan diri. Ia mulai panik. Ia tidak suka ada cowok yang menggodanya.


“Lepas!” pinta Aries tegas tapi masih berusaha sopan.


“Ayolah! Jarang-jarang kita dapet pelayan cantik” kata cowok itu semakin mendekatkan wajahnya.


Lalu tiba-tiba entah dari mana Bagas menarik tangan Aries, menjauhkannya dari cowok itu dan mengisyaratkan Aries untuk mundur.


“Kalo lo masih mau disini, lo harus sopan” ucap Bagas tegas.


“Eh, lo gak usah ikut campur ya!” balas cowok berjaket denim. “Urusin aja urusan lo sendiri!” lanjutnya.


“Jangan cuma gara-gara lo pelanggan disini, lo bisa seenaknya” tukas Bagas.


“Urusannya sama lo apa?”


“Oh, gue tau, elo Bagas Sadewa 'kan? Anak pemilik kafe ini.”


“Bagus kalo lo udah tau. Sekarang pergi!” usir Bagas.


Bukannya pergi seperti yang Bagas suruh, ketiga cowok itu justru seperti menantang Bagas.


“Baru juga anak, belom yang punya kafe. Tapi gayanya udah selangit.”


“Ngomong apa lo?”


“Heh, inget ya, gue ini customer disini, gue bayar, jadi kalo gue mau ngapa-ngapain ya terserah. Lo nggak mau 'kan, kafe lo dapet rating buruk?”


“Gue nggak peduli lo customer apa cuma mau numpang Wi-Fi doang. Sekarang gue minta lo pergi. Kehilangan customer kayak lo itu nggak berarti apa-apa.” kata Bagas.


Cowok berjaket denim itu melirik kearah Aries. “Jadi cewek ini pacar lo. Hm, cocok, sama-sama murahan!” ucapnya.


Segera setelah mengucapkan kalimat itu, Bagas langsung menojok pipi kirinya. Aries terkejut dan menutup mulutnya menggunakan tangan. Sementara cowok berjaket denim itu membalas pukulan Bagas. Kejadian itu menarik perhatian pelanggan lain. Bima, Aldo, dan Rico berusaha menghentikan Bagas yang terus memukul balik cowok itu. Kedua teman cowok itu juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua saling adu pukul selama beberapa detik. Kedua temannya memaksa cowok itu untuk pergi dari kafe. Sementara Bagas mengambil napas sambil menahan sakit diwajah serta perutnya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Aries tidak menyangka Bagas akan melakukan hal sejauh ini. Apalagi untuk dirinya.