ARIES

ARIES
Semua ini tentang pilihan



Tin tin... tin...


Suara klakson mobil berulang kali dibunyikan. Sosok didalamnya sudah kesal. Didepan pintu gerbang berwarna hitam Bagas memarkirkan mobilnya.


Gerbang besar itu perlahan terbuka lebar, memberi jalan agar mobil tuanya dapat masuk ke halaman rumah.


“Lama banget buka nya.” Bagas memarahi pembantu rumahtangganya yang sudah paruh baya.


“Maaf den, lagi ada tamu” jelas Bi Rati.


Bagas langsung berjalan masuk kedalam rumahnya. Diruang tamu sudah ada ayahnya bersama beberapa pria berpakaian rapi. Sudah pasti mereka membicarakan soal bisnis. Lalu dia pergi ke dapur mengambil beberapa minuman kaleng.


“Udah pulang, Gas?” tanya Ayu, ibu Bagas yang sedang memasak.


“Hm” jawabnya singkat.


“Mau diambilin makanan?” tawar ibunya.


“Gausah” jawab Bagas ketus, lalu pergi ke kamarnya.


Memang hubungan antara Bagas dengan ibu sambungnya tidak pernah baik. Bagas masih belum menerima Ayu yang sudah menikah dengan ayahnya selama 2 tahun sebagai ibunya.


Di kamarnya, Bagas melempar tas ke atas kasur dan langsung menyalakan laptop. Sudah ada beberapa notifikasi dilayar. Lagi-lagi video itu.


Video yang sempat menjadi trending topik di TNet.center, sebuah situs resmi yang dibuat khusus SMU Taruma.


Bagas akhirnya keluar kamar menemui ayahnya. Tapi laki-laki berpakaian rapi itu sudah tidak ada diruang tamu.


“Papa mana, Bi?”


“Tadi masuk kamar, den.”


“Oh.”


Bagas lantas pergi ke kamar ayahnya di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Bagas langsung masuk kedalam begitu saja.


“Papa mau kemana?” Bagas mendapati ayahnya yang sedang memindahkan baju ke koper besar.


“Kalo mau masuk ketuk pintu dulu, kayak gak punya sopan santun.” tegur Pak Fakhtur, ayah Bagas. “… Papa malam ini ada kerjaan di luar kota,” lanjutnya.


“Baru kemaren Papa pulang, udah mau keluar kota lagi?”


“Ya mau gimana lagi. Ada perlu apa?”


“Papah masukin murid baru di sekolah?” tanpa basa-basi Bagas langsung bertanya dengan nada sedikit kesal. Entah kesal karena cewek itu atau kesal karena ayahnya mau pergi berbisnis lagi.


“Oh… Aries maksud mu? Iya, dia pinter loh, sopan lagi.” pernyataan ayahnya membuat Bagas semakin kesal.


“Harusnya Papa ngomong dulu ke aku. Papa gak bisa sembarangan masukin orang asing ke sekolah.” Bagas meninggikan suaranya.


“Orang asing apanya? Papa itu tau betul siapa Aries. Dia punya potensi sama kayak kamu.”


“Papa gak tau kan, hari ini dia bikin masalah dimana-mana. Aku gak mau dia sekolah disana. Cewek itu bawa sial buat aku” ngotot Bagas.


  


“Kamu bisa bilang gitu karna kamu belum kenal siapa Aries. Dan Papa ingetin sama kamu, jangan ganggu Aries. Biarin dia sekolah dengan tenang.” ayahnya lebih membela cewek itu ketimbang putranya.


Merasa ayahnya sudah tidak bisa dibantah lagi, Bagas keluar dari ruang pribadi ayahnya dengan kecewa. Selalu saja begitu, ayahnya tidak mau mendengarkan pendapat anaknya sekali saja. Hal itu juga yang membuat Bagas sedikit tidak menyukai ayahnya sendiri karena merasa pendapatnya tidak pernah dihargai.


Ketika menuruni tangga, Bagas berpapasan dengan seseorang. Dia bukan lagi anak tunggal keluarga Tanhar. Semenjak ibu kandungnya meninggal karena sakit, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu.


“Gas?” sapa orang itu dengan ramah. Tapi Bagas hanya melengos pergi meninggalkan cewek berambut panjang tersebut.


Iya, Bagas memiliki saudara tiri perempuan bernama Anya. Sama seperti hubungannya ibunya, Bagas tidak menyukai saudari tirinya itu karena suatu hal.


Cowok bernama lengkap Bagas Sadewa itu membanting tubuhnya ke atas kasur. Matanya memandang langit-langit kamar. Kalau saja ibunya masih ada, dia tidak akan terjebak ke dalam hubungan keluarga yang rumit ini. Dia tidak akan sering keluar malam lagi untuk mencari kesenangan. Karena ibunya akan selalu menemani Bagas bermain play station sembari menunggu ayahnya pulang. Kemudian mereka bertiga makan malam bersama sembari berbincang. Itulah yang paling Bagas rindukan. Makan malam bersama keluarga. Keluarga yang sesungguhnya. Tapi itu sudah berakhir dua tahun yang lalu. Sebelum ibunya meninggal dan ayahnya berubah menjadi egois. Tidak ada yang membuat Bagas betah dirumah.


Cowok itu turun dari tempat tidur mengambil ponselnya. Membuka grup WhatsApp, mengabari ke tiga temannya untuk berkumpul di suatu tempat. Bagas lalu bergegas mengambil jaket dari dalam lemarinya dan pergi keluar menggunakan motor ninja berwarna merah. Sengaja ia menggunakan motor karena jalanan malam ini cukup padat. Rintikan hujan menambah buruk suasana hati cowok berdarah China tersebut. Tak lama Bagas berhenti disebuah cafe. Bukan cafe biasa. Cafe ini terlihat besar lebih mirip seperti restoran, hanya saja diisi oleh anak-anak muda yang sekadar nongkrong.


Ting...


Suara lonceng yang tergantung di atas pintu masuk berbunyi, menandakan adanya pelanggan.


“Mbak, temen-temen udah pada dateng?”


“Belum, Mas.”


Bagas hanya ber'oh' ria. Dia melihat sekeliling. Seperti biasa, cafe milik ayahnya ini sangat ramai. Banyak remaja yang memanfaatkan tempat ini sebagai tongkrongan. Ada yang mengobrol sambil minum minuman beralkohol, ataupun menghisap Vape.


Tapi bukan itu yang mencuri perhatian cowok berjaket jeans itu. Diantara para pelayan yang sedang mengantarkan pesanan, ada satu orang yang terasa familiar. Bagas menyipitkan matanya guna memastikan sosok itu. Tidak salah lagi, itu cewek yang paling Bagas benci.


“Mbak, itu karyawan baru?” tanyanya yang masih penasaran. Mbak Sarah si kasir itupun menoleh ke arah cewek berkuncir yang sedang mengantar minuman.


“Oh... Iya, Mas. Namanya Aries, dia baru kerja disini seminggu yang lalu.”


“Kok bisa nerima orang sembarangan kerja sini. Gak ijin lagi sama aku” bentak Bagas.


Entah kenapa setiap kali melihat wajahnya rasa kesal itu hadir lagi. Dia tidak bisa menerimanya kerja ditempatnya.


“Maaf mas, tapi Papa Mas Bagas sendiri yang bawa dia kesini.”


Lagi-lagi ayahnya. Sebenarnya apa alasan ayahnya membawa cewek sial itu kesini. Satu hari disekolah saja sudah membuat Bagas naik pitam. Sekarang dia harus berhadapan lagi dengan cewek itu. Lengkap sudah penderitaannya.


***


Ctakk...


“Sorry, Gas, macet.”


Akhirnya yang ditunggu datang juga. Bima masuk pertama, disusul dua lainnya, Rico dan Aldo.


“Gak papa” Bagas menerima salam tangan (highfive) mereka.


“Udah gue pesenin minum, bentar lagi dateng” lanjut Bagas.


Mereka berempat duduk disofa panjang tak jauh dari meja biliar. Itu adalah ruangan khusus mereka. Hanya Bagas dan teman-temannya saja yang boleh menempati ruangan itu. Tempatnya cukup luas, dan banyak benda-benda selain meja biliar seperti televisi, play station, darts game (lempar panah) dan beberapa bingkai foto mereka berempat.


“Gas, bukannya malam ini bokap lo ke luar kota? Lo gak mau nganterin ke bandara?” tanya Rico memulai pembicaraan.


“Ogah, males. Gak penting juga.”


Mereka berempat sudah berteman sejak usia 10 tahun. Pekerjaan orang tua mereka yang membawa mereka ke hubungan persahabatan ini. Bisa dibilang ini juga mempererat hubungan bisnis keluarga mereka.


Tak lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan seorang gadis muda berseragam pelayan membawa nampan berisi botol-botol minuman dan dua piring kentang goreng.


“Silahkan,” katanya sopan sembari menaruh nampan dimeja lalu pergi.


Mereka terkejut dan mengerutkan dahi. Bukannya itu cewek baru disekolah mereka, siapa namanya… Aries?


“Itu bukannya…”


“Iya. Itu cewek songong disekolah,” Bagas sudah menjawab pertanyaan Bima yang belum lengkap.


“Tunggu tunggu, jadi dia kerja disini? Sejak kapan?” tanya Bima yang masih belum percaya.


Bagas menghela napas sebelum menjawab.


“Gue juga baru tau. Katanya sih udah seminggu. Bokap yang masukin dia” jelas Bagas dengan nada kesal.


“Bokap lo kok aneh banget sih. Pertama ngasih beasiswa, sekarang ngasih kerjaan di cafe lo. Jangan-jangan ada apa-apanya lagi.” Rico berargumen.


“Maksud lo?”


“Ya kan gak mungkin bokap lo ngasih ini itu ke orang asing.”


“Dari awal gue juga udah curiga, tuh cewek bukan cewek baik-baik. Kelakuannya aja urakan gitu” kata Bagas.


“Tapi kayak ada yang aneh, dia tadi senyam-senyum loh, sopan lagi. Beda sama Aries yang waktu disekolah, bawaannya marahhh mulu,” kini Aldo berkomentar.


“Itu namanya perez. Dia tau dia cuma pelayan disini, sedangkan Bagas kan bos-nya. Tuh cewek emang bermuka dua ya,” Bima menanggapi.


Bagas yang masih menyimpan dendam pada Aries sengaja berniat buruk terhadapnya. Dia meraih gagang telepon yang ada didekatnya, menekan tombol dan berbicara sebentar kepada si penerima telepon, lalu menutupnya kembali.


“Mumpung dia disini, gue mau ngerjain dia. Siapa suruh jadi cewek sok-sokan,” senyum miring terpampang di wajah tampannya. Tidak ada yang tahu apa yang direncanakan cowok berponi itu. Sampai Aries datang membawa dua botol beer berukuran sedang.


“Ini pesanannya,” ucap Aries selembut mungkin. Benar kata Aldo, Aries yang ada dihadapannya ini berbeda dengan Aries yang ada disekolah. Kalau bukan karena kalung hitam dilehernya dan badge nama yang tertera diseragamnya, mereka pasti mengira Aries orang lain.


“Woy tunggu!” baru setengah jalan Aries berbalik karena Bagas memanggilnya.


“Ya?”


“Ini apa?! Gue pesennya apa tadi ha? Gue bilang wine, ini kenapa malah yang dateng beer? Lo gak bisa baca apa gimana sih?” Bagas berdiri dan menunjukkan botol yang baru dibawa Aries.


Bukannya menjawab, cewek itu malah mengecek catatan kecil yang tertempel diatas nampan dan menunjukkannya pada Bagas.


“Lihat sendiri 'kan, itu yang nulis sama ngambil Mbak Sarah, saya cuma nganterin doang” jawabnya diselingi senyum manis semanis mungkin.


“Ya pokoknya gue gak mau tau. Lo ganti sekarang” kata Bagas tak mau kalah.


“Oke.”


Aries membawa kembali botol beer untuk ditukar dengan wine. Meskipun tahu Bagas hanya ingin mempermainkannya, tapi Aries tetap mengikuti kemauannya. Itu semata-mata menunjukkan profesionalismenya sebagai waiters.


“Ini sudah saya ganti sesuai pesanan.”


“Gelasnya mana? Ck, **** banget jadi orang,” ucapan kasar Bagas membuat Aries mendengus kesal.


“Sebentar saya ambilkan.”


Aries terlihat jelas sedang menahan emosinya. Rahangnya mengeras dan senyumnya pun terkesan dipaksa.


“Lo mau ngapain sih, Gas?” tanya Rico yang belum paham maksud Bagas mengerjai Aries dengan cara seperti ini.


“Gue pengen dia kerja keras disini, dan gue pengen dia bikin kesalahan supaya dia dipecat” jawabnya.


Bagas adalah orang paling licik yang bahkan tidak malu bermusuhan dengan seorang perempuan. Sejatinya, seorang cowok harus mengalah pada perempuan. Tapi sepertinya Bagas tidak pernah diajarkan hal itu oleh keluarganya. Dia terlalu bebas.


“Ini gelasnya,” Aries kembali membawa empat gelas berukuran kecil. “Ada lagi?” lanjutnya.


“Sekalian bukain” perintah Bagas.


Aries menurutinya lagi. Ia membuka tutup botol menggunakan pembuka khusus wine, lalu menuangkannya ke dalam gelas kecil. Setelah itu keempat gelas tersebut dibagikan satu persatu ke masing-masing orang.


“Kalau sudah saya permisi” Aries hendak berbalik arah, namun lagi-lagi Bagas menghentikannya.


“Tunggu. Minum!” menyodorkan gelas kecil yang baru diisi Aries dengan air wine. Apa-apaan dia ini, menyuruh Aries meminum minuman beralkohol? Yang benar saja.


Aries menggeleng.


“Minum gak!” paksa Bagas. Aries masih tetap menolak meski Bagas mendesaknya. “Nggak mau? ya udah, besok nggak usah kerja lagi disini.”