ARIES

ARIES
Asisten Pribadi



Gerbang terbuka lebar, mempersilakan kendaraan-kendaraan pribadi para murid untuk memasuki area parkir. Mobil BMW berwarna merah yang baru tiba menjadi perhatian siswa lain. Bukan karena jenis mobilnya yang mewah, tapi karena si pengemudi dan sosok disebelahnya yang menjadi sorotan.


Setelah memarkirkan mobil, Aries langsung keluar disambut tatapan aneh orang-orang. Mungkin mereka memikirkan hal yang sama, bagaimana bisa Aries yang terkenal bermusuhan dengan Bagas justru berangkat bersama dengan si pemilik mobil. Segala kecurigaan bermunculan mengenai hubungan sebenarnya dua orang yang sama-sama terkenal itu.


Berbeda dengan Aries yang nampak risih dengan tatapan orang-orang, Bagas justru bertingkah sebaliknya. Dengan wajah sombongnya ia keluar dari mobil, bersamaan dengan Aries. Ia cenderung tidak peduli pada tatapan aneh yang diberikan kepadanya. Dan berjalan dengan santainya memasuki gedung sekolah.


“Nih! Bawain sampai kelas!” Bagas melempar tasnya ke arah Aries. Dengan sigap Aries menangkapnya. Walaupun ia ingin sekali mencakar wajah songong Bagas, namun Aries harus bisa menahan emosinya. Terpaksa ia harus membawakan tas Bagas seperti pembantu membawakan barang majikannya.


Didalam sekolah pun sama saja. Mereka masih menjadi pusat perhatian. Aries yang berjalan dibelakang Bagas tiba-tiba ditarik kerah seragamnya oleh cowok didepannya.


“Heh, jalannya cepetan dikit! Lama banget, pake kemben lo?” ujar Bagas.


Aries menyingkirkan tangan Bagas dan mulai berjalan sejajar dengannya. Wajah datar Aries ketika berjalan berdampingan berbanding terbalik dengan wajah songong milik Bagas.


Sampai di kelas Bagas, Aries ragu melangkahkan kakinya ke ruangan bising itu. Tapi seperti biasanya, Bagas tidak mau tahu dan menarik lengan Aries. Suara bising itu lenyap seketika bersamaan dengan datangnya dua remaja tersebut. Bagas langsung menuju ke bangkunya, diikuti oleh Aries.


“Nih, tas lo! Gue mau langsung ke kelas,” ujar Aries, meletakkan tas Bagas diatas meja.


“Eh, tunggu dulu! Mana HP lo?” sahut Bagas, menengadahkan tangan.


“Buat apaan?”


“Gak usah banyak tanya, cepetan siniin!”


Aries merogoh tasnya, mengeluarkan benda pipih tersebut lalu memberikannya kepada Bagas. Cowok itu nampak mengetik sesuatu dilayar ponselnya. Setelah selesai, ia mengembalikannya kembali.


“Nih! Inget, kalo gue panggil lo harus dateng, ngerti?” ucap Bagas saat memberikan ponsel ke pemiliknya.


“Hm,” jawab Aries memalingkan wajah. Kemudian ia pergi ke kelasnya dan lepas dari Bagas untuk sementara. Setidaknya Aries bisa bernapas lega selama beberapa jam ke depan tanpa mendengar ocehan Bagas.


***


Kringg...


Jam berlalu begitu cepat. Padahal Aries berharap hari ini diadakan ujian, agar ia tak perlu keluar kelas dan bertemu Bagas lagi. Tapi nasib sedang tidak berpihak padanya. Baru beberapa menit bel istirahat dibunyikan, sudah ada suara notifikasi masuk dari handphonenya.


Isi pesan tersebut adalah Bagas meminta Aries menemuinya dikantin utama. Mau apa lagi dia. Jangan-jangan dia ingin memanfaatkan Aries lagi. Karena selama satu bulan ini Bagas yang akan berkuasa atas cewek itu.


Aries memalingkan wajahnya ke luar jendela. Tidak menanggapi isi pesan Bagas yang meminta Aries segera menemuinya. Tapi tak lama ponsel Aries kembali berbunyi. Bukan suara notifikasi seperti sebelumnya, lebih seperti dering telepon masuk. Aries mengecek layarnya. Tertulis nama Bagas disana.


“Apa?” ucap Aries meletakkan benda pipih itu di telinganya. Terdengar suara berat Bagas dari seberang sana, meminta Aries segera menemuinya.


“Ke kantin sekarang! Kalo lo nggak dateng, gue yang bakal samperin lo. Ngerti?” titahnya. Aries menggeram dalam hati. Ia tidak suka bila disuruh cepat-cepat seperti ini. Aries mengatur napasnya sebelum menjawab.


“Iya tau! Sabar kali!” jawabnya, langsung mematikan sambungan.


Didepannya, Arya yang mendengar Aries berbicara dengan seseorang ditelepon dengan nada kesal akhirnya curiga.


“Tadi yang nelepon siapa?” tanya Arya ingin memuaskan rasa curiganya.


“Orang gila,” jawab Aries asal, masih dengan nada kesal. “Ya udah, aku duluan ya.”


“Kemana?” tanya cowok itu yang masih curiga.


“Ketemu orang gila,” jawab Aries, kemudian menghilang dari hadapan Arya.


Arya masih belum paham, siapa "orang gila" yang dimaksud Aries. Apa itu musuhnya? Tapi siapa. Aries memiliki lebih dari satu musuh bukan.


***


Sesampainya dikantin, Aries melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan Bagas. Biasanya ia dan teman-temannya menempati meja paling tengah, meja favoritnya. Tapi sekarang meja itu kosong.


“Lo mau ngerjain gue? Katanya ketemuan di kantin, kemana lo?” marah Aries kepada si penelpon.


“Siapa bilang mau ketemuan. Gue itu suruh lo ke kantin buat beliin gue makanan. Entar kalo udah langsung bawa ke kelas gue. Ngerti?” ucap Bagas seenak jidat.


Aries menggeram. “Kurang ajar ya lo! Bilang aja lo mau ngerjain gue! Udah capek-capek kesini juga.”


“Heh gue serius, buruan beliin gue makanan! Awas kalo sampai lo kabur!” ancam Bagas, menekan Aries supaya keinginannya terpenuhi.


“Bodo!” Aries langsung mematikan sambungan. Ia merasa dipermainkan. Kenapa ia malah terjebak dalam permainan Bagas ini. Kalau Aries tidak memenuhi permintaan Bagas, bisa-bisa ia kehilangan benda kesayangannya, yaitu kalung ibunya.


Beberapa detik kemudian Aries mendapat pesan dari Bagas yang berisi berbagai macam pesanan yang ia mau.


“Astaga, banyak amat! Tuh orang pasti sengaja bikin susah gue,” gumamnya.


***


Setelah membeli macam-macam makanan yang Bagas minta, Aries langsung menuju ke kelas cowok itu. Karena kelasnya ada dilantai tiga, mau tidak mau Aries harus menaiki tangga. Belum lagi dengan barang bawaannya yang cukup banyak membuat Aries semakin kesusahan.


Ia menapaki tangga demi tangga dengan hati-hati. Orang-orang yang melihatnya membawa bungkusan makanan hanya melirik-lirik aneh. Aries berusaha mengabaikan cibiran mereka, meski wajah kesalnya terpampang jelas.


“Doh, kalo jalan hati-hati dong!” tegur Aries kepada seseorang yang menabraknya pelan dari belakang.


“Elo yang ngalangin jalan,” jawabnya.


Tak disangka, orang yang ada dihadapannya adalah Bima, salah satu kawan Bagas. Aries tak membantah, ia sudah lelah berurusan dengan orang lain.


“Lagian kenapa lo lewat sini? Emangnya lo mau kemana?” tanya Bima ketika melihat Aries membawa tas plastik berisi bungkus makanan sterofoam.


“Ke kelas temen lo yang nyebelin itu,” jawab Aries, berlalu melanjutkan langkahnya. Meski masih belum mengerti kenapa Aries hendak ke kelas Bagas, Bima langsung menyusul Aries, berjalan sejajar dengannya.


“Maksud lo, lo bawain makanan ini buat Bagas?” Bima memulai perbincangan.


“Hm,” jawab Aries singkat tanpa membuka mulut.


“Kenapa tiba-tiba lo jadi perhatian gitu ke Bagas? Pake acara bawain makanan segala.” Bima berusaha mengorek informasi tentang hubungan Aries dengan sahabatnya.


“Perhatian? Cih, gak sudi! Gue terpaksa tau!” sahut Aries.


“Terpaksa maksud lo?”


Aries menghela napas. “Gue terpaksa harus turutin semua permintaannya Bagas.”


“Harus? Kenapa emang?” Bima nampaknya makin curiga. Aries yang sadar ucapannya tidak bisa diralat, mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Lo tanya sendiri aja sama temen lo!” Aries mempercepat langkahnya.


Tak lama ia sampai dikelas yang dijanjikan. Sudah ada Bagas dan dua temannya yang lain duduk menunggu diatas meja. Sadar makanan yang ditunggu sudah datang, Bagas mengembangkan senyumnya.


“Akhirnya dateng juga. Lama banget lu, sini!” perintahnya.


Aries kemudian memasuki ruang kelas yang tengah sepi tersebut, disusul oleh Bima yang berada dibelakangnya.


“Nih! Mau minta apalagi?” sindir Aries, meletakkan makanan itu ke atas meja Bagas.


“Oh… jadi ini yang lo maksud delivery?” ujar Aldo, dibalas anggukan oleh Bagas.


“Sekarang gue nggak perlu lagi capek-capek ke kantin, 'kan udah ada asisten pribadi,” sahut Bagas melirik Aries.


Aries yang sudah tidak tahan lagi memutuskan untuk keluar dari kelas, sebelum dirinya meledak karena hinaan yang terlontar dari mulut Bagas.