ARIES

ARIES
Pemberian



Vote, like dan rate jangan lupa


Selamat membaca


∞∞∞


Menjelang seleksi, tinggal satu minggu lagi, Aries semakin gencar belajar mandiri. Bahkan ia meminta izin kepada guru yang mengajar hari ini untuk menghabiskan waktu seharian di perpustakaan. Namun meski begitu, Aries tidak pernah terlambat makan semenit pun. Karena ia tahu kesehatannya juga tidak kalah lebih penting. Waktu istirahat pun Aries menyempatkan pergi ke kantin walau lima menit.


“Hai,” sapa Aries lesu, memegang pundak Dara yang tengah bermain ponsel.


“Aries, sini duduk.” Dara sedikit bergeser, memberi ruang untuk Aries.


“Lama nggak keliatan, gimana belajarnya? Jangan terlalu dipaksain loh” ujar Juna.


“Iya-iya, gue cuma agak capek aja kok” jawab Aries menopang dagu. Matanya terlihat sayu, seperti orang mengantuk. Ditambah lagi tubuh Aries yang nampak lesu, tidak seperti biasanya yang selalu berenergi. Itu yang membuat teman-temannya khawatir.


“Udah makan belom? Kalo belom aku ambilin makanan ya” tawar Aji perhatian.


“Udah kok tadi. O iya, Arya, nanti aku minta tolong nitip tugas dari Bu Ani ya, soalnya aku belom bisa balik ke kelas, nggak papa 'kan?”


Arya mengangguk, “Iya nggak papa tenang aja.”


“Iya udah kalo gitu aku pergi dulu ya,” pamit Aries.


“Loh baru juga dateng, masa udah pergi lagi” ucap Megan. Aries menyengir tidak enak.


“Ya mau gimana lagi, maaf ya.” Aries kemudian pergi, sempat melambaikan tangan.


Namun belum jauh Aries berhenti karena ada yang memanggilnya. Arya dengan senyum manisnya menyodorkan minuman botol kepada Aries. Bukan minuman biasa, itu adalah minuman penambah cairan. Cocok untuk Aries yang banyak beraktivitas.


“Makasih ya” ucap Aries. Dan dibalas anggukan kepala.


“I-iya udah, aku… duluan.” Aries tiba-tiba salah tingkah setelah menerima pemberian dari Arya. Dia tidak berani melakukan kontak mata langsung dengannya, maka dari itu Aries buru-buru pergi sebelum wajahnya bersemu merah.


***


Di persimpangan koridor, Aries tidak sengaja menabrak seseorang sampai membuat bukunya jatuh berserakan.


“Sorry” reflek Aries meminta maaf. Ia sadar dirinya yang salah karena berjalan sambil mengucek mata. Cowok yang ditabraknya membantu Aries mengumpulkan bukunya kembali.


“Masih sempet-sempetnya gambar lu?” ucap Bima sambil menyodorkan jurnal gambar milik Aries.


“I~ya suka-suka gue lah,” jawabnya. Bima pun pergi tanpa berekspresi sedikitpun. Ya memang itulah kebiasaannya, datar, dingin, dan jutek.


Sampainya di perpus, Aries segera melanjutkan aktivitasnya belajar. Ia sengaja memilih duduk sendiri di meja dipojok paling belakang, itu karena ia tidak ingin konsentrasinya terganggu oleh orang-orang yang sengaja bermesraan didalam perpus. Meski letaknya sudah tersembunyi, tapi masih ada orang yang bisa mengamatinya dari jauh.


Bagas sengaja ingin mengawasi cewek itu, dengan mengintip melalui celah diantara buku-buku yang tersusun rapi di rak. Dia hanya ingin tahu sejauh mana Aries mempersiapkan diri untuk seleksi.


Dengan bersenjatakan spidol hitam, Bagas berniat mengerjai Aries yang tengah tertidur. Bagas hanya perlu berjalan pelan agar tak membangunkan cewek itu. Dia mengamati sejenak wajah damai Aries yang tertidur diatas meja, dengan tangan kanan sebagai tumpuan. Ketika sedang tidur, wajah Aries nampak polos seperti tak ada dosa. Namun itu tidak membuat Bagas mengurungkan niatnya mengerjai Aries. Ia mencoret-coret wajah Aries berantakan. Di pipi, hidung serta dahinya tak luput dari coretan. Setelah selesai, Bagas menahan tawanya. Sepertinya cewek itu sangat kelelahan sampai ia tidak sadar ada yang mengganggunya.


Setelah puas mengamati wajah cemong Aries, Bagas beralih mengambil buku diatas meja tempat Aries tertidur. Diantara buku-buku teori fisika, ada satu buku yang menarik perhatian. Buku bersampul hitam pekat dilengkapi penjepit. Karena penasaran, Bagas membuka lembar demi lembar buku tersebut. Menampilkan berbagai gambar yang unik-unik. Beberapa diantaranya adalah gambar tokoh fiksi, seperti elf, makhluk bersayap, dan gambar abstrak yang seakan memiliki nyawa.


Bagas mengerutkan kening, ternyata cewek itu memiliki imajinasi yang liar. Ya… itu selaras dengan sifat-sifatnya yang agak absurd.


Tak lama Bagas melihat pergerakan di kelopak mata Aries, cewek itu terbangun. Ia mengangkat wajahnya seraya mengusap mata. Dan betapa terkejutnya dia, saat mendapati orang yang paling dibencinya membuka-buka buku pribadinya.


“Heh, lancang banget lo. Siapa yang suruh lo buka-buka buku gue?!” Aries langsung menyambar bukunya kembali.


“Biasa aja kali. Gambar lo jelek, norak” ucap Bagas. Padahal tadi dalam hatinya ia memuji gambar Aries.


“Gue nggak minta pendapat lo” ketus Aries. “Ganggu aja!” lanjutnya.


Setelah merapikan buku-bukunya, Aries keluar dari perpus karena merasa terganggu dengan kehadiran Bagas.


“Aries?” Dara memicingkan matanya ketika melihat Aries lewat. “Ya ampun, muka lo kenapa?” sambungnya.


“Muka gue?” reflek Aries memegang pipinya sendiri. Namun ia masih belum sadar ada sesuatu diwajahnya. Sampai Dara memberikan cermin.


“Astaga!” serunya. “Ini pasti kerjaannya Bagas. Dasar cowok sialan!” teriaknya.


Ia lalu berjalan cepat menuju toilet, dengan wajah ditutupi buku. Sesampainya disana, Aries membanting bukunya diatas wastafel. Ia menganga melihat wajahnya penuh dengan coretan spidol. Berkali-kali wajahnya ia basuh, dengan sekuat tenaga ia berusaha menghilangkan coretan diwajahnya. Untung bukan spidol permanen, jadi masih bisa dihilangkan meski wajahnya memerah.


“Brengsek tuh cowok! Gue udah ngejauh masih aja kena. Maunya apa sih!” umpatnya.


***


Kringg...


Jam terakhir pun usai. Seperti biasa, Bagas pulang paling akhir karena mengikuti ekskul basket. Di parkiran, Bagas melihat sepeda motor terparkir tepat di samping mobil miliknya. Motor matic itu terasa tidak asing bagi Bagas.


“Kek kenal nih motor” gumamnya.


Tak lama Aries datang dan memakai helm yang terdapat di spion kiri motor itu.


“Heh, lu dapet motor ini dari mana?” tanya Bagas menyelidik.


“Kepo lu” jawab Aries singkat. Bagas memegang stang motornya, menghalangi Aries yang hendak tancap gas.


“Lo nggak mungkin mampu beli motor ini 'kan. Jangan bilang ini pemberian bokap gue” ucap Bagas. Ia sadar motor ini adalah motor yang sama yang terparkir di garasinya waktu itu. Tidak sangka, ternyata motor itu dibeli untuk Aries.


Aries menghela napasnya, “Kalo lo dah tau jawabannya, kenapa mesti nanya.”


Bagas semakin melebarkan matanya geram. Dia menggenggam lengan Aries kasar.


“Lo emang nggak tau malu ya. Lo apain bokap gue sampe dia ngasih segalanya ke elo. Beasiswa, pekerjaan, dan sekarang ngasih motor. Jangan-jangan lo udah guna-guna bokap gue ya," tuduhnya.


Aries mensejajarkan tubuhnya dengan Bagas. “Elo kalo ngomong kenapa enggak pernah dipikir dulu sih, hah? Sebelum lo nuduh orang, lo introspeksi diri lo sendiri, bisa?”


Aries kemudian pergi dengan motornya, meninggalkan Bagas yang masih terdiam kaku. Cewek itu, kalau sudah bicara selalu berhasil membuat Bagas bungkam karena kesal.


***


Sesampainya dirumah, kebetulan ayah Bagas baru saja pulang bersamaan dengannya. Jadi Bagas bisa langsung meminta penjelasannya.


“Pa, papa beli motor buat anak baru itu ya?”


Ayahnya yang baru saja menanggalkan jas menatap putranya mengerti.


“Iya. Syukur deh kalo dipake, papa kira Aries bakalan nolak.”


Bagas berdecak kesal, “Ck, kenapa sih, papa ngasih sesuatu yang nggak penting ke dia? Bisa-bisa dia jadi ngelunjak, nanti minta ini minta itu.”


“Gas, papa beli motor buat Aries karna jarak rumah Aries sama sekolahan itu jauh, jadi kasihan kalo tiap hari harus naik angkot, belom lagi kalo telat.” Pak Fakhtur berusaha memberi pengertian.


“Ya itukan bukan urusan papa. Siapa suruh sekolah disekolah yang gak pantes buat dia.”


“Bagas, kamu nggak boleh nilai orang dari kastanya. Aries itu lebih baik dari kamu.”


Bagas terkekeh pelan, “Apanya yang lebih baik dari anak seorang kriminal.”


Pak Fakhtur langsung berkata dengan tegas. “Dia lebih bisa menghargai papa ketimbang kamu, ngerti!”


Bagas tidak lagi bersuara. Ketika ayahnya sudah membentak itu artinya ucapan ayahnya sudah tidak bisa dibantah.


Bagas semakin membenci Aries. Dia merasa ayahnya lebih memperhatikan orang lain dari pada memperhatikan anaknya sendiri. Padahal Bagas sudah berusaha mencuri perhatian ayahnya dengan mengikuti olimpiade, dan membuktikan bahwa Bagas adalah orang yang bisa diandalkan. Tapi ayahnya tidak pernah memperhatikannya, dan menganggap Bagas masih kekanak-kanakan. Butuh bukti apa lagi supaya Bagas mendapat pengakuan dari ayahnya.