
“Eh, Gas, gue masih nggak ngerti, kok bisa cewek itu nurut sama lo? Bukannya kalian itu musuhan? Dan gue yakin banget dia itu tipe orang yang harga dirinya itu tinggi. Jadi mana mungkin dia mau disuruh-suruh gitu aja.”
Pertanyaan Rico seakan mewakili kedua temannya yang lain. Mereka sama-sama bingung lantaran Bagas tidak berniat memberitahu mereka tentang rencananya.
“Ya mungkin aja,” jawab Bagas. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Itu bukannya kalungnya Aries?” tanya Rico sambil memajukan kepalanya.
“Kok bisa sama lo?” sambung Aldo.
“Ya bisalah, gue itu lebih cerdik dari dia,” jawab Bagas bangga. “Gue bisa manfaatin kalung ini buat bikin dia tunduk. Gimanapun juga, gue yang bakal menang.”
Bagas memasukkan kembali kalung itu ke dalam sakunya. Kemudian melanjutkan aktivitasnya makan di kelas. Kini teman-temannya mengerti, kenapa Aries berubah sikap.
“Hm… pinter juga lo!” respon Aldo mendukung.
“Terus, sampai kapan lo bakal manfaatin dia?”
“Cuma satu bulan sih. Tapi gue rasa itu cukup. Gue bakal bikin dia sibuk sampai ujian akhir semester, jadi dia gak ada waktu buat belajar, dan gue yang bakal jadi nomor satu disekolah. Hidup gue bakal jadi kayak dulu lagi, gak akan ada saingan.”
Bima menghela napasnya mendengar rencana temannya yang satu ini. Ia senang temannya menjadi nomor satu disekolah, tapi dengan cara menyingkirkan Aries dengan paksa justru membuat Bagas terkesan lemah karena tidak bisa mengalahkan Aries dengan jujur.
***
Di taman, Aries duduk dibawah pohon besar sambil menggoreskan tinta hitam diatas jurnal gambar nya. Ia melukis sebuah kolam ikan yang berada beberapa meter dari tempatnya. Menggambar sesuatu yang dilihat sama sekali tidak membantu menenangkan pikirannya.
“Harusnya gue gak nerima perjanjian sialan itu. Itu sama aja gue kehilangan harga diri gue sendiri,” ucapnya menyesal. Aries melenguh panjang, menempelkan dahinya diantara lutut.
Belum puas ia bergulat dengan batinnya, sebuah benda dingin menyentuh pipinya tiba-tiba.
“Duh.”
Aries menyentuh pipi kanannya yang sedikit basah. Ia mengurungkan niat untuk mengumpat saat tahu yang mengganggunya adalah Juna, temannya.
“Ngapain ngalamun disini?” Juna langsung duduk disebelah Aries.
Cowok itu lantas menyodorkan sebuah es krim stik yang masih di bungkus rapi. Aries mengambil dan memakan es krim itu tanpa mengatakan apa-apa. Dasar Arjuna, sepertinya ia tahu isi pikiran Aries. Makanya dia memberikan es krim rasa mangga kesukaan Aries agar mood-nya kembali.
Dibawah pohon rindang itu, tidak ada percakapan yang cukup lama. Aries dan Juna sama-sama fokus pada es krim mereka masing-masing. Sampai akhirnya Aries menyerah dan memberitahukan unek-uneknya.
“Oh… jadi tadi pagi lo nempel terus sama Bagas itu karna lo punya janji sama dia?” respon Juna setelah Aries menceritakan nasibnya menjadi asisten pribadi Bagas.
“Iya. Dan gue merasa gak ikhlas gitu diperlakukan seperti pembantu, sopir! Gue kayak kehilangan harga diri!”
“Kalo gak suka kenapa gak lo tolak?”
Mendengar saran Juna yang sama sekali tidak membantu membuat Aries memutar bola matanya malas. “Kalo gue nolak, gue bakal kehilangan benda berharga gue!”
Juna mengangguk mengerti. “Gimana kalo gue bantuin lo ambil balik kalung lo itu, jadi kan Bagas gak punya alasan buat manfaatin lo lagi.”
Aries berbalik dan bertanya. “Caranya?”
***
Ketukan bolpoin di meja semakin terdengar nyaring. Aries menggigiti kuku sambil melirik-lirik jam didepan sana. Kaki kirinya pun tidak bisa diam. Ia sudah menunggu dua jam lamanya untuk mendengar bel istirahat dibunyikan kembali.
Ketika suara nyaring itu terdengar, secepat kilat Aries menutup bukunya dan berjalan cepat menuju luar kelas. Bahkan Arya yang hendak mengajaknya ke kantin pun tidak memiliki kesempatan untuk berucap. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan cewek itu, sampai membuatnya gelisah dua jam terakhir.
***
Dikelas lain, Bagas yang baru mendengar suara bel tidak berniat beranjak dari tempat duduknya. Ia lebih memilih memasang earpods di telinganya dan menenggelamkan kepalanya diatas tas sebagai bantal. Sampai Juna datang dan menganggu setengah tidurnya.
“Ekhem.”
Hanya dengan berdehem Juna mampu membuat wajah Bagas terangkat. Ia lalu melepas earpods nya dan memasang wajah malas.
“Mau apa lo kesini?!” ketus Bagas. Juna mengambil kursi disebelah Bagas dan duduk mendekat.
“Gue mau ngajak lo tanding basket,” ucap Juna percaya diri.
“Gue gak ada waktu!” jawab Bagas menolak.
Juna justru terkekeh kecil. Apa katanya? Tidak ada waktu? Bukannya tadi Bagas terlihat menghabiskan waktu dengan tidur-tidur an dikelas.
“Bukan tanding basket biasa. Siapapun yang menang nanti, dia yang bakal jadi kapten tim basket di sekolah. Gimana?”
“Gue gak tertarik.”
“Ayolah, Gas! Gue tau lo jago main basket. Gue tau lo hampir tiap hari latihan itu cuma buat cari kesenangan. Tapi apa salahnya terima tantangan dari gue? Atau lo takut kalah?” ujar Juna menyakinkan.
“Gue gak pernah takut kalah! Gue cuma males tau!” sahut Bagas.
“Oh... Jadi lo lebih milih tidur-tidur an dikelas kayak orang nolep? Ya udah, gue kira lo orangnya berambisi dan berjiwa muda. Tapi ternyata…” Juna hendak beranjak dari tempatnya, berharap Bagas terpengaruh oleh kata-katanya dan menerima ajakan Juna.
“Oke! Gue terima tantangan lo! Tapi gue mau satu lawan satu.” Bagas akhirnya mengikuti permainan yang Juna berikan.
Mereka berdua pun keluar kelas hendak menuju lapangan basket. Aries yang mengintip dari balik dinding menyunggingkan senyum. Ini saatnya!
Perlahan-lahan Aries melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas Bagas. Sambil mengawasi sekitar, Aries berjalan menuju bangku Bagas dibelakang sana. Ia menggeledah tas Bagas diatas meja, berharap menemukan kalung yang dicarinya. Ia mengeluarkan buku dan barang-barang didalam tas hitam itu, tapi tidak kunjung menemukan benda yang dicarinya.
Drtt drtt
Getaran ponselnya menunjukkan ada notifikasi pesan dari Arjuna. Cowok itu menanyakan apakah Aries sudah berhasil mengambil kalungnya kembali. Tentu saja jawabannya belum.
Aries kembali melanjutkan pencarian. Ia bahkan sampai lengah tidak memperhatikan sekitar. Sampai sebuah telapak tangan terulur dari belakang, memperlihatkan kalung hitam yang dicarinya selama ini.
“Cari ini?”
Mata Aries membulat. Suara itu, suara maskulin yang tak asing lagi. Kenapa dia bisa ada disini? Gawat! Aries ketahuan sedang menggeledah tas orang lain.