
“Siang semua,” sapa Bu Iryana–guru sejarah setelah memasuki ruang kelas, dan langsung dijawab murid-murid.
Beliau segera memulai pengajarannya dengan mencatat pokok materi yang akan dibahas dipapan tulis. Ketika Aries hendak merubah posisi duduknya, dia merasa ada yang aneh. Seperti ada sesuatu yang menempel kuat di kursinya. Aries mulai sedikit panik. Berulang kali ia mencoba bergerak, namun sia-sia. Roknya seolah menyatu dengan kursi stainles steel itu. Ini pasti lem, pikir Aries.
Srekk
Suara sobekan kain mencuri perhatian. Mereka sama terkejutnya dengan Aries saat ini. Dia berusaha menutupi bagian belakang nya yang robek menggunakan tangannya. Parahnya lagi, suara cekikikan datang dari berbagai arah.
“Ada apa ini?” Bu Iryana yang juga menyadari kegaduhan ini lantas mendekat.
“Ada lem di kursi saya,” jelas Aries dengan mimik muka gelisah.
Bu Iryana melihat sobekan kain yang masih tertempel di bangku tersebut. “Siapa yang taruh lem di bangku Aries?” bentaknya. Tidak ada jawaban.
Aries yang kadung kesal bercampur malu langsung berlari keluar kelas membawa tas nya, tanpa menghiraukan Bu Iryana yang terus memanggilnya.
Aries pergi ke tempat sepi seperti di taman untuk melampiaskan rasa kesalnya. Dibawah pohon rindang itu, dia menyobek beberapa lembar buku yang ia keluarkan dari tasnya. Dengan perasaan kesal, perempuan itu lalu membanting bukunya sendiri ke tanah berumput.
Tanpa ia sadar dirinya diperhatikan seseorang dari belakang.
***
Saat ini jam mengajar Pak Ridwan sudah kosong. Dari pada sekedar duduk diam di ruang guru, beliau berjalan-jalan menyusuri sekolahan. Ketika melewati koridor dekat taman, guru tersebut melihat seorang siswi duduk sendirian di kursi panjang berwarna putih. Dari kejauhan beliau melihat siswi itu sedang merobek-robek kertas seperti orang kesal. Kenapa pula siswi itu ada disini, bukannya ini masih jam pelajaran? Pak Ridwan mendekatinya untuk bertanya langsung.
“Kamu Arieska 'kan?” tanya pak Ridwan mengejutkan Aries. Cewek itu langsung berdiri berhadapan dengan guru laki-laki itu. Kedua tangannya kebelakang menutupi robekan diroknya.
“Kamu ngapain disini? Kenapa gak masuk kelas?” tanya pak Ridwan sekali lagi.
“Mm...” Aries mencari-cari alasan tapi tidak ada satupun yang keluar dari otaknya.
“Saya sudah dengar soal yang dilapangan basket.” pernyataan pak Ridwan sedikit mengejutkan Aries. Guru itu duduk di bangku taman di dekatnya. Diikuti oleh Aries, karena ia tahu pak Ridwan ingin mengatakan sesuatu.
Guru yang masih muda itu menghela napasnya sebentar.
“Bagas itu sebenarnya anak yang cerdas, berbakat. Tanpa belajar pun dia bisa masuk perguruan tinggi karena otak encer nya. Tapi dia orangnya tidak puas an. Selalu menginginkan lebih. Saya bisa lihat dimatanya kalau dia sebenarnya ingin diakui. Terutama sama ayahnya.” tiba-tiba membicarakan tentang Bagas, membuat Aries sedikit bingung.
“Tapi bukan itu masalahnya,” Aries menanggapi. “Dia gak bisa manfaatkan jabatan orang tuanya untuk berbuat semaunya sendiri. Orang lain juga punya perasaan” lanjutnya.
Pak Ridwan menatap Aries sekilas. Pemikirannya sudah seperti orang dewasa. “Saya tahu, tidak mudah jadi murid baru disini. Harus ada orang yang menunjukkan ke mereka, bahwa derajat seseorang bukan dilihat dari latar belakangnya, tapi dari empatinya. Jadi jangan mau kalah ya.”
Aries nampak menimang-nimang pemikiran yang masuk ke otaknya. Ada yang tersirat dari ucapan guru itu. Mungkin orang yang beliau maksud adalah Aries. Karena sejauh ini, cuma Aries yang memiliki keberanian untuk menentang mereka. Terlepas dari sifatnya yang kaku dan pemarah.
Aries kemudian mengangguk sebagai jawaban. Lagi pula, tanpa disuruh sekalipun dia tidak akan mau kalah dari orang-orang yang sudah berlaku kasar terhadapnya.
***
Bel terakhir dibunyikan. Saatnya mengosongkan parkiran, membersihkan ruangan, dan menutup gerbang utama.
Pukul 4 sore. Dua jam lalu semua kelas sudah dibubarkan. SMU Taruma sudah sepi orang yang berlalu lalang. Hanya anak-anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler saja yang masih mondar-mandir di lapangan. Seperti Bagas dan tiga temannya yang masih berlatih basket walau keringat sudah membasahi lantai.
“Guys, beli minum yuk,” Rico yang mengetahui botol minumannya sudah habis menghentikan Bagas yang hendak menggiring bola basket itu lagi ke atas ring.
“Ya udah yuk,” Bagas mengalah. Sebenarnya dia belum puas, tapi kasihan juga melihat temannya itu mati kehausan.
Sesampainya dikantin, mereka berempat memesan minuman yang sama. Sudah sore begini, rupanya kantin masih dibuka. Ya tentu saja, Bagas yang memintanya. Mereka tidak boleh menutup kantin sampai Bagas dan lainnya pulang. Egois bukan.
“Gas, liat nih. Video cewek itu jadi trending topik lagi,” Aldo antusias menunjukkan layar HP-nya kepada Bagas. Dia terlihat senang.
“Tapi ini parah banget sumpah. Sadis juga rencana lo” timpal Rico.
“Ya iyalah. Kalo dia waras harusnya dia gak berani masuk sekolah lagi. Liat aja nanti.” kata Bima. Bisa ditebak, Bima lah yang menaruh lem di bangku Aries dan juga merekamnya sekaligus membagikannya.
Tak lama, minuman yang tadi dipesan sudah sampai di meja mereka. Bagas yang menjadi pertama mencicipi minuman berwarna merah itu. Baru di sedot sedikit, Bagas sudah memuntahkannya kembali.
“Apaan ini?!” reflek Bagas berdiri dan mengipas-ngipaskan tangan didepan mulutnya. Dia mengambil banyak tissue untuk disumpal ke mulutnya.
“Kenapa sih?” tanya Rico.
“Lidah gue kayak kebakar” katanya sambil menjulurkan lidah.
Bagas kemudian mengambil air mineral dari dalam tasnya dan meminum seluruhnya. Bima membuka tutup cup minuman yang tadi diminum Bagas. Dari luar memang terlihat jus buah naga yang segar, tapi setelah dibuka ada butiran-butiran biji cabai yang bercampur ke dalam jus yang selalu mereka pesan.
“Ini cabe!” seru Bima. Pantas lidah Bagas terasa terbakar, yang dia minum adalah larutan cabai yang sudah dicampur. Dan bukan cabai biasa melainkan cabai rawit yang level kepedasannya diatas rata-rata.
Mendengar hal itu Rico dan Aldo juga memeriksa minuman mereka masing-masing. Ternyata isinya sama. Ini hal yang disengaja. Mereka bertanya-tanya siapa yang berani mengerjai mereka.
Bagas yang tidak terima menghampiri si penjual, disusul teman-temannya.
“Apa ini?! Hah?! Situ mau ngeracuni gue?!” tanpa basa-basi Bagas melempar gelas yang terbuat dari plastik itu.
“Jawab woy! Atau mau gua pecat?!” bentak Bagas pada seseorang dibalik stand minuman yang dia pikir adalah si ibu penjual.
Masih tidak ada jawaban dari perempuan yang sedang berjongkok membereskan sesuatu.
“Heh! Lo budeg apa gimana hah?!” Bagas menggebrak meja karena merasa diabaikan.
Ketika orang itu berdiri menunjukkan wajahnya, mereka sangat terkejut sekaligus jengkel.
“Elo?!”
“Kenapa? Pedes ya, ya iyalah namanya cabe ya pasti pedes” ucap cewek diselingi senyum yang menjengkelkan.
Orang yang sudah membuat lidahnya terbakar adalah cewek yang paling dibenci Bagas.
“Berani lo ngerjain gue?” kata Bagas, menyeret Aries keluar dari stand dan berhadapan langsung dengannya.“Lo pikir lo siapa? Elo itu cuma siswa pungut yang diberi fasilitas bokap gue. Harusnya lo berterimakasih, karena kalo enggak, gue bisa aja tendang elo keluar dari sekolah ini” lanjutnya.
Merasa tersinggung, Aries melepas paksa tangan Bagas yang mencengkeram lengan kirinya.
“Yang nggak tau terimakasih itu elo. Hidup lo udah enak. Kebutuhan lo selalu terpenuhi. Tapi lo bodoh. Elo cuma bisa manfaatin nama bokap lo doang. Berandalan kayak kalian itu lebih pantes disebut pecundang.” ucapan Aries tidak kalah pedasnya dengan minuman Bagas tadi. Kebencian Bagas menjadi naik dua kali lipat. Baru kali ini ada yang menghina dirinya, apalagi dia seorang perempuan.
“Maksud lo apa?! Eh mending besok lo nggak usah masuk ke sekolah ini lagi, mulai sekarang elo gue keluarin” kata Bagas.
Aries malah tertawa mendengar ancaman yang sama sekali tidak berpengaruh padanya.
“Lo itu nggak punya hak sedikitpun ngeluarin gue. Jadi nggak usah berlagak seolah-olah elo penguasa disini. Lebay.”
Cewek yang mengenakan jaket dipinggangnya itu lantas pergi menjauh. Dalam hati Bagas dia mengutuk cewek itu. Dia tidak akan tenang sampai berhasil mengeluarkan Aries dari sekolahnya ini.
“Al, cari tau siapa cewek itu. Siapa orang tuanya, dimana rumahnya, dan semua yang ada hubungannya sama dia. Gue bisa gunain itu sebagai senjata.” Bagas meminta Aldo mencari tahu tentang identitas Aries.
Entah secara sadar atau tidak, Bagas sudah menganggap Aries sebagai musuhnya. Untuk beberapa hari ke depan, akan terjadi perang dingin di SMU Taruma antara cewek bermulut besar dengan cowok arogan.