ARIES

ARIES
Rumah Bagas



“Shh... Sakit!” ucap Bagas sedikit kesal.


“Udah tau sakit, masih aja berantem!” balas Aries, juga ikutan kesal.


Diruangan seperti biasanya, Aries mengobati luka Bagas dengan P3K yang ia temukan di kafe. Setiap Aries menempelkan kapas yang sudah diberi obat ke sudut bibir Bagas, cowok itu tak henti-hentinya mengerang kesakitan.


“Gue berantem juga gara-gara lo kali” ucap Bagas menyalahkan.


“Kenapa jadi gue yang disalahin?”


Bagas menghela dan menghadap lurus cewek itu. “Kalo aja lo bisa jaga harga diri lo sendiri, gue juga nggak perlu turun tangan.”


Aries terdiam dan mengalihkan pandangannya. Bima dan lainnya saling melihat.


“Denger ya, gue gak suka ada karyawan gue dilecehin kayak gitu. Termasuk elo.” ucap Bagas serius.


“Jadi kalo ada pelanggan yang kurang ajar kayak tadi, lawan atau nggak langsung usir. Ngerti!” tegas Bagas. Tak ada jawaban dari Aries.


“Ngerti nggak?!” ulangnya.


“Iya-iya ah” jawab Aries, segera pergi dari ruangan pribadi Bagas.


Setelah Aries menutup pintu, Rico mendekati Bagas. “Bro, kok lo tumben belain tuh cewek? Sampe babak belur lagi. Jangan-jangan benci lo ke Aries udah berubah jadi…”


Belum tuntas Rico menyelesaikan kalimatnya, Bagas langsung menjawab. “Enggak lah! Tadi kan gue udah jelasin alasannya kenapa.”


“Iya deh iya percaya.”


***


Malam sudah semakin larut. Bima, Aldo, dan Rico bahkan sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggallah Bagas sendirian didalam ruang pribadinya, menonton TV namun pandangannya kosong. Sampai ia mendengar suara ketukan, dan pintu terbuka.


“Lo gak mau balik?” tanya Aries, berdiri didepan pintu.


Bagas mengamati dari atas sampai bawah. Cewek itu sepertinya sudah hendak pulang.


“Ntar” jawab Bagas singkat.


Aries menghela, “Ini udah malem, semua karyawan juga udah pada pulang. Gue juga mau pulang.”


“Pulang ya pulang aja sana.”


“Gue nggak bisa pulang kalo lo masih ada disini.”


“Kalo gue mau nginep kenapa?” Bagas meneguk minuman.


Aries memutar bola matanya malas. “Rese' banget lu.”


Aries yang hendak keluar dihentikan oleh Bagas. “Tunggu! Lo pulang naik apa?”


“Gue bawa motor” jawab Aries menunjukkan kunci motornya.


“Nih, jangan lupa entar pintu depan dikunci” sambung Aries, meletakkan kunci-kunci diatas meja dekat pintu.


“Sama nanti kalo pintu belakang ada yang ketok-ketok, jangan dibukain. Kadang penunggunya emang suka usil. Oke!” ucap Aries membuat parno Bagas. Apa maksudnya "penunggu?".


Gara-gara ucapan Aries tadi, bulu kuduk Bagas jadi berdiri. Suasananya yang sunyi malah membuat Bagas menjadi paranoid. Jadi ia mengurungkan niatnya untuk menginap di kafe semalaman. Ia lalu menyusul Aries ke depan sebelum benar-benar ditinggal sendirian.


“Diem lu” balas Bagas. Aries tersenyum mengejek Bagas. Ternyata cowok yang terkenal cool itu juga punya rasa takut terhadap makhluk halus.


Setelah selesai mengunci pintu, Bagas berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari motor Aries. Ia sempat melihat Aries terdiam dan memegang kepalanya. Saat didekati, tubuhnya oleng dan hendak terjatuh.


“Eh eh, lu kenapa?” Bagas menahan tubuh Aries.


“Kepala gue pusing” jawab Aries lemah. Wajahnya juga terlihat pucat. Apa ia sakit karena tadi kehujanan?


“Iya udah deh, gue anterin lo pulang.” Bagas menuntun Aries memasuki mobilnya. Untung Bagas sudah mengetahui jalan ke rumah Aries. Ya, hanya jalannya saja, tidak dengan rumahnya.


Makanya Bagas bingung ketika sudah ada didepan gang yang dilalui untuk sampai di rumah Aries. Ia tidak tahu persis dimana letak rumahnya. Si empunya rumah juga dari tadi sudah tidur nyenyak.


“Woi, bangun woi.” Bagas mencoba membangunkan Aries dengan menepuk pundaknya. Tapi tak kunjung membuka mata. Bagas menyentuh kening Aries, memastikan apakah ia demam. Tapi Bagas tidak merasakan panas pada tubuh Aries.


Bagas menghela napas. Terpaksa ia harus membawa gadis itu pulang bersamanya.


“Nyusahin aja sih lu” gumamnya. Kemudian mobil Bagas kembali melaju ke jalan raya.


***


Pusing. Itulah yang Aries rasakan. Bukannya tidur seperti yang Bagas duga, Aries benar-benar pingsan.


Pelan-pelan ia membuka matanya, menyentuh bagian belakang kepala yang masih berdenyut. Setelah rasa sakitnya reda, Aries menyesuaikan pandangannya. Ia baru sadar kalau ia masih didalam mobil. Ya, mobil Bagas. Aries melihat ke sampingnya, di kursi kemudi, Bagas sudah tidak ada disana. Apa Aries dikunci didalam mobil? Apa jangan-jangan ini rencana Bagas untuk mengerjai Aries lagi? Kalau iya, Bagas sudah keterlaluan.


Gadis itu melepas sabuk pengaman yang masih terpasang. Kemudian mencoba membuka pintu mobil. Terbuka! Aries keluar dan melihat sekeliling. Didepan sana, sebuah rumah yang cukup besar, oh ralat, sangat besar. Lebih seperti mansion. Aries melihat kebelakang. Gerbangnya saja agak jauh dari halaman rumah.


“Woi! Ngapain berdiri disitu? Sini!” teriak Bagas dari teras rumah. Aries berbalik. Melihat cowok itu memakai kaos oblong dan celana boxer, terlihat santai-santai saja, membuat Aries sedikit tersinggung. Bisa-bisanya Bagas bersikap biasa saja, padahal Aries baru saja pingsan, bukannya dibantu malah ditinggalkan sendiri didalam mobil. Keterlaluan!


Aries akhirnya menghampiri Bagas sambil terus melihat sekeliling.


“Ngapain lo bawa gue kesini?” tanya Aries.


“Tadinya mau nganterin lo pulang, tapi gue nggak tau rumah lo sebelah mana. Elo juga, malah enak-enakan tidur.” jelasnya.


Tidur? Memangnya dia tidak bisa membedakan mana tidur mana pingsan?–pikir Aries.


“Masuk!” titah Bagas. Aries hanya menurut.


Sesampainya diruang tamu, Aries mengedarkan pandangannya.


“Ini rumah lo?” tanya Aries.


“Hm” jawabnya singkat.


Bagas kemudian membawa Aries ke salah satu kamar kosong.


“Malem ini lo tidur disini dulu” ucap Bagas setelah membuka pintu kamar yang cukup luas.


“Ah enggak ah, mendingan gue pulang aja” jawab Aries. Ia memang kurang nyaman kalau harus menginap dirumah orang lain. Apalagi ini rumah musuhnya.


“Eh, Oneng! Ini tuh udah malem ya, motor lo masih ada di kafe, gue juga nggak mau nganterin lo pulang. Gue mau tidur. Bye! ” ujar Bagas keluar dari kamar itu tanpa mau mendengarkan Aries terlebih dulu.


Terpaksa, Aries harus bermalam dirumah ini. Lagipula dia juga sangat lelah. Matanya terasa berat, lebih berat dari badannya sendiri. Akhirnya Aries merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu, dan mulai menjelajahi alam mimpi.