
Suara alunan gitar menguasai kamar luas namun berantakan itu. Diatas kasurnya, Bagas duduk bersandar sambil memainkan gitarnya. Padahal jam sudah pukul tiga pagi. Ia tidak bisa tidur malam ini. Entah karena apa, pikiran Bagas terngiang oleh gadis itu, siapa lagi kalau bukan Aries. Untuk menghilangkannya Bagas memilih bermain gitar sambil mendengarkan musik dari ponselnya melalui headset.
Lama-lama Bagas juga bosan menghabiskan waktu menunggu fajar hanya dengan bermain gitar, ataupun mendengarkan musik. Ia lalu berjalan menghadap cermin berukuran besar di sebelah ranjangnya. Wajahnya mendekat. Luka disudut bibirnya sudah mulai memudar. Luka yang saat itu ia dapat karena menolong Aries. Ia menyentuh bekas luka itu dengan jari jempolnya. Seketika ia teringat dengan gadis itu kembali. Bagas justru mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa cewek itu ada di kepala nya akhir-akhir ini?
Waktu terus berlalu. Bagas juga masih belum bisa menutup matanya. Sampai jam menunjukkan angka lima, cowok itu memilih untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah lebih awal. Kalau biasanya Bagas ke sekolah tanpa sarapan, maka hari ini ia menyempatkan memakan makanan dimeja makan. Mumpung keluarganya yang lain masih belum bangun.
***
Di lain tempat, Aries yang baru saja bangun dari tidurnya langsung ke kamar mandi. Ia sudah menyiapkan handuk dan seragamnya. Tapi ketika sampai dikamar mandi, ia bingung karena keran tidak kunjung mengeluarkan airnya. Sudah diputar berulang-ulang, namun ember besar dibawahnya masih saja kosong. Ia hanya bisa mengeluh.
“Duh! kenapa pake mati segala sih nih air, trus gue mandinya gimana dong.”
Aries meletakkan tangan kirinya didepan dada, sementara tangan kanannya menyentuh bibir bawahnya, berpikir.
“Apa gue langsung berangkat aja ya? Tapi 'kan jorok, masa ke sekolah gak mandi sih,” gumamnya.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Aries mendapatkan cara bagaimana ia bisa mandi pagi ini. Dia lalu mengemasi peralatan mandinya seperti sikat gigi, sabun dan lain-lain ke kotak plastik transparan. Kemudian ia mengganti pakaian dengan seragam hari ini. Sebenarnya ia tidak yakin dengan rencananya, namun bagaimana lagi, Aries tidak memiliki pilihan lain.
***
Disatu sisi, Bagas sudah melajukan mobilnya di jalanan yang masih lengang. Bisa dibilang, ini pertama kalinya Bagas berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Tidak lagi terlambat seperti biasanya. Padahal berangkat pagi juga menyenangkan. Selain jalanan masih sepi, tidak terkena macet, udaranya pun juga masih segar, pikir Bagas. Kalau saja ia bisa bangun pagi setiap hari, Bagas tidak akan pernah terlambat lagi.
Sesampainya disekolah, gerbang terbuka lebar. Mobil-mobil dan kendaraan lain masih belum terlihat diparkiran. Kecuali satu motor yang sangat ia kenal. Motor milik Aries. Rupanya gadis itu datang lebih awal dari Bagas.
Setelah menaruh tasnya di kelas, Bagas berkeliling melihat-lihat gedung dan halaman sekolah yang masih sangat sepi, tidak ada satu orang pun. Apa seperti ini rasanya datang paling awal?
Sampai di bagian belakang, Bagas melihat ada seseorang yang baru keluar dari pintu kamar mandi. Bagas menyipitkan mata, itu Aries!
Cewek itu berjalan sambil celingukan seakan menghindari saksi mata. Ditangannya ada kotak berukuran sedang berisi peralatan mandi. Bagas pun menghampirinya.
“Heh, ngapain lo mindik-mindik gitu? Mencurigakan banget,” ucap Bagas, membuat Aries terkejut dalam hati, dan menyembunyikan wadah alat mandi dibalik badannya.
“Enggak, perasaan lo aja kali. Buruk sangka mulu lo,” jawab Aries tak berani menatap mata lawan bicaranya.
Tapi Bagas tidak mau percaya begitu saja. Ia semakin menelisik gerak-gerik Aries seperti menyembunyikan sesuatu.
“Lo nyembunyiin apa dibelakang lo?” ucap Bagas to the poin.
“Gak ada. Gak penting,” jawab Aries kaku.
“Liat nggak!” Bagas memaksa meraih benda dibelakang Aries.
“Enggak! Lo apaan sih, gak usah kepo deh.”
“Liat doang kenapa sih?” ngotot Bagas.
“Enggak!”
Aries masih bisa mempertahankan barang miliknya. Tak hilang akal, Bagas mencoba trik lain.
“Pak Ridwan? Pagi, Pak.”
Mendengar Bagas menyapa seseorang dari arah belakangnya, membuat Aries semakin was-was. Ia lalu berbalik untuk memberi penjelasan kepada guru itu. Tapi sial, Bagas justru berhasil mengambil wadah Aries saat Aries lengah. Rupanya itu hanya jebakan.
“Apaan nih?” Bagas mengangkat kotak itu sejajar dengan kepalanya. Karena kotak itu berwarna transparan, Bagas jadi bisa melihat sekumpulan peralatan mandi didalam sana.
“Eh, balikin nggak!”
“Jangan bilang lo numpang mandi disini,” ucap Bagas penuh penekanan. Sial, Aries ketahuan, bisa malu dia kalau Bagas tahu ia mandi disekolah.
“Y-ya emang kenapa? Suka-suka gue dong,” jawab Aries gagu.
“Heh, denger ya, kamar mandi disini itu digunakan buat anak-anak yang ikut ekskul renang. Elo nggak bisa seenaknya gunain fasilitas sekolah untuk keuntungan pribadi lo,” jelas Bagas.
“Emang semiskin apa sih lo, sampe mandi aja harus numpang di sekolahan,” lanjutnya.
“Heh, air dirumah gue itu mati. Jadi gue terpaksa mandi disini ngerti?!” ucap Aries tak terima.
“Ya itu bukan urusan gue dong. Pokoknya elo gak bisa pake fasilitas sekolah seenaknya tanpa seizin gue ataupun pihak sekolah. Itu jelas-jelas udah melanggar peraturan. Jadi sekarang lo harus bayar.” Bagas menengadahkan tangan kirinya, seperti preman yang sedang memalak uang.
“Enak aja! Enggak ah! Lagian gue mau mandi disini kek, dirumah kek, itu bukan urusan lo,” tolak Aries.
“Lo denger baik-baik ya, cewek abnormal. Di dunia ini tuh gak ada yang gratis. Lo pikir air yang lo pake buat mandi itu dapet dari tadahan air hujan? Hah? Mikir dong! Sekarang bayar.” Bagas semakin menekan Aries, dan memaksa Aries mengganti biaya air yang sudah ia pakai. Dasar cowok perhitungan, pikir Aries.
“Perhitungan banget sih jadi orang. Nggak! Gue gak mau bayar!” Aries tetap kekeuh pada pendiriannya.
Tapi Bagas masih mempunyai ide cadangan untuk mengerjai Aries.
“Ya udah kalo lo nggak mau. Gue tinggal kasih bukti ini ke kepala sekolah, trus gue sebarin ke media, biar semua orang tau kalo elo itu orang yang gak tau malu,” ucapnya, kemudian melenggang pergi.
“Gas! Bagas!” Aries mengejar Bagas yang semakin menjauh darinya. Ia harus bisa membujuk cowok itu supaya melupakan masalah ini.
Namun belum sempat Aries melakukan, Aji dengan pedenya mengajak Aries ke ruang galeri seni untuk mengadakan rapat ekskul. Tanpa memperhatikan wajah gusar Aries, ia tiba-tiba menarik tangannya tanpa mendengarkan penjelasan Aries terlebih dahulu.
***
Waktu sudah semakin siang, Aries sudah berkumpul di kantin dengan teman-temannya seperti biasa.
“Ra, lo kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?” ucap Megan memperhatikan Dara yang dari tadi senyum-senyum sendiri memandangi sebuah kotak perhiasan.
“Enggak, gue cuma lagi seneng aja. Liat nih! Bagus nggak?” jawab Dara semangat menunjukkan kalung emas berbentuk hati.
“Bagus-bagus,” tanggap Megan.
“Halah, palingan juga dapat dari Aldo, iya 'kan?” celoteh Juna.
Dara menyengir kuda, “Iya.”
Juna menghela napas. “Ra, Ra, mau sampe kapan lo putus nyambung putus nyambung terus sama Aldo? Udah tau tuh anak terkenal playboy, palingan juga yang dikasih kalung bukan cuma elo, tapi banyak cewek lain.” Juna menasehati.
“Ya mau gimana lagi, namanya juga orang jatuh cinta,” jawab Dara mengelus-elus kalungnya itu.
Semuanya menggelengkan kepala melihat Dara yang sedang kasmaran.
“Emang apa bagusnya sih tuh kalung? Di pasar Minggu juga ada banyak kali. Bagusan juga kalung Aries, limited edition, itu baru spesial,” ucap Aji.
“Ih… biarin kenapa sih, ganggu orang lagi seneng aja lo,” protes Dara. Yang lainnya tertawa menanggapi.
“O iya, Ris, kalung lo kemana, kok tumben gak dipake? Ketinggalan ya?” tanya Megan, membuat kening Aries berkerut. Reflek tangan Aries memegang area lehernya sendiri. Dia bahkan tidak sadar kalungnya tidak ada.
“Eeh... Kayaknya iya deh ketinggalan,” ucap Aries bohong.
Sebenarnya ia ingat kalungnya ada dimana. Karena tadi pagi saat Aries berangkat ke sekolah ia masih memakainya. Lalu ketika mandi, ia melepaskan kalung itu dan diletakkan didalam wadah alat mandi. Pasti masih ada disana. Tapi kan kotak itu ada pada Bagas. Bisa gawat kalau kalung itu sampai hilang. Karena itu adalah satu-satunya peninggalan almarhumah ibunya. Aries harus bicara pada Bagas sekarang!