
Bagas mengacak-acak rambutnya menggunakan handuk kecil yang ia dapat dari lokernya sendiri. Dia menggeram kasar.
“Sialan. Siapa sih tu cewek? Berani-beraninya bikin gue basah,” ucapnya.
“Tau. Gue juga gak pernah liat dia disini. Yang jadi pertanyaan, tu cewek kan pake seragam sekolah sini, artinya dia murid sini dong.” Aldo berkomentar.
“O iya gue inget, tadi gue liat dia masuk ke ruang kepala sekolah. Bawa kayak berkas-berkas gitu. Murid baru udah berani bikin ulah,” kata Bagas. Cowok itu kemudian beralih ke wastafel untuk membasuh mukanya. Lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan menggunakan jari-jari tangannya.
“Pokoknya cari tu cewek, belum tau kali gue siapa” kata Bagas menyombong.
“Iya ya udah ah, balik kelas yuk” ajak Bima yang kemudian di iyakan oleh teman-temannya.
Lagipula cepat atau lambat Bagas akan menemukan gadis itu. Dan kalau dia ingin bersekolah disini, dia harus mendapat rintangannya.
Keluar dari toilet, Bagas, Bima, Aldo dan Rico berpisah ke kelas masing-masing. Memang mereka tidak semua geng itu berada pada satu kelas. Hanya Bagas dan Rico yang menempati kelas yang sama. Sementara dua lainnya berada dikelas sebelah. Namun meski tidak satu kelas, mereka berempat selalu berkumpul saat jam istirahat. Diluar sekolah pun mereka kerap kali bertemu dan bermain bersama ke sebuah klub atau tempat tongkrongan lainnya.
Bima yang kelasnya tidak jauh dari toilet lebih dulu masuk dan duduk manis di bangkunya. Anak-anak masih terlihat riuh karena guru yang mengajar belum datang. Bukannya Bima bermaksud menguping, tapi geng cewek yang ada didepan berbicara keras sampai terdengar ke telinga Bima yang duduk paling belakang. Mereka membicarakan video yang mereka tonton di HP-nya masing-masing. Bukan cuma cewek-cewek, tapi hampir semua anak kelas ini membicarakan hal yang sama. Karena penasaran, Bima akhirnya terpengaruh untuk membuka HP-nya. Sudah ada notifikasi dilayar ponsel Bima. Diklik tautan itu yang mengarah ke sebuah video yang memperlihatkan seorang cewek menuang air ke kepala salah satu kawannya. Itu kejadian yang tadi. Sudah tersebar luas rupanya. Pantas saja, itu peristiwa yang jarang bahkan hampir mustahil disekolah ini. Sama seperti Bima, mereka juga mempertanyakan identitas cewek tersebut.
“Duduk yang bener!” suara guru wanita membubarkan anak-anak yang asyik bergosip. Setelah meletakkan tumpukan buku dimeja guru, Bu Ani berkata, “Sebelumnya Ibu punya dua pengumuman. Yang pertama ujian matematika hari ini ibu batalkan, diundur sampai Minggu depan.”
Semua anak bersorak kegirangan.
“Yes. Tumben ibu baik, lagi ulang tahun ya?” celoteh siswa yang duduk di kursi tengah.
“Ya enggak dong. Ibu batalin ujian karena pengumuman kedua.”
“Apa tuh?”
Bu Ani tersenyum, “Hari ini kelas kalian ketambahan murid. Jadi gak efisien kalo anak ini baru masuk udah langsung ujian kan gak mungkin.”
“Murid baru? Cewek apa cowok nih, Bu? Kalo cewek duduk sebelah saya aja.” guyonan siswa itu sukses membuat tawa diantara siswa lain.
“Mau cewek mau cowok kalian tetap harus jaga sikap, ngerti! Kalo enggak, ujiannya ibu lanjut hari ini” lanjut Bu Ani.
Guru yang masih muda itu memangil seseorang yang berada diluar kelas, menyuruhnya masuk. Dengan sedikit ragu, siswi itu melangkahkan kakinya. Pandangannya diedarkan ke seluruh kelas. Semuanya menatap heran cewek itu. Semua sudah tidak asing lagi sekarang. Dilihatnya siswi itu dari ujung atas sampai ujung rambut. Rambut sebahunya diikat kebelakang, membawa tas cuma menggunakan sebelah bahunya. Ditambah ia menggunakan aksesoris kalung hitam berbandul persegi. Tidak terlihat feminim, malah lebih terlihat agak tomboy.
“Sekarang perkenalkan dirimu” perintah Bu Ani.
“Nama saya Arieska Rain, kalian bisa panggil saya Aries. Mohon bantuannya.” perkenalan yang singkat dari gadis berusia 17 tahun. Mereka saling berbisik satu sama lain. Entahlah mungkin mengomentari penampilan Aries yang berbeda dari siswi kebanyakan.
“Udah? Itu aja?” tanya Bu Ani.
Aries mengangguk dan tersenyum.
“Ya udah, kamu boleh duduk disana” lanjut Bu Ani, mengarahkan Aries agar duduk di bangku kanan dekat dengan jendela. Tak lupa Aries mengucapkan terima kasih sebelum menuju ke kursinya.
“Oke. Kita lanjut materi minggu lalu.” Bu Ani memulai pelajarannya.
Baru beberapa detik memperhatikan Bu Ani yang sedang menerangkan tentang trigonometri, Aries dibuat teralihkan oleh siswa yang duduk didepannya.
“Hai lagi.”
“Arya?”
Cowok bernama Arya itu tersenyum.
“Gak nyangka, ternyata lo masuk kelas sini,”
Di lain sisi, Bima yang duduk paling belakang barisan tengah menatap Aries dalam-dalam. Jadi ini, orang yang berani membuat keributan dengan teman satu geng nya.
***
Kringg...
Bel istirahat kedua sudah berbunyi.
“Oke anak-anak, jangan lupa dipelajari lagi dirumah. Inget, kalo nilai ujian kalian jeblok gak ada remidi-remidian” pesan Bu Ani diakhir pembelajaran.
“Iya, Bu” jawab murid-murid serentak.
Selama pelajaran berlangsung, Bima hanya fokus memperhatikan Aries yang ada didepan sana. Padahal jika dilihat-lihat, tidak ada yang spesial dari cewek itu. Bima kemudian mengeluarkan HP-nya lalu mengirim teks pada Aldo.
'
'Ke kelas gue sekarang. Cepet!' kira-kira seperti itulah pesan yang diketik Bima.
Di lain tempat, Bagas dan Aldo berencana ke kantin berkumpul dengan yang lainnya seperti biasa. Tapi langkah mereka terhenti saat Aldo mendengar suara notifikasi dari HP-nya.
“Gas,” Aldo memanggil Bagas lalu menunjukkan layar ponselnya.
“Mau ngapain tuh anak?” Bagas menanggapi.
“Tau tuh. Yuk.”
Mereka berdua pun berbaik arah menuju kelas Bima. Sementara Bima sendiri masih terus memperhatikan Aries. Dia tidak mau cewek itu menghilang lagi sebelum Bagas dan lainnya datang.
“Aries, ikut ke kantin yuk," ajak Arya.
“Boleh. Tapi bentar aku rapiin ini dulu.”
“Oke.”
Lama-lama Bima juga merasa malas memperhatikan orang yang menurutnya tidak penting. Kalau bukan demi Bagas–sahabatnya sejak kecil, Bima juga tidak mau repot-repot berurusan dengan orang lain.
Cowok tinggi itu memutuskan keluar kelas karena jenuh. Baru beberapa langkah menjauhi ruang kelas, Bima berpapasan dengan dua temannya.
“woy, ada apa sih?” tanya Bagas langsung.
“Tuh, liat siapa,” dengan mata malas Bima menunjuk kelasnya.
“Itu kan…” raut wajah Bagas kembali marah.
Dengan segera Bagas ingin menghampiri Aries yang bersiap-siap keluar, tapi ditahan oleh Bima.
“Sabar dong bro. Dia udah mempermalukan lo didepan umum, gue rasa adil kalo lo lakuin hal yang sama.” ternyata Bima lebih sadis dari yang terlihat. Senyum miring terpampang jelas di wajah bulatnya.
Kira-kira apa ya yang direncanakan Bima dan kawan-kawan untuk membalas Aries.
≈≈≈
Mohon like komen dan vote nya.
Terimakasih yang sudah membaca.