
Cahaya matahari memaksa masuk melalui celah jendela. Aries yang masih terbaring perlahan membuka matanya. Ia mendudukkan tubuhnya, beradaptasi dengan kamar bernuansa abu-abu. Benar juga, ia baru ingat kalau semalam dipaksa menginap dirumah Bagas. Dan kamar ini, kamar paling nyaman yang pernah Aries tempati. Saking nyamannya, ia sampai tidak sadar jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh. Padahal sepanjang hidup Aries, ia tak pernah bangun tidur melebihi pukul tujuh pagi. Untung hari ini sekolah libur weekend, jadi bangun siang pun tak menjadi masalah.
Aries membuka pintu hendak keluar memeriksa keadaan. Ia menengok ke kanan dan kiri, tak ada orang. Aries berjalan menyusuri, bahkan rumahnya ini memiliki koridor yang sangat luas. Ia berjalan pelan, disetiap sisi dindingnya terpajang berbagai macam lukisan. Dan diatas nakas terdapat banyak foto berbingkai kecil. Karena tertarik, Aries mengambil salah satu foto tersebut. Foto yang menunjukkan masa kecil Bagas bersama ayahnya. Aries mengulas senyumnya tanpa sadar. Padahal waktu kecil Bagas terlihat menggemaskan. Tapi ketika dewasa, dia berubah menjadi mengerikan, pikir Aries.
“Ada banyak foto di rumah ini, tapi nggak ada satupun foto keluarga.”
Aries menoleh tatkala mendengar suara dari belakang.
“S-sorry,” Aries mendadak gugup. Meletakkan kembali fotonya seperti semula.
Anya tertawa kecil. “Gak papa.”
“Kamu… yang namanya Aries 'kan?” Anya mendekat.
“Kok tau?” tanya Aries canggung.
Perempuan berambut panjang itu tidak menjawab. Ia menggeleng kecil sambil tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Anya lalu berjalan menuju ruang makan, disusul oleh Aries. Mereka berdua berjalan beriringan sambil mengobrol ringan.
“Bagas belum pernah ngajak temen ceweknya ke rumah. Apalagi kamu musuhnya sendiri. Bagas sering ngeluh soal kamu ke Papa.”
“Oh ya?” respon Aries, masih canggung.
Anya mengangguk dan tersenyum. “Katanya kamu sering nyusahin Bagas disekolah.”
“Kebalik kali,” Aries tertawa kecil. “Kamu sendiri, saudaranya Bagas?”
“Oh, kenalin, Anya. Adiknya Bagas.” cewek bernama lengkap Anya Calista itu menyodorkan tangannya. Lalu disambut oleh Aries.
“Oh.” Dari wajah Aries nampak sedikit bingung. Ia baru tahu Bagas memiliki adik perempuan. Apalagi seumuran dengannya. Dan bukannya tadi Anya menyebut Bagas tanpa sebutan 'kak?'
Sesampainya ruang makan. Ibunda Anya sedang membereskan peralatan makan.
“Ma, ini Aries, temennya Bagas,” ucap Anya pada Mamanya. Aries tersenyum dan menyalami tangan wanita berumur 30-an itu.
Wanita itu sempat salah fokus dengan kalung yang Aries kenakan. Ia diam sejenak, lalu memperhatikan Aries dalam-dalam. Aries yang bingung hanya tersenyum canggung.
Lalu tiba-tiba Bagas datang dan menarik Aries menjauh dari ruang makan.
“Aduh, apaan sih?” berontak Aries.
“Kenapa lu masih disini? Pulang sono!” ucap Bagas membukakan pintu.
“Lo ngusir gue? Jahat banget sih,” protesnya.
“Nih, kunci motor lo. Tuh!” Bagas memberikan kunci motor Aries, dan menunjuk ke arah halaman yang terdapat motor matic berwarna hitam mengkilap.
“Kok motor gue bisa ada disini?” tanya Aries mengerutkan kening.
“Gue yang suruh orang buat ngambil motor lo. Cepetan pulang gih!”
“Iya-iya ah. Salam buat adik lo Anya.” Aries berpamitan dengan nada jutek. Cewek itu sudah menghilang dengan motornya, tanpa tahu apa yang ada dipikiran Bagas. Mendengar Aries mengucapkan kata 'adik', rasanya Bagas masih tidak terima.
Bagas kembali masuk kedalam rumahnya. Setelah menutup pintu, ibu Ayu menghampiri Bagas.
“Loh, Aries nya mana?” tanya ibu Ayu.
“Udah pulang,” jawab Bagas singkat, seperti biasanya. Lalu pergi ke kamar.
Ibu Ayu terdiam sejenak, apa benar yang dipikirkannya tentang gadis itu?
***
Sesampainya dirumah, Aries langsung mandi untuk menyegarkan diri. Selepas sepuluh menit melakukan ritual dikamar mandi, Aries mengeringkan rambutnya dengan handuk didepan cermin lemari.
Drrt drrtt
Ponselnya bergetar diatas kasur, pertanda adanya notifikasi pesan. Aries kemudian duduk ditepi ranjang dan membuka isi pesan.
Arya
Hai, aku mau ngajak kamu ke toko furniture. Bisa?
Aries mengulas senyum. Tumben Arya mengajaknya keluar berdua. Sebenarnya Aries mau menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai. Tapi ia tidak bisa menolak permintaan temannya satu ini.
Aries
Bisa. Jam berapa?
Arya
Aries
Oke
Arya
Oke. See u
Aries melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut. Masih ada dua jam lagi sebelum Arya datang menjemputnya.
Jam berputar terlalu cepat. Belum sempat Aries menyelesaikan makan siangnya, pintu sudah terdengar suara ketukan. Aries membukanya. Rupanya Arya sudah ada tepat dihadapannya, mengenakan jaket jeans seperti biasanya. Motor besarnya pun sudah terparkir di halaman rumah Aries.
“Arya? Cepet banget datengnya.”
Arya tersenyum canggung. “Iya soalnya takut kesorean. Yuk!”
“Oke. Bentar, aku ngambil jaket dulu.”
Arya mengangguk. Ia masih menunggu Aries didepan pintu. Tak lama, mereka langsung pergi ke tempat yang sudah dijanjikan.
Di toko furniture, Arya dan Aries melihat-lihat barang yang terpajang di bagian kebutuhan ruang tamu.
“Mama aku suruh cari dekorasi buat ditaruh di bagian ruang tunggu klinik nya. Aku juga bingung mau nyari kek gimana,” jelas Arya disela-sela melihat barang.
“Mama kamu punya klinik?” tanya Aries.
“Iya. Kapan-kapan mampir ya,” ajak Arya semangat.
“Lah, kalo aku mampir artinya aku sakit dong,” ucap Aries.
Arya baru sadar. “Iya juga ya. Kalo gitu jangan deh.”
Ucapan Arya dibalas tawa oleh Aries.
“Kalo Papa kamu? Dokter juga?”
“Ee... Lebih tepatnya dokter hewan.”
Aries hanya ber'oh'ria.
“Menurut kamu bagusan yang mana?” Arya memberi pilihan antara dua set dekorasi bernuansa putih dan dekorasi bernuansa hijau.
“Hm... Kayaknya kalo putih terlalu monoton buat di klinik. Semua yang berhubungan sama kesehatan pasti warnanya putih. Orang sakit, itu butuh yang seger-seger,” jawab Aries beserta alasannya.
“Jadi warna hijau nih?”
Aries mengangguk. “Terus banyakin tanaman yang bunganya warna-warni.”
Arya mengangguk setuju. “Gak salah aku ngajak kamu.”
Kemudian Arya berlalu untuk membeli dekorasi yang dipilih atas saran Aries. Sembari menunggu Arya, Aries melihat-lihat barang-barang sekitarnya. Ada sebuah benda yang mencuri perhatiannya. Itu adalah sebuah gantungan kunci dengan ukiran kayu, yang berbentuk menyerupai tanduk domba. Ia menyukainya, itu seperti lambang zodiaknya sendiri, 'ARIES'.
Setelah selesai, Arya mengantar pulang Aries.
“Thanks ya, udah di anterin beli barang-barang,” ucap Arya setelah mengantarkan Aries sampai depan pintu.
“Iya sama-sama.”
“Oh iya, ini! Sebagai tanda terimakasih.” Arya mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaketnya. Itu adalah gantungan kunci yang Aries lihat waktu di toko tadi.
Aries menerimanya dengan mata berbinar-binar.
“Sorry ya, cuma bisa ngasih itu,” ucap Arya tidak enak karena memberikan sesuatu yang kecil.
“Gak papa kali. Makasih ya.”
Arya mengangguk. “Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu.”
“Iya, hati-hati dijalan.”
Arya sudah sepenuhnya menghilang dari hadapan Aries. Entah kenapa ia merasa senang karena menghabiskan waktu berdua dengan Arya.
Malamnya, Aries tak henti-hentinya memandangi gantungan kunci yang diberi oleh Arya. Ia meletakkan gantungan itu menjadi satu dengan kunci motor, kunci rumah dan kunci-kunci lainnya. Agar ia bisa setiap saat mengingat si pemberi.