
*Vote dan like kalian sangat berarti untuk kelangsungan novel ini
Happy reading*
☔️☔️☔️
Pertengahan bulan Oktober. Hujan lebih sering datang pada musim seperti ini. Penting bagi semua orang membawa payung maupun jas hujan ketika hendak berpergian.
Sore itu, hujan deras tengah mengguyur ibu kota. Diteras sekolah, Bagas menengadahkan tangan, membiarkan tetesan air hujan membasahi telapak tangannya. Ia mengeluh. Sialnya dia lupa membawa payung hari ini. Sifat pelupa nya benar-benar menyusahkan dirinya sendiri.
Semakin sore semakin sepi sekolahan. Tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk mengantar Bagas ke mobilnya diparkiran. Bagas juga tidak mau basah kuyup. Yang bisa lakukan hanya menunggu hingga hujan reda. Padahal ia paling benci menunggu.
“Huh… kapan redanya sih, ah” keluhnya.
Lalu tiba-tiba dari arah samping Aries datang tanpa menghiraukan Bagas yang kedinginan. Cewek itu hendak membuka payung hitam polos yang baru dikeluarkan dari dalam tas. Bagas berpikir sejenak. Apa ia harus meminta tolong pada cewek abnormal ini? Tapi sudah jelas hanya ada Aries disini, dan hanya dialah yang membawa payung. Sepertinya Bagas tidak memiliki pilihan lain.
“Cewek abnormal!” panggil Bagas. Aries cuma menoleh sinis.
“Gue pinjem payung lo buat ngambil mobil gue diparkiran” pintanya memaksa.
“Ogah!” jawab Aries.
Bagas semakin kesal. “Bentar doang kenapa sih, pelit amat lu!”
“Bodo.” Aries segera melangkahkan kakinya menuruni tangga setelah payung terbuka sempurna. Namun secepat kilat Bagas merebut payung itu dari tangan Aries.
“Woi, balikin nggak! Dibilang nggak boleh yang jangan maksa.” Aries kembali memundurkan kakinya, takut terkena air hujan.
“Pinjem bentaran doang, entar juga gue balikin!” Bagas langsung berjalan dibawah derasnya hujan dengan payung hasil rampasan.
Aries menggeram sejadi-jadinya. Tangannya mengepal kuat. Cewek itu ingin sekali menonjok Bagas saat ini. Awas aja kalau payung nya tidak dikembalikan ataupun rusak.
Lalu tak lama datang mobil merah berhenti tepat didepan Aries berdiri. Kaca mobil itu perlahan terbuka, menampakkan wajah cowok tampan memegang setir. Bagas tersenyum kemenangan seakan tak merasa bersalah sedikitpun. Dan Aries, tentu gadis itu kesal.
“Nih, gue balikin!” Bagas melempar payung Aries dari dalam mobil hingga jatuh ke tanah. Benar-benar tidak memiliki sopan santun, sudah untung dipinjamkan, bukannya berterima kasih.
“Lo bener-bener rese' ya, makasih kek” ujar Aries.
“Bye!” ucap Bagas sambil meletakkan jarinya ke pelipis, seperti orang-orang gaul berpamitan. Lalu pergi dengan mobil merahnya, meninggalkan Aries sendiri.
Diperjalanan, Bagas dengan santainya mengemudikan mobil sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin ia puas karena sudah mengerjai Aries tadi. Bagas tidak peduli bagaimana nasib Aries sekarang. Sebab hujan makin bertambah deras.
Dan tiba-tiba saja mobil yang Bagas kendarai bermasalah.
“Lah… aduh… pake bocor lagi ban nya. Ah, nyusahin!” rutuknya.
Bagas keluar dari dalam mobil untuk mengecek seberapa parah bocor ban bagian depan. Ditengah hujan lebat tidak ada kendaran lalu lalang yang bisa dimintai tolong. Mau menghubungi montir nya juga percuma, paling Bagas disuruh menunggu hingga hujan reda, baru montirnya akan datang.
Bagas juga tidak mengerti bagaimana cara mengganti ban mobil.
Bagas mengusap-usap rambutnya yang basah berkat air hujan. Pandangannya juga nampak kabur karena air yang masuk ke matanya.
***
Setengah perjalanan, Aries melihat mobil yang terparkir didepan. Mobil yang sangat Aries kenali. Karena penasaran, Aries mendekati mobil itu perlahan. Mengintip ke dalam kaca mobil. Tidak ada siapa-siapa. Aries lalu melihat ke sisi lain, mencari si pengemudi.
“Bwhahahahaha...” tawa Aries lebih merdu dari suara hujan yang beradu dengan aspal. Saat mendapati si empunya mobil sedang berjongkok didepan ban mobilnya yang kempes. Ditambah seluruh badannya terguyur hujan.
Mendengar suara tawa seseorang, Bagas langsung berdiri.
“Heh! Ngapain ketawa? Nggak usah ngejek gue lu!”
“Ini tuh namanya karma, tau! Sukurin!” Aries kembali tertawa.
“Pergi nggak lu!” usir Bagas.
“Makanya, punya mobil nggak usah sombong!” Aries memukul kap mobil Bagas hingga membuat cowok itu bertambah kesal.
“Rasain! Bye! ” ucap Aries sambil menjulurkan lidah sebelum pergi menjauh.
Bagas menggeram. Dari semua orang yang dibutuhkan, kenapa harus cewek itu sih yang nongol? Pikirnya. Bagas juga tidak bisa berlama-lama ada disini. Segera ia mengambil kunci mobilnya dan menguncinya supaya tidak hilang. Setelah sebelumnya menelepon montir dan menyuruh membawa mobilnya kerumahnya ketika hujan sudah reda. Lalu Bagas berlari-lari kecil menuju arah Aries berjalan. Meninggalkan mobilnya dipinggir jalan.
***
Berjalan sendirian dibawah hujan, Aries sadar ada orang mengikutinya. Dirinya berbalik, seseorang yang tidak ingin dilihatnya sekarang ada dibelakangnya.
“Ngapain lo ngikutin gue?” tanya Aries ketus.
“Siapa juga yang ngikutin lo, ge-er. Arah rumah gue juga lewat sini kali.”
Aries menghentakkan kakinya kesal, lalu kembali berjalan. Bagas masih mengekor. Meskipun Bagas bilang arah rumahnya sama, tapi tetap Aries merasa tidak nyaman jalan berdua dengan cowok menyebalkan itu.
Aries kembali berhenti. “Bisa nggak, gak usah jalan dibelakang gue? Bikin parno tau nggak.”
“Dari pada gue jalan disebelah lo, najis, mendingan gue jauh-jauh dari lo” jawab Bagas.
Aries menghela, “Serah.”
Aries melanjutkan jalannya dilindungi payung, sementara Bagas tidak peduli lagi walau kehujanan atau seragamnya kotor.
Diam-diam Bagas memperhatikan Aries dari belakang. Kepalanya ditutupi tudung, satu tangannya memegang payung dan tangan yang satu lagi dimasukkan ke kantung jaket. Cool, itulah yang terlintas dipikiran Bagas. Tunggu dulu, apa Bagas baru saja memuji cewek itu? Itu pasti diluar akal sehat Bagas.
Berulang kali Aries berhenti dan berbalik menghadap Bagas, cowok itu juga ikut berhenti dan tetap mengikuti Aries dari belakang. Sampai terlintas ide licik untuk mengerjai Aries lagi.
Bibirnya mengeluarkan senyum aneh. Ia mempercepat langkahnya agar lebih dekat dengan cewek itu. Setelah berada dibelakangnya persis, Bagas dengan sengaja menjegal kaki Aries hingga cewek itu hampir terjatuh.
“Aw... rese' banget sih lo!” Aries mengusap wajahnya, sebab payung yang ia bawa jatuh saat Bagas menjegalnya.
Bagas malah tertawa dan cepat-cepat mengambil payung itu sebelum keduluan. Kemudian Bagas berlalu begitu saja menggunakan payung hitam Aries. Tidak terima, Aries berusaha merebut kembali payungnya.
“Balikin payung gue!”
Bagas sengaja mengangkat payungnya tinggi-tinggi agar Aries tidak bisa menjangkaunya. Meski Aries sudah mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Bagas, tapi percuma saja Bagas lebih tinggi dari Aries. Semakin Aries berusaha, semakin Bagas terdorong ke belakang dan… jatuh. Aries pun ikut tersungkur diatas tubuh Bagas. Keduanya saling menatap. Untuk sesaat, tidak ada jarak diantara dua remaja itu. Ini hal paling memalukan untuk mereka berdua. Sama-sama berada dibawah guyuran hujan, dan tak ada siapapun selain suara air berjatuhan.