
Masih dihari yang sama, Bagas dan teman-temannya menyempatkan mengunjungi kantin.
“Gas, lo yakin mau ngeluarin bokap nya Aries dari penjara. Berlebihan nggak sih menurut lo?” tanya Bima.
“Enggak lah. Gue nggak mungkin mau berurusan sama kriminal, gila kali gue” jawab Bagas disela-sela menyeruput minuman.
“Maksud lo, lo bohong?” tanya Bima kembali.
Bagas menghela nafas, “Ini itu cuma buat mancing cewek itu doang. Kalo dia udah mengundurkan diri, otomatis gue yang ke pilih karna nggak ada saingan lain.”
“Terus soal tawaran lo ke dia gimana?” giliran Rico bertanya.
“Ya gue tinggal ngilang dari dia aja gampang 'kan.” Bagas dengan entengnya berniat mengingkari janjinya sendiri. Tak habis pikir, dia setega itu. Memanfaatkan orang lain demi keegoisan sendiri. Dan kali ini temannya tidak sependapat.
“Hai guys.” Entah dari mana Aldo tiba-tiba datang dan ikut nimbrung bersama. Nafasnya memburu, seperti habis dikejutkan oleh sesuatu.
“Dari mana aja lu, baru nongol” tanya Bagas. Sebelum menjawab, Aldo merebut minuman Bagas dan menghabiskan isinya.
“Biasa lah, nemuin gebetan” ucapnya menaik turunkan kedua alis.
“Dasar playboy cap kakap, kena karma sukurin lu” canda Bagas, direspon tawa oleh teman lainnya. Tapi hanya Bima yang memasang muka datar. Atau karena memang mukanya selalu datar, jadi tidak ada yang tahu apa yang ada dipikirannya.
***
Pelajaran kembali dilanjutkan hingga sore tiba. Pukul 16.25, kelas dibubarkan sepuluh menit lebih lambat dari biasanya. Selama pelajaran berlangsung Aries tidak bisa fokus. Ia selalu melihat ke arah luar jendela. Melamun mungkin. Sampai bel berbunyi pun tak ia hiraukan. Kalau bukan karena Arya yang menyadarkannya, mungkin Aries masih termenung sampai malam.
“Hei, kamu nggak mau pulang?” Arya menyenggol bahu Aries pelan. Sejenak Aries merasa linglung.
“Ha? Oh iya, duluan aja nggak papa.”
“Serius? Kamu dari tadi ngelamun terus loh. Mikirin apa sih?” Arya yang sudah bersiap untuk pulang kembali duduk berhadapan dengan Aries.
“Enggak… cuma lagi banyak persiapan aja menjelang seleksi,” ucap Aries tersenyum diakhir kalimatnya.
“Dan kayaknya aku butuh waktu sendiri dulu deh,” lanjut Aries.
“Oh… ya udah kalo gitu, aku duluan ya, kalo butuh bantuan bilang aja” ucap Arya. Aries mengangguk. Cowok itu pun keluar dari kelas meninggalkan Aries sendiri didalam ruangan, membereskan buku-bukunya. Sebenarnya Aries tidak sendirian, karena masih ada siswa yang sedari tadi memperhatikan Aries.
Bima sengaja keluar paling akhir, sampai kelas benar-benar kosong dan hanya menyisakan Aries dan dirinya. Entah Aries sadar atau tidak Bima masih ada dibelakangnya. Ketika Aries hendak keluar, Bima mencegatnya.
“Gue mau ngomong sama lo” ujar Bima datar. Aries terlihat sedikit bingung, baru pertama kali ia berbicara empat mata dengan Bima.
“Oke.”
Bima menatap mata Aries, “Soal tawaran Bagas, apa jawaban lo?”
Aries memutar-mutar bola matanya, bingung harus menjawab apa, karena sebenarnya ia juga belum memutuskan. “Gue belom tau.”
“Ha? Kenapa emang?”
“Ikuti aja kata hati lo” ujarnya yang kemudian pergi dari hadapan Aries.
Sebenarnya kenapa cowok itu, bukannya dia teman satu geng nya Bagas? Kenapa ia malah memberi saran yang akan merugikan sahabatnya? Seperti ada yang tidak beres. Ya sudah lah. Aries bisa pikirkan itu nanti.
***
Didalam ruangan ber-AC itu, Bagas dan teman-temannya sedang bermain kartu. Mereka semua berkumpul di kafe milik Bagas hampir setiap hari sepulang sekolah.
Ceklek
Pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Aries dengan nampan ditangannya berisi makanan ringan datang sambil tersenyum kecil. Bagas memperhatikan cewek itu datang. Sebenarnya ia menunggu jawaban atas tawarannya tadi siang. Bagas hanya memberi batas waktu sampai nanti malam.
Setelah meletakkan nampan diatas meja, Aries mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Memperlihatkan sejenak pada Bagas lalu meletakkannya diatas meja. Bagas menatap datar amplop cokelat itu. Apa maksudnya ini, apa ini artinya Aries menolak tawaran dari Bagas?
“Gue balikin uang lo” ucap Aries, lalu keluar dari ruangan itu. Bagas mengejarnya sampai didepan pintu.
“Tunggu. Lo serius nolak kesempatan emas kayak gini? Lo nggak mau mikir dua kali, hm? Emangnya lo nggak mau ketemu lagi sama bokap lo?” ujar Bagas. Aries menggeleng sekali. Ia mendekat ke arah Bagas.
“Gue lebih mengutamakan kejujuran ketimbang uang. Dan soal bokap gue, lo nggak usah khawatir, itu biar jadi urusan gue, elo enggak perlu ikut campur. Permisi” ucap Aries sesopan mungkin.
Jawaban Aries membuat Bagas kesal. Ia membanting tubuhnya ke atas sofa sambil mengacak-acak rambutnya.
“Ck, gila kali tuh cewek, udah gue kasih tawaran tinggi-tinggi, malah dia tolak gitu aja. Maunya apa sih!” racaunya. Teman-temannya saling melihat satu sama lain. Bingung harus memberi komentar apa.
“Oke kalo gitu, gue masih bisa kalahin dia waktu seleksi. Gue bakal bikin dia nyesel udah nolak tawaran dari gue.”
“Semangat bro, kita pasti dukung lo” ucap Aldo mengangkat gelasnya, tanda ia memberi dukungan penuh.
“Yoi… tunjukkin kalo lo masih yang terbaik” sambung Rico, melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan Bima, mengangkat gelasnya sambil tersenyum.
Syukurlah kalau dia nolak, pikir Bima. Bukannya Bima ingin berkhianat, hanya saja ia tidak suka kalau Bagas membohongi orang lain cuma untuk kepentingannya sendiri. Bima tahu kegiatan olimpiade ini sangat berarti bagi Bagas. Makanya, Bima ingin Bagas berjuang dan berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan karena kecurangan. Yang perlu Bagas lakukan adalah belajar lebih giat lagi, dan membuktikan ke semua orang termasuk ayahnya, kalau Bagas adalah orang yang jenius dan mampu diandalkan.
***
Lega rasanya sudah memilih jawaban yang tepat. Walau ia sempat bimbang, namun Aries masih bisa mempertahankan prinsipnya. Tidak ada orang yang bisa memaksanya melakukan hal yang tidak disukainya. Meski tawaran itu sangat menguntungkan baginya, tapi ia tetap tidak akan pernah menjual harga dirinya.
Saat ini yang perlu Aries lakukan adalah belajar semaksimal mungkin, membuktikan kalau dia bisa dan layak bersaing dengan orang-orang jenius. Iya, dia juga harus mengejar materi yang belum sempat ia pelajari. Aries adalah perempuan jenius. Ia bisa mempelajari semua materi seorang diri. Tanpa bantuan guru les privat atau mentor yang membimbingnya. Itu artinya ia juga harus bisa membagi waktu antara bekerja, sekolah dan belajar mandiri.
Di hari-hari berikutnya, Aries lebih sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Kalaupun ke kantin, ia akan tetap makan sambil belajar. Bahkan teman-temannya sudah mengerti, kalau Aries butuh waktu untuk sendiri. Makanya mereka memberi jarak padanya. Kalaupun bertemu hanya sekadar memberi semangat. Meski ada yang memperhatikannya dari jauh. Menjaga agar Aries tidak berlebihan ketika belajar.
Yah… mau bagaimana lagi, ini termasuk perjuangan yang harus dilaluinya. Untuk beberapa minggu ke depan. Sampai tiba waktu seleksi.