
Author lebih menghargai pembaca yang membaca sungguh-sungguh isi cerita
*Vote + like + komen sebagai apresiasi bagi penulis
Selamat membaca 💓
★★★*
“Woy, ngapain lu disini?”
Dengan berat hati Bagas berbalik. “Suka-suka gue lah.”
Aries memicingkan mata, geli juga melihat Bagas bersikap seakan-akan tertangkap basah sedang mengagumi lukisannya.
“Katanya norak, jelek, tapi kok ngeliatin lukisan ini sambil senyum-senyum sendiri” sindirnya.
“Heh, gue senyum-senyum sendiri itu karna geli liat lukisan norak kek gini. Lagian lukisan siapa sih ini, lukisan kek gini dipamerin” elaknya.
“Lukisan gue, kenapa?” ujar Aries sedikit tak terima lukisan buatannya dihina.
“Pantes. Orang kayak lo emang seleranya rendahan.”
“Elo kalo disini cuma mau ngehina doang mendingan pergi sono, balik ke tempat asal lo!”
“Kok jadi lo yang ngusir gue? Heh gue juga punya hak ya disini.”
“Gausah banyak bacot sekarang pergi! Hush! Sana!” usir Aries seperti mengusir tikus yang berkeliaran.
Dengan terpaksa Bagas keluar dari aula, padahal ia belum selesai menikmati karya-karya yang lain. Huh, dasar cewek galak, kalau bukan karena dia perempuan Bagas pasti sudah membungkam mulutnya itu.
Kembali ke tugas awal, Aries dan Aji sibuk menjelaskan makna setiap karya kepada orang-orang yang berkunjung. Namun siapa sangka, diantara siswa-siswi dan bapak ibu guru yang hadir, ada seorang kolektor seni yang turut mengunjungi pameran yang Aries selenggarakan. Beliau adalah Indra Kurniawan. Seorang kolektor muda yang menikmati sekaligus mengapresiasi semua jenis karya seni. Beliau sengaja diundang oleh kepala sekolah sebagai tamu. Dari raut wajah Pak Indra, sepertinya laki-laki itu menyukai setiap karya yang dipamerkan.
“Wow…. Saya tidak menyangka ada orang yang bisa meniru lukisan Affandi, bahkan sampai detailnya” puji beliau.
“Iya. Tapi rata-rata anak disini belum bisa menggunakan imajinasi mereka sendiri. Mereka hanya bisa mengcover lukisan orang lain” jelas Aries.
“Itu namanya tahap awal. Semua seniman berawal dari mengcover karya orang lain. Tapi lama-lama bakat mereka akan berkembang.”
“Saya setuju dengan Anda.”
Mereka berdua saling tersenyum. Pak Indra melirik sekilas name tag yang dipakai Aries.
“Kamu yang namanya Arieska?” tanyanya tiba-tiba.
“Aries saja.”
“Iya. Kami anak-anak ekskul seni yang mengadakan acara ini.”
“Terus… apa kontribusi kamu?”
Aries tertawa kecil. “Ada, hanya saja tidak sebagus lukisan Affandi.”
Pak Indra merespon candaan Aries dengan tertawa kecil.
Dihadapan lukisan dari kanvas berukuran sedang, pria berumur dua puluhan itu terkesan dengan lukisan yang mirip dengan wajah gadis disebelahnya.
“Kamu ngelukis diri kamu sendiri?” Pak Indra melihat lukisan berbingkai itu dan wajah Aries secara bergantian. Aries tersenyum malu. Ternyata beliau menyadarinya.
Memang benar Aries pernah melukis dirinya sendiri menggunakan pakaian ala negeri fantasi.
“Gimana caranya?” tanya pria itu.
“Saya cuma menaruh cermin di dinding, dan berekspresi” jawab Aries.
“Lalu kostumnya?”
Aries terkekeh pelan, “Itu cuma imajinasi saya sendiri.”
Pria itu manggut-manggut, “Menarik.”
Tak lama pria itu kembali bersuara. “Berapa harganya?”
Aries pun menaikkan kedua alisnya, sedikit terkejut. “Maaf?”
“Saya mau membeli lukisan kamu ini sama lukisan yang ada di sana” ujar Pak Indra, menunjuk lukisan yang tadi dilihatnya.
Aries mengusap leher bagian belakang, bingung hendak menjawab apa.
“Saya nggak tau harus jawab apa.”
Pak Indra malah tertawa melihat Aries yang salah tingkah. Gadis itu juga tidak menyangka ada orang yang tertarik membeli lukisannya. Biasanya ia hanya melukis untuk dirinya sendiri. Kalaupun hendak dijual, ia bingung berapa nominalnya.
***
Tiga jam berlalu. Pameran telah selesai diselenggarakan dengan lancar. Tanpa diduga, banyak lukisan yang telah terjual. Selain dari Pak Indra, ternyata ada beberapa kolektor seni juga yang mampir dan tertarik dengan karya siswa-siswi Taruma. Semua uang yang dihasilkan dari acara ini dibagi dua dengan pihak sekolah dan murid-murid yang berkontribusi. Dan kepala sekolah berterima kasih dengan panitia khususnya kepada Aries karena telah menggagas ide kegiatan yang sangat bermanfaat.
Suksesnya acara tersebut membuat Bagas iri hati. Sekolah jadi lebih membanggakan cewek itu daripada dirinya. Ia mengakui dirinya merasa tersaingi oleh kehadiran Aries. Apalagi semenjak Aries hadir, prestasi Bagas jadi berkurang.