ARIES

ARIES
Saudara Tiri



Di perpustakaan, Aries dan Megan berbincang empat mata mengenai hubungannya dengan David.


“Meg, mendingan gue saranin lo putus aja deh sama si David itu, dia bukan cowok baik-baik” ujar Aries.


Megan menghela napas, “Gue mau nya juga gitu, cuman… gue gak bisa, Ris.”


“Kenapa enggak?”


Megan menempatkan bola matanya di sudut kanan atas, tanda bahwa ia sedang mengingat sesuatu.


“Dulu gue pernah minta putus gara-gara David sering bohongin gue. Tapi dianya nggak mau, dia justru ngancem kalo kita sampe putus, dia mau bawa lari gue,” jelasnya.


“Ya ampun, egois banget tuh orang” Aries berpendapat, kesal.


“Iya gue setuju soal itu. Tapi dia nggak pernah main-main sama ucapannya. Dia juga pacar yang posesif, suka ngatur, dan kasar. Tapi gue nggak bisa mutusin hubungan ini gitu aja, jadi gue mohon, lo jangan libatkan diri lo sendiri ke masalah ini, ya” pintanya memohon.


“Lo tau 'kan gue nggak bisa biarin temen gue disakitin,” ujar Aries.


“Gue tau niat lo baik, tapi kali ini biar gue urus urusan gue sendiri, oke” ucap Megan.


Aries akhirnya mengangguk. Lagipula dia tidak bisa melindungi orang yang tidak ingin dilindungi. Aries hanya bisa berharap Megan baik-baik saja seperti yang dikatakannya.


***


Jam berlalu begitu cepat. Sudah waktunya kelas dibubarkan. Aries menunggu di tangga sambil menggambar. Sesuai janji, Aji akan mengajak Aries menghadiri pertemuan ekskul seni yang diadakan seminggu dua kali. Sebagai anggota baru, Aries harus menyiapkan perkenalan yang baik agar dia juga mendapat kesan yang baik pula.


“Hei, sorry ya nunggu lama.” Aji datang dari arah belakang, menepuk bahu Aries.


“Enggak apa, yuk” ajak Aries.


Mereka langsung menuju ruang seni dekat dengan perpustakaan. Disana sudah ada beberapa orang yang melakukan aktivitas melukis ataupun membuat sketsa. Jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Aries mengamati dinding yang dipenuhi lukisan berbingkai.


Aji segera menyuruh semua orang berkumpul. Dimeja bundar berdiameter tidak lebih dari satu meter, mereka duduk melingkar sambil mengamati Aries. Dari tatapan mereka, sepertinya mereka tidak terkejut dengan gadis itu. Ya mau bagaimana lagi, semua orang disekolah ini sudah mengenal siapa Aries, karena beberapa kasusnya waktu itu sempat mencuri perhatian.


Aji dengan segera memulai pertemuannya. Hal itu berlangsung selama dua jam. Banyak percakapan dan ilmu yang didapat Aries. Sepertinya Aries lebih mudah berbaur disini daripada di kelasnya sendiri. Mungkin itu karena anak-anak seni mudah menerima Aries sepenuhnya.


Akhirnya, pertemuan itupun selesai pukul empat sore. Aji menawarkan tumpangan kepada Aries. Awalnya gadis itu menolak, tapi karena rayuan Aji sangat meyakinkan mau tidak mau Aries menurutinya.


“Ris, kita makan dulu ya.”


Ditengah-tengah perjalanan, cowok bertubuh agak gempal itu memanfaatkan waktunya bersama Aries lebih lama.


“Eh.. kayaknya langsung pulang aja deh, soalnya takut kemaleman” tolak Aries ragu.


“Deket kok dari sini, nggak sampe satu jam. Mau ya, aku traktir deh” bujuknya. Sebenarnya Aries tidak enak menolak ajakan cowok tersebut. Tapi dia juga banyak tugas yang harus dikerjakannya dirumah, mengingat ia tinggal sendirian dan melakukan semuanya sendiri.


“Gimana ya, Ji. Aku…”


Krukk...


Belum sempat Aries menyelesaikan kalimatnya, suara perutnya seakan sudah menjawabnya terlebih dahulu. Aji tertawa mendengar perut Aries berbunyi. Padahal tadi ia menolaknya, tapi disisi lain cewek itu juga menahan rasa lapar.


“Tuh 'kan, masih mau nolak?” ujar Aji.


Aries hanya tertawa malu. Dia tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Setelahnya mobil Aji melaju ke restoran terdekat. Lalu kemudian mereka makan bersama sambil berbincang.


“Kamu kenapa nggak cari kos-kosan deket sekolah aja sih? Kan lumayan loh, harus naik angkot dua kali. Belum lagi kalo kesiangan,” tanya Aji disela-sela makan pasta.


“Enggak bisa lah, itu satu-satunya rumah peninggalan orangtua aku. Aku nggak mungkin biarin rumahnya nggak ke urus” jawab Aries.


“Emang kamu nggak takut apa tinggal sendirian? Maksudnya kalo ada genteng bocor atau masalah listrik gitu siapa yang benerin?”


“Kan bisa minta tolong tetangga,”


“Iya juga ya,” Aji menyengir.


Berbicara mengenai keluarganya. Aries teringat akan kesendiriannya. Selama ini Aries melakukan semuanya seorang diri. Memenuhi kebutuhannya sehari-hari, mengurus rumah, apapun yang bisa ia lakukan untuk bertahan hidup.


“Nggak papa. Aku cuma ke inget Kakek,” jawab Aries. “Dulu, Kakek aku selalu bilang, aku nggak boleh jadi orang lemah, harus bisa mandiri. Meskipun perempuan, aku harus bisa segalanya. Nggak boleh bergantung sama orang lain.”


Aji meletakkan garpunya, mendengarkan cerita Aries.


“Padahal yang namanya manusia pasti butuh bantuan orang lain 'kan?” lanjut Aries.


Aji tersenyum dan mengangguk sebagai respon. Tapi tiba-tiba cewek itu terkekeh dan mengusap hidungnya.


“Sorry ya, aku malah jadi curhat.”


“Nggak papa. Aku seneng kalo kamu bisa terbuka sama aku. Dulu aku juga punya kakek. Ya… meskipun nggak terlalu deket sih, tapi, dia juga sering ngasih nasehat. Kayaknya orang-orang jaman dulu emang suka berbagi pengalaman” ujar Aji diselingi tawa diakhir kalimatnya.


Mereka berdua kemudian melanjutkan makan mereka. Sampai jam menunjukkan pukul lima sore. Selesai makan, kemudian mereka kembali ke mobil sedan berwana silver lalu menuju arah rumah Aries.


***


Di lain tempat, Bagas yang baru pulang dari tempat karaoke masih mengenakan seragam sekolahnya meski hari sudah gelap. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia mengerutkan keningnya bingung. Seingatnya, sebelum ini tidak ada motor di garasi pribadinya kecuali motor ninja merah miliknya. Apalagi motor itu terlihat masih baru, belum ada plat nomor dan masih dibungkus plastik. Motor jenis matic ini biasanya dikendarai kaum hawa. Tapi, ibu tiri dan adiknya tidak bisa naik motor bukan. Lantas, siapa yang membelinya?


Pertanyaan itu masih belum terjawab bahkan ketika Bagas sudah masuk ke dalam rumah.


“Bi, itu motor yang di garasi punya siapa sih?” tanya Bagas kepada Bi Rati yang selesai membuat minum untuk majikannya.


“Nggak tau bibi, den. Tadi sih kata orang dealer, motornya atas nama pak Fakhtur” jawab Bi Rati.


“Papa beli motor? Buat siapa?” gumam Bagas.


“Bibi tinggal dulu ya,” lanjut Bi Rati.


Seusai mandi, Bagas berbaring di kasur nya sambil memainkan game di ponselnya. Mendengar suara ketukan pintu tak menghentikan cowok itu bermain.


“Masuk, Bi” teriak Bagas.


Tapi bukan Bi Rati yang masuk seperti yang dikira Bagas, melainkan Ayu ibu tirinya. Bagas mematung sejenak, tidak suka melihat wanita muda di ambang pintunya. Tentu Bagas tidak suka, sejak awal cowok itu sudah memberitahu kalau tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya kecuali Bi Rati.


Dengan senyum semaksimal mungkin, Ayu berkata,“Maaf ibu ganggu kamu, Gas. Di ruang tamu ada temen-temen kamu, mau ibu suruh masuk ke kamar atau kamu yang keluar?”


“Biarin tunggu di situ” ketus Bagas.


“Oh, iya sudah.” Ayu pun keluar dari kamar Bagas. Sudah dua tahun ibu Ayu menikah dengan ayah Bagas, tapi cowok itu masih belum menerima kehadirannya.


Diruang tamu, Bima, Aldo, dan Rico sudah asyik memakan cemilan yang disediakan Bi Rati tanpa menunggu si tuan rumah.


“Kalian malem-malem gini mau kemana?” sebuah suara mengagetkan mereka.


Anya yang baru selesai makan malam tidak suka melihat mereka bertiga ada di ruang tamunya.


“Mau hangout lah,” jawab Rico.


“Harus ya malem-malem gini? Bagas aja baru pulang udah diajak keluar lagi. Kalo mau have fun jangan berlebihan” ujar Anya.


Mereka bertiga saling tatap, bingung mau menjawab apa. Sampai Bagas datang dengan pakaian rapi, tandanya siap untuk pergi.


“Yuk,” ajak Bagas.


“Bagas, kalo pulang jangan kemalaman,” Anya menasihati.


“Suka-suka gue lah” ketus Bagas.


Cowok berjaket denim itu akhirnya keluar disusul oleh ketiga temannya. Bima yang berjalan paling akhir melihat Anya dengan tatapan yang sulit diartikan.



Abimana Orlando