ARIES

ARIES
ARIESKA



Pagi ini lumayan cerah. Banyak kendaraan lalu lalang di jalan raya. Ini hari yang agak spesial untuk gadis yang menunggu bus di halte sendirian. Bisa dibilang, dia agak gugup. Banyak hal yang akan terjadi hari ini, jadi dia harus mempersiapkan segala kemungkinan. Bertemu banyak orang, mempelajari hal-hal baru. Dia sebenarnya bukan tipe orang yang suka bersosialisasi. Tapi karena ini hari yang penting, jadi dia sudah berlatih berkenalan dengan orang secara formal. Semoga itu membantu.


Tak lama bus yang ditunggu akhirnya datang juga. Sudah cukup lama perempuan bernama Aries itu menunggu di halte, kira-kira ada setengah jam lebih. Tanpa pikir panjang, Aries langsung mencari tempat duduk yang sesuai, karena mumpung bus dalam keadaan lenggang jadi banyak kursi kosong.


Sepanjang perjalanan, Aries hanya melihat jalanan beraspal. Kadang-kadang dia juga sempat melamun. Cewek berkuncir itu memeluk tas hitamnya erat. Berulang kali ia menutup mata sambil menarik nafas. Mengurangi kegelisahan mungkin. Lalu tiba-tiba tubuhnya condong ke depan, karena sopir bus mengerem secara mendadak. Karena Aries duduk tepat di belakang si sopir, ia tahu alasan kenapa sopir bus mengerem mendadak. Mobil merah yang berada tepat didepan memaki tidak jelas. Katanya kalau menyetir hati-hati. Padahal sudah jelas-jelas dia yang hendak menyalip bus ini, dan mungkin tidak sengaja bersenggolan dengan mobilnya. Dasar orang kaya, tidak mau mengaku salah. Setelah pengemudi mobil itu tancap gas, bus ini kembali berjalan seperti semula.


Cuma butuh waktu lima belas menit bus ini berhenti di halte yang sudah ditentukan. Aries segera turun, dan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki sekitar lima menit. Akhirnya dia sampai di SMU Taruma, sekolah yang akan menjadi dunianya nanti. Dia berdiri di depan gerbang, mengagumi sejenak kemegahan gedung ini. Saat melewati parkiran pun, luasnya bukan main. Mungkin seluas dua petak sawah yang ada di kampungnya dulu. Dan kendaraannya pun bukan 'kaleng-kaleng'. Mobil-mobil mewah berjejer rapi sesuai warnanya. Tapi tidak cukup rapi, karena ada satu mobil yang terparkir tidak pada tempatnya. Mobil merah yang nampak tak asing bagi Aries.


Sudah cukup puas memandangi deretan mobil mewah, Aries melanjutkan melangkah ke dalam gedung-gedung bertingkat. Setelah masuk, dia nampak kebingungan. Dia tidak tahu dimana ruang kepala sekolah berada, juga terlalu sepi untuk bertanya pada seseorang. Setelah celingukan mencari seseorang, suara dari arah belakang mengejutkan Aries.


“Ada yang bisa dibantu?”


Aries langsung memperlihatkan senyum terbaiknya. “Saya mau cari ruang kepala sekolah dimana ya, Bu?” tanyanya sesopan mungkin.


“Oh.. yuk saya antar” ajak wanita muda berumur 30-an.


“Makasih.”


Kemudian Aries mengikuti ibu itu. Selama perjalanan, mereka mengobrol sebentar. Dia mempertanyakan dari mana dan mau apa Aries kesini. Dengan jujur Aries menjawab.


“Saya murid baru di sini. Ini hari pertama saya.”


“Hari pertama kok udah telat?”


“Banyak yang harus disiapin, Bu.”


Ibu itu cuma terkekeh.


Tak lama, Aries diarahkan untuk mengikutinya ke salah satu ruangan. Diketuknya pintu berwarna hitam itu. Tanpa menunggu jawaban, mereka langsung masuk kedalamnya.


“Maaf, Pak. Ini ada murid baru katanya, mau bertemu Anda” kata wanita itu pada seorang pria yang baru saja menutup telepon.


“Oh iya. Silahkan duduk.”


Aries mengikuti perintahnya. Sebelum duduk, Aries sempat mengucapkan terima kasih kepada wanita itu. Sementara wanita itu keluar meninggalkan Aries dan kepala sekolah SMU Taruma.


“Kamu yang namanya Arieska?”


“Iya, Pak. Ini berkas-berkas saya.” Aries kemudian menyerahkan map berwarna merah yang berisi dokumen tentang dirinya.


“Kamu sudah tau masuk kelas mana 'kan?”


Aries mengangguk.


“Ya sudah, kalau begitu kamu boleh langsung masuk kelas.” lanjut kepala sekolah.


“Eh.. Pak, saya boleh lihat-lihat dulu?”


“Terima kasih, Pak"


Setelah itu, Aries langsung keluar untuk melihat lebih detil sekolah ini. Mumpung masih sepi karena pelajaran sedang berlangsung, jadi Aries seluasa menyusuri koridor sekolah, taman, dan kantin. Setidaknya sekarang dia tahu letak toilet wanita ada dimana. Itu hal yang wajib Aries ketahui. Dia juga sempat berhenti di depan mading sekolah. Membaca apa saja yang terpampang disana. Aneh, setahu Aries, mading digunakan untuk berbagi informasi, entah itu lomba atau pengumuman lainnya. Tapi kenapa yang tertempel disini opini-opini buruk tentang seseorang. Seperti latar belakangnya, bahkan sampai sesuatu yang vulgar. Ditambah lagi ada foto yang menyertai tulisan-tulisan itu. Ini sesuatu yang salah menurut Aries. Saking fokusnya Aries pada tulisan-tulisan itu sampai tidak sadar ada seseorang disebelahnya.


“Hai, serius amat,” suara berat itu agak mengejutkan Aries. Orang itu melihat Aries dari atas sampai bawah.


“Murid baru ya?” Aries mengangguk.


“Kenalin, Arya.” cowok itu mengulurkan tangannya. Aries menyambutnya seperti orang berkenalan pada umumnya.


“Arieska, panggil aja Aries.”


Setelah itu hening sejenak. Aries kembali melihat ke arah mading, sementara cowok bernama Arya masih melihati Aries.


“Udah tau kelasnya dimana?” tanya cowok itu.


“Udah kok.”


“Trus, kenapa gak masuk kelas?” tanyanya lagi.


“Mau lihat-lihat,” jawab Aries singkat.


Meski Aries menjawab pertanyaan dengan singkat-singkat, tapi tidak terkesan cuek sedikitpun karena masih diimbangi dengan senyumannya.


“Kalo gitu aku duluan. Nanti kalo mau apa-apa bisa tanya ke aku.”


“Oke. Thanks.”


Arya pun pergi seperti yang dikatakannya. Aries melihat punggungnya menjauh. Sesekali cowok itu menengok kebelakang. Mungkin mereka akan menjadi teman. Dia cowok yang cukup baik menurut Aries. Cewek itu kemudian melanjutkan langkahnya. Dia sempat mampir ke kantin untuk membeli minuman botol. Setelah itu pergi lagi karena bel istirahat sudah berbunyi. Dia mengerti betul kalau kantin akan ramai pengunjung saat dijam istirahat. Dan dia tidak suka keramaian. Jadi Aries memutuskan untuk terus berjalan. Meski banyak orang-orang yang melihatnya dengan tatapan sinis, tapi Aries tidak begitu peduli. Sampai akhirnya dia berhenti karena mendengar suara kerumunan dari bawah sana. Dilihatnya lebih seksama lagi dari atas. Sudah jelas ada satu orang yang berbicara keras ditengah-tengah lapangan. Dan itu terdengar tidak baik. Dia membaca sesuatu yang pasti bukan miliknya. Tak jauh dari orang itu, ada satu anak yang nampak ditahan oleh tiga orang. Bisa Aries simpulkan, buku yang dipegang cowok itu pasti milik laki-laki berkacamata yang sedang ditahan itu. Cowok itu pasti sengaja ingin mempermalukan laki-laki berkacamata itu dengan membaca sesuatu yang bersifat privasi. Dan anehnya, orang disekitar malah ikut tertawa mendengar sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan. Apa mereka menganggap semua itu lucu? Kalau iya, ini sudah keterlaluan. Pikir Aries.


Karena sudah terlanjur kesal, Aries dengan sadar menuangkan air mineral ditangannya tepat mengenai kepala cowok itu. Semua mata tertuju padanya. Itu bagus, karena mereka harus tahu, yang mempermalukan pasti akan dipermalukan. Setelah habis airnya, sekalian saja Aries membuang botol itu ke bawah, lalu berkata,


“Jangan ganggu orang lain kalo gak mau diganggu.” suaranya terdengar lantang. Sampai semua orang dapat mendengarnya.


Cowok itu sama marahnya. Dia memaki tidak jelas. Dan menyuruh Aries turun menghadapinya. Tapi cewek itu terlalu malas meladeninya, jadi ia memilih pergi dari sana sebelum orang itu naik keatas.


Aries buru-buru pergi melewati orang-orang didepannya. Sampai akhirnya dia berhenti dibawah pohon ditengah-tengah taman. Aries duduk bersandar pada pohon yang rindang itu.


“Aneh, sekolah semewah ini masih aja ada yang nge-bully satu sama lain.” dia bermonolog.


“Oke. Sudah cukup lihat-lihatnya.”


Saat bel kedua tanda masuk dibunyikan Aries menunggu hingga semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Barulah setelah itu Aries pergi ke kelas yang sudah ditetapkan. Hari pertamanya pun dimulai.