
**Reader yang terhormat,
Tolong hargai penulis dengan membaca sungguh-sungguh isi cerita. Author lebih menghargai pembaca yang membaca sungguh-sungguh daripada sekadar kasih bom like semata.
Terimakasih atas pengertiannya.
Selamat membaca**.
★★★
“… Untung ibu lo meninggal waktu lahirin lo, karna gue yakin dia bakal malu punya anak cewek yang kelakuannya kayak setan” –Bagas
Ucapan Bagas terus terngiang dipikiran Aries. Bisa-bisanya dia menjadikan ibu Aries sebagai bahan hinaan. Tapi kalau dipikir-pikir, apa benar Aries seburuk itu? Apa ia salah membela harga dirinya sendiri?
Ibunda Aries memang telah meninggal ketika melahirkan Aries. Ia tak pernah sekalipun mengenal atau melihat bagaimana rupa orang yang telah melahirkannya. Dia hanya mendengar cerita tentang ibunya dari kakek satu-satunya–yang sekarang sudah meninggal. Aries bahkan tidak memiliki kenangan apapun kecuali kalung yang melingkar dilehernya. Kalung yang katanya sering dikenakan ibunya ketika masih kecil. Aries memegang kalung berbandul merah persegi tersebut, sambil melihat danau yang luas.
Di pinggiran danau belakang sekolah, Aries berdiri sambil meletakkan tangan di depan dada. Poster kusut yang menjadi penyebab kegaduhan tadi berada ditangannya.
“Argh..” Aries menggeram ketika membaca poster itu sekali lagi. Dia mengambil batu berukuran sedang dan diselimuti poster itu. Kemudian ia melemparnya ke tengah-tengah danau, berharap poster itu tenggelam hingga ke dasar. Agar dia bisa melupakan kejadian buruk hari ini.
Setelah melemparnya, Aries berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan emosinya.
“Cowok berandalan! gue benci sama lo! Kalo gue cowok udah gue hajar lo!” teriaknya.
Belum puas Aries mengumpat, sebuah suara mengagetkan dirinya.
“Bagas nggak bakalan denger kali...” suaranya terdengar tidak asing.
Aries mencari ke segala sisi namun tidak menemukan seseorang. Sampai ia sadar sumber suara itu ada diatas pohon tepat dibelakangnya. Aries tidak menyadari keberadaan Juna yang duduk dengan santainya diatas pohon memperhatikan Aries. Entah apa yang dilakukan cowok itu.
“Juna? Lo ngapain nangkring disitu?” tanya Aries.
“Nontonin orang lagi marah,” jawabnya sambil melepas earphone dari telinganya. Cowok bernama lengkap Arjuna Gardapati itu turun dengan mudahnya dari pohon yang tingginya tak lebih dari enam meter.
Dia lalu mendekat dan mensejajarkan dirinya disebelah Aries. Cowok itu kembali memandangi danau.
“Biasanya air bisa bikin kita tenang, bukannya malah nambah emosi,” ucap Juna sembari melirik Aries.
“Elo kok disini? Kenapa gak masuk kelas?” tanya Aries mengalihkan.
“Gue… gak ngerjain tugas, jadi disuruh keluar,” ucapnya, menyengir. “Nah lo sendiri, ngapain gak masuk kelas?” lanjutnya.
Sebelum menjawab, Aries menghembuskan nafasnya berat.
“Gue males ketemu salah satu anggota berandalan itu,”
“Mau liat sesuatu yang keren gak?” ujar Juna, membuat penasaran Aries.
“Apa?”
***
Juna mengajak Aries ke tempat yang tak jauh dari danau, karena masih berada diarea belakang sekolah. Hanya saja untuk sampai ke tempat itu harus memasuki ruangan bertangga yang nantinya terhubung ke rooftop.
“Wow…” ucap Aries takjub ketika disuguhkan pemandangan yang menurutnya luar biasa.
Semilir angin menerbangkan rambutnya yang diikat sempurna. Matanya tak dia alihkan dari pemandangan bawah yang luas. Siapa sangka, ada tempat seperti ini disalah satu gedung di SMU Taruma. Segalanya terlihat dari atas. Danau, lapangan bola, hingga jalan raya dapat dilihat dari sini.
“Gue sering kesini kalo gue lagi pengen sendiri. Ini tempat yang bagus buat berpikir” ujar Juna menaiki pipa besi dan duduk diatas balok pembatas. Sepertinya cowok itu suka sekali 'nangkring' di segala tempat.
Ya mungkin Juna ada benarnya. Tempat ini berbeda dari yang lainnya. Dari ketinggian ini semua masalahnya nampak kecil.
“Jun, emangnya gue seburuk itu ya?” Aries meminta pendapat Juna mengenai dirinya sendiri.
“Hm… menurut gue elo itu keren. Lo berani menyampaikan pendapat tanpa takut orang lain akan menilai buruk tentang lo. Dan lo orang yang punya prinsip. Kata bokap gue, orang yang punya prinsip hidupnya bakal lebih terjamin” jawab Juna dengan yakin.
“Menurut lo, apa gue harus berubah?” tanya Aries sekali lagi. Juna mengamati wajah Aries sekilas. Terlihat keraguan pada gadis itu.
“Berubah boleh-boleh aja, tapi kalo gue boleh kasih saran, jangan berubah menjadi yang orang lain mau, tapi berubah berdasarkan diri lo sendiri” jawabnya.
Entah sejak kapan Juna menjadi bijak seperti ini. Mungkin karena ayahnya seorang pengacara jadi menurunkan bakat berbicaranya kepada anak semata wayangnya ini. Tapi syukurlah, Aries merasa perasaannya jauh lebih baik.
“Thank you ya,” ucap Aries, dan langsung dijawab anggukan oleh Juna.
Memiliki teman yang bisa diajak berbagi ternyata menyenangkan. Semua beban terasa lebih ringan seketika. Aries beruntung memiliki teman-teman yang selalu ada untuknya. Dan tidak mempedulikan bagaimana latar belakangnya, atau sifat buruknya.
Arjuna Gardapati
★★★
****Maaf jika terlalu pendek.
Author sangat mengharapkan vote, like&komen, dan rate 5.
Terimakasih****...