
Bel istirahat sudah dari tadi dibunyikan. Tinggallah Bagas seorang diri didalam kelas, memandangi tas kotak milik Aries diatas meja. Entah karena iseng atau penasaran, Bagas mengeluarkan semua isinya. Benda pertama yang ia keluarkan adalah handuk yang dilipat menjadi ukuran kecil. Lalu ada sikat gigi lipat dan beberapa sabun berukuran kecil. Kemudian sisir dan yang terakhir… sebuah kalung!
Bagas mengamati kalung hitam tersebut. “Ini bukannya kalung yang biasa dipake sama tuh cewek?” gumamnya.
Lalu tak lama, ia mendapat ide licik untuk mengerjai Aries kembali, dengan memanfaatkan kalung itu tentu saja.
***
Dilain tempat, Aries sibuk berjalan dari satu koridor ke koridor lain untuk mencari keberadaan Bagas. Ia hendak bernegosiasi dengan cowok licik itu agar mengembalikan barang miliknya.
“Tuh dia orangnya!” seru Aries ketika melihat sosok Bagas.
“Bagas! Gue ngomong sama lo.”
Bagas yang baru saja turun dari tangga langsung dicegat oleh Aries. Seakan sudah tahu apa yang ada dipikiran cewek itu, Bagas tersenyum miring dan langsung memberikan kotak milik Aries.
“Nih! Gue balikin punya lo,” ucap Bagas menyodorkan tas kecil berbentuk kotak.
Aries yang menerimanya malah jadi bingung. Kenapa tiba-tiba Bagas mengembalikan tas miliknya? Bukannya tadi dia bilang mau memberikan tas itu ke kepala sekolah sebagai barang bukti? Pertanyaan-pertanyaan itu hendak Aries tanyakan kepada Bagas, namun sayang, Bagas sudah lebih dulu pergi. Meskipun ada yang janggal, tapi Aries lega karena kotaknya sudah kembali.
***
Dikantin, Bagas yang baru datang disambut oleh teman-temannya.
“Kemana aja sih, baru nongol?” tanya Rico disela-sela makannya.
“Gak kemana-mana,” jawab Bagas. Setelah itu hening sejenak, tidak ada yang bersuara karena sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Kenapa lu, Gas? Dari tadi ngalamun, senyum-senyum sendiri lagi. Sakit?” tanya Bima tiba-tiba.
“Enggak lah! Gue gak papa,” jawab Bagas. “Si Aldo mana?” tanyanya mengalihkan.
“Tuh! Lagi pacaran sama cewek.” Rico menunjuk meja tempat Aldo berada.
Bagas terkekeh melihat kelakuan temannya yang satu ini. “Dasar, palingan tuh cewek cuma dimodusin doang.”
Cewek yang Bagas maksud tak lain adalah Dara Luth Anggraeni, putri seorang direktur dan model terkenal di ibu kota.
“Masih mending dia punya cewek, nah lo, jomblo abadi,” ledek Rico, dibalas tawa oleh Bima.
“Rese' lo. Gue bukannya jomblo, gue itu nggak mau ngabisin waktu sama tenaga, cuma buat cewek yang nantinya bukan jodoh gue. Ngerti?” protes Bagas.
“Halah, bilang aja lo belum bisa move on dari Anya.”
“Gak usah bawa-bawa dia!”
“Sorry, bos” ucap Rico mengangkat kedua tangannya.
***
Di taman dekat danau, Aries duduk sendiri sambil mencari sesuatu didalam tas kecil berbentuk kotak transparan. Ia sudah mengeluarkan semua isi dalam tas itu, tapi benda yang dicarinya tidak kunjung ditemukan.
“Duuhh... Mana sih tuh kalung,” gumamnya frustasi. Ia mulai sedikit panik, bagaimana kalau kalungnya benar-benar hilang?
“Kok gak ada sih, ah!.” Aries membanting kecil tas itu. Ia benar-benar takut kalungnya tidak bisa ditemukan.
“Jangan-jangan diambil Bagas lagi.”
Sebuah pikiran masuk ke kepalanya. Bagas. Pantas itu cowok dengan santainya mengembalikan tas Aries. Dia pasti tahu kalung itu sangat penting bagi Aries. Jadi cowok itu mengambilnya.
Tak mau berlama-lama, Aries segera membereskan barang-barangnya kembali, menyimpannya terlebih dahulu kemudian mencari Bagas.
***
Karena ini jam istirahat, Aries tahu Bagas pasti ada dikantin bersama teman-temannya. Jadi langsung saja Aries mencari Bagas kesana.
Sesampainya disana. Ternyata dugaan Aries benar, cowok itu ada dikantin sedang menikmati batagor nya. Langsung saja Aries menghampiri Bagas.
“Heh! Gue mau ngomong sama lo, empat mata!” Aries menyenggol lengan Bagas membuat cowok itu tersedak, lantas mengambil minuman. Bima dan Rico juga ikut terkejut melihat Aries yang tiba-tiba datang.
“Gue mau ngomong empat mata sama lo!” ulang Aries, menambah penekanan disetiap katanya.
Bagas menghela napas. Ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. “Ngomong tinggal ngomong aja kali.”
“Elo nggak ngerti artinya empat mata?” ucap Aries kesal dibuatnya. Lalu tanpa aba-aba ia menarik lengan Bagas agar mengikutinya menjauh dari orang-orang. Sementara Bagas yang diam mengikutinya dengan pasrah. Bima dan Rico saling menatap bingung dengan kelakuan mereka berdua. Lagipula mereka juga tidak ingin ikut campur urusan dua anak manusia itu.
***
Sesampainya di rooftop.
“Mana kalung gue?” tanya Aries langsung ke intinya.
“Kalung?” Bagas pura-pura bingung.
“Iya. Elo 'kan yang ngambil kalung gue? Ngaku!” tegas Aries. “Sekarang balikin!”
Aries mengulurkan tangannya, berharap ia mendapatkan kembali kalung miliknya.
“Oh… maksud lo ini?” Bagas mengeluarkan sebuah benda bertali hitam dari saku celananya. Aries yang melihatnya langsung terbelalak dan berusaha mengambilnya.
“Balikin!”
“Ett, gak segampang itu ya. Lo inget 'kan kalo di dunia ini gak ada yang gratis?” ucap Bagas mempermainkan Aries.
“Gas, lo itu orang kaya 'kan. Elo bisa beli apapun tanpa harus malak ke orang lain.” Aries menolak.
“Kalo ini gue bukan bicara soal uang.” Raut wajah Bagas terlihat serius. “Gue denger, kalung ini peninggalan dari ibu lo. Itu artinya kalung ini sangat berharga bener 'kan. Dan lo bakal ngelakuin apa aja supaya kalung ini balik ke leher lo iya 'kan?”
“Maksud lo?” Aries benar-benar tidak bisa membaca arah pikiran Bagas. Apa yang sedang direncanakannya.
“Kalo lo mau kalung ini balik, elo harus ngikutin semua kemauan gue, jadi pembantu, sopir, semua perintah gue harus elo turuti, selama satu bulan penuh. Gimana?” jelas Bagas. Aries mengepalkan tangannya erat-erat dan menggeram.
“Gak! Gue gak mau!” tolak Aries. “Gue juga masih punya harga diri ya!”
“Terserah kalo nggak mau. Tapi jangan harap kalung lo bakal balik.” Bagas memasukkan kalungnya kembali ke saku celana, dan berbalik arah menjauh dari Aries.
Aries yang kebingungan terpaksa mengikuti permainan Bagas, hanya demi kalung ibunya kembali.
“Tunggu-tunggu!” Aries menghadang Bagas. “Iya oke, gue turuti semua kemauan lo. Tapi inget, cuma satu bulan. Dan awas aja kalo kalung gue sampe hilang, gue bakar mobil lo! Ngerti?!” ucap Aries terpaksa.
Bagas tersenyum kemenangan. Rencananya membuat gadis itu tunduk sudah berhasil.
“Oke, deal.” Bagas menyodorkan tangannya yang sudah ia jilat telapaknya. Dengan berat hati dan ragu-ragu, Aries menyalami tangan Bagas. Berbeda dengan Aries yang nampak kesal, Bagas justru terlihat bahagia dengan melebarkan senyumnya.
Ia lalu menggeser bahu Aries agar minggir dari jalannya. Kemudian Bagas berlalu meninggalkan Aries yang teriak-teriak tidak jelas disana.
“Goblog banget sih gue! Kenapa gue bisa punya urusan sama cowok siluman macam dia?!” umpatnya. “Sekarang kalung peninggalan ibu yang jadi taruhannya.”
Entah Aries menyesali karena sudah menyetujui perjanjian bodoh itu, atau ia menyesal sudah nekat mandi di sekolah yang berujung petaka baginya. Atau malah ia menyesal karena sudah memilih sekolah disekolah yang salah. Entahlah. Namun yang pasti, hari-hari Aries akan lebih sulit dari biasanya.
Dan dari sinilah, kedekatan Aries dan Bagas dimulai.
♈️♈️♈️
**Jeng jeng jeng jeng....
Wih, udah mau masuk klimaks aja nih😅
Gimana? Penasaran gak? Seru gak?
(biasa aja thor😗) oh oke😌
Author sangat berterima kasih atas dukungannya, (ya walaupun cuma kasih like doang sih, kagak dibaca😌)
Intinya, dukungan kalian, kritik dan saran sangat berarti untuk author mana pun, okee👌**