Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
8



beberapa hari berikutnya, kali ini Ara melakukan bimbingan terakhir, Ara telah selesai bertemu dengan dosen pembimbing yang mengampu untuk skripsi nya yang telah di setujui untuk segera melakukan sidang diminggu depan..


saat ini Ara sedang berada di cafe yang terkenal di kota tersebut. sambil menunggu pesanan nya diantar, Ara beranjak ke toilet dan bertepatan dengan itu dua orang pemuda masuk ke dalam cafe dan duduk tak jauh dari meja yang ditempati oleh Ara.


kebetulan meja Ara berada di dekat jendela di pojok. tak lama setelah itu Ara kembali dari toilet betepatan dengan pesanan nya datang.


"Lo serius buat bertanggung jawab bro, itu kan bukan salah lo, jadi Lo gak perlu nikah buat nyelesaikan masalah ini dan juga orang tua Lo juga pasti gak setuju" kata salah satu dari dua pemuda itu


"gue harus gimana lagi, gue juga terpaksa. Lo tau kan gimana cinta nya gue sama Ara" ucapnya frustasi


deg


suara itu, suara yang begitu Ara rindukan tapi Ara sangat terkejut dengan penuturan yang terlontar dari mulut pria yang beberapa bulan ini sangat dirindukan nya .


seolah bagai di timpa bongkahan batu besar, sakit. ya sakit hati yang Ara rasakan. mungkin inilah jawaban kemana selama ini sang kekasih pergi selama tidak ada kabar. Rayyan, pria itu menjalin kasih dengan wanita lain.


tanpa mengucapkan sepatah kata, Ara bahkan tidak menghampiri meja yang ditempati oleh Rayyan dan Samuel untuk meminta penjelasan, dia lebih memilih berjalan keluar cafe dengan tergesa dan dengan linangan air mata setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.


sesampainya di luar, Ara langsung menuju mobil nya dan mengendari mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah pribadi nya. menangis menumpahkan segala kekesalan dan kesedihan di hatinya di kamar hingga terlelap tidur.


sementara itu, di cafe. terlihat dua pemuda yang tadi masih membahas masalah yang cukup rumit itu tanpa tahu seseorang tadi telah mendengar pembicaraan mereka.


"Lo itu di jebak Ray, dan yang di kandungnya itu bukan anak Lo" tegas Sam


"tapi gue gak bisa berbuat apa apa lagi.. dia ngancem gue bakal bikin Ara celaka dan bikin butik yang Ara kelola bangkrut" jawabnya


"Lo tahu, selama ini gue cuma cinta nya sama Ara gak ada orang lain, mama sama papa juga adek gue maunya Ara yang jadi istri gue, tapi gue gak bisa jaga hati Ara" lanjutnya dengan pandangan kosong


" Lo tahu kan, keluarga Gisel itu keluarga yang berpengaruh di Amerika dan sepupu nya juga merupakan mafia di sana" kata Rayyan dengan suara frustasi


terdengar helaan nafas kasar dari Sam, dia juga bingung harus bagaimana. disatu sisi Ara sudah dianggap seperti adiknya sendiri bahkan mereka seperti kakak adik sama seperti Ara dengan Kevin.. dan disisi lain ada Rayyan sang sahabat yang sedang mendapat masalah besar dan mengharuskan meninggalkan Ara..


"bokap Gisel juga menjqlin kerja sama dg bokap gue untuk proyek yang sekarang papa kerjain.. kalau sampai dia menarik kerjasama nya, pasti perusahaan papa bakal mengalami kerugian cukup besar Sam"


"trus sekarang Lo gimana" tanya Sam sedikit tenang


"ya gimana, gue juga bingung.. gue gak mau nyakitin Ara. sumpah, buat ngelihat Ara menangis aja gue gak siap" ucap Rayyan seraya menunduk menahan sesak di dadanya


"ya Lo harus beri kepastian dan penjelasan buat Ara, biar jelas semua nya" lanjut Sam


" tapi nanti gue sama anak anak buat cari bukti bahwa bukan lo yang hamilin Gisel. jadi Lo tenang aja" ucap Sam sedikit mengurangi kesesakan di dada Rayyan


"sumpah demi apapun Sam, gue gak tidur sama itu cewek. gue cuma dikasih minum dan pas bangun pagi gue udah ada di kamar hotel sendiri, gue juga gak ingat siapa yang bawa gue ke kamar" jelas Ray


"dan tau tau ada foto itu. sumpah semua itu cuma jebakan" lanjutnya


dan mereka sama sama terdiam dengan pemikiran masing-masing sampai sore dan mereka memutuskan untuk pulang.



di sebuah rumah, terdengar 5 orang gadis tengah bersantai sambil menonton tv di ruang keluarga. mereka membicarakan sesuatu yang membuat mereka sampai tertawa bahagia.



"Lo memang hebat sel" puji Sandra teman Gisel



"dan ya, Lo juga berhasil buat pisahin Ara dan Rayyan. memang licik otak Lo hahahha" lanjut Meri seraya memberikan jempol nya



sedangkan Gisel hanya mengangkat gelas nya dengan senyum yg merekah



"Lo tahu, gue itu benci banget sama Ara, bahkan waktu di panti dia itu selalu mendapat perhatian dari ibu panti. dan gue selalu di bandingkan dg Ara" ucap Gisel




dan mereka semua tertawa penuh kemenangan tapi ada satu orang disana yang tersenyum sinis dengan satu tangan nya menghentikan perekam suara dari hp nya dengan diam diam..



" trus itu Lo benar hamil sel?" tanya loli dengan santainya



"iya.." jawabnya enteng



" hah, serius..itu anak Rayyan?" tanya loli kaget



"ck,, bukan lah.. ini anak Derrick. Abang sepupu angkat gue yg mafia itu" jawabnya jujur



"dan gue sengaja buat Rayyan yang bertanggung jawab hahaha"lanjutnya dengar tawa jahat



" Lo benar benar licik sel" kata Sandra dan mendapat anggukan dari Vera



"Lo semua kenal gue, dan gue memang licik" ucap nya dengan wajah sombong



dan berlanjut dengan pembicaraan yang random..



tok tok tok


ketukan pintu menyadarkan seorang pemuda dari pemikiran nya tentang masalah yang sedang dihadapinya saat ini


"masuk" ucapnya


"sayang, kamu lagi ngapain" tanya mama nya


"Ray lagi mikir ma, gimana ya kalau sampai Ara tahu, pasti Ara sakit hati banget"


"Ray gak tega ma, Ray sayang banget sama Ara"


"ya udah kamu batalin aja acara pertunangan itu, mama juga gak setuju. kamu itu tahu kalau kamu hanya di jebak jadi kenapa harus takut"


"tapi gimana proyek yang sedang dalam pembangunan itu ma, kasihan perusahaan papa pasti mengalami kerugian cukup besar kalu sampai papa nya Gisel membatalkan kerja sama itu"


"apa gak ada cara lain sayang" tanya mama nya


"Ray bingung ma, semua berat buat Ray" ucap Rayyan seraya menunduk


"perusahaan Ray juga baru aja mengeluarkan dana cukup banyak untuk pembangunan kantor cabang di Amerika kemarin, jadi Ray gak bisa bantu perusahaan papa kok memang kerja sama itu batal" ucap Ray


"kmu yang sabar ya Ray. Ara itu wanita kuat, pasti dia akan terima penjelasan kamu" ucap mama menenangkan