Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
31



dua Minggu berlalu, sudah berhari-hari itu juga Ara berada di mansion Bagaskara. orang tua angkat nya yang begitu sangat disayanginya bahkan begitu berarti dalam hidupnya. begitupun dengan Abang nya Kevin. walaupun mereka sering bertengkar jika bertemu, tapi rasa sayang keduanya sangat kuat dan ada ketika dimasa Ara sedang ingin manja manja tak jarang Kevin selalu menemani nya dan memenuhi semua kemauan adik kecil nya itu.


seperti yang terjadi waktu mereka piknik di pantai Minggu lalu. entah mengapa kini Ara terlihat lebih manja kepada para sahabatnya dan tentunya kekasih dan abangnya itu.


dengan rengekan khas Ara, meminta Kevin untuk tak jauh darinya dan selalu ingin menyusahkan Kevin. dan itu tak membuat Kevin merasa terbebani sama sekali, bahkan dia sangat senang dengan Ara yang manja terhadapnya.


jangan tanya bagaimana dengan Rayyan dan para sahabatnya yang lain. mereka sempat terkejut melihat kelakuan Ara yang tak biasa, dan bingung dengan apa yang terjadi pada Ara saat ini. apa mungkin karena sempat berpisah lama..pikir mereka


tapi demikian mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu, justru mereka terlihat gemas dengan kelakuan Ara yang seperti remaja Labil. Tania yang menjabat sebagai Tunangan Kevin pun seakan turut untuk memanjakan calon adik iparnya itu dan tidak mempermasalahkan dengan Ara yang selalu menempel pada Kevin dengan posesif. dia tahu mungkin Ara rindu suasana dimana kasih sayang itu Hanya untuknya.


ada yang bertanya tentang Rayyan. ah, lelaki itu hanya mendengus kesal, karna sang kekasih hanya cuek saja terhadapnya. bahkan dengan terang terangan menyuruh Ray menjauh. entah apa sebabnya tapi Ara terlihat sedikit berbeda.. tak ingin berfikiran negatif dengan cepat Ray menggeleng kan kepalanya dan menganggap mungkin Ara hanya ingin merasakan kasih sayang seorang kakak yang telah lama tidak Ara rasakan.



sebuah rumah sakit, tepatnya di ruang praktek dr, Aldo. terlihat sang pemilik ruangan sedang membaca sebuah laporan kesehatan seseorang sehingga ketukan pintu menyadarkan nya.



"masuk" serunya



"Assalamualaikum dokter. ini hasil dari tes terakhir" ucap seorang perawat



setelah mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan pemikiran nya. dr, Aldo hanya memijat pelipisnya sebentar dan menghela nafas panjang.



"kasihan. semoga dia selalu baik baik saja. dan seperti nya rumah sakit ini kurang memadai" gumamnya



"ada apa dok" tanya perawat yang ternyata dari tadi masih berdiri ditempat nya.



"ah, kaget saya sus. " ucap Dr, Aldo



"oh, maaf dok. baik saya permisi keluar dulu dok" ucap perawat itu



dikediaman Bagaskara.


terlihat seorang gadis sedang bersiap untuk pulang ke apartemen nya yang sudah dua Minggu ditinggalkan oleh nya.


setelah selesai mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. ara terduduk ditepi kasur besarnya dan terlihat dia sedang memegangi kepalanya yang mulai pusing, mungkin karena terlalu lelah dari kemarin kerjaan nya tidak habis-habisnya pikir Ara tenang


"huh rasanya sekarang mudah sekali lelah" keluhnya


"seperti nya aku harus segera melakukan pengobatan deh"


"dan ini harus dirahasiakan kepada keluarga ini dan teman teman. aku gak mau mereka khawatir dan terbebani dengan sakitku" lirihnya dengan meneteskan air mata


"kenapa sakit sekali, aghhhhh" teriaknya, untuk kamar ini kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar teriakkannya.


setelah bersih bersih, ara keluar dari kamar mandi dan menuju nakas di samping ranjangnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"hallo, assalamualaikum"


[.....]


"Ara, masih di mansion ayah sama bunda"


[......]


"udah kok, ara udah minum obat. cuman ini tadi habis mimisan lagi"


[......]


"iya, nanti ara ke sana habis Ashar. waalaikumsalam"


setelah melakukan panggilan telepon, Ara segera turun dan pamit pulang ke apartemen nya kepada orang tuanya dan orang rumah lainnya.


tap tap tap


suara langkah kaki ara menuruni tangga. terlihat ayah Bagas dan bunda Ira sedang bersenda gurau di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"ayah, bunda Ara pulang ke apartemen dulu ya, udah lama gak pulang kasian apartemen nya sendiri" ucap Ara dengan terkekeh geli


"loh kok cepet sayang, nanti lah. nginap lagi disini ya" ucap Bunda berdiri dan memeluk Ara erat


"sesak bund,gak usah peluk erat gini" ucap Ara dengan mengusap punggung bunda yang memeluknya


"kamu kenapa cepet banget pulang ke apartemen kamu. kenapa sih gak mau tinggal di sini aja sih" tanya Ayah mengelus rambut Ara dengan sayang


"apartemen Ara itu dekat dengan kampus yah, bund. jadi Ara gak usah takut kena macet kalau mau ke kampus" jelas Ara


"tapi kan kamu sendiri di sana nak. tinggal disini aja ya" rayu bunda lagi


"gak ah bund. Ara juga udah terbiasa sendiri kok. nanti janji deh setiap seminggu dua kali Ara ke sini kalau memang tugas di kampus gak banyak" ucap ara membujuk sang bunda yang terlihat sedih


"gak usah sedih, Ara gak jauh kok" ucap Ara lagi tersenyum


"iya, ayah izinin. yang penting kamu tetap selalu hati hati dan jangan lupa istrahat yang cukup ya sayang." ucap ayah Bagas seraya memeluk Ara sebentar


"iya deh, bunda izinin. tapi ingat janji itu ya Ra, awas aja kalau bohong" ancam bunda yang mendapat kekehan dari Ara dan ayah Bagas


"Ara berangkat dulu, assalamualaikum" pamit Ara dengan mencium punggung tangan kedua orang paruh baya itu.


setelah pamitan, Ara segera keluar menuju mobilnya, setelah meletakkan Tasnya di kursi belakang, Ara segera melajukan mobilnya keluar dari mansion Bagaskara menuju suatu tempat.